Keindahan
dewata memang takkan pernah ada habisnya. Pantainya, pasirnya, ombaknya, bahkan
terpaan angin terasa seperti menyentuh lembut kulit. Wewangian bunga dan sapaan
ramah orang-orang Bali semakin menambah keindahannya. Sore hari di sudut pantai
kau akan mendapatkan seorang kakek tua paruh baya yang duduk diatas sebuah gazebo kayu dan dikelilingi anak-anak
yang selalu setia mendengarkannya bercerita.
“Kau sudah berjanji akan menceritakan kisahnya lagi,
kakek”. Ujar salah satu anak perempuan yang duduk disampingnya.
Tangannya menarik ujung baju sang kakek dengan tatapan yang penuh rayuan. Sang
kakek mengusap pelan rambut anak tersebut dan memangkunya.
“Ya, kakek akan ceritakan lagi, asal kamu
dengarkan ya.. jangan disela”.
Anak
perempuan itu mengangguk senang seiring dengan helaan nafas yang berat dari
sang kakek.
***
7 Oktober 1998
Kuta, Bali
Langit sore
ini berwarna ungu kemerah-merahan dihiasi dengan gumpalan awan-awan putih yang
kian detik kian menghilang bersamaan dengan mentari yang semakin tenggelam di
ufuk barat. Aku beranjak dari pantai Kuta mengarah kembali ke hotel tempat aku
dan teman-temanku menginap. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain
menghilang sejenak dari penat yang sudah setengah tahun kami emban karena
skripsi dan sidang kemarin. Tidak perlu muluk-muluk, merebahkan tubuh
beralaskan pasir pantai Kuta sambil memandang langit sore hari ini saja sudah
membuat kami bahagia. Tanggung jawab dan janji kami kepada orang tua untuk
menjadi seorang insinyur akhirnya sudah terpenuhi.
Aku
mengedarkan pandangan jauh ke langit dan membiarkan ujung kakiku basah terkena
hempasan sisa ombak yang menggulung dari tengah lautan. Udara malam ini dingin,
sedingin air laut yang menyentuh lembut kulit. Malam ini sebenarnya bukanlah
malam yang indah, setelah mentari memutuskan untuk pulang, malam begitu hitam
pekat, hanya ada bintang yang menemaninya, itupun
tidak banyak. Teman-temanku yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel
sedangkan aku masih ingin menikmati Kuta di malam hari. Kupejamkan mataku
dalam-dalam, nikmat sekali menikmati alam setelah semua beban seperti terlepas
dari pundak. Tenang sekali, sampai aku mendengar derap langkah kaki
tergesa-gesa yang mendekat, meninggalkan jejak langkah kaki di pasir putih
milik pantai Kuta.
Kemudian
langkah kaki itu semakin mendekat dan mendekat lalu berhenti tepat disamping
tubuhku. Aku menoleh kepadanya yang kini duduk diam dengan balutan kostum
penari bali lengkap dengan dandanannya. Sejenak aku terdiam melihatnya, untuk apa malam-malam begini menggunakan
kostum seperti ini di pantai?
“Hai” sapanya. Ringan sekali baginya
menyapa orang asing, seringan beberapa helai rambutnya yang perlahan turun dari
ikatannya, kemudian bergerak-gerak tertiup angin pantai.
“Kabur dari rumah?” tanyaku langsung seraya
masih terus memperhatikan dengan detil apa yang ia kenakan malam ini.
Gadis itu
duduk disampingku dengan nafas yang terengah-engah. Kemudian senyumnya terlukis
di bibir merahnya, “Dari panggung lebih
tepatnya.” jawabnya. Pantas saja ia
mengenakan kostum seperti ini. Aku terus bergumam dalam hati sementara ia
sekarang sibuk bermain dengan pasir dan air laut yang mengenai kostumnya.
“Kenapa?”
“Bosan”.
Kemudian
tubuhnya dihempaskan ke pasir pantai dengan damai.
“Tapi kamu pasti akan ngecewain orang-orang
yang sudah menunggu kamu tampil disana” ujarku. Ia menoleh dan tertawa
sejenak. “Aku cuma sebentar mencari udara keluar,
apa ada yang salah?”
Aku terdiam
bingung harus meresponnya dengan jawaban seperti apa. Kemudian ia kembali
bersuara, “April” ia menjulurkan
tangannya padaku.
“Juno. Terkadang, memang kita butuh lari
sebentar dari rutinitas. Untuk menghilangkan penat” jawabku sekenanya.
“Ya.. dan aku melakukannya saat ini. Apa
pendapat kamu tentang hidup?” tanyanya sambil memainkan pasir pantai dengan
jemari-jemari lentiknya. Matanya yang bulat menoleh kearahku, menungguku
menjawab pertanyannya.
“Hidup itu seperti laut ini. Coba kamu lihat
kesana… Kamu tidak akan pernah melihat pulau, kapal, atau ikan sampai kamu
mencoba untuk mengarungi lautan sendiri. Hidup itu kejutan. Kadang kamu bahagia
lalu besoknya sedih. Atau sekarang kamu sedih, mungkin besok kamu akan
bahagia.” Kepalanya mengangguk-ngangguk sambil matanya perlahan menyipit
seiring dengan lengkungan manis yang terbentuk di sudut bibirnya.
“Atau…. Bisa juga suatu saat kamu merasakan
bahagia sekaligus sedih dalam satu waktu.” Ia melanjutkan.
“Curang. Kamu melanjutkan definisi hidup milikku.
Bagaimana dengan kamu?”
Sejurus
kemudian ia berdiri dan membersihkan pasir-pasir yang menempel di kostumnya.
Lalu tangannya diangkat dan sedetik kemudian kulihat ia mulai menari dengan
indah di hadapanku. Gerakannnya gemulai, lembut tapi sangat cepat. Matanya terkadang ia pejamkan
sambil terus menari sampai akhirnya duduk kembali di sampingku.
“Seperti itu hidup menurutku. Capek, bosan,
tapi akan terasa sangat indah dan damai kalau kamu benar-benar menikmatinya.” Nafasnya
yang terengah-engah bahkan tidak mampu menghapus lengkungan manis itu di
wajahnya. Kulihat peluh mulai meluncur deras dari sela-sela rambutnya.
Kami
berbincang hingga larut, tidak.. mungkin hingga pagi. Aku baru mengenalnya
memang namun entah mengapa aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. Kami
tertawa bersama, kadang pergi menyusuri pantai mencari minuman hangat dan
kembali lagi ke tempat kami duduk tadi. Di sela-sela perbincangan tadi, aku
sempat berdoa pada Tuhan agar malam ini takkan pernah usai. Ya.. benar memang kataku. Hidup itu kejutan.
Sama seperti dia. Dan aku menyukai kejutan.
“Aku harus pulang” katanya. Tidak terasa
kami berbincang hingga tertidur di pantai saat itu. Ia beranjak berdiri dan
meninggalkan jejak kaki di pasir seraya meninggalkan aku.
“April….” Ia sudah menjauh saat aku
memanggil namanya. Melihatnya tidak menoleh kebelakang, aku berlari
mengejarnya.
“April.. Aku tidak tahu darimana kamu
berasal, bahkan aku tidak tahu dimana rumahmu. Kita bertemu tiba-tiba dan aku
tidak tahu kapan dan bagaimana bisa menemui lagi. Hidup itu memang penuh kejutan,
dan kurasa Tuhan sedang mengejutkanku saat ini dengan mempertemukanku dengan
kamu” Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku berani bertaruh padamu sebentar
lagi lengkungan manis itu pasti hadir lagi.
1…
2….
3….
Yap! Aku benar!
“Juno.. tenang saja. Jika 3 tahun
lagi kita bertemu lagi di Bali, tandanya Tuhan memiliki rencana lebih untuk
kita. Aku janji, kelak jika kita bertemu lagi di Bali, aku akan ikut bersama
kamu ke Jogja.” Kemudian ia
kembali berjalan membelakangiku.
“Tapi Bali kan luas, Pril!”
“Hidup itu penuh kejutan! Berdoa saja semoga
Tuhan mengejutkan kamu lagi 3 tahun nanti! Bye Junooooo!”
Kemudian ia
berlari menjauh hingga tak terlihat lagi di ujung mataku.
***
“Lalu bagaimana kek? Apa kakek jadi bertemu
dengan April?” anak perempuan disampingnya masih mendengarkan dengan
seksama cerita sang kakek. Tangannya dibuat untuk menopang kepalanya yang
menghadap ke sang kakek disampingnya. Sang kakek tersenyum dan melanjutkan
ceritanya…
***
3 tahun
ternyata waktu yang sangat panjang jika kamu benar-benar menunggunya. Aku ingin
sekali membuka jam tua di sudut rumah ibu untuk mempercepat jalannya waktu,
namun kuurungkan niat bodoh itu begitu menyadari bahwa hal itu akan sia-sia. Sehari
setelah perjanjian yang kami buat, tiada seharipun yang kulewati tanpa doa dan
menghitungnya. Aku tidak tahu apa yang
dimiliki gadis itu hingga membuatku begitu percaya dengan janji konyol kami dan
benar-benar menunggunya. Aku ingin sekali bertemu lagi dengannya, aku ragu
mengatakannya… tapi kurasa aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami
bertemu bahkan hingga saat ini. Aku mencarinya di mesin pencari di internet
namun nihil. Sepertinya gadis itu memang hanya mencintai hidupnya dalam tari
hingga internet saja tidak sempat ia sentuh.
9 Oktober
2002. Aku mencatatnya dengan sangat jelas dalam ingatanku. 3 Tahun lamanya aku
menunggu hari ini. Dan hari ini aku berangkat ke Bali untuk ‘menjemput’ April.
Aku rindu melihat lengkungan manis di wajahnya. Aku mengambil jatah cuti 3 hari
dari kantor tempatku bekerja untuk menemui April.
Denpasar.
Bali sangat luas dan aku tidak tahu harus mulai darimana untuk mencarinya.
Bahkan aku tidak memiliki foto dirinya untuk menanyakannya pada setiap orang di
Bali. Aku harus menemukannya. Kali ini
aku ingin Tuhan mengejutkanku sekali lagi seperti 3 tahun lalu..
Aku hanya
ingat lengkung manis di wajahnya, hidupnya dalam tarian, dan janji kami. Tunggu… tarian. Ya! Kurasa aku tahu
harus mulai darimana aku mencarinya. Aku segera pergi ke lantai dasar hotel dan
menemui petugas hotel untuk menanyakan daftar sanggar-sanggar tari yang ada di
Bali yang ia ketahui. Beruntung, ia mengetahui banyak sanggar tari di Bali
sehingga aku bisa langsung mulai mencarinya lewat sana. Bermodal nekat, secarik
kertas berisi alamat-alamat sanggar, dan motor pinjaman dari ojek sebelah
hotel, aku bergegas pergi ke alamat yang tertulis disana satu-persatu.
Sehari, dua
hari, dan ini sudah hari ketiga aku mengunjungi semua tempat yang tertulis
disana namun Bali masih saja menyembunyikan April. Hanya tersisa satu sanggar
di tepi pantai Kuta yang belum kukunjungi. “Dulu
April memang sering menari di sanggar ini, tapi sejak 2 tahun lalu ia sudah
tidak lagi menari. Wayan tidak tahu dimana April sekarang”. Ini merupakan
sanggar terakhir yang aku temui hari ini. I Wayan sepertinya tidak bercanda, dan
sekarang aku tidak tahu lagi kemana harus mencari April. Bahkan semua orang
tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Mungkin
Tuhan memang tidak memiliki rencana lebih untukku saat ini.
Langit
mulai menguning seiring dengan hadirnya senja. Kuta begitu ramai hari ini,
namun aku tetap saja merasa sepi. Entah,, namun aku merasa seluruh orang di
Kuta seperti menertawakan keberadaanku disini. Aku mencari seseorang yang
bahkan aku tidak memiliki foto dan informasi lebih tentang dirinya selain seni
tari yang menjadi hidupnya. Apa April
lupa dengan perjanjian kami? Atau itu hanya lelucon ringan dan hanya aku yang
menganggapnya sebagai janji?
Aku
berjalan menyusuri pantai. Tidak ada yang berubah, pasirnya masih sama hangat
dan lembutnya seperti 3 tahun lalu. Yang berbeda hanya orang-orang yang berdiri
diatasnya. 3 tahun lalu aku masih menunggu wisuda, sekarang aku sudah bekerja
di kota. 3 tahun lalu ada April yang menemaniku sepanjang malam, berbincang,
tertawa bersama seolah malam takkan pernah usai. Sekarang, hanya ada aku
sendiri, entah bahkan aku belum lagi menemukan alasan lain untuk tetap stay disini. Aku harus segera pulang dan
menghentikan lelucon ini.
“Bunga cantik untuk seseorang yang berjalan
sendiri di pantai Kuta.. Tuan mau?” kemudian seseorang membawa keranjang
mawar putih dari belakang mengagetkanku. Aku menoleh dan menerima bunganya.
“Terima kasih… April”. Aku mengamati
wajahnya dalam dengan sangat lama. Aku kenal dengan wajahnya, aku mengenali dan
menandai wajahnya dengan jelas dalam memoriku. Inilah gadis yang kucari selama
ini, April.
“Aku kira kamu engga
akan datang lagi kesini” ujarnya sambil menghempaskan tubuhnya di atas
pasir pantai. Keranjang mawarnya ia letakkan disamping tubuhnya.
“Mana mungkin. Aku masih ada janji sama kamu
disini kan? Aku sudah hampir menyerah untuk mencari kamu kesana kemari. Aku
mendatangi banyak sanggar tari untuk mencari kamu, tapi kamu tidak ada. Kemana
saja kamu?”
Sorot
matanya berubah ketika aku bertanya tentang keberadaannnya saat ini.
“Aku memang sudah tidak lagi menari, Juno.
Hidupku memang dalam tari, dan aku masih sangat mencintai dunia tari hingga
saat ini. Tapi, sejak ayah meninggal 3 tahun lalu, aku dan ibu bersama-sama
mencari penghasilan lewat toko bunga kami di Kuta. Kalau sore aku biasa menyusuri
pantai untuk membagikan bunga kami untuk orang-orang di Pantai Kuta. Aku hampir
tidak lagi punya waktu untuk menari sejak itu” Kulihat matanya berkaca-kaca
saat ini. Memang aura wajahnya tidak lagi seceria dulu. Tapi aku masih bisa
melihat sedikit lengkung manis yang terbentuk di wajahnya. April yang dahulu
datang padaku lengkap dengan kostum tarinya, wajahnya masih penuh dengan make
up, lalu menari dengan sangat damai di pantai untuk menunjukkan seperti apa ‘hidup’
menurutnya, kini ia hadir dengan tampilan sederhana, namun tetap tidak bisa
menyembunyikan paras cantik di wajahnya.
“Kamu engga akan tahu kemana hidup akan bawa
kamu, Pril. Tuhan pasti punya rencana besar setelah ini, aku yakin.” Aku
membiarkannya bersandar di bahuku lama. Malam semakin larut ketika kami semakin
terbawa dalam perbincangan malam kami. Kami melakukan lagi apa yang kami
lakukan 3 tahun lalu saat ini. April mengajakku untuk berjalan melihat kios
bunganya di Kuta. Nyatanya, memang Kuta tidak pernah tidur pada saat malam hari
dan kini aku benar-benar menikmatinya. Kios bunga April berada di pinggir jalan
besar Kuta, didepannya banyak kafe dan beberapa restoran yang buka selama 24
jam untuk menghibur turis-turis yang datang berkunjung.
“Kuta tidak pernah tidur, Juno. Ramai sekali
bukan? Diujung jalan sana ada Club paling ramai disini, namanya Sari Club.
Kurasa mereka tidak pernah tidur sepanjang hari karena hampir tak pernah aku
lihat tempat itu sepi”
Malam
semakin larut, dan aku harus segera kembali ke hotel untuk mempersiapkan
kepulanganku besok ke kota. Pencarianku juga sudah selesai, setidaknya aku
sudah mengetahui dimana April dan hanya tinggal menyusun rencana untuk
membawanya ikut bersamaku ke kota.
“Kamu bisa melanjutkan ‘hidupmu’ di kota
bersamaku. Kita bisa membuka sanggar tari bersama dan kamu akan mengajari
anak-anak berlatih menari Bali. Kamu masih punya banyak sekali kesempatan, Pril”
Aku kembali menatapnya, kini dengan sorotan mata yang tajam dan serius. Aku
ingin sekali membawanya ke kota untuk sama-sama menyatukan definisi hidup kami
dalam satu atap yang sama.
“Ya.. aku juga sudah janji padamu bukan?
Besok aku dan ibu akan bersiap ke kota bersama kamu” Dan lengkung itu
terbentuk lagi seraya pelukan hangat darinya untukku.
Malam itu
mungkin malam paling indah yang pernah kulihat. Bintang-bintang banyak sekali
bertaburan menghiasi langit Kuta ditemani dengan cahaya bulan yang terang
berpendar ke seluruh penjuru. Aku segera pamit dan berjalan kembali menuju
hotel tempatku tinggal untuk bersiap-siap besok pulang ke kota.
Sebagian
masyarakat Kuta sudah beranjak tidur hingga suara itu muncul.
BLAR.
Tidak lama sejak aku sampai di hotel, suara ledakan yang
besar muncul tidak jauh dari belakang jalan Kuta. Aku mengintip dari balik
tirai hotel dan melihat banyak orang berlarian keluar dari rumah dan melihat ke
arah sumber ledakan. Sebagian menangis dan berteriak ketakutan.
“Bom! Bom! Lari!” Mereka
berteriak sambil berlari tak beraturan. Aku membekap mulutku begitu menyadari
lokasi bom itu meledak tak jauh dari tempat April. Tidak banyak gerakan aku
langsung turun kembali ke bawah dan berniat untuk segera berlari menyusul April
dan ibunya untuk membawa mereka ke tempat aman menjauh dari ledakan tadi.
Entah, namun aku merasa aka nada ledakan berikutnya setelah ini.
Aku sudah sampai di gerbang hotel saat beberapa petugas hotel
menahanku pergi keluar.
“Bahaya Bli.. bahaya!”
Teriak salah satunya sambil menahanku. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana
mengekspresikan perasaanku saat itu. Aku sangat takut, khawatir dengan ledakan
yang baru saja terjadi.
BLAR!
Benar saja, ledakan kedua terjadi lagi. Kali ini lebih besar
dan lebih kencang. Getarannya bahkan terasa sampai tempatku berdiri. Kulihat kaca
jendela hotel pecah dan berantakan ke lantai dasar. Orang-orang semakin
berlarian kesana kemari, semua berteriak ketakutan, menangis sejadi-jadinya.
Kuta berubah menjadi sangat menakutkan malam ini. Asap setinggi 100 meter
membentuk cendawan api raksasa mengepul tebal memenuhi langit Kuta. Aku tidak
tahan lagi, aku berlari menerobos benteng petugas-petugas hotel, mengindahkan
seluruh perkataan mereka yang meneriakiku bahwa Kuta sangat berbahaya saat ini.
Aku berlari menerobos asap melewati ratusan orang yang menangis dan berteriak
kesakitan. Bau amis darah tercium dimana-mana menusuk hidung, entah sudah
berapa potongan tubuh yang kulihat berceceran dijalan tapi aku terus berlari
menembus kerumunan orang-orang. April.
Semua rata dengan tanah. Aku tidak lagi dapat melihat satu
bangunan pun di sekitar jalan Kuta yang masih berdiri kokoh saat ini. Kekuatan
dahsyat bom tadi ternyata meluluhlantahkan semuanya, termasuk kios bunga April.
Aku mencari ke semua sudut dan tidak menemukan April. Ya Tuhan, kejutan macam apalagi ini?
Aku bersimpuh di depan reruntuhan itu. Tidak ada lagi yang
tersisa selain jeritan pilu orang-orang yang kesakitan dan kehilangan
orang-orang tercinta mereka. Beberapa anak kecil berlarian memanggil-manggil
ibu dan ayah mereka, sebagian orang membopong korban ledakan yang berceceran
darah. Sebagian utuh, sebagian lainnya tidak seberuntung yang lainya.
Tangisanku pecah pada saat itu, takut, khawatir, dan bingung. Kemudian tak lama
kemudian kudengar dari kejauhan ledakan lagi disusul dengan asap besar yang
mengepul di langit. Ledakan ke-3 dan aku terjatuh tak sadarkan diri.
***
Putih. Ruangan itu sangat putih dan dipenuhi banyak sekali
orang yang meringis kesakitan memegangi tubuhnya. Rumah sakit ini begitu penuh
dengan korban ledakan yang akhirnya kukenal dengan sebutan Bom Bali dari saluran-saluran TV yang sejak tadi
menyiarkan keadaan di Bali. Bali mendadak menjadi terkenal ke seluruh dunia
namun bukan karena keindahan alamnya, karena ledakan dahsyat yang
meluluhlantakkan ratusan bangunan, menghilangkan nyawa orang-orang tersayang,
menyebarkan bau amis darah ke seluruh penjuru dan meninggalkan luka yang sangat
dalam bagi masyarakat Bali.
Termasuk aku,
bahkan sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana keadaan April. Dimana dia,
Tuhan?
Aku berlari mencari suster untuk melihat daftar nama-nama
pasien dan korban ledakan. Mataku terus melihat dengan seksama nama-nama pasien
yang dirawat dan aku tidak menemukan nama April disana. Aku terus berlari dan
menanyakan kepada orang-orang, namun mereka juga tidak mengetahuinya. Polisi
dan rumah sakit juga belum bisa memastikan siapa-siapa saja yang menjadi korban
ledakan.
Satu minggu sudah berlalu, aku trauma menonton televisi dan
melihat semua pemberitaan tentang Bali yang sangat mengoyak hatiku. Keluargaku
datang menjenguk dan aku baru mengetahui bahwa ledakan itu menelan korban
tewas 184 orang, 230 orang luka-luka, 47 bangunan hancur, dan ratusan mobil
rusak berat. Setiap kali aku mengingat kejadian hari itu air mata ini turun
begitu deras, masih ingat bagaimana anak-anak menangis dengan sangat pilu,
orang-orang menahan sakit, dan reruntuhan bangunan yang tanpa daya rata dengan
tanah.
Perlahan
keadaanku mulai pulih, aku memang tidak menderita banyak luka. Pada saat
pingsan, kepalaku membentur batu kayu besar yang membuatku tak sadarkan diri
lama, yang membuatku lama di rumah sakit adalah luka batin yang masih menganga
lebar karena trauma sejak kejadian malam itu. Aku berjalan pelann keluar rumah
sakit dan melihat daftar nama-nama korban bom. Ni Nyoman Aprilita Dewi. Nama itu terpampang dengan sangat jelas
disana. Membuatku terduduk lemas dan membiarkan lagi bening itu menetes
membasahi pipiku, membuat luka menganga di hatiku semakin lebar dan tak
terobati.
***
“Jangan menangis dong,
Manda..” Gadis kecil itu menyeka air matanya sambil tersenyum malu.
“Aku sedih kek.. Lalu
bagaimana dengan kakek? Kenapa kakek tetap tinggal di Bali, Bali kan sudah buat
kakek sedih” Ia bertanya dengan polosnya.
“Kakek sudah terlanjur
cinta dengan Bali. Kakek mencintai Bali bahkan sejak pertama kali menginjakkan
kaki kakek disini. Disini tertanam harapan, cinta, dan luka yang tidak bisa
tergantikan dengan apapun. Lagipula, jika kakek tidak disini, mana mungkin
kakek bisa bertemu dengan anak-anak cerdas seperti kalian?” Sang kakek
tertawa dan mengusap-usap rambut si gadis kecil. Dibalik tawanya tersimpan
sejuta luka yang tak bisa terobati hingga kini. Cintanya hidup dalam memoar
lama yang tersusun dengan rapi bersama dengan luka batin di hatinya. Mengoyak
segala bentuk harapan dan cita-cita mulia membentuk sanggar dan mengajari
anak-anak menari Bali, menyatukan segala bentuk definisi ‘hidup’ dalam satu
atap bersama.
***
Hari ini aku kembali kesini. Bersama dengan barisan
orang-orang yang rapi membawa bunga di tangannya. Semua berpakaian rapi berkumpul
bersama dengan anggota keluarga masing-masing. Seharusnya ini menjadi satu
pemandangan yang menarik dan indah dengan banyaknya bunga yang dipersembahkan,
ratusan orang datang dan dengan serentak mengenakan warna baju yang senada.
Kemudian upacara doa dimulai dengan berdoa bersama untuk nama-nama yang
terpahat di monumen sebagai korban ledakan Bali tanggal 12 Oktober 2002 silam.
Sebagian pengunjung menitikkan air matanya sambil terus melayangkan doa untuk
mereka yang kini sudah damai diatas sana. Kemudian anak-anak kecil mulai maju
satu persatu menyematkan bunga berwarna putih di sekeliling monumen, disusul
dengan para orang tua, turis dan wisatawan yang berada disana dan memegang
bunga. Termasuk aku.
Kumpulan orang-orang itu mulai menyepi seiring dengan
tumpukan bunga mawar putih yang semakin banyak di monumen Ground Zero, Kuta. Putih rata hingga aku melihat seseorang dengan
kursi roda meletakkan setangkai mawar berwarna merah diatas tumpukan bunga
mawar putih. Kontras. Ia tertunduk sebentar berdoa untuk nama-nama yang
terpahat disana, kemudian kulihat beberapa tetes bening menetes dari sudut
matanya. Aku mendekatinya dan menatapnya lekat-lekat. Nenek itu terdiam sambil
menatap dan mencoba menebak-nebak siapa laki-laki paruh baya di depannya yang
dengan lancang menatapnya begitu serius.
“April….” Aku
gemetar ketika menyebut namanya pelan. Aku mengenal lekung di wajahnya yang
bahkan sampai setua ini tidak pernah hilang. Ia menatapku bingung, namun tak
lama kemudian kulihat air mata itu kembali menetes di sudut matanya seraya
tangan keriputnya mencoba meraih tubuhku.
“Ibu….” Ia menunjuk
monumen dan nama yang terpahat diatasnya. Ni
Nyoman Aprilita Dewi. Ternyata yang terpahat disana adalah nama ibunda
April. Selama bertahun-tahun ini aku salah paham dan mengira April-lah yang
menjadi korban ledakan. Bodoh… Kemudian ia mengenalkan perempuan cantik
di belakangnya, “Tata.. cucuku” anak
perempuan itu menjabat tanganku sopan kemudian memeluk neneknya erat. Sekarang gantian
aku yang menangis dihadapannya. April memegang tanganku dan menatapku dalam.
“Kamu benar.. Tuhan
memang memiliki rencana besar untuk kita. Kita memang menjalani hidup kita
masing-masing, dan mempertemukan kita kembali disini. Menemukan bagaimana arti
hidup sesungguhnya lewat harapan, cinta, dan luka. Malam itu, setelah ledakan
pertama, aku dan ibu segera berlari ke daerah pantai. Namun ibu kembali ke
rumah untuk mengambil beberapa barang berharga peninggalan ayah.. sampai
akhirnya terjadi ledakan kedua yang lebih dahsyat dan aku tak pernah lagi
bertemu ibu sejak saat itu. Aku frustasi dan mencoba mencari kamu kemana-mana
tapi aku tidak berhasil. Aku trauma, dan memutuskan untuk pergi dari Bali
merantau ke Jogja berharap bisa lagi bertemu dengan kamu. Tapi ternyata Tuhan
sekali lagi mengejutkan aku, aku bertemu dengan suamiku dan kami menikah setahun kemudian, maafkan
aku” Ia menceritakannya dengan terbata-bata sambil terus menatap mataku
yang basah. Kami sama-sama mencari tapi tidak pernah saling bertemu hingga tiba
hari ini. Setidaknya ia sudah bahagia dengan keluarganya. Setidaknya aku bisa
melihat lekung di wajahnya lagi. Setidaknya lukaku selama bertahun-tahun sudah
terobati saat ini. Dan setidaknya, satu mimpi kami sudah terwujud, membuat
sanggar tari. Meskipun hanya aku sendiri
yang membangun sanggar tari tersebut untuk mewujudkannya.
Meskipun pada akhirnya aku yang naïf, aku tidak menikah dengan
siapapun sejak hari itu karena takut untuk bertemu dengan seseorang yang
kucinta lalu kemudian ditinggalkan. Aku hanya takut menerima kenyataan. Lemah.
Kami sama-sama meninggalkan monumen ketika matahari beranjak
pergi meninggalkan langit Kuta berganti dengan bulan. April harus segera
kembali ke Jogja bersama dengan keluarganya. Begitupun aku, aku harus kembali
ke sanggar dan melihat anak-anak yang berlatih menari di sanggarku tumbuh
dengan ceria dan bahagia. Menikmati sisa-sisa hidupkku dengan bahagia dan
tenang di Kuta adalah salah satu nikmat hidup dari Tuhan yang patut kusyukuri
dengan baik.
Hidup adalah
kejutan. Dan sekali lagi, aku menyukai dan tidak pernah menyesal atas semua
kejutan yang Tuhan berikan padaku.
Dan tidak pernah lagi kulihat langit Kuta secantik langit
hari ini. Tidak pernah lagi kurasakan perasaan bahagia dan lega menikmati hidup
seperti saat ini. Selesai merapikan gazebo,
aku menyiapkan tempat tidurku dan mengenakan pakaian paling bagus yang kupunya
saat itu. Aku bahagia dan aku ingin tidur dalam bahagia hari ini. Kurebahkan
tubuh keriputku pelan, kupejamkan mataku menjemput surga. Hidup memang penuh dengan kejutan…
Gelap.
.....................................................................................................................................................................
Cerita ini Fiktif tanpa maksud menyinggung dan mengangkat
luka dari siapapun yang membacanya. Jika ada kesamaan nama, tempat, ataupun
cerita, itu adalah kebetulan semata tanpa ada unsur kesengajaan. Semoga selalu
damai dalam peluk Tuhan untuk korban dan kesabaran & ketabahan berlimpah
untuk keluarga yang ditinggalkan.
Selamat membaca :)
Cynthia S Lestari
12 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar