Sabtu, 16 Januari 2016

Painful Happiness

Jangan pernah sekalipun kamu berani sebut namanya. Jangan. Setidaknya itulah aturan dariku yang berlaku sejak 15 tahun lalu. Jangankan orang lain, bahkan aku sendiri tidak mengizinkan ada satu memori yang terlintas di benakku ketika aku mengingat namanya. Sudah 15 tahun pula aku berusaha untuk tidak mengingat siapa namanya.. Bayangannya seperti siluet hitam tanpa edaran warna di pikiranku. Mengusir setiap rona warna lain yang kemungkinan bisa muncul kapanpun di sela si hitam pekat.

Hitam, kelam, sesal, benci, dingin, dan pekat darah. begitulah caraku mendeskripsikan bagaimana hatiku melihatnya. 

Aku bukan tipe orang yang bisa membenci orang lain dengan mudah, namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku untuknya. Ia tak pernah berhasil memberikan aku satu alasan untuk kembali, alasan untuk pulang… atau minimal alasan untuk membuatku bisa meredam setiap getir luka yang terlanjur menyayat batin. Ia seperti fatamorgana api panas yang terus berkobar di daerah kering nan tandus. Kehadirannya bak mata pisau paling tajam yang bisa dengan mudahnya menembus kulit tanpa perlu ada usaha lebih untuk menekan pisau tersebut.

Then… here I am.

Berdiri kaku, bergeming tak membiarkan satu sel-pun untuk bergerak. Ruangan berukuran 2.5 x 4 meter ini terasa begitu menyiksa batinku. Auranya kelabu dan pengap. Tiap sudutnya seperti berusaha mendesakku untuk keluar dari sini dengan cepat. Kemudian aku melihatnya di sudut kanan ruang ini, tergeletak pasrah menatapku nanar. Aku melihatnya begitu menderita, namun ia balas menatapku seolah-olah berkata bahwa penderitaan ini tak lebih menyakitkan dibandingkan dengan ignorance dariku. 

Aku bersumpah bahwa aku membencinya setengah mati. Lihat saja! Bahkan hingga saat ini ia  dan sipir - sipir itu masih lancang mengiba dan membuatku akhirnya rela menginjakkan kaki di ruangan ini setelah bertahun lamanya.

Kaki ini seperti dirantai di kerak bumi seraya tangannya, ia-yang-aku-benci-setengah-mati itu masih berusaha menggapai diriku lemah. Tatapannya penuh harap akan sepotong kata maaf dariku. Bibirnya susah payah berusaha menyebut namaku, dan barusan kalau aku memang benar membaca bahasa bibirnya… ia berkata “Maaf”. Aku ingin berteriak, memakinya dengan seluruh amarah yang selama ini tak pernah bisa aku lampiaskan. Aku ingin menghajarnya membabi buta tanpa pernah mengindahkan bisikan hati nuraniku. I do really want to kill him..

If i could.

Stop denying yourself, Kim. Kemudian sisi hatiku yang lain mulai angkat bicara, menekan seluruh benci yang terkumpul bertahun-tahun untuknya. Susah payah aku berusaha menahan jatuhnya bening-bening ini dari mataku, namun aku gagal. Bening itu terlanjur turun ke pipi dan berakhir di daguku. Aku terduduk lemas seraya kulihat ada bening yang jatuh juga dari kedua mata sendu itu.

“Kenapa….”  Aku hanya bisa menyelipkan pertanyaan yang selalu kutanyakan kepadanya tiap kali ia berusaha datang kepadaku untuk meminta maaf, dan pertanyaan tersebut pula yang tak pernah bisa aku dapatkan jawabannya. Tak pernah mau aku dengar jawabannya, lebih tepatnya. Lalu perlahan memoar itu kembali menyeruak, merobek seluruh benci yang kutanam dalam-dalam kepadanya. Memoar sejak kami masih saling menyayangi satu sama lain, ketika ia selalu mengantar dan menemani kami di sela waktu luangnya, ketika kami sama-sama berlibur, ketika aku menjadikannya sebagai prioritas utama dalam hidupku, begitupun sebaliknya.

Snap. Memoar hitam tak ingin kalah saing rupanya. Aku masih mengingatnya dengan jelas ketika ia mulai berubah menjadi monster besar yang ganas dan tak pernah lagi aku kenal. Ketika lingkaran hitam di matanya semakin terlihat seiring dengan bau alkohol yang menyengat keluar dari bibir yang selalu membuat kami tertawa, ketika kehadirannya hanya membawa bencana bagiku, bagi kami. Ketika aku mulai mendengar suara barang-barang yang menghantam lantai dengan keras, ketika pecahan kaca mulai berserakan dimana-mana, ketika ada wanita lain yang dengan lancang tidur di kasur ibu, dan..

Ketika kulihat pisau di tangannya menghunus dada ibu dalam-dalam…

Kemudian kilatan memoar itu menghilang bersamaan dengan tumbangnya sang pemilik raga setelah bersusah payah ia berkata,

“Maafkan ayah nak...”

***

Dua jam yang lalu ayah dilarikan ke rumah sakit setelah lama aku menghambur ke arahnya dan memeluk tubuh setengah baya itu dalam-dalam. Tubuhnya yang sudah kurus kering hanya berbalut seragam penjara yang aku yakin gigitan nyamukpun pasti akan tembus ke kulitnya. Kupeluk ia sambil merasakan kembali setiap rongga batinku terisi kembali oleh rasa cintanya. Pelukan itu meluluhlantakkan semua rasa benci yang berkecamuk dalam diriku dan menggantinya dengan rasa rindu akan sosok ayah yang selama ini aku lupakan secara paksa.

Hari ini aku memaafkannya. Melihat kembali tatapan cinta ayah kepadaku 15 tahun silam dan menemukan sebongkah cinta dan rindu disana bercampur dengan rasa sesal dan getir di dadanya. Berat sekali rasanya membawa beban benci menahun ini kemanapun aku pergi, terlebih ternyata selama ini diam-diam aku hanya menutupi cinta dan rinduku padanya dengan rasa benci yang berlebihan. Ia sudah cukup jera dan terluka dengan perbuatannya dan sepertinya akan sangat tidak manusiawi jika aku-anaknya tega menghukumnya lebih berat dari penderitaan yang sedang ia jalani sampai dengan saat ini.

Forgive people in your life even those who are not sorry for their actions, holding on to anger only hurts you, not them – Unknown.


Karena memang sesungguhnya hujan yang turun tak pernah bisa membenci sang langit…

Cynthia Lestari

Sabtu, 09 Januari 2016

1...2...3....∞

Captured by Arie Fuzacky

PINUS
Lengkung manis itu tak pernah lagi singgah di bibir bulan, mampirpun tidak. Auranya terlihat abu-abu tak lagi pernah ia berwarna. Ini sudah kesekian kalinya aku biarkan Bulan bersandar di tubuh kokohku, membiarkan bening-bening itu mendarat tepat di tubuhku hingga aku bisa merasakan sakitnya sampai ke akar. 
Menangislah semaumu, Bulan… 
Ia masih di tempat yang sama dengan beberapa tahun lalu, yang berbeda hanya kerutan dan kantung mata yang menggantung di wajahnya. Aku ingin sekali merengkuhnya dan berkata “Semua akan baik-baik saja Bulan” atau se-frontal “Kenapa kamu tak pernah mencari yang lain saja? Yang selalu ada untuk kamu contohnya….” Atau yang lebih egois seperti, “Kenapa bukan aku yang kamu cari Bulan?”. Namun semua kata-kata itu seolah terkunci rapat tak pernah berani aku ungkapkan. Bulan lebih menginginkan Senja pulang dari apapun dan aku hanya bisa melindunginya dari terik mentari dan menampung semua bening yang mengalir dari matanya di akarku.
Sekaligus merasakan seninya mencinta Bulan dalam bisu.


SENJA
Baginya, indikator kesuksesan adalah ketika ia bisa membeli langit. Hidupnya begitu nomaden mengikuti kemanapun arus angin membawanya pergi. Rencana dan ambisi adalah dua komponen utama yang membentuk dirinya. Hidupnya sesimpel “Kejar dan dapatkan” dan “Now or never” dan orientasinya lebih terhadap hasilBahkan, siapapun takkan pernah sempat berpikir bahwa senja pernah mencinta seseorang selain dirinya sendiri.
Tapi mereka salah… Senja pernah mencinta seseorang selain dirinya sendiri, membiarkan dirinya merasakan ada getaran rasa lain selain ambisi dan gengsi yang terus meletup dalam dirinya. Menyadari bahwa ternyata ada indikator kebahagiaan lain selain pride dan kesuksesan membeli langit,
yaitu cinta.
Ia bertemu dengan cintanya 5 tahun lalu di bawah rindangnya pepohonan Pinus. Sama-sama menatap langit sambil menyandarkan tubuh mereka di sebuah pohon Pinus tua yang sudah banyak menjatuhkan bunga-bunga Pinus di dekat akarnya. Senja tak pernah bertemu dengan seseorang yang begitu peduli terhadap semesta dengan segala sudut pandangnya dalam melihat luasnya langit. Bagi "cintanya", rencana dan ambisi memang penting, namun tak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati segala proses hidup di bawah naungan langit sambil terus berdoa dan berusaha meragas tiap lapisan langit hingga ke puncak. Sudut pandang cintanya membuatnya sadar bahwa,
        Ternyata untuk menikmati hidup tak perlu menjadi sekeras batu.
Namun, angin membisikkan kepada Senja bahwa akan lebih baik jika mereka bisa saling berbagi bahagia. Bulan juga bisa ikut berbahagia dengan merasakan bahagia yang dirasakan Senja. 
“Mau bermain hide & seek denganku, Bulan?” Senja bertanya dan langsung disambut anggukan dari cintanya. 
“Kamu berhitung, aku bersembunyi. Seandainya kamu lelah mencariku, datanglah lagi ke Pinus tua ini. Aku akan kembali”. 
Itulah kalimat terakhir yang dikatakan oleh Senja sebelum akhirnya ia mengembara lagi bertahun lamanya untuk kembali mengejar mimpi yang sebenarnya diperuntukkan untuk sang Bulan.


BULAN
Berjanji untuk pulang adalah janji paling menyakitkan yang pernah diucapkan seseorang ketika ia sendiri belum bisa meyakinkan kamu bahwa kamulah rumahnya.
Begitulah Senja. Seenaknya pergi dan berjanji pulang tanpa pernah memberikan isyarat kapan ia akan pulang dan membiarkan Bulan menunggunya setiap hari di bawah lindungan Si Pinus tua. Bulan tak pernah bertemu dengan seseorang sekeras Senja. Hidupnya terlalu kaku hingga ia lupa bagaimana caranya menikmati hidup yang sesungguhnya.
Tapi Bulan begitu mencinta sang Senja. Ia mengagumi Senja dan segala mimpi-mimpinya, ia menyukai bagaimana Senja melupakan cara menikmati hidup yang sesungguhnya, dan Bulan ingin menjadi seseorang yang bisa membuatnya sama-sama merasakan proses menuju mimpi Senja. Ia ingin meyakinkan Senja bahwa bahagia juga bisa dirasa saat kita berusaha mencapai tujuan. Bahagia tidak melulu masalah pencapaian besar, bahkan hal-hal kecil seperti melihat orang lain tertawa dan menanti esok hari juga bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang. Mereka memang berbeda namun bukankah  berbeda akan selalu tegak lurus dengan saling melengkapi?
Dan disinilah Bulan. Memeluk Si Pinus tua dalam-dalam dan menangis sendu di tubuh kokoh Si Pinus. Si Pinus dengan sabar dan setia menjadi tempatnya berbagi cerita dan menampung bening-bening air matanya karena merindu sang Senja. Ia menanti Senja sejak hitungannya sudah mencapai angka 100 saat bermain hide & seek dengan Senja 5 tahun lalu dan Bulan tak pernah sangka bahwa ia akan terus berhitung hingga saat ini karena memang Senja tak pernah lagi menunjukkan diri di depannya. Bulan hanya berpegang kuat pada kata-kata yang dikatakan Senja dengan tegas, “Aku akan kembali”. Dan hanya itu yang menjadi sumber kekuatan percayanya.
Lalu kapan kamu akan pulang, Senja? Kemudian bening itu kembali jatuh ke dasar akar Si Pinus seraya ia menjatuhkan Bulan satu bunga Pinus cantik untuk menghibur laranya.


PAGI
Aku tak pernah akur dengan Bulan. Aku membencinya. Untuk apa menunggu Senja sementara ia bahkan tak bisa merasakan ada sosok lain yang dengan tulus dan sabar mencintanya?
Pinus.
Seandainya mengungkap cinta bisa sesimpel ketika kamu merasakannya, mungkin Pinus takkan pernah tumbuh besar berkat air mata Bulan yang pelan-pelan merasuk hingga ke akar dan membuatnya terus hidup. Ya.. dia tumbuh dari rasa sakit, rindu, dan cinta Bulan terhadap Senja.
Aku mengamati kisah Senja, Bulan, dan Pinus-ku setiap kali malam rela berganti tempat denganku. Menyaksikan setiap pagi Si Pinus merasakan sendu karena hari ini ia harus melihat Bulan datang kepadanya – menangis – dan memaksanya terus berpura-pura tidak mencinta Bulan. Aku tahu kau ingin merengkuhnya, kan Pinus?
Pinus menjatuhkan satu persatu bunganya untuk Bulan setiap kali Bulan menangis. Ia ingin menghibur Bulan dengan segala yang ia punya. Tubuhnya, bunganya, akarnya. Egois memang kalau dipikir-pikir. Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai seseorang dalam diam yang begitu lama? Kamu katakan itu adalah cinta yang sesungguhnya, bahwa cinta memang tak harus saling menginginkan. Tak perlu harus memiliki.
Tapi menurutku itu egois.
Apa namanya kalau bukan egois? Membiarkan diri sendiri tersiksa, kemudian dengan lancang mengatasnamakan siksa tersebut sebagai rasa cinta. Yang bahkan kamu sendiri tidak pernah tahu bagaimana perasaan Bulan kepadamu kalau kamu tidak pernah coba ungkapkan. Atau kamu pernah kan mendengar ada orang yang berkata bahwa seseorang harus disadarkan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia memang benar-benar menyadarinya?
Mungkin saja ketika kamu mengungkapkan cintamu kepada Bulan, ia akan mulai menyadari eksistensi kamu selama ini? Who knows.
Maaf, aku memang hanya menjadi cameo disini, namun sepertinya aku sudah terlalu banyak protes terhadap skenario dan keadaan yang terjadi sesungguhnya.
 Aku benci melihat Bulan yang begitu mencinta Senja begitu lamanya tanpa pernah mencoba peka terhadap seseorang yang selalu ada di sampingnya.
Aku juga benci melihat Senja yang terlalu ambisius dalam mengejar mimpi-mimpinya dan begitu egois meminta Bulan untuk menunggunya pulang hingga saat ini.
Aku juga benci melihat Pinus yang rela menjadi sandaran sang Bulan yang bahkan tak pernah sekalipun mencinta dirinya.
Akupun benci diriku sendiri…. Yang terlalu banyak mengeluh dan protes dengan skenario dan keadaan yang ada. Aku benci karena saat ini aku mulai menyadari bahwa aku mulai masuk ke mata rantai cinta yang rumit ini. Aku benci….

Aku benci karena aku mulai sadar bahwa ternyata diam-diam aku juga mencinta Si Pinus. 



Kisah Si Pinus, Sang Senja, Cintanya, dan Pagi oleh 
Cynthia S Lestari & Arie Fuzacky. 

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...