Tik. Pernahkah kalian berpikir waktu berlalu sangat cepat? Tik. Menghapus semua memori otakmu yang penuh dengan kenangan. Tik. Memaksamu untuk cepat melupakan masa lalumu yang penuh coretan indah. Tik. Menemukan cinta dan sekaligus membuatmu merasakan kehilangannya. Tik. Aku hanya ingin menceritakan kepadamu betapa berharganya waktu. Tik. Membuatmu mengerti apa arti cinta dan, betapa berharganya waktu disetiap detik, setiap cinta, dan tentu saja, hidupmu. Tik bunyi detik ini mungkin terdengar samar olehku. Tik. Terima kasih waktu, cinta, dan hidup. Tik. Dan, waktuku pun habis…
***
Mataku terus saja memandangi foto-foto lama yang tertumpuk rapi disana. Tertumpuk bersama kenanganku dan diselimuti debu karena sudah lama sekali aku tidak membukanya. Kali ini, aku memberanikan diri untuk membukanya dan.. benar saja. Air mataku kembali turun. Kali ini mataku tertumbuk pada satu objek didalam foto yang kini basah dengan tetesan air mataku. Namanya Nathan. Tiga tahun lalu saat perpisahan SMA adalah terakhir kali aku bertemu dengan pria ini. Dan, saat terakhir aku memutuskan untuk melupakan dirinya. Ia pergi melanjutkan studinya ke Amerika saat aku memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan melanjutkan studiku disini. Ia pergi dengan perasaanku yang selama 3 tahun tidak pernah berani kuungkapkan padanya. Dan selama itu pula hingga sekarang aku tidak berani membuka kotak ini. Kotak berisi foto dan liontin yang pernah ia berikan kepadaku.
Aku pikir aku berhasil move on saat aku duduk di bangku perkuliahan. Aku banyak bertemu dengan teman-teman baru dan tentunya masih menjaga silaturahim dengan teman-temanku di SMA kecuali Nathan. Lingkungan baru banyak membantuku ‘pergi’ dari bayangan pria itu. Dan aku berhasil. Aku menemukan sosok baru yang mampu membuatku berpaling dari Nathan. Pria itu kini mengisi seluruh hatiku dan memburamkan seluruh perasaanku terhadap Nathan.
“Masih ingin disini, Clay?” aku menutup bukuku dan mendekapnya erat. Suara Keegan masuk dan membuyarkan pikiranku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.
“Ayo pergi” aku menggamit lengannya. Sejenak aku merasakan tangannya mengacak rambutku pelan. Inilah pria yang berhasil membuatku lupa dengan Nathan. Namanya Keegan dan aku mencintainya. Belakangan ini aku sering menghabiskan waktuku di café dekat kampus sambil membaca novel kesukaanku. Dan hari ini adalah hari keberuntunganku karena Keegan bersedia meluangkan waktunya untukku. Di hari jadi kami yang ke-2 tahun, Keegan pertama kalinya mengajakku makan malam. Terdengar aneh memang, namun Keegan memang terlalu sibuk dengan urusannya.
“Hari ini kita mau kemana?” tanyaku padanya. Ia hanya melemparkan senyum padaku sambil menggenggam erat tangan kananku sambil sibuk menyetir. Keegan adalah pria pertama yang berhasil masuk kedalam kehidupan pribadiku. Pertama setelah Nathan. Dua tahun kuhabiskan dengan Keegan. Ia datang kepadaku saat aku lelah memperjuangkan perasaanku kepada Nathan. Kedatangannya memberikan kehangatan yang mungkin selama ini aku harapkan dari dirinya yang entah pergi kemana tanpa kabar apapun. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bersama Keegan dan memulai hari-hariku tanpa bayangan Nathan.
“Kita makan malam disini saja ya, tempatnya indah bukan?” Mobil Keegan berhenti di depan restoran bernuansakan warna merah yang dibalut oleh indahnya mawar-mawar yang sengaja ditebarkan ke seluruh penjuru restoran. Aku sangat takjub dengan pilihan Keegan sekarang, Keegan belum pernah mengajakku ke tempat romantis seperti ini sebelumnya. Kami bahkan jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Ini sungguh kesempatan yang sangat indah dan langka sekaligus caraku untuk membuktikan kepada mereka kalau Keegan sangat baik kepadaku! Ya, aku ingin sekali mematahkan anggapan buruk mereka kepada Keegan.
“Clay” suara Keegan akhirnya bisa membuatku tersadar dari pikiranku tentangnya. Aku melemparkan senyum dan mengangguk anggun. Aliran darahku terasa hangat serambi Keegan meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat.
Sekilas kudengar ponselku bergetar tanda ada chat masuk bertubi-tubi. Pasti teman-temanku kaget melihat fotoku dengan Keegan yang sengaja kupajang di account messenger ku. Aku ingin mereka merasakan apa yang kurasakan sekarang. Keegan bisa berubah. Keegan tidak seburuk apa yang mereka kira. Bukan tanpa alasan aku ingin mematahkan anggapan buruk mereka mengenai Keegan. Keegan seringkali diperbincangkan teman-temanku. Mereka bilang Keegan bukanlah sosok yang baik untukku. Keegan adalah pria yang hanya menginginkan status berpacaran denganku, dan tak jarang aku mendengar bahwa Keegan sering kencan dan menyukai wanita lain selain aku. Sifatnya yang moody memang terkadang membuatku sedih. Apa rasanya saat kau melihat pacarmu tertawa ceria bersama teman-temannya, dengan wanita lain namun diam dan ketus saat berbicara denganmu? Hanya denganmu. Apa rasanya merayakan Anniversary tanpa ucapan dari pacarmu? Apa rasanya terus menunggu perubahan yang tidak kunjung dilakukan oleh pacarmu? Apa rasanya saat kalian mendengar berita-berita kesaksian yang terdengar menyakitkan mengenai pacarmu? Sakit saja tidak akan cukup melukiskan jawabannya. Aku tahu jelas itu. Tapi, aku ingin menunggu perubahan yang akan dilakukan Keegan untukku. Aku yakin Keegan akan melakukannya. Seperti saat ini.
Makan malam kali ini sangat indah untukku dan Keegan. Aku bisa melihatnya dengan jelas, mendengar tawanya, merasakan aliran darahku yang mengalir cepat dan hangat saat tangannya meraih tanganku, dan diantara semua itu, aku bisa merasakan aku mencintainya.
***
“Simpan baik-baik, Clay” Nathan menyerahkan liontin itu kepadaku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi melihat tingkahnya yang aneh.
“Untukku? Dalam rangka apa? Kenapa harus aku?”tanyaku. Aku menarik lengannya agar ia menjawab pertanyaanku. Tapi yang kudapati hanya senyum nakalnya, “Simpan aja, tadi dari bunda. Gambarnya terlalu cewek, Karin ngga mau jadi buat kamu aja” ia lalu pergi keluar kelas menyusul Karin. Aku harap tidak ada yang melihat aku tersenyum senang seperti ini. liontin itu segera kumasukkan kedalam saku seragamku dan akan kusimpan sampai suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengannya.
***
Café itu ramai seperti biasanya. Tempat ini adalah tempat kesukaanku saat aku lelah mengerjakan tugas atau saat aku ingin melepas penat dengan secangkir kopi dan alunan musik klasik sebagai backsound nya. Laptop di depanku masih menyala, blank document. Aku sama sekali tidak memiliki ide untuk kutuangkan didalam file ini. biasanya, perpaduan antara musik klasik, coffee latte dan suasana yang nyaman akan sangat membantuku menulis. Menulis adalah hobiku dan aku sangat mencintainya. Beruntung sekali karya-karyaku sudah dipajang di jajaran novel-novel di toko buku.
“Clay?” Tanya seseorang di depanku. Suaranya berat dan aku rasa aku mengenal suaranya dengan pasti. Perasaanku mengatakan untuk tidak melihat kearahnya namun kedua mataku tidak dapat kucegah.
“Nathan?” aku membasahi kerongkonganku secara paksa. Kedua mataku tidak berhenti memandanginya yang kini hanya berjarak setengah meter dari tempatku duduk. Dia yang selalu kutunggu kini telah kembali. Persis seperti yang ada di bayanganku, sosoknya tetap sama seperti dulu. Matanya teduh. Lama sekali tidak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Entah mengapa tetapi aku rasa Nathan juga kaget melihatku berada didepannya.
“Long time no see, Clay” sapanya lagi. Senyumnya mengembang. Aku masih kaku di tempatku duduk. Aku masih belum percaya kini aku bertemu lagi dengannya. Dengannya yang dengan susah payah aku lupakan. Aku hanya melemparkan senyumku padanya. Entah senyum seperti apa yang dia lihat namun aku berusaha untuk tetap pada ‘area’ku.
“Apa kabar Nate?” aku berusaha memulai pembicaraan sambil mempersilahkannya duduk di dekatku. Kutegaskan kepada hati dan otakku agar bisa terkendali pada saat ini. Melihatnya secara dekat seperti ini bukanlah seperti yang aku bayangkan sebelumnya.
“Aku baik. Kamu? tidak banyak yang berubah ya nona. Masih sama seperti dulu” lagi-lagi ia tersenyum. Tidakkah Nathan tahu senyumnya adalah salah satu penyebab utama tanganku terasa dingin? Aku mengangguk dan kembali tersenyum kepadanya. Keegan Keegan Keegan. Berkali-kali nama Keegan kusebut. Aku berusaha sekuat tenaga memenuhi seluruh pikiranku dengan nama Keegan. Keegan Keegan Keegan.
“Hey, masih aja deh cuek gitu. Boleh duduk?” tepukan halus Nathan dipundakku membuyarkan semuanya. Entah sudah berapa kali aku menyebut nama Keegan. Aku mengangguk dan mempersilahkan Nathan duduk di hadapanku. Nathan. Dia telah kembali. Namun, kenapa harus hari ini Tuhan?
Obrolan kami tidak jauh dari pengalaman selama kuliah dan kenangan-kenangan masa SMA yang pernah kami lewati bersama. Nathan masih sama seperti ia yang dulu. Matanya adalah seseuatu yang paling kusuka dari semua mata yang pernah kulihat. Teduh.
“Than, aku harus pulang sekarang. I’m glad to see you here” aku pamit pulang dengannya. Nathan sempat manawariku untuk mengantarku pulang, namun aku menolaknya. Aku tidak ingin semua kenangan itu muncul lagi dan menjadi boomerang untukku.
***
“Untuk apa sih Clay mempertahankan Keegan?! Sudah jelas aku melihatnya bersama Naya dirangkulannya. Kumohon, ini bukan sekali atau dua kali kan kamu mendengar berita ini? Clay, we love you so, please” aku diam. Diam adalah ekspresi favoritku pada saat aku mendengar banyak berita buruk mengenai Keegan. Aku muak dengan semua berita yang buruk mengenai Keegan. Keegan adalah orang yang kusayang dan aku sangat percaya kepadanya. Namun, aku tidak membantah kalau ada sebagian sisi dari diriku yang mengiyakan berita-berita tersebut. Keegan bahkan tidak pernah mengenalkan aku kepada teman-temannya. Belum lagi, beberapa bulan belakangan ini ia sering bermasalah dengan moodnya. Dalam sebulan, mungkin ia bisa menghabiskan 3 minggu untuk sendiri dan menganggapku tidak ada. Entah kenapa. Aku memang merasa sudah tidak nyaman berhubungan dengan Keegan seperti ini namun aku selalu memiliki harapan bahwa Keegan pasti berubah. Cepat atau lambat.
Kulihat handphone ku dan tidak mendapatkan apa-apa disana. Aku menunggu LED berwarna biru yang menandakan adanya pesan dari Keegan. Semenjak kami makan malam bersama di restoran, ia sudah tidak menghubungiku lagi. Entah apa yang ia lakukan sekarang, dengan siapa dan dimana aku bahkan tidak mengetahuinya. Bukan karena aku cuek, setiap kali kutanya pasti berujung pertengkaran dengan Keegan dan aku membenci hal itu. Aku sayang Keegan.
“Clay! Untuk apasih? Kamu kan masih bisa menjalin hubungan dengan orang lain yang lebih baik dari Keegan. Keegan bukan pria yang baik Clay”. Berkali-kali Mora berbicara mengenai Keegan dihadapanku namun aku tetap diam. Aku tidak ingin bertengkar dengan sahabatku mengenai Keegan. Biar aku sendiri yang merasakannya, orang lain tidak akan tahu rasanya menjadi diriku bersama Keegan.
Nyaman…
Mora memelukku erat. Aku bisa merasakan pelukannya hangat dan tulus sebagai seorang sahabat kepadaku. “Maafkan aku” hanya itu yang keluar dari mulutku bersama dengan linangan air mata yang mengalir deras seiring dengan pelukan yang semakin erat diantara kami.
***
“Hai Clay” aku mendongakkan kepalaku dan melihat siapa yang berdiri tepat dihadapanku saat ini. Nathan. Entah sudah berapa lama aku selalu menghabiskan waktu ngobrol dengannya di café. Masih sama seperti dulu, bicara dengan Nathan adalah obat untukku saat aku sedang dalam masalah. Aku menceritakan masalahku dengan Keegan dan Nathan hanya menimpalinya dengan sederhana, “Keputusan ada di tanganmu Clay”. Tak jarang aku menangis dihadapannya karena ulah Keegan yang semakin parah belakangan ini. aku lelah dan Nathan tahu jelas itu.
“Kenapa ngga coba cari pria lain, Clay? Kamu cantik, jangan takut”. Tanyanya pelan. Matanya menatapku lekat-lekat tajam. aku bahkan tidak ingin melihat kearah matanya. Aku takut terjebak didalam perasaanku yang sudah lama kulupakan tentangnya.
“Belum saatnya. Aku berjanji pada Keegan tidak akan pergi darinya hingga ia yang terlebih dahulu meninggalkan aku”
“Bodoh”. Ia lalu menarikku ke dalam lekukan lengannya dan aku kembali menangis saat menyadarinya. Mengapa harus saat ini aku berada dalam pelukannya? Mengapa tidak kemarin, Tuhan? Aku enggan melepasnya saat ini. Seharusnya aku bahagia karena inilah jawaban atas semua harapan-harapan kosongku. Harapanku dulu bersama Nathan.
“Kau bisa bersama pria yang lebih menyayangimu Clay. Seperti aku” kudengar suaranya tepat di telingaku. Aku salah dengar. Keegan Keegan Keegan. Kudongakkan kepalaku agar aku bisa berbicara dengannya.
“Apa?” tanyaku pelan masih diantara isak tangisku. Bibirnya mengembangkan senyum tulus. Keegan Keegan Keegan. Berkali-kali aku panggil nama Keegan. Aku hanya ingin memenuhi seluruh isi pikiranku dengan Keegan. Nathan adalah masa laluku yang sudah pergi. Ya, sudah kulupakan.
“Aku mencintaimu, Clay. Sejak dulu, bahkan saat kita pertama kali bertemu di SMA. Aku hanya bingung mengungkapkan bagaimana perasaanku saat itu sampai akhirnya aku memilih pergi ke Amerika dan meninggalkanmu disini. Maaf. Maaf karena aku pergi tanpa memberitahukan semuanya padamu. Kini aku kembali Clay. Aku merasa sudah cukup siap untuk bertemu lagi dan menceritakan semuanya padamu.”. Tanganku dingin. Aku bahkan tidak mampu menggerakkan bola mataku menjauh dari matanya. Matanya menatap lembut kearahku. Ini yang paling aku tidak suka! Aku takut melihat kearah matanya. Matanya seolah-olah menusukku. Tapi, dilain sisi, aku juga sangat menyukai matanya. Matanya selalu mampu membuatku tenang dan merasa nyaman. Dalam dan sangat teduh. Masih sanggupkah aku memanggil nama Keegan saat ini, Tuhan?
“Nate, maafkan aku tapi aku masih belum mengerti lelucon apa yang sedang kau katakan saat ini”. aku ingin sekali menampar wajahku sendiri saat ini. Lelucon apa maksudmu Clay?!
“Yasudah, lupakan saja Clay. Ayo pulang sepertinya kau sudah lelah” ujarnya dengan nada rendah. Aku melihat gurat kecewa diwajahnya. Tidak, bukan itu yang kumaksud Nate, bukan itu. aku hanya berusaha mencari pertanyaan basa-basi padanya saat ini. Aku masih memiliki Keegan dan aku, aku tidak ingin menjadi cewek murahan yang terbawa suasana seperti tadi. Keegan Keegan Nath. Aku tahu, jelas tahu kini perasaan itu kembali lagi.
***
Hubunganku dengan Keegan semakin buruk. Keegan berulang kali mengucapkan kata-kata kasar kepadaku, berita-berita buruk mengenai Keegan juga sering kali kudengar dari Mora dan teman-temanku yang lain. Bahkan teman Keegan juga iba melihat hubunganku dengan Keegan dimana hanya aku yang berperan didalamnya. Hanya aku.
Sama halnya dengan Keegan, hubunganku dengan Nathan juga tidak seperti dulu sebelum ia mengatakan semuanya kepadaku. Aku salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepada Nathan. Maafkan aku. Aku sebenarnya ingin ia menungguku hingga aku menyelesaikan hubunganku dengan Keegan. Setelah kurasa sudah cukup lama aku bertahan dengan hubunganku yang tidak tahu akan dibawa kemana oleh Keegan.
Dua hari yang lalu aku sudah bicara pada Keegan dan mengakhiri hubunganku dengannya. Aku lelah dengan semua bentuk pertahananku. Aku lelah terus menerus menangis mengenai Keegan. Aku lelah aku lelah dan aku ingin berhenti. Aku baru menyadari kalau Tuhan itu adil. Di satu sisi aku disia-siakan dan di sisi lain aku diinginkan. Tanpa basa-basi Keegan mengabulkan permintaanku mengakhiri hubungan dengannya. Aku bebas.
Ingin sekali aku mencari Nathan dan memberitahukan perihal status dan beasiswa melanjutkan studiku ke Jerman yang kudapatkan saat ini. kata orang, cinta harus dikejar dan inilah yang akan kulakukan. Aku ingin melakukan apa yang telah dilakukan Nathan denganku kemarin. Berkali-kali aku mencoba menghubungi handphonenya dan baru tadi aku bisa berbicara dengannya.
“Bisa kita ketemu?” tanyaku. Sejenak kudengar ia berpikir dan menyatakan kali ini sibuk dengan urusan kepindahannya ke Indonesia.
“Tapi, sepertinya aku bisa meluangkan waktuku sore ini, Clay. Aku ingin memberikanmu sesuatu hari ini” tawanya renyah terdengar olehku. Aku menghela nafas lega saat mendengar ia bisa menemuiku sore ini dan itu artinya sebentar lagi aku bisa bicara mengenai apa yang sudah kupendam bertahun-tahun kepadanya.
Sore itu, aku masih belum menerima kabar dari Nathan. Nathan sama sekali tidak memberiku kabar mengenai kepergiannya yang aku tidak tahu kemana tujuannya.
Ponselku berdering. Aku berharap ini adalah panggilan dari Nathan.
“Halo?”
“Clay… Nathan, Clay! Nathan!” suara itu. Aku kenal suara itu. Itu suara bunda Nathan. Ada apa malam-malam begini?
“Nathan kenapa, tante?” tanyaku heran. Aku juga ikut cemas mendengar Tante Sera menangis tiba-tiba.
Tante Sera terus menangis. Aku jadi semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“ Nathan kecelakaan, Clay” ujarnya terbata. Aku membekap mulutku. Aku benar-benar kehilangan kendali emosiku kala itu. Handphone yang berada di tanganku terlepas begitu saja dari genggamanku. Aku merasa tubuhku lemas dan aku benar-benar kacau!
Aku tidak perduli dengan apapun saat itu. Aku langsung menuju rumah sakit yang diberitahu tante Sera tempat Nathan dirawat.
Disana, aku menemukan tante Sera masih dengan tangisannya. Saat melihatku datang, tangisannya semakin menjadi. Aku benar-benar kalut. Aku butuh kepastian, dimana Nathan? Bagaimana keadaannya sekarang?
“Nathan kenapa, tante?”. tanyaku. Bening itu kembali menetes. Aku benar-benar takut. Aku takut mendengar hal buruk mengenai Nathan. Aku takut dengan keadaan Nathan.
“Nathan sudah pergi, Clay” Tante Sera menjawab pertanyaanku sambil menangis. Ia histeris. Aku diam. Aku tidak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini. Kenanganku bersama dirinya, pertemuanku dengannya, hari-hariku dengannya, kehadirannya yang bagaikan obat bagiku, matanya yang teduh dan dalam, sampai kepergiannya yang secepat ini, benar-benar diluar bayanganku. Bahkan, aku tidak pernah membayangkannya di fantasi terliarku sekalipun. Aku tidak mampu berkata apa-apa saat ini. Air mataku tumpah begitu saja dipelukan tante Sera. Bahkan, aku tidak mampu melihatnya untuk yang terakhir kali.
Aku menyesal kenapa waktu tidak mempertemukan kami sebelumnya? Dan, yang lebih aku sesali dari semua ini adalah, Nathan pergi tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab perasaannya. Aku menyesal Tuhan!
***
Aku menunda kepergianku ke Jerman pagi ini. aku ingin menghabiskan waktuku untuk Nathan dihari kepergiannya. Aku ingin bersamanya untuk terakhir kalinya. Aku tidak mampu untuk berdiri dekat tempat peristirahatan terakhirnya dan membiarkan orang-orang itu mulai memasukkan Nathan ke liang sempit itu. Aku ditemani Mora memilih untuk berdiri di bawah pohon,dan memandangnya dari jauh. Aku biarkan air mataku terus mengalir dibawah kacamata hitamku.
“ Clay!” panggil seseorang. Tante Farrah?
“Clay, tante dengar, kamu akan ke Jerman sore ini?” tanyanya. Matanya sembab. Aku tahu dia pasti habis menangis. Nathan. Satu-satunya alasan untuknya menangis adalah Nathan. Pasti Nathan. Sama sepertiku. Aku mengangguk menjawab pertanyaan tante Farrah.
“Tante baru ingat, didekat jenazah Nathan, polisi menemukan sebuah kotak cincin dan surat. Ini untukmu, Clay” Tante Farrah menyerahkan sebuah kotak merah dan surat yang terkena cipratan noda merah darah. Tanganku bergetar saat menerimanya dan segera membuka kotak itu. Cincin?
Satu hal diantara semua di dunia ini yang paling aku suka. Aku suka melihatmu tertawa puas saat kau berhasil mengalahkanku dalam nilai. Aku senang melihatmu cemberut saat tahu kalau aku berhasil menyangi nilaimu dulu. Aku juga senang meminjamkan bahuku untuk tangisanmu. Dan yang pasti, aku senang melihatmu bahagia. Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku kepadamu. Aku tahu, kamu akan pergi untuk melanjutkan study ke Jerman, aku minta maaf karena aku tidak mungkin menemanimu disana. Cincin ini aku berikan agar kau dapat mengingatku seterusnya. Pakai terus bersama liontin yang pernah kuberikan padamu ya? Satu yang harus kamu tahu, Clay.. Aku akan menunggumu. Aku menunggumu hingga suatu saat nanti kita akan bersama. Aku tahu, waktu akan berjalan dan mengantarmu kepadaku.
Sukses untukmu, Clay
Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan selamanya…
XOXO,
Nathanael
Aku menutup surat pemberian darinya. Air mataku terus mengalir tanpa henti dan tanpa isakan yang berarti. Tak lama, aku lalu membuka kotak cincin pemberiannya. Aku lalu memakainya dijari manisku. Aku berjanji, aku akan terus memakainya bersama liontin yang pernah ia berikan untukku.
Aku pergi ke Jerman seminggu setelah Nathan pergi. Sebetulnya, aku tidak ingin cepat-cepat meninggalkan Nathan dan kenangan tentangnya. Waktu akan terus berjalan. ia takkan membiarkanku terus larut dalam kesedihan. Aku percaya, Nathan juga takkan mau melihatku terus bersedih karenanya. Aku putuskan, aku akan berangkat ke Jerman dan mengejar cita-citaku.
Ayah, bunda, dan tante Sera melepas kepergianku ke Jerman. Mereka melambaikan tangan. Aku sangat sedih meninggalkan mereka, terlebih aku juga meninggalkan Nathan sendirian disana.
“ Aku pergi meraih cita-citaku Nate, doakan aku ya..”
Pesawatku akhirnya lepas landas dan meninggalkan Indonesia. Di dalam pesawat, aku masih belum berhenti melupakan Nathan dan semua kenangan tentangnya. aku tahu, ia memang sudah tidak lagi berada disampingku, tapi kenangan tentangnya tidak akan pernah mati.
***
3 tahun aku meninggalkan Indonesia. Kini, aku kembali ke tanah air. Aku sudah benar-benar rindu dengan Indonesia. Ayah, bunda, tante Sera, dan… Nathan. Apa kabar ya dia sekarang?
Aku menyempatkan diri ke makamnya. Aku berdiri didepan batu nisan yang terukir nama Nathan disana. gundukan tanah itu kini menjadi satu-satunya tempat dimana aku bisa ‘berhadapan’ dengannya. Kematian Nathan memang merupakan pukulan godam untukku. Aku benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang aku cinta. Namun, aku menemukan seorang ‘Nathan’ yang baru pada sosok Dylan. Aku akan mulai menata hidupku yang baru bersamanya sekarang. Dan, pernikahanku dengannya hanya tinggal menghitung mundur.
Aku bertemu dengan Dylan di Jerman. Ia juga merupakan siswa yang mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disana. hanya saja, kami berbeda jurusan. Aku menceritakan semua tentangku padanya. Termasuk tentang Nathan. Awalnya, aku tidak pernah menyangka ia akan tetap menjadi temanku, bahkan berani menyatakan perasaannya kepadaku. Aku juga sempat kaget dengan pernyataannya. Apalagi setelah aku menceritakan tentang Nathan padanya. Tapi, sekali lagi aku sangat bersyukur memiliki orang-orang yang sangat pengertian terhadapku.
Aku dan Dylan duduk di tepi nisan Nathan. Aku mulai memanjatkan doa untuknya
“Hey ! Aku baru pulang nih dari Jerman. Kau tahu? Disana aku bertemu banyak orang baru. Sudah banyak orang yang menjadi temanku disana. mereka sangat baik padaku. Bahkan, aku sudah memiliki seseorang yang akan menjadi pendampingku kelak. Ini adalah Dylan. Dylan yang selama ini selalu ada di sisiku selama aku di Jerman. Tidak akan lama lagi, aku akan melangsungkan pernikahanku dengannya. Bagaimana keadaanmu disini? Maaf, 3 tahun aku tidak lagi menjengukmu disini. Bukan karena aku lupa, aku hanya tidak sempat untuk pulang ke Indonesia disela studiku disana. Oh ya, aku masih menyimpan liontin pemberianmu dulu. Aku akan memakainya pada saat hari pernikahanku nanti.
Nate, 3 tahun aku selalu dibayangi perasaan bersalah padamu. Aku rasa sudah saatnya aku menjawab perasaanmu padaku sebelum kau pergi meninggalkanku. Aku mencintaimu, sama sepertimu. Dan, sekarang aku kesal, mengapa kau pergi membawa separuh dari hatiku? Namun, sudahlah lupakan saja. Aku akan tetap membawa perasaanku. Lagipula, akhirnya aku menemukan Dylan. Doakan aku ya Nate. Semoga Dylan dapat membuatku nyaman sama seperti apa yang kau lakukan kepadaku.
Sepertinya aku dan Dylan sudah harus pergi sekarang. Kami akan kembali ke Jerman lusa. Doakan kami sukses ya Nate..
Damai untukmu…
Aku berdiri dan beranjak meninggalkan Nathan. Aku semakin mantap untuk mengejar cita-citaku ditemani liontin dan kenangan pemberian Nathan.
“Udah?” Tanya Dylan.
Aku menoleh. Kedua matanya masih berkabut saat menatapku. “Yuk pulang”
Dylan bangkit berdiri. Diulurkannya tangan kanannya. Lembut ditariknya aku sampai berdiri.
Kami meninggalkan tempat itu dalam diam. Namun, aku yakin Tuhan dan alam akan menyampaikan apa yang kami sampaikan pada Nathan tadi. Untuk seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.
Terima kasih Tuhan, terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk mengenalnya
Terima kasih waktu, karena telah mengajarkanku apa arti cinta dan arti sebuah kehilangan.
Terima kasih Nathan, terima kasih Dylan, dan seluruh cinta…
“. . if anyone can make me fall in love, you can . .“