Jumat, 05 Februari 2016

Untouchable

"When the wandering soul won't come back home"

Image Source: http://starquestredab.weebly.com/uploads/5/3/4/4/53447257/7897883_orig.jpg

Aku paling suka duduk di atas rerumputan taman ini. Menatap langit sore, menyaksikan awan yang mulai berpencar mencari jalan pulang, mengundang bulan untuk datang menguasai sang langit malam. Lalu aku biarkan dia datang mendekatiku dengan derap langkahnya yang selalu tergesa-gesa seperti seseorang yang selalu dikejar. Entah dikejar oleh siapa dan kenapa.

“Hari ini ia membawakan bunga mawar lagi?” tanyanya langsung setelah sedetik sebelumnya ia memutuskan duduk di sisi sebelah kananku. Wajahnya menengadah ke atas, sama-sama melihat langit yang sama denganku.

“Iya. Dia mengisi vas bunga di ruanganku dengan mawarnya lagi. Aku suka..”. Awan-awan mulai terusir dari langit, berpendar mencari tempat bersembunyi menunggu langit memanggil mereka untuk kembali lagi.

“Lalu apa doa yang ia berikan untuk kamu hari ini?”

“Katanya aku adalah orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal karena ketidakpekaanku, sekaligus orang yang paling penting baginya dan berhasil membuatnya merasa sedih dan sangat terpukul dengan keadaanku saat ini. Ia rindu padaku..”

“Ia sangat mencintai kamu?”. Hening cukup lama dan aku bingung menjawab pertanyaannya. “Sepertinya..”. Ucapku ragu, dan aku bisa melihat matanya berubah menjadi sendu.

Aku mulai merasakan banyak orang yang beranjak pergi dari taman ini meskipun tidak sedikit juga yang baru datang untuk menyaksikan langit malam atau sekedar merasakan angin malam ini. Mereka melakukan hal yang sama dengan kami, duduk, diam, dan menikmati bagaimana sepoi angin menyibak rambut dan menyentuh tubuh kami dengan lembut. Laki-laki di sebelahku ini masih betah menengadahkan wajahnya ke atas menatap setiap bintang yang berkelip menyapanya. Sesekali ujung helai rambutnya bergoyang seraya angin menerpa, merasuk hingga ke dalam tubuh.

Namanya Biru. Aku baru mengenalnya selama kurang lebih 2 bulan lamanya. Biru adalah orang pertama yang aku kenal di lingkungan baru ini. Sama-sama berasal dari situasi dan kondisi yang sama sampai akhirnya mengantarkan kami untuk bertemu. Ia lebih dulu berada di sini sebelum akhirnya aku terpaksa bergabung dengannya. Kami biasa menghabiskan waktu bersama setiap hari entah sampai kapan. Antara menunggu kami dipanggil untuk pulang, atau kembali ke sisi mereka.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Biru tak pernah luput dari sisiku untuk mengingatkan betapa pentingnya rasa bersyukur. Pentingnya menghargai keberadaan seseorang, mencintai setiap bentuk kasih sayang yang diberikan orang lain kepada kita. Ia sering mengajakku berkeliling melihat banyak orang yang bernasib sama dengan kami, bahkan mungkin lebih menyedihkan. Tidak ada orang lain yang datang setiap hari untuk berkunjung atau sekedar mendoakan keadaan mereka. 

Biruku menjadi satu-satunya orang yang bisa berbagi tawa, cerita, dan memberikan warna dalam duniaku yang abu-abu 2 bulan belakangan ini.

***

Hari ini Biru bertingkah lebih diam dari biasanya. Wajahnya terlihat sendu dan tak pernah sekalipun ia lengah dari sisiku. Matanya juga tak pernah berhenti mengikuti kemana arah langkahku pergi. Bahkan hingga kami duduk di taman untuk kembali memandang langit.

“Sebentar lagi kamu akan kembali kepada mereka..” Biru menatapku dalam ketika ia mengatakan itu. Aku mengernyitkan dahiku tinggi-tinggi, bingung.

“Kenapa bicara seperti itu?”.

“Feeling aja.. Mereka yang akan segera kembali pulang akan terlihat lebih bercahaya dan berwarna dibandingkan dengan yang lainnya.”. Kemudian ia menarikku ke dalam pelukannya dalam-dalam. Kali ini aku bisa merasakan otot lengannya mendekapku begitu rapat dan keras seolah-olah takkan ada lagi hari-hariku bersamanya setelah ini. Ia mendominasi tubuhku di dalam pelukannya malam itu. "Berjanjilah takkan pernah kembali kesini lagi..". ujarnya di sela-sela pelukan. 

“Kita kan masih bisa bertemu. Lagipula kamu juga harus segera kembali kepada mereka. Sudah lama sekali, Biru..”.

Kemudian dia merenggangkan sedikit pelukannya dan menghela nafas panjang.

“Setelah salah satu dari kita berhasil pulang, ia tidak akan lagi pernah mengingat hari-hari saat dia masih dalam keadaan koma, Jani.”.

Aku tersentak mendengarnya. Biru tak pernah sekalipun pernah bicara padaku mengenai rule yang satu ini. Ini peraturan koma paling menyedihkan yang pernah aku tahu selain saat pertama kali aku tahu bahwa suara, kehadiran, dan sentuhanku tak pernah bisa dirasakan oleh orang-orang yang datang melihat keadaanku. 

Sudah 2 bulan aku bertarung melawan dingin dan hidup tanpa edaran warna apapun selain abu-abu dalam koma. Melihat Darin dan penyesalannya yang setiap hari datang untuk membawakan aku bunga mawar, melihat ibu, ayah, dan Karin yang tidak pernah putus menemani raga tak berdayaku di atas pembaringan, dan mendengarkan setiap doa yang mereka panjatkan untuk kesembuhanku tanpa pernah aku bisa menyentuh mereka. Awalnya terasa begitu mengagetkan ketika aku tahu bahwa kini aku bisa menembus tembok kamar rumah sakit, tubuhku terasa sangat ringan dan aku bebas terbang kemanapun aku mau, muncul dan menghilang hanya dengan sekali anggukan, dan melihat tubuhku sendiri begitu tersiksa dengan berbagai macam alat yang dipasangkan dokter agar aku tetap bisa bernafas. Dan satu hal paling menarik dalam koma adalah aku bisa mendengarkan suara hati dan membaca pikiran orang lain yang berusaha berbicara kepadaku. Itu sebabnya aku bisa mendengarkan doa-doa mereka. 

           Aku ingin sekali pulang, namun setelah mendengar peraturan lancang tadi.. bolehkah aku memilih untuk tetap koma saja, Tuhan?

Aku menangis di pelukan Biru sejadinya. Kami sama-sama tahu apa yang sebenarnya kami rasakan saat ini, namun kami takut membicarakannya lebih jauh. Kami takut menentang takdir. Kami takut mencinta, dan kami takut kalau pada akhirnya mencinta hanya untuk melupakan satu sama lain dalam dimensi waktu dan tempat yang berbeda. Why is life so unfair?

***

Hari ini aku berhasil membuka mataku untuk pertama kalinya. Melihat ada banyak warna ketika perlahan aku membuka mata. Kurasakan kulitku bersentuhan dengan kulit ibu dan ayah. Aku merasakan ada tetes-tetes air mata ibu yang jatuh di pipiku ketika mata kami akhirnya berhasil bertemu.

Aku masih hidup dan aku sudah kembali.

Teman-teman dan keluargaku silih berganti mengucapkan kalimat syukur atas kemajuan kondisiku. Tidak sedikit dari mereka yang juga meneteskan bening air mata seperti ibu, termasuk Darin, tunanganku. 

Tiba-tiba sekilas ingatanku akan hari naas itu menyeruak seluruh pikiranku. Malam itu hujan deras dan kami bertengkar hebat di dalam mobil. Jarak pandang Darin dengan keadaan di luar mungkin hanya sekitar 5 meter, namun pertengkaran kami membuatnya menjadi buta. Ia banting setir begitu keras ke arah kiri ketika ada sepeda motor yang dengan lancang berusaha memotong jalan kami. Dan.. kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi hingga aku bisa terbaring koma selama kurang lebih 2 bulan.

“Secepatnya kamu akan segera pulang ke rumah, Jani”. Darin membisikkan kalimat itu di telingaku sambil mengusap lembut helai-helai rambut yang jatuh di wajahku. Kemudian kulihat ibu baru masuk ke dalam kamar dan langsung memelukku erat.

“Ibu tidak bisa bayangkan bagaimana rasanya kehilangan anak seperti penghuni kamar sebelah, nak. Ia sudah lama sekali koma. Kami sering sharing dengan keluarganya tentang keadaan kalian, namun akhirnya Tuhan berkehendak lain.” Ibu mengusap kepalaku lembut sambil menyeka air matanya. Ekspresinya sedih sekali, mungkin ia membayangkan betapa sedihnya seorang ibu yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa anaknya harus berpulang setelah lama berada di ambang kematian.

“Siapa Bu?” Darin bertanya.

“Nuansa Biru”.

Aku merasa pernah mendengar namanya entah dimana dan kapan. Aku tidak mengenalnya namun yang aku rasakan saat ini hatiku seperti tersayat mendengar cerita ibu bahwa ia akhirnya berpulang ke pelukan Tuhan setelah sekian lama berjuang melawan koma.

Biru, dimanapun jiwamu terbang saat ini, semoga Tuhan selalu menuntunmu dalam damai keabadian..




Cynthia Lestari

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...