"When the wandering soul won't come back home"![]() |
| Image Source: http://starquestredab.weebly.com/uploads/5/3/4/4/53447257/7897883_orig.jpg |
Aku paling suka duduk di atas rerumputan taman ini. Menatap langit sore, menyaksikan awan yang mulai berpencar mencari jalan pulang, mengundang bulan untuk datang menguasai sang langit malam. Lalu aku biarkan dia datang mendekatiku dengan derap langkahnya yang selalu tergesa-gesa seperti seseorang yang selalu dikejar. Entah dikejar oleh siapa dan kenapa.
“Hari ini ia
membawakan bunga mawar lagi?” tanyanya
langsung setelah sedetik sebelumnya ia memutuskan duduk di sisi sebelah
kananku. Wajahnya menengadah ke atas, sama-sama melihat langit yang sama
denganku.
“Iya. Dia
mengisi vas bunga di ruanganku dengan mawarnya lagi. Aku suka..”. Awan-awan mulai terusir dari langit, berpendar
mencari tempat bersembunyi menunggu langit memanggil mereka untuk kembali lagi.
“Lalu apa doa
yang ia berikan untuk kamu hari ini?”
“Katanya aku
adalah orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal karena ketidakpekaanku,
sekaligus orang yang paling penting baginya dan berhasil membuatnya merasa
sedih dan sangat terpukul dengan keadaanku saat ini. Ia rindu padaku..”
“Ia sangat mencintai
kamu?”. Hening cukup lama dan
aku bingung menjawab pertanyaannya. “Sepertinya..”.
Ucapku ragu, dan aku bisa melihat matanya berubah menjadi sendu.
Aku mulai merasakan banyak orang yang beranjak
pergi dari taman ini meskipun tidak sedikit juga yang baru datang untuk
menyaksikan langit malam atau sekedar merasakan angin malam ini. Mereka
melakukan hal yang sama dengan kami, duduk, diam, dan menikmati bagaimana sepoi
angin menyibak rambut dan menyentuh tubuh kami dengan lembut. Laki-laki di
sebelahku ini masih betah menengadahkan wajahnya ke atas menatap setiap bintang
yang berkelip menyapanya. Sesekali ujung helai rambutnya bergoyang seraya angin
menerpa, merasuk hingga ke dalam tubuh.
Namanya Biru. Aku baru mengenalnya selama kurang
lebih 2 bulan lamanya. Biru adalah orang pertama yang aku kenal di lingkungan
baru ini. Sama-sama berasal dari situasi dan kondisi yang sama sampai akhirnya
mengantarkan kami untuk bertemu. Ia lebih dulu berada di sini sebelum akhirnya
aku terpaksa bergabung dengannya. Kami biasa menghabiskan waktu bersama setiap
hari entah sampai kapan. Antara menunggu kami dipanggil untuk pulang, atau
kembali ke sisi mereka.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, Biru tak pernah
luput dari sisiku untuk mengingatkan betapa pentingnya rasa bersyukur.
Pentingnya menghargai keberadaan seseorang, mencintai setiap bentuk kasih sayang
yang diberikan orang lain kepada kita. Ia sering mengajakku berkeliling melihat
banyak orang yang bernasib sama dengan kami, bahkan mungkin lebih menyedihkan.
Tidak ada orang lain yang datang setiap hari untuk berkunjung atau sekedar
mendoakan keadaan mereka.
Biruku menjadi satu-satunya orang yang bisa berbagi
tawa, cerita, dan memberikan warna dalam duniaku yang abu-abu 2 bulan
belakangan ini.
***
Hari ini Biru bertingkah lebih diam dari biasanya.
Wajahnya terlihat sendu dan tak pernah sekalipun ia lengah dari sisiku. Matanya
juga tak pernah berhenti mengikuti kemana arah langkahku pergi. Bahkan hingga
kami duduk di taman untuk kembali memandang langit.
“Sebentar lagi
kamu akan kembali kepada mereka..”
Biru menatapku dalam ketika ia mengatakan itu. Aku mengernyitkan dahiku
tinggi-tinggi, bingung.
“Kenapa bicara
seperti itu?”.
“Feeling aja.. Mereka yang akan segera kembali pulang akan terlihat lebih bercahaya dan berwarna dibandingkan dengan yang lainnya.”. Kemudian ia
menarikku ke dalam pelukannya dalam-dalam. Kali ini aku bisa merasakan otot
lengannya mendekapku begitu rapat dan keras seolah-olah takkan ada lagi
hari-hariku bersamanya setelah ini. Ia mendominasi tubuhku di dalam pelukannya
malam itu. "Berjanjilah takkan pernah kembali kesini lagi..". ujarnya di sela-sela pelukan.
“Kita kan masih
bisa bertemu. Lagipula kamu juga harus segera kembali kepada mereka. Sudah lama
sekali, Biru..”.
Kemudian dia merenggangkan sedikit pelukannya dan
menghela nafas panjang.
“Setelah salah
satu dari kita berhasil pulang, ia tidak akan lagi pernah mengingat hari-hari
saat dia masih dalam keadaan koma, Jani.”.
Aku tersentak mendengarnya. Biru tak pernah
sekalipun pernah bicara padaku mengenai rule
yang satu ini. Ini peraturan koma paling menyedihkan yang pernah aku tahu
selain saat pertama kali aku tahu bahwa suara, kehadiran, dan sentuhanku tak
pernah bisa dirasakan oleh orang-orang yang datang melihat keadaanku.
Sudah 2 bulan aku bertarung melawan dingin dan
hidup tanpa edaran warna apapun selain abu-abu dalam koma. Melihat Darin dan penyesalannya yang
setiap hari datang untuk membawakan aku bunga mawar, melihat ibu,
ayah, dan Karin yang tidak pernah putus menemani raga tak berdayaku di atas
pembaringan, dan mendengarkan setiap doa yang mereka panjatkan untuk
kesembuhanku tanpa pernah aku bisa menyentuh mereka. Awalnya terasa begitu mengagetkan ketika aku tahu bahwa kini aku bisa menembus tembok kamar rumah sakit, tubuhku terasa sangat ringan dan aku bebas terbang kemanapun aku mau, muncul dan menghilang hanya dengan sekali anggukan, dan melihat tubuhku sendiri begitu tersiksa dengan berbagai macam alat yang dipasangkan dokter agar aku tetap bisa bernafas. Dan satu hal paling menarik dalam koma adalah aku bisa mendengarkan suara hati dan membaca pikiran orang lain yang berusaha berbicara kepadaku. Itu sebabnya aku bisa mendengarkan doa-doa mereka.
Aku ingin sekali pulang, namun setelah mendengar peraturan lancang tadi.. bolehkah aku memilih untuk tetap koma saja, Tuhan?
Aku ingin sekali pulang, namun setelah mendengar peraturan lancang tadi.. bolehkah aku memilih untuk tetap koma saja, Tuhan?
Aku menangis di pelukan Biru sejadinya. Kami
sama-sama tahu apa yang sebenarnya kami rasakan saat ini, namun kami takut
membicarakannya lebih jauh. Kami takut menentang takdir. Kami takut mencinta,
dan kami takut kalau pada akhirnya mencinta hanya untuk melupakan satu sama
lain dalam dimensi waktu dan tempat yang berbeda. Why is life so unfair?
***
Hari ini aku berhasil membuka mataku untuk pertama kalinya. Melihat ada banyak warna ketika perlahan aku membuka mata. Kurasakan kulitku
bersentuhan dengan kulit ibu dan ayah. Aku merasakan ada tetes-tetes air mata
ibu yang jatuh di pipiku ketika mata kami akhirnya berhasil bertemu.
Aku masih hidup dan aku sudah kembali.
Teman-teman dan keluargaku silih berganti
mengucapkan kalimat syukur atas kemajuan kondisiku. Tidak sedikit dari mereka
yang juga meneteskan bening air mata seperti ibu, termasuk Darin, tunanganku.
Tiba-tiba sekilas ingatanku akan hari naas itu menyeruak seluruh pikiranku. Malam itu hujan deras dan kami bertengkar hebat di dalam mobil. Jarak pandang
Darin dengan keadaan di luar mungkin hanya sekitar 5 meter, namun pertengkaran
kami membuatnya menjadi buta. Ia banting setir begitu keras ke arah kiri ketika
ada sepeda motor yang dengan lancang berusaha memotong jalan kami. Dan.. kalian
sudah bisa menebak apa yang terjadi hingga aku bisa terbaring koma selama
kurang lebih 2 bulan.
“Secepatnya
kamu akan segera pulang ke rumah, Jani”. Darin
membisikkan kalimat itu di telingaku sambil mengusap lembut helai-helai rambut
yang jatuh di wajahku. Kemudian kulihat ibu baru masuk ke dalam kamar dan
langsung memelukku erat.
“Ibu tidak
bisa bayangkan bagaimana rasanya kehilangan anak seperti penghuni kamar
sebelah, nak. Ia sudah lama sekali koma. Kami sering sharing dengan keluarganya
tentang keadaan kalian, namun akhirnya Tuhan berkehendak lain.” Ibu mengusap kepalaku lembut sambil menyeka air
matanya. Ekspresinya sedih sekali, mungkin ia membayangkan betapa sedihnya
seorang ibu yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa anaknya harus
berpulang setelah lama berada di ambang kematian.
“Siapa Bu?” Darin bertanya.
“Nuansa Biru”.
Aku merasa pernah mendengar namanya entah dimana dan
kapan. Aku tidak mengenalnya namun yang aku rasakan saat ini hatiku seperti
tersayat mendengar cerita ibu bahwa ia akhirnya berpulang ke pelukan Tuhan
setelah sekian lama berjuang melawan koma.
Biru, dimanapun
jiwamu terbang saat ini, semoga Tuhan selalu menuntunmu dalam damai keabadian..
Cynthia Lestari
