Atas nama
laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir
separuh hidup dan perjuangan yang pernah kulakukan untuknya. Meluruhkan semua ego dan kuasa yang kupunya atas perempuanku satu-satunya. Kamu mau tahu
rasanya? Seperti ada cambuk amarah berpadu dengan rela yang enggan lepas dari
dalam diri karena bertahun-tahun sudah aku memilikinya lalu dengan lancang ada
laki-laki baru yang berusaha mengambil hatinya dariku.
Does he know? I belong to her before anyone does.
Tidak lebih dari
sepuluh menit setelah gemuruh amarah ini berkumpul, mereka kini duduk dengan senyum paling bahagia di depanku.
Membuatku menyaksikan perempuanku memandang laki-laki yang baru ia kenal dengan penuh cinta. Memaksaku
untuk segera merelakannya pergi dari kuasaku dan membiarkan laki-laki baru itu menguasainya
atas nama cinta.
Sekarang kulihat laki-laki
baru itu ganti menatap perempuanku sayang. Aku tahu ia sempat menoleh ke arahku
dua kali sebelum tangannya merangkul dan mengusap lembut punggung perempuanku
yang terlihat gugup hari ini. Perempuanku masih dengan tatapan dan gesture canggungnya berganti menoleh ke
arahku, seperti berkata “Ini saatnya”.
Kurasakan helaan
nafasku semakin berat seiring dengan degup jantung yang mulai tak karuan saat
duduk di hadapan mereka. Perempuanku sayang tersenyum sekali lagi dan aku tahu
ia melakukannya dengan tulus dari hatinya, senyum itu dahulu milikku seorang tanpa harus berbagi dengan orang lain. Dan kini mataku terasa
panas ketika tangannya menggenggam tanganku lembut. Genggamannya kuat
seperti meyakinkanku bahwa takkan pernah ada yang berubah setelah ini. Aku
tetap memilikinya meskipun kini harus rela berbagi dengan laki-laki barunya.
Kutatap mereka sekali lagi..
Pelan-pelan
kurasakan ada ego yang meluruh berganti dengan ketenangan dan ikhlas saat mata
kami bertiga bertemu secara bergantian. Seharusnya aku bahagia, menjadi satu-satunya orang yang mengantar perempuanku di hari bahagianya. Dipercaya olehnya sekali lagi untuk memegang tahta tertinggi pada hari ini, memberikan satu hal penting demi masa depannya, restuku. Aku memandang laki-laki di sebelahnya dengan wajah yakin bercampur gugup, laki-laki baru ini mencintai perempuanku
dengan segenap hatinya. Ia yang tempo lalu meminta secara lembut untuk
menjadikan perempuanku satu-satunya, rumah untuk seluruh hati dan jiwanya mulai
hari ini dan selamanya. Ia yang kupaksa bertemu denganku sehari sebelum hari sakral
ini, berjanji dengan segenap hatinya untuk takkan pernah sekalipun menyakiti
hati dan raga perempuanku, mencintainya tanpa jeda, dan menjaganya seperti aku
membesarkannya hingga saat ini.
Karena dalam mencintainya aku tak pernah membubuhkan tanda
baca, tak pernah ada koma ataupun titik.
Karena peluh dan lelahnya perjuangan saat
membesarkannya takkan pernah terasa selama kulihat anakku tersenyum saat
menyambutku pulang bekerja.
Karena separuh hidup dan cintaku adalah
dirinya saat ini.
Kemudian, saat itu ia bersimpuh dan menjabat tanganku erat untuk berjanji atas nama
laki-laki dengan seluruh ego dan cintanya kepada perempuanku, anakku.
“I swear to you with all of my heart, I will give my best for her till death do us apart, Dad”.
Cyn
