Minggu, 12 Oktober 2014

MEMOAR


Keindahan dewata memang takkan pernah ada habisnya. Pantainya, pasirnya, ombaknya, bahkan terpaan angin terasa seperti menyentuh lembut kulit. Wewangian bunga dan sapaan ramah orang-orang Bali semakin menambah keindahannya. Sore hari di sudut pantai kau akan mendapatkan seorang kakek tua paruh baya yang duduk diatas sebuah gazebo kayu dan dikelilingi anak-anak yang selalu setia mendengarkannya bercerita.
“Kau sudah berjanji akan menceritakan kisahnya lagi, kakek”. Ujar salah satu anak perempuan yang duduk disampingnya. Tangannya menarik ujung baju sang kakek dengan tatapan yang penuh rayuan. Sang kakek mengusap pelan rambut anak tersebut dan memangkunya.
Ya, kakek akan ceritakan lagi, asal kamu dengarkan ya.. jangan disela”.
Anak perempuan itu mengangguk senang seiring dengan helaan nafas yang berat dari sang kakek.
***
7 Oktober 1998
Kuta, Bali
           
            Langit sore ini berwarna ungu kemerah-merahan dihiasi dengan gumpalan awan-awan putih yang kian detik kian menghilang bersamaan dengan mentari yang semakin tenggelam di ufuk barat. Aku beranjak dari pantai Kuta mengarah kembali ke hotel tempat aku dan teman-temanku menginap. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menghilang sejenak dari penat yang sudah setengah tahun kami emban karena skripsi dan sidang kemarin. Tidak perlu muluk-muluk, merebahkan tubuh beralaskan pasir pantai Kuta sambil memandang langit sore hari ini saja sudah membuat kami bahagia. Tanggung jawab dan janji kami kepada orang tua untuk menjadi seorang insinyur akhirnya sudah terpenuhi.
            Aku mengedarkan pandangan jauh ke langit dan membiarkan ujung kakiku basah terkena hempasan sisa ombak yang menggulung dari tengah lautan. Udara malam ini dingin, sedingin air laut yang menyentuh lembut kulit. Malam ini sebenarnya bukanlah malam yang indah, setelah mentari memutuskan untuk pulang, malam begitu hitam pekat, hanya ada bintang yang menemaninya, itupun tidak banyak. Teman-temanku yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel sedangkan aku masih ingin menikmati Kuta di malam hari. Kupejamkan mataku dalam-dalam, nikmat sekali menikmati alam setelah semua beban seperti terlepas dari pundak. Tenang sekali, sampai aku mendengar derap langkah kaki tergesa-gesa yang mendekat, meninggalkan jejak langkah kaki di pasir putih milik pantai Kuta.
            Kemudian langkah kaki itu semakin mendekat dan mendekat lalu berhenti tepat disamping tubuhku. Aku menoleh kepadanya yang kini duduk diam dengan balutan kostum penari bali lengkap dengan dandanannya. Sejenak aku terdiam melihatnya, untuk apa malam-malam begini menggunakan kostum seperti ini di pantai?
            Hai” sapanya. Ringan sekali baginya menyapa orang asing, seringan beberapa helai rambutnya yang perlahan turun dari ikatannya, kemudian bergerak-gerak tertiup angin pantai.
            Kabur dari rumah?” tanyaku langsung seraya masih terus memperhatikan dengan detil apa yang ia kenakan malam ini.
            Gadis itu duduk disampingku dengan nafas yang terengah-engah. Kemudian senyumnya terlukis di bibir merahnya, “Dari panggung lebih tepatnya.” jawabnya. Pantas saja ia mengenakan kostum seperti ini. Aku terus bergumam dalam hati sementara ia sekarang sibuk bermain dengan pasir dan air laut yang mengenai kostumnya.
            Kenapa?”
            “Bosan”.
            Kemudian tubuhnya dihempaskan ke pasir pantai dengan damai.
            Tapi kamu pasti akan ngecewain orang-orang yang sudah menunggu kamu tampil disana” ujarku. Ia menoleh dan tertawa sejenak. “Aku cuma sebentar mencari udara keluar, apa ada yang salah?”
            Aku terdiam bingung harus meresponnya dengan jawaban seperti apa. Kemudian ia kembali bersuara, “April” ia menjulurkan tangannya padaku.
            Juno. Terkadang, memang kita butuh lari sebentar dari rutinitas. Untuk menghilangkan penat” jawabku sekenanya.
            Ya.. dan aku melakukannya saat ini. Apa pendapat kamu tentang hidup?” tanyanya sambil memainkan pasir pantai dengan jemari-jemari lentiknya. Matanya yang bulat menoleh kearahku, menungguku menjawab pertanyannya.
            Hidup itu seperti laut ini. Coba kamu lihat kesana… Kamu tidak akan pernah melihat pulau, kapal, atau ikan sampai kamu mencoba untuk mengarungi lautan sendiri. Hidup itu kejutan. Kadang kamu bahagia lalu besoknya sedih. Atau sekarang kamu sedih, mungkin besok kamu akan bahagia.” Kepalanya mengangguk-ngangguk sambil matanya perlahan menyipit seiring dengan lengkungan manis yang terbentuk di sudut bibirnya.
            Atau…. Bisa juga suatu saat kamu merasakan bahagia sekaligus sedih dalam satu waktu.” Ia melanjutkan.
            Curang. Kamu melanjutkan definisi hidup milikku. Bagaimana dengan kamu?”
            Sejurus kemudian ia berdiri dan membersihkan pasir-pasir yang menempel di kostumnya. Lalu tangannya diangkat dan sedetik kemudian kulihat ia mulai menari dengan indah di hadapanku. Gerakannnya gemulai, lembut tapi  sangat cepat. Matanya terkadang ia pejamkan sambil terus menari sampai akhirnya duduk kembali di sampingku.
            Seperti itu hidup menurutku. Capek, bosan, tapi akan terasa sangat indah dan damai kalau kamu benar-benar menikmatinya.” Nafasnya yang terengah-engah bahkan tidak mampu menghapus lengkungan manis itu di wajahnya. Kulihat peluh mulai meluncur deras dari sela-sela rambutnya.
            Kami berbincang hingga larut, tidak.. mungkin hingga pagi. Aku baru mengenalnya memang namun entah mengapa aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. Kami tertawa bersama, kadang pergi menyusuri pantai mencari minuman hangat dan kembali lagi ke tempat kami duduk tadi. Di sela-sela perbincangan tadi, aku sempat berdoa pada Tuhan agar malam ini takkan pernah usai. Ya.. benar memang kataku. Hidup itu kejutan. Sama seperti dia. Dan aku menyukai kejutan.
            Aku harus pulang” katanya. Tidak terasa kami berbincang hingga tertidur di pantai saat itu. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan jejak kaki di pasir seraya meninggalkan aku.
            April….” Ia sudah menjauh saat aku memanggil namanya. Melihatnya tidak menoleh kebelakang, aku berlari mengejarnya.
            April.. Aku tidak tahu darimana kamu berasal, bahkan aku tidak tahu dimana rumahmu. Kita bertemu tiba-tiba dan aku tidak tahu kapan dan bagaimana bisa menemui lagi. Hidup itu memang penuh kejutan, dan kurasa Tuhan sedang mengejutkanku saat ini dengan mempertemukanku dengan kamu” Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku berani bertaruh padamu sebentar lagi lengkungan manis itu pasti hadir lagi.
            1…
            2….
            3….
            Yap! Aku benar!
            “Juno.. tenang saja. Jika 3 tahun lagi kita bertemu lagi di Bali, tandanya Tuhan memiliki rencana lebih untuk kita. Aku janji, kelak jika kita bertemu lagi di Bali, aku akan ikut bersama kamu ke Jogja.” Kemudian ia kembali berjalan membelakangiku.
            Tapi Bali kan luas, Pril!”
            Hidup itu penuh kejutan! Berdoa saja semoga Tuhan mengejutkan kamu lagi 3 tahun nanti! Bye Junooooo!”
            Kemudian ia berlari menjauh hingga tak terlihat lagi di ujung mataku.
***
            Lalu bagaimana kek? Apa kakek jadi bertemu dengan April?” anak perempuan disampingnya masih mendengarkan dengan seksama cerita sang kakek. Tangannya dibuat untuk menopang kepalanya yang menghadap ke sang kakek disampingnya. Sang kakek tersenyum dan melanjutkan ceritanya…
***
            3 tahun ternyata waktu yang sangat panjang jika kamu benar-benar menunggunya. Aku ingin sekali membuka jam tua di sudut rumah ibu untuk mempercepat jalannya waktu, namun kuurungkan niat bodoh itu begitu menyadari bahwa hal itu akan sia-sia. Sehari setelah perjanjian yang kami buat, tiada seharipun yang kulewati tanpa doa dan menghitungnya.  Aku tidak tahu apa yang dimiliki gadis itu hingga membuatku begitu percaya dengan janji konyol kami dan benar-benar menunggunya. Aku ingin sekali bertemu lagi dengannya, aku ragu mengatakannya… tapi kurasa aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu bahkan hingga saat ini. Aku mencarinya di mesin pencari di internet namun nihil. Sepertinya gadis itu memang hanya mencintai hidupnya dalam tari hingga internet saja tidak sempat ia sentuh.
            9 Oktober 2002. Aku mencatatnya dengan sangat jelas dalam ingatanku. 3 Tahun lamanya aku menunggu hari ini. Dan hari ini aku berangkat ke Bali untuk ‘menjemput’ April. Aku rindu melihat lengkungan manis di wajahnya. Aku mengambil jatah cuti 3 hari dari kantor tempatku bekerja untuk menemui April.
            Denpasar. Bali sangat luas dan aku tidak tahu harus mulai darimana untuk mencarinya. Bahkan aku tidak memiliki foto dirinya untuk menanyakannya pada setiap orang di Bali. Aku harus menemukannya. Kali ini aku ingin Tuhan mengejutkanku sekali lagi seperti 3 tahun lalu..
            Aku hanya ingat lengkung manis di wajahnya, hidupnya dalam tarian, dan janji kami. Tunggu… tarian. Ya! Kurasa aku tahu harus mulai darimana aku mencarinya. Aku segera pergi ke lantai dasar hotel dan menemui petugas hotel untuk menanyakan daftar sanggar-sanggar tari yang ada di Bali yang ia ketahui. Beruntung, ia mengetahui banyak sanggar tari di Bali sehingga aku bisa langsung mulai mencarinya lewat sana. Bermodal nekat, secarik kertas berisi alamat-alamat sanggar, dan motor pinjaman dari ojek sebelah hotel, aku bergegas pergi ke alamat yang tertulis disana satu-persatu.
            Sehari, dua hari, dan ini sudah hari ketiga aku mengunjungi semua tempat yang tertulis disana namun Bali masih saja menyembunyikan April. Hanya tersisa satu sanggar di tepi pantai Kuta yang belum kukunjungi. “Dulu April memang sering menari di sanggar ini, tapi sejak 2 tahun lalu ia sudah tidak lagi menari. Wayan tidak tahu dimana April sekarang”. Ini merupakan sanggar terakhir yang aku temui hari ini. I Wayan sepertinya tidak bercanda, dan sekarang aku tidak tahu lagi kemana harus mencari April. Bahkan semua orang tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Mungkin Tuhan memang tidak memiliki rencana lebih untukku saat ini.
            Langit mulai menguning seiring dengan hadirnya senja. Kuta begitu ramai hari ini, namun aku tetap saja merasa sepi. Entah,, namun aku merasa seluruh orang di Kuta seperti menertawakan keberadaanku disini. Aku mencari seseorang yang bahkan aku tidak memiliki foto dan informasi lebih tentang dirinya selain seni tari yang menjadi hidupnya. Apa April lupa dengan perjanjian kami? Atau itu hanya lelucon ringan dan hanya aku yang menganggapnya sebagai janji?
            Aku berjalan menyusuri pantai. Tidak ada yang berubah, pasirnya masih sama hangat dan lembutnya seperti 3 tahun lalu. Yang berbeda hanya orang-orang yang berdiri diatasnya. 3 tahun lalu aku masih menunggu wisuda, sekarang aku sudah bekerja di kota. 3 tahun lalu ada April yang menemaniku sepanjang malam, berbincang, tertawa bersama seolah malam takkan pernah usai. Sekarang, hanya ada aku sendiri, entah bahkan aku belum lagi menemukan alasan lain untuk tetap stay disini. Aku harus segera pulang dan menghentikan lelucon ini.
            Bunga cantik untuk seseorang yang berjalan sendiri di pantai Kuta.. Tuan mau?” kemudian seseorang membawa keranjang mawar putih dari belakang mengagetkanku. Aku menoleh dan menerima bunganya.
            Terima kasih… April”. Aku mengamati wajahnya dalam dengan sangat lama. Aku kenal dengan wajahnya, aku mengenali dan menandai wajahnya dengan jelas dalam memoriku. Inilah gadis yang kucari selama ini, April.
            “Aku kira kamu engga akan datang lagi kesini” ujarnya sambil menghempaskan tubuhnya di atas pasir pantai. Keranjang mawarnya ia letakkan disamping tubuhnya.
            Mana mungkin. Aku masih ada janji sama kamu disini kan? Aku sudah hampir menyerah untuk mencari kamu kesana kemari. Aku mendatangi banyak sanggar tari untuk mencari kamu, tapi kamu tidak ada. Kemana saja kamu?”
            Sorot matanya berubah ketika aku bertanya tentang keberadaannnya saat ini.
            Aku memang sudah tidak lagi menari, Juno. Hidupku memang dalam tari, dan aku masih sangat mencintai dunia tari hingga saat ini. Tapi, sejak ayah meninggal 3 tahun lalu, aku dan ibu bersama-sama mencari penghasilan lewat toko bunga kami di Kuta. Kalau sore aku biasa menyusuri pantai untuk membagikan bunga kami untuk orang-orang di Pantai Kuta. Aku hampir tidak lagi punya waktu untuk menari sejak itu” Kulihat matanya berkaca-kaca saat ini. Memang aura wajahnya tidak lagi seceria dulu. Tapi aku masih bisa melihat sedikit lengkung manis yang terbentuk di wajahnya. April yang dahulu datang padaku lengkap dengan kostum tarinya, wajahnya masih penuh dengan make up, lalu menari dengan sangat damai di pantai untuk menunjukkan seperti apa ‘hidup’ menurutnya, kini ia hadir dengan tampilan sederhana, namun tetap tidak bisa menyembunyikan paras cantik di wajahnya.
            Kamu engga akan tahu kemana hidup akan bawa kamu, Pril. Tuhan pasti punya rencana besar setelah ini, aku yakin.” Aku membiarkannya bersandar di bahuku lama. Malam semakin larut ketika kami semakin terbawa dalam perbincangan malam kami. Kami melakukan lagi apa yang kami lakukan 3 tahun lalu saat ini. April mengajakku untuk berjalan melihat kios bunganya di Kuta. Nyatanya, memang Kuta tidak pernah tidur pada saat malam hari dan kini aku benar-benar menikmatinya. Kios bunga April berada di pinggir jalan besar Kuta, didepannya banyak kafe dan beberapa restoran yang buka selama 24 jam untuk menghibur turis-turis yang datang berkunjung.
            Kuta tidak pernah tidur, Juno. Ramai sekali bukan? Diujung jalan sana ada Club paling ramai disini, namanya Sari Club. Kurasa mereka tidak pernah tidur sepanjang hari karena hampir tak pernah aku lihat tempat itu sepi”
            Malam semakin larut, dan aku harus segera kembali ke hotel untuk mempersiapkan kepulanganku besok ke kota. Pencarianku juga sudah selesai, setidaknya aku sudah mengetahui dimana April dan hanya tinggal menyusun rencana untuk membawanya ikut bersamaku ke kota.
            Kamu bisa melanjutkan ‘hidupmu’ di kota bersamaku. Kita bisa membuka sanggar tari bersama dan kamu akan mengajari anak-anak berlatih menari Bali. Kamu masih punya banyak sekali kesempatan, Pril” Aku kembali menatapnya, kini dengan sorotan mata yang tajam dan serius. Aku ingin sekali membawanya ke kota untuk sama-sama menyatukan definisi hidup kami dalam satu atap yang sama.
            Ya.. aku juga sudah janji padamu bukan? Besok aku dan ibu akan bersiap ke kota bersama kamu” Dan lengkung itu terbentuk lagi seraya pelukan hangat darinya untukku.
            Malam itu mungkin malam paling indah yang pernah kulihat. Bintang-bintang banyak sekali bertaburan menghiasi langit Kuta ditemani dengan cahaya bulan yang terang berpendar ke seluruh penjuru. Aku segera pamit dan berjalan kembali menuju hotel tempatku tinggal untuk bersiap-siap besok pulang ke kota.
            Sebagian masyarakat Kuta sudah beranjak tidur hingga suara itu muncul.
BLAR.
Tidak lama sejak aku sampai di hotel, suara ledakan yang besar muncul tidak jauh dari belakang jalan Kuta. Aku mengintip dari balik tirai hotel dan melihat banyak orang berlarian keluar dari rumah dan melihat ke arah sumber ledakan. Sebagian menangis dan berteriak ketakutan.
Bom! Bom! Lari!” Mereka berteriak sambil berlari tak beraturan. Aku membekap mulutku begitu menyadari lokasi bom itu meledak tak jauh dari tempat April. Tidak banyak gerakan aku langsung turun kembali ke bawah dan berniat untuk segera berlari menyusul April dan ibunya untuk membawa mereka ke tempat aman menjauh dari ledakan tadi. Entah, namun aku merasa aka nada ledakan berikutnya setelah ini.
Aku sudah sampai di gerbang hotel saat beberapa petugas hotel menahanku pergi keluar.
Bahaya Bli.. bahaya!” Teriak salah satunya sambil menahanku. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan perasaanku saat itu. Aku sangat takut, khawatir dengan ledakan yang baru saja terjadi.
BLAR!
Benar saja, ledakan kedua terjadi lagi. Kali ini lebih besar dan lebih kencang. Getarannya bahkan terasa sampai tempatku berdiri. Kulihat kaca jendela hotel pecah dan berantakan ke lantai dasar. Orang-orang semakin berlarian kesana kemari, semua berteriak ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Kuta berubah menjadi sangat menakutkan malam ini. Asap setinggi 100 meter membentuk cendawan api raksasa mengepul tebal memenuhi langit Kuta. Aku tidak tahan lagi, aku berlari menerobos benteng petugas-petugas hotel, mengindahkan seluruh perkataan mereka yang meneriakiku bahwa Kuta sangat berbahaya saat ini. Aku berlari menerobos asap melewati ratusan orang yang menangis dan berteriak kesakitan. Bau amis darah tercium dimana-mana menusuk hidung, entah sudah berapa potongan tubuh yang kulihat berceceran dijalan tapi aku terus berlari menembus kerumunan orang-orang. April.
Semua rata dengan tanah. Aku tidak lagi dapat melihat satu bangunan pun di sekitar jalan Kuta yang masih berdiri kokoh saat ini. Kekuatan dahsyat bom tadi ternyata meluluhlantahkan semuanya, termasuk kios bunga April. Aku mencari ke semua sudut dan tidak menemukan April. Ya Tuhan, kejutan macam apalagi ini?
Aku bersimpuh di depan reruntuhan itu. Tidak ada lagi yang tersisa selain jeritan pilu orang-orang yang kesakitan dan kehilangan orang-orang tercinta mereka. Beberapa anak kecil berlarian memanggil-manggil ibu dan ayah mereka, sebagian orang membopong korban ledakan yang berceceran darah. Sebagian utuh, sebagian lainnya tidak seberuntung yang lainya. Tangisanku pecah pada saat itu, takut, khawatir, dan bingung. Kemudian tak lama kemudian kudengar dari kejauhan ledakan lagi disusul dengan asap besar yang mengepul di langit. Ledakan ke-3 dan aku terjatuh tak sadarkan diri.
***
Putih. Ruangan itu sangat putih dan dipenuhi banyak sekali orang yang meringis kesakitan memegangi tubuhnya. Rumah sakit ini begitu penuh dengan korban ledakan yang akhirnya kukenal dengan sebutan Bom Bali  dari saluran-saluran TV yang sejak tadi menyiarkan keadaan di Bali. Bali mendadak menjadi terkenal ke seluruh dunia namun bukan karena keindahan alamnya, karena ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan ratusan bangunan, menghilangkan nyawa orang-orang tersayang, menyebarkan bau amis darah ke seluruh penjuru dan meninggalkan luka yang sangat dalam bagi masyarakat Bali.
Termasuk aku, bahkan sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana keadaan April. Dimana dia, Tuhan?
Aku berlari mencari suster untuk melihat daftar nama-nama pasien dan korban ledakan. Mataku terus melihat dengan seksama nama-nama pasien yang dirawat dan aku tidak menemukan nama April disana. Aku terus berlari dan menanyakan kepada orang-orang, namun mereka juga tidak mengetahuinya. Polisi dan rumah sakit juga belum bisa memastikan siapa-siapa saja yang menjadi korban ledakan.
Satu minggu sudah berlalu, aku trauma menonton televisi dan melihat semua pemberitaan tentang Bali yang sangat mengoyak hatiku. Keluargaku datang menjenguk dan aku baru mengetahui bahwa ledakan itu menelan korban tewas 184 orang, 230 orang luka-luka, 47 bangunan hancur, dan ratusan mobil rusak berat. Setiap kali aku mengingat kejadian hari itu air mata ini turun begitu deras, masih ingat bagaimana anak-anak menangis dengan sangat pilu, orang-orang menahan sakit, dan reruntuhan bangunan yang tanpa daya rata dengan tanah.
Perlahan keadaanku mulai pulih, aku memang tidak menderita banyak luka. Pada saat pingsan, kepalaku membentur batu kayu besar yang membuatku tak sadarkan diri lama, yang membuatku lama di rumah sakit adalah luka batin yang masih menganga lebar karena trauma sejak kejadian malam itu. Aku berjalan pelann keluar rumah sakit dan melihat daftar nama-nama korban bom. Ni Nyoman Aprilita Dewi. Nama itu terpampang dengan sangat jelas disana. Membuatku terduduk lemas dan membiarkan lagi bening itu menetes membasahi pipiku, membuat luka menganga di hatiku semakin lebar dan tak terobati.
***
Jangan menangis dong, Manda..” Gadis kecil itu menyeka air matanya sambil tersenyum malu.
Aku sedih kek.. Lalu bagaimana dengan kakek? Kenapa kakek tetap tinggal di Bali, Bali kan sudah buat kakek sedih” Ia bertanya dengan polosnya.
Kakek sudah terlanjur cinta dengan Bali. Kakek mencintai Bali bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki kakek disini. Disini tertanam harapan, cinta, dan luka yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Lagipula, jika kakek tidak disini, mana mungkin kakek bisa bertemu dengan anak-anak cerdas seperti kalian?” Sang kakek tertawa dan mengusap-usap rambut si gadis kecil. Dibalik tawanya tersimpan sejuta luka yang tak bisa terobati hingga kini. Cintanya hidup dalam memoar lama yang tersusun dengan rapi bersama dengan luka batin di hatinya. Mengoyak segala bentuk harapan dan cita-cita mulia membentuk sanggar dan mengajari anak-anak menari Bali, menyatukan segala bentuk definisi ‘hidup’ dalam satu atap bersama.
***
Hari ini aku kembali kesini. Bersama dengan barisan orang-orang yang rapi membawa bunga di tangannya. Semua berpakaian rapi berkumpul bersama dengan anggota keluarga masing-masing. Seharusnya ini menjadi satu pemandangan yang menarik dan indah dengan banyaknya bunga yang dipersembahkan, ratusan orang datang dan dengan serentak mengenakan warna baju yang senada. Kemudian upacara doa dimulai dengan berdoa bersama untuk nama-nama yang terpahat di monumen sebagai korban ledakan Bali tanggal 12 Oktober 2002 silam. Sebagian pengunjung menitikkan air matanya sambil terus melayangkan doa untuk mereka yang kini sudah damai diatas sana. Kemudian anak-anak kecil mulai maju satu persatu menyematkan bunga berwarna putih di sekeliling monumen, disusul dengan para orang tua, turis dan wisatawan yang berada disana dan memegang bunga. Termasuk aku.
Kumpulan orang-orang itu mulai menyepi seiring dengan tumpukan bunga mawar putih yang semakin banyak di monumen Ground Zero, Kuta. Putih rata hingga aku melihat seseorang dengan kursi roda meletakkan setangkai mawar berwarna merah diatas tumpukan bunga mawar putih. Kontras. Ia tertunduk sebentar berdoa untuk nama-nama yang terpahat disana, kemudian kulihat beberapa tetes bening menetes dari sudut matanya. Aku mendekatinya dan menatapnya lekat-lekat. Nenek itu terdiam sambil menatap dan mencoba menebak-nebak siapa laki-laki paruh baya di depannya yang dengan lancang menatapnya begitu serius.
April….” Aku gemetar ketika menyebut namanya pelan. Aku mengenal lekung di wajahnya yang bahkan sampai setua ini tidak pernah hilang. Ia menatapku bingung, namun tak lama kemudian kulihat air mata itu kembali menetes di sudut matanya seraya tangan keriputnya mencoba meraih tubuhku.
Ibu….” Ia menunjuk monumen dan nama yang terpahat diatasnya. Ni Nyoman Aprilita Dewi. Ternyata yang terpahat disana adalah nama ibunda April. Selama bertahun-tahun ini aku salah paham dan mengira April-lah yang menjadi korban ledakan. Bodoh…  Kemudian ia mengenalkan perempuan cantik di belakangnya, “Tata.. cucuku” anak perempuan itu menjabat tanganku sopan kemudian memeluk neneknya erat. Sekarang gantian aku yang menangis dihadapannya. April memegang tanganku dan menatapku dalam.
Kamu benar.. Tuhan memang memiliki rencana besar untuk kita. Kita memang menjalani hidup kita masing-masing, dan mempertemukan kita kembali disini. Menemukan bagaimana arti hidup sesungguhnya lewat harapan, cinta, dan luka. Malam itu, setelah ledakan pertama, aku dan ibu segera berlari ke daerah pantai. Namun ibu kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang berharga peninggalan ayah.. sampai akhirnya terjadi ledakan kedua yang lebih dahsyat dan aku tak pernah lagi bertemu ibu sejak saat itu. Aku frustasi dan mencoba mencari kamu kemana-mana tapi aku tidak berhasil. Aku trauma, dan memutuskan untuk pergi dari Bali merantau ke Jogja berharap bisa lagi bertemu dengan kamu. Tapi ternyata Tuhan sekali lagi mengejutkan aku, aku bertemu dengan suamiku  dan kami menikah setahun kemudian, maafkan aku” Ia menceritakannya dengan terbata-bata sambil terus menatap mataku yang basah. Kami sama-sama mencari tapi tidak pernah saling bertemu hingga tiba hari ini. Setidaknya ia sudah bahagia dengan keluarganya. Setidaknya aku bisa melihat lekung di wajahnya lagi. Setidaknya lukaku selama bertahun-tahun sudah terobati saat ini. Dan setidaknya, satu mimpi kami sudah terwujud, membuat sanggar tari. Meskipun hanya aku sendiri yang membangun sanggar tari tersebut untuk mewujudkannya.
Meskipun pada akhirnya aku yang naïf, aku tidak menikah dengan siapapun sejak hari itu karena takut untuk bertemu dengan seseorang yang kucinta lalu kemudian ditinggalkan. Aku hanya takut menerima kenyataan.  Lemah.
Kami sama-sama meninggalkan monumen ketika matahari beranjak pergi meninggalkan langit Kuta berganti dengan bulan. April harus segera kembali ke Jogja bersama dengan keluarganya. Begitupun aku, aku harus kembali ke sanggar dan melihat anak-anak yang berlatih menari di sanggarku tumbuh dengan ceria dan bahagia. Menikmati sisa-sisa hidupkku dengan bahagia dan tenang di Kuta adalah salah satu nikmat hidup dari Tuhan yang patut kusyukuri dengan baik.
Hidup adalah kejutan. Dan sekali lagi, aku menyukai dan tidak pernah menyesal atas semua kejutan yang Tuhan berikan padaku.
Dan tidak pernah lagi kulihat langit Kuta secantik langit hari ini. Tidak pernah lagi kurasakan perasaan bahagia dan lega menikmati hidup seperti saat ini. Selesai merapikan gazebo, aku menyiapkan tempat tidurku dan mengenakan pakaian paling bagus yang kupunya saat itu. Aku bahagia dan aku ingin tidur dalam bahagia hari ini. Kurebahkan tubuh keriputku pelan, kupejamkan mataku menjemput surga. Hidup memang penuh dengan kejutan…
Gelap.
.....................................................................................................................................................................

Cerita ini Fiktif tanpa maksud menyinggung dan mengangkat luka dari siapapun yang membacanya. Jika ada kesamaan nama, tempat, ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata tanpa ada unsur kesengajaan. Semoga selalu damai dalam peluk Tuhan untuk korban dan kesabaran & ketabahan berlimpah untuk keluarga yang ditinggalkan.
 Selamat membaca :)
Cynthia S Lestari
12 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...