Kamu berdiri jauh didepanku. Jauh sekali hingga rasanya aku takkan mampu mengejarmu sekalipun aku berlari. Menatapmu saja sudah membuatku tertunduk, tak mampu untuk mendongak. Kamu seperti payung dalam kehidupanku, dimana aku terus berada di bawah bayang-bayang dirimu. Entah sampai kapan aku pun tidak tahu dan tidak berniat untuk mengetahuinya. Entahlah, aku begitu tersiksa namun terkadang semua ini begitu mengalir hingga aku seakan nyaman dengan semua ketidaknyamanan ini. Kamu terlalu sempurna untuk kujadikan tembok terakhir dalam hidupku. Aku ingin pergi. Aku ingin pergi dari bayang-bayangmu namun usahaku sia-sia. Kamu terlalu kuat untuk menahanku disini. Lalu aku harus apa Ludy?
***
"A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other... maybe temporarily, maybe at wrong time, maybe too late, or maybe forever"
- Dave Matthews Band -
"A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other... maybe temporarily, maybe at wrong time, maybe too late, or maybe forever"
- Dave Matthews Band -
Tiff
Cafe Gacklin, Indonesia
Aku masih betah berlama-lama di tempat ini bersama laptop dan aroma coklat kesukaanku. Pojok istimewa begitulah aku menyebutnya. Tempat ini menjadi nyawa keduaku. Mengapa? karena hanya disinilah aku mampu menghasilkan puluhan novel-novel best seller yang dipajang di berbagai toko buku di Indonesia, bahkan sudah menyentuh pasar Malaysia dan Singapore. Pekerjaan ini yang memaksaku untuk terus memproduksi puluhan novel dengan deadline yang terkadang menyita waktu senggangku. Ya, aku adalah seorang penulis. Aku mencintai pena dan bagaimana caraku menuangkan seluruh script yang ada di kepalaku menjadi sebuah tulisan yang kini sudah berjejer di rak terdepan toko buku. Tepat setahun lalu aku mendapatkan gelar sarjanaku dari salah satu Universitas terkemuka di Jakarta dan memilih untuk langsung menjadi penulis seperti yang kulakukan sekarang ini. Awalnya bunda memang tidak pernah setuju putrinya menjadi seorang penulis karena menurutnya 'menulis hanyalah sebuah pekerjaan kasar yang dapat dilakukan semua orang'. Ia menginginkan aku melakukan satu pekerjaan yang spesifik dan tidak semua orang mampu mengerjakannya. Namun inilah aku. Aku tetap berkutat pada pena dan online paperku. Aku mencintai pena-pena ini dan semua cerita yang tercipta darinya. Semua cerita milikku yang kurangkai indah menjadi sebuah fiksi.
Alunan musik ini sukses mendatangkan inspirasi yang bagus untuk ceritaku kali ini. Seperti biasa, semuanya tidak akan pernah jauh dari cerita cinta seorang remaja yang kukemas dalam beberapa plot. Jemariku terus bermain diatas keyboard laptop berwarna biru muda yang sangat setia menemani setiap hari-hariku. Entah sudah berapa lama aku habiskan waktu disini dan sudah berapa cangkir hot chocolate yang aku minum hingga aku mulai menyadari notifikasi emailku muncul di tengah-tengah fantasiku.
Fernandito Ludy tagged you in his photo
dan seketika seluruh pikiranku buyar.
***
Ia kembali. Tanganku berhenti menari diatas keyboard. Sekarang sudah menjamah touchpad laptopku dan segera mengarahkannya pada akun Facebook milikku. Benar saja, ia baru saja meng-upload koleksi-koleksi foto miliknya di facebook. Ada satu foto yang di tag padaku. Fotonya dengan tangannya menggenggam novel berjudul 'SILENT'. Itu novelku! Tapi, kenapa bisa ada padanya? Tidak, tidak. Jangan bilang penjualan novelku sudah sampai di Paris sehingga Ludy dengan mudah mendapatkannya disana. GREAT!
Kupandangi foto itu entah berapa lama tanpa terasa bibirku mulai mengembangkan senyum. Betapa aku merindukan pria didalam foto ini. Gurat wajahnya, senyumnya, tawanya, semuanya. Semua tentang dirinya. Berbeda denganku, Ludy meneruskan studinya ke Paris setelah ia menyelesaikan strata 1 nya di Indonesia bersamaku. Ludy bercita-cita menjadi seorang business man sukses sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan studinya kesana dan meninggalkan keluarganya disini. Kami bersahabat sejak SMA dan dua tahun lalu merupakan terakhir kali aku menemuinya di acara graduation. Sebenarnya selama ini aku hanya bersembunyi di balik kata persahabatan kami. Jauh dari dalam hatiku, aku mencintainya. Aku mencintainya selayaknya seorang gadis mencintai seorang pria yang ia puja sebagai cinta pertamanya. Dan gadis itu adalah aku.
8 tahun sudah kami bersahabat hingga saat ini. Dan 8 tahun pulalah aku memendam dalam-dalam seluruh perasaanku terhadapnya. Bukan karena aku tidak berani mengungkapkannya, namun aku hanya merasa tidak pantas untuk bersanding dengannya dibandingkan semua wanita yang pernah ada didalam hidupnya. Aku takut mengkhianati persahabatan kami yang sebenarnya hanyalah kujadikan sebuah perisai. 8 tahun yang sia-sia memang, namun aku tidak akan pernah menyesali telah menjadi bagian dari dalam dirinya yang ia sayangi.... sebagai sahabat.
Saved.
Foto itupun dengan sempurna tersimpan rapi dan terpampang indah pada layar desktopku.
***
"Tiff! uuu How i miss you, darl" Cleo langsung menyambarku saat ia tahu aku ikut menjemputnya di bandara. Cleo adalah sahabatku semasa kuliah S1. Ia melanjutkan kuliahnya di Australia dan mengambil jurusan seni disana. Wajahnya cantik, kulitnya putih, giginya bersih, tubuhnya kurus dan langsing ditambah rambutnya yang panjang dan bergelombang membuatnya semakin dipuja banyak pria yang melihatnya. Tidak jarang banyak juga dari mereka yang membandingkan aku dengan Cleo ketika kami jalan bersama. Ya, jika dibandingkan dengan Cleo, aku hanyalah cewek biasa yang tidak menarik sama sekali. Rambutku hanya sebahu, kulitku asli Indonesia; kuning langsat, wajahku biasa saja jika dibandingkan dengan Cleo, dan yang paling berbeda adalah aku tidak tinggi,
"I miss you too Cleo" Aku membalas pelukannya dan aku tahu setelah ini Cleo akan bertanya mengenai apa...
"Mana pacarmu?" Deg. Cleo selalu menanyakan hal ini padaku. Sejak kuliah, sampai ia di Australia pun masih sempat untuk menanyaiku hal yang selalu kuhindari itu lewat email, telephone atau sekedar bbm.
"You know me so well, girl" jawabku dengan senyum gigi andalanku. Cleo lama menatapku seolah ia berkata Hello Tiffany, mau sampai kapan seperti ini?. Barusan kudengar ia menghela nafasnya sejenak lalu tersenyum.
"Exactly, Love is about timing, dear" Tuhkan. Cleo memang mengenalku.
Dimulai dari hari ini, dengan Cleo pasti semua hal menyenangkan.
***
Benar saja. Hari-hari terasa lebih berwarna dengan kembalinya Cleo ke Indonesia. Kami menghabiskan waktu menonton DVD bersama, shopping, atau hanya sekedar pajamas party di kamarku dan saling bertukar cerita apa saja yang sudah dilakukan satu sama lain dua tahun ini.
"Tiff, apa kamu ngga pernah sekalipun coba untuk memulai lembaran baru dengan pria lain?" tanya Cleo. Aku bosan dengan pertanyaan seperti ini, Cleo.
"Tidak. Sebentar lagi dia pulang kok"
"Tapi Tiff.."
Aku memilih untuk pergi meninggalkan kamar dibandingkan harus berdebat masalah ini dengan Cleo. Selalu masalah ini dan aku benci. Memangnya salah jika aku masih menunggu seseorang nun jauh disana untuk kembali?
Mungkin terdengar aneh sebelumnya, namun aku memang belum pernah merasakan manis dan pahitnya menjalin hubungan dengan pria manapun. Aku hanya mencintai satu pria sejak dulu dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Belum ada satu pria lain yang mampu menghapusnya dari memori pikiran dan hatiku. Ludy. Entah harus seperti apa lagi caraku untuk pergi darinya, namun usahaku selalu gagal. Bahkan aku selalu menunggunya kembali ke Indonesia. Menjadi sahabat Ludy sejak SMA sangatlah menyenangkan, sekaligus menyakitkan. Pernah sekali inginku katakan padanya bagaimana perasaanku selama ini. Namun aku memilih untuk diam. Ludy sudah sangat nyaman denganku sebagai sahabatnya dan sepertinya ia tidak memberikan ruang lain yang lebih dari itu padaku. Entah... tapi aku merasa seperti itu. Ditambah, aku hanyalah satu-satunya wanita yang lancang karena telah mencintainya. Ludy adalah idola di sekolah kami, pemegang MVP basket berturut-turut, memiliki wajah yang tampan dan semua wanita yang menyukainya adalah wanita-wanita kelas A yang sama tenarnya dengan Ludy. Sedangkan aku? Ludy bahkan mungkin takkan pernah menganggapku sebagai 'wanita' yang sesungguhnya.
Menjadi sahabat Ludy sudah sangat lebih dari cukup. Masokis memang ketika kau dengar kalimat 'Mencinta tanpa harus memiliki'. Perlu kalian tahu, aku yakin diantara kalian pasti ada bagian dari dalam dirimu yang ingin memiliki seseorang yang kau cinta. Dan aku adalah salah satu dari semua orang yang merasakan itu.
Bahagia itu sederhana. Ketika aku bisa melihatnya bahagia meskipun bukan aku yang menjadi alasan dari kebahagiaannya. Bahagia itu sederhana. Ketika aku bisa berada disampingnya, memandangnya lebih dekat. Bahagia itu sederhana. Ketika aku bisa tertawa dan menangis bersama dengannya. Bahagia itu sederhana. Tapi tahukah kamu, ketika bahagia dan luka berjalan beriringan?
***
Alasan lain mengapa aku menyukai cafe ini karena aromatherapynya yang membuatku semakin betah berada didalamnya. Seperti sekarang ini. Deadline penulisan novel baruku harus rampung akhir bulan ini dan ini artinya intensitas kedatanganku di cafe ini akan meningkat karena hanya disini aku mendapatkan seluruh inspirasi dalam menulis.
"Hello pecinta pena, boleh kuminta tanda tanganmu di buku ini?" tanya seseorang sambil menyodorkan novelku. Aku masih terpaku pada layar laptop hingga akhirnya
"LUDY!!!" Aku menghambur kearahnya dan memeluknya erat. Air mataku bahkan sudah hampir turun begitu melihatnya lagi. Ludy kembali.
"Hey bodoh! sejak kapan kau disini? kok engga pernah cerita kalau sudah kembali?" Aku sangat antusias dengan objek yang ada di hadapanku saat ini. Perawakannya masih sama. Tubuhnya tinggi dan atletis, wajahnya masih tetap tampan bahkan lebih tampan seiring bertambah dewasa usianya.
"Kemarin. Paris membuatku bosan Tiff. Benar yang kamu bilang, memang lebih nyaman di negeri sendiri ketimbang di negeri orang" curhatnya. Ah kalau saja kau tahu kalau aku mengatakan itu hanya untuk membuatmu tetap berada disini dan tidak pergi meninggalkanku ke Paris.
"Kenapa? disana kan kamu bertemu dengan orang baru, belajar budaya baru dan yang paling penting kan kamu bisa bertemu dengan berbagai wanita cantik dari belahan bumi lainnya " jawabku setengah meledek. Ya.. atau mungkin kamu sudah memiliki sebuah hubungan wanita-wanita berambut pirang itu disana
Kudengar Ludy terkekeh seolah pernyataanku tadi lucu sekali baginya. "Kamu emang sahabatku yang paling mengenalku Tiff! sudah ada 5 gadis bule yang sudah kupacari disana, tapi mereka bukan seperti yang kubutuhkan" Yep. benar kan..
"Lalu perempuan mana lagi yang kamu butuhkan Ludy? mereka cantik, tinggi dan baik. kurang apa?" tanyaku. Mataku masih menatap kagum pria didepanku ini. Aku tidak perduli berapa banyak wanita lain yang menyusup kedalam hidupnya, selama belum ada satupun yang dapat memasuki relung hatinya yang paling dalam.
"Aku butuh wanita yang dapat mengerti aku dengan baik, membawaku kearah yang semakin baik dan aku butuh seseorang yang dapat kupercaya sangat setia kepadaku" jawabnya tegas. Aku hanya membalasnya dengan senyum masam. Hey Ludy, semua kriteria itu ada padaku. Heyyyyy, tidakkah kau memperhitungkan aku kedalam semua kategori yang kau sebutkan itu?
Hari itu kuhabiskan bersama dengan sahabat lamaku... sekaligus cinta pertamaku. Kami banyak berbicara tentang kenangan masa lalu dan pengalaman kami ditempat yang memiliki jumlah musim yang berbeda. Happiness.
***
LUDY
PARIS
Kanami Tiffany. Nama itu langsung terbaca olehku saat kiriman paket dari Malaysia tiba. Ya, aku sengaja membeli novel karya Tiff di Malaysia karena penjualan novel Tiff belum sampai di Paris kala itu. Sulit sekali persyaratan yang harus kulalui jika ingin mendapatkan novel itu dari Indonesia, sehingga aku memilih untuk membelinya dengan ringgit Malaysia disalah satu toko buku online yang menjual novel karya Tiff. Aku rindu sekali padanya. Dia adalah satu-satunya sahabatku yang paling setia. Aku dan Tiff menempuh jalan yang berbeda. Tiff memilih untuk berhenti melanjutkan studinya dan memilih untuk menjadi penulis seperti cita-citanya sejak dulu. Dan aku, ya aku kini terjebak di musim salju yang sangat dingin di Paris. Aku ingin pulang...
KLIK
Aku mengambil gambarku dan novel karya Tiff di tanganku ditengah hamparan salju siang ini. Aku ingin mengabarkan pada Tiff kalau aku merindukannya dan sudah membaca novel karyanya disini. Komunikasi kami sejak aku pergi memang tidak baik. Entah kenapa Tiff tidak pernah sekalipun membalas pesan dariku di account messengernya. Mungkin ia sangat sibuk dengan novel-novelnya.
Pernahkah kamu merasakan tidak pernah takut menghadapi apapun ketika ada sahabat disampingmu? Pernahkan kamu merasakan kamu begitu berharga ketika sahabatmu mengatakan hal itu didepanmu ketika semua orang serasa menjatuhkanmu secara perlahan? dan pernahkah kamu merasa dirimu begitu brengsek ketika sahabatmu menampar kedua pipimu saat kau mempermainkan perasaan wanita-wanita yang memujamu secara terang-terangan?
Dan aku selalu merasakan hal itu hanya ketika aku bersama dengan sahabat terbaikku. Kanami Tiffany, minggu depan aku akan segera pulang ...
***
Ludy kembali. Kata-kata itu selalu terngiang dikepalaku. Dan kata-kata itu berhasil membuatku terus tersenyum sepanjang hari. Aku memiliki banyak waktu bersamanya disini. Setidaknya sampai ia memutuskan untuk kembali ke Paris. Hari ini aku berjanji pada Ludy akan mengajaknya jalan-jalan, Ludy bilang kalau ia sangat merindukan Jakarta. Berdua. Entahlah.. membayangkan aku pergi berdua dengannya saja sudah mampu membuat detak jantungku tak beraturan.
Dan semakin tak beraturan ketika ada bbm masuk kedalam account blackberry messenger ku. Byan.
Ada revisi besar-besaran mendadak siang ini di kantor. Kau ditunggu jam 2 Tiff. Ini terkait dengan
peluncuran novel barumu. Ok?
Aku menatap nanar layar handphone. Editorku memang sangat bawel sehingga sering kali membuat jadwal revisi secara mendadak.
Shit! kenapa harus hari ini???
***
Cleo
Mall Vaganza, Kemang.
Tiff memang terkadang menyebalkan. Seperti hari ini. Hari minggu adalah hariku. Hari untukku dan kasurku. Dimana rutinitas lain yang dapat menjauhkanku dari kasur akan segera aku tinggalkan hanya di hari ini. Dan Tiff.. pagi-pagi sudah membangunkanku dan memohon agar aku mau menggantikannya menemani sahabat lamanya jalan-jalan. Mengenalnya saja tidak, bagaimana aku bisa langsung menemaninya jalan-jalan siang terik ini? Oh god.
Byan lebih menyebalkan dibandingkan dengan Tiff. Kalau saja Byan tidak mengganggu acara Tiff dan sahabatnya siang ini, mana mungkin semua ini bisa terjadi? Mingguku kacau. Mana tega aku diam saja mendengar suara memelas dari Tiff. Jadi aku putuskan untuk mengorbankan Minggu ini untuk membantu Tiff. Semoga menyenangkan.
Aku sudah mengelilingi mall ini 2x dan belum bertemu dengan siapa itu namanya? Oh ya, Ludy. Tiff bilang Ludy memang jam karet. Aku paling sebal dengan orang yang jam karet. Sangat berbeda denganku. Mungkin dulu aku juga jam karet namun Australia mengubah semuanya. Tiff bilang Ludy baru datang dri Paris, seharusnya ia bisa lebih tepat waktu saat ini. Aku memutuskan untuk duduk di salah satu cafe dalam mall ini. Tiff juga bilang kalau ia sudah menyampaikan pada Ludy kalau aku menunggunya di cafe ini.
15 menit lagi aku akan pulang jika ia tidak muncul. Tiff tahan sekali bersahabat dengan orang yang jam karet seperti ini. Huh. Gerutuanku mulai berhenti ketika ada seseorang yang berdiri dihadapanku, Oh God... sepertinya aku sudah melakukan satu langkah tepat pada hari minggu ini. Ya, sangat tepat!
***
Tiff
Ruang Editor
Semoga aku tidak salah langkah telah meminta Cleo menggantikanku menemani Ludy hari ini. Semoga....
***
Ludy
Siapa gadis di cafe itu? Apa itu yang namanya Cleo? Cantik sekali. Kenapa bukan Tiff saja yang menemaniku hari ini. Cleo memang cantik bahkan ketika aku sudah berjarak sangat dekat dengannya saat ini, tapi yang kuharapkan adalah bisa menghabiskan minggu ini dengan sahabat terbaikku, Tiff. Bukan dengan orang baru seperti ini.
" Sudah lama nunggu?" tanyaku padanya. Gadis cantik itu menoleh dan tersenyum sangat manis padaku. "Gapapa kok, duduk" jawabnya.
"Mau mulai darimana, Ludy?" tanyanya. Aku memutuskan untuk berkeliling saja di mall ini. Diluar terlalu terik. Kami mengelilingi mall ini dan berbelanja. Sebenarnya hanya Cleo yang berbelanja, aku kurang tertarik dengan produk-produk disini. Ya, minggu ini judulnya Menemani Cleo berbelanja, bukan menemaniku jalan-jalan.
" Maaf ya Ludy, hari ini malah kamu yang menemaniku jalan-jalan hehehe" ujarnya ketika kami sudah masuk kedalam mobil."Tidak apa-apa, aku senang kok" jawabku sambil tersenyum. Gadis ini tampaknya bahagia sekali hari ini. Mungkin karena ia sudah puas berbelanja.
Cleo sudah turun dari mobilku. Ini sudah pukul 8 malam dan aku belum melihat mobil Tiff ada disana. Tiff bilang ia menginap dirumah Cleo selama Cleo ada di Indonesia. Sesibuk itukah dia? Hari ini cukup menyenangkan. Mungkin akan lebih menyenangkan jika kuhabiskan dengan Tiff. Banyak sekali hal yang ingin kucritakan padanya.
***
Hari ini lelah sekali. Byan memaksaku untuk merevisi cerita dalam novelku. "Sesuaikan dengan trend pasar saat ini dong Tiff" ujarnya begitu. Aku sudah lama bekerja sama dengannya, seharusnya ia tahu kalau Kanami Tiffany adalah penulis dengan spesialis sad-ending. Akupun tidak mengerti mengapa aku selalu menulskan cerita-cerita yang berakhir dengan sedih. Dan untuk merevisi semuanya, butuh waktu dan usaha yang cukup besar. Tidakkah semua tahu kalau semua novel karyaku merupakan buah hasil dari inspirasi yang muncul karena seseorang? Untuk merubahnya pasti memerlukan banyak effort karena aku akan keluar jalur dari kebiasaanku.
Mungkin salah bagiku karena sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Ludy. Aku bahkan sudah menjadikannya sebagai tembok terakhir bagiku. Ludy adalah saatu-satunya inspirasiku dalam menulis novel-novel ini. Bertahun-tahun aku selalu mencoba menghilangkan Ludy dari hatiku, namun nihil. Aku seperti kehilangan arah tujuan, aku tidak memiliki inspirasi ketika tidak ada Ludy sebagai inspirasiku. Aku merasa... entahlah tapi aku tidak tahu akan dengan siapa lagi hati ini luluh selain dengan Ludy..
" Tiff!" Cleo menghambur keluar dari kamarnya menuju kearahku. "Ada apa? Gimana tadi? serukah?" tanyaku padanya. Cleo langsung mengangguk dan tersenyum padaku.
" Awalnya sih kesel karena Ludy lama sekali datang. Tapiiiii begitu aku lihat orangnya, Seneng banget kok Tiff hehehe dia tampan dan baik sekali ya" DEG.
"Hem baguslah kalau seru, Kau harus menceritakan padaku hari ini kalian ngapain aja? Maaf ya aku engga bisa gabung hari ini, Byan menyebalkan sekali" Aku langsung memasang tampang bahagia didepan Cleo. Semua wanita memujanya. Termasuk Cleo. Cleo menceritakan semuanya kepadaku malam itu. Tampaknya ia memiliki kesan pertama yang baik akan Ludy. Atau malah menyukainya...
"Tiff.. Ludy udah punya pacar?"
" Belum kok, kamu mau jadi pacarnya? hahahha" jawabku. Cleo mengedipkan sebelah matanya. Dan kini aku baru tahu kalau aku sudah sangat salah memintanya menggantikanku menemani Ludy tadi siang.
***
Sudah sebulan Cleo dan Ludy ada disini menemaniku. Aku merasa hubungan mereka semakin dekat karena Cleo sering sekali mengajak Ludy jalan-jalan. Seperti saat ini. Minggu ini aku harus berkutat dengan deadline dari Byan sedangkan mereka berdua sedang jalan-jalan diluar sana. Aku merasa dadaku seperti dihancurkan ketika Cleo mulai menceritakan betapa serunya mereka berdua saat bersama. Ludy memang sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita namun berbeda rasanya ketika wanita itu Cleo. Mereka memang belum menjalin sebuah hubungan yang serius, tapi tetap saja. Cleo cantik, model dan Ludy tampan. Mereka begitu serasi jika disandingkan bersama. Tidak-tidak, bukankah seharusnya aku bahagia jika melihat Ludy bahagia meskipun bukan denganku?
Sebentar lagi Ludy kembali ke Paris. Mungkin ini waktunya untuk bicara yang sejujurnya mengenai perasaanku kepadanya. Tapi aku terlalu takut untuk mengetahui jawaban dari Ludy. Mustahil ia memiliki perasaan yang sama denganku.
"Thankyou ya Ludy!" sayup-sayup terdengar suara Cleo diluar. Aku mengintip dari balik jendela kamar dan melihat keduanya. Dan... apa itu? Cleo mencium pipi Ludy saat Ludy lengah! Tidak Tidak... aku tidak boleh menangis karena ini. Mungkin mereka saling mencintai. Dan aku semakin mantap untuk terus memendam perasaan ini entah sampai kapan. Mungkin ini saatnya aku berhenti.
***
Aku mulai menjauh sedikit demi sedikit dari Cleo dan Ludy. Aku berusaha memendam semuanya sendiri bertahun-tahun tapi tidak untuk kali ini. Aku menyerah. Sakitnya terlalu dalam begitu aku mengetahui mereka pacaran. Jadi, lebih baik aku pergi dan memulai semuanya lagi dari awal. Ludy dan Cleo mencoba menghubungiku berkali-kali namun aku tetap diam. Aku butuh waktu sendiri sampai aku bisa melupakan semuanya. Hingga ketika mereka kembali ke negara tempat mereka kuliahpun aku tetap tidak memunculkan diri. Novelku kena imbasnya, semua karyaku belum dapat diluncurkan karena aku kehilangan inspirasi hidupku, Fernandito Ludy.
***
Ludy
Paris
Kanami Tiffany. Sahabat terbaikku. Entah dimana dia sekarang tapi aku merindukannya. Dan aku tahu jelas rindu ini begitu menyiksa semenjak ia pergi. Aku bahkan tidak tahu apa sebabnya pergi menjauhiku. Sudah 1 tahun aku tidak lagi bertemu dengannya dan aku kehilangan. Aku jelas tahu perasaan ini bukanlah perasaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang sahabat. Diam-diam aku mencintainya begitu dalam dan aku sendiri tak tahu entah sejak kapan perasaan ini muncul. Dadaku terasa hancur, sakitnya terasa begitu dalam begitu aku tahu kini Tiff tidak lagi ada bersamaku. Aku rindu kamu, Tiff.
Kanami Tiffany posted a photo
Notifikasi itu muncul dalam emailku. Dengan segera aku melihat apa yang baru saja di postingkan oleh Tiff. Foto itu... fotonya bersama dengan seorang pria tampan dan ditangannya melingkar cincin putih berkilauan. Apakah itu artinya mereka sudah bertunangan? Tiff begitu bahagia sepertinya. Dan aku telat. Tidak.. aku benar-benar telat saat ini.
Ketukan keras pintu apartemenku membuyarkan semua fantasiku. Ada apa? Orang ini begitu tergesa sepertinya.
" Jadi kamu yang bernama Fernandito Ludy?"
Dan aku kehilangan kesadaran saat kepalan tangan itu menghantam dadaku dengan keras...
" Jadi kamu yang bernama Fernandito Ludy?"
Dan aku kehilangan kesadaran saat kepalan tangan itu menghantam dadaku dengan keras...
***
Tiff
Bandung
Udara di Bandung sejuk sekali. Setahun lalu aku pindah ke Bandung, memulai hari-hariku yang baru. Penulisan novelku memang sedikit terlambat, namun lambat laun aku bisa mengatasinya. Ada hal baru pula dalam hidupku selama aku tinggal di Bandung, Abigail. Ia adalah editorku sekaligus tunanganku. Abigail sedikit banyak merubah hidupku semenjak aku tinggal di Bandung. Meskipun pesonanya takkan mampu mengalahkan pesona milik cinta pertamaku. Entah bagaimana kabarnya sekarang, semoga ia bahagia.
Abigail mengetahui semua ceritaku mengenai Ludy dan Cleo. Aku sudah menjadi tunangannya dan artinya aku harus bisa lebih terbuka padanya. Aku tahu Abigail tidak akan marah apabila ia mengetahui semua itu, Toh aku sudah jadi miliknya saat ini. Ketukan pintu apartemenku terdengar keras. Mungkin Abigail sudah kembali ke Indonesia...
Aku bisa merasakan dinginnya tanganku saat aku berhasil membuka pintu. Sosok itu berdiri tegap dihadapanku, menatap tajam kearahku dengan mata sendunya. Ludy.
"Tiff... maafkan aku" Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Pelukannya sangat erat hingga kenyamanan ini menjadi sesak. Aku mendorong tubuhnya keras.
" Ludy! Untuk apa kesini? Tahu darimana aku tinggal disini?" bentakku lantang. Mengapa kamu datang lagi, Ludy?
" Abigail datang ke apartemenku dan ia menceritakan semuanya! Semua yang telah kamu sembunyikan bertahun-tahun lamanya. Kenapa Tiff? Kenapa kamu pergi begitu aja tanpa membiarkan aku tahu? Sekarang semuanya terasa sangat terlambat. Aku mencintaimu Tiff. Sangat dalam. Karena cuma kamu yang bisa mengerti aku, setia padaku bertahun lamanya dan aku begitu bodoh sudah menutup telinga, mata dan hatiku untuk peka terhadap hal itu. Maafkan aku Tiff" Bibirnya bergetar seiring dengan menetesnya bening itu dari kedua mataku. Membasahi pipi dan juga hatiku. Aku diam, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Ludy sudah tahu semuanya. Dan semuanya sudah terlampau jauh untuk dikejar.
"Bagaimana dengan Cleo? Aku melihatmu dan Cleo malam itu. Cleo tampaknya jatuh cinta padamu dan aku takkan mungkin tega untuk merebutmu darinya" ujarku disela tangis. Aku harus apa sekarang? Semua sudah terlambat.
"Aku dan Cleo tidak ada apa-apa Tiff, Saat itu Cleo memang menyatakan cintanya padaku tapi aku tolak. Aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Pikiranku kacau saat aku tahu kamu menghindariku sejak saat itu. Tiff, cuma kamu yang mengerti aku. Aku butuh kamu Tiff, like a heroine" Tatapannya masih tajam padaku. Aku mengutuk diriku sendiri karena bening ini tak kunjung berhenti menetes. Dimana Tiffany yang dulu? Yang mampu menyembunyikan tangisnya dengan tawa?
"Semua sudah terlambat, Dy. Aku sudah bertunangan dengan Abigail. Sebentar lagi kami akan menikah"
Moment of silent terasa begitu lama. Baik aku maupun Ludy tak ada yang berbicara. Hanya ada suara isakan tangisku yang tak kunjung reda.
"Kita tidak akan menikah, Tiff" seru seseorang yang muncul tiba-tiba dari belakang Ludy. Abigail. Apa maksudnya?
"Kau wanita baik Tiff, mana tega aku membiarkanmu terus menangisi orang lain yang lebih kamu cintai dibanding aku? Satu tahun ternyata aku belum mampu membuatmu mencintaiku seutuhnya. Aku sengaja datang ke Paris untuk berbicara dengan pria brengsek ini. Kemana saja dia setelah bertahun lamanya kamu mencintainya dan dia diam saja? Awalnya kukira dia tidak memiliki perasaan yang sama, namun ternyata dia juga mencintaimu Tiff. Aku tak punya alasan lain untuk bersamamu selama kamu masih mencintai dia. Dia lebih pantas bersamamu, Tiff." Abigail memelukku erat, melepas cincin pertunangan kami lalu meletakkannya ditelapak tanganku dan pergi berlalu.
"How i miss you, Ludy..."
Pria itu kembali memelukku erat dan lama sekali. Sejurus kemudian mengeluarkan kotak Tiffany dari kantungnya, "Kanami Tiffany, will you marry me?"
***
Hubunganku dengan Cleo berangsur membaik. Ia berjanji akan datang pada pesta pernikahan kami berdua dengan kekasihnya, Leon. Semua hanyalah kesalahpahaman. Ya, inilah akhirnya. Aku akan menikah dengan Ludy, cinta pertamaku yang menjelma jadi sosok yang kukenal sebagai sahabat bertahun lamanya. Mencintainya dalam diam memang takkan pernah menjadi satu kesalahan yang harus kusesali. Dan kini... Bahagianya adalah aku. HAPPY WEDDING!
Love is about timing.....
Lots of
love,
Cynthia Suci Lestari