Jumat, 24 Agustus 2012

SILENT


Scarlet,

Florist

Mataku nanar menatap hujan yang semakin deras. Titik-titiknya menyentuh kasar kelopak bunga mawar yang ada di pekarangan toko ini, sakit. Mungkin itu yang dirasa bunga-bunga nan cantik itu jikalau mampu mereka berbicara. Sama seperti bunga-bunga itu, mungkin detik ini Will juga merasakan dan ingin mengungkapkan hal yang sama. Inilah aku, seseorang yang menunggu kedatangan pria bermata seteduh beringin, sedalam samudera dan sehangat mentari pagi. Menunggu ketika lautan membawa pria itu kepadaku. William

***

Aku suka bunga. Warnanya, bentuknya, harumnya, dan ekspresi orang-orang saat menerima atau memberikan bunga kepada mereka yang dikasihi. Inilah mengapa aku memutuskan untuk meneruskan usaha ibu mengelola toko bunga ini setelah lulus kuliah. Sejak kecil aku sudah berkutat dengan bermacam-macam bunga yang ada di toko ini. Toko ini bukan saja memberi ibu penghasilan, namun juga menjaga setiap serpihan kenangan yang ayah berikan kepada kami. Kini setelah ibu pergi, kenangan itu tetap terjaga bersamaan dengan datangnya sosok pria yang kini berdiri tegap dihadapanku.

“Kau mau rose warna apa tuan?” tanyaku gemas. Ini sudah berpuluh kalinya aku menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya dan berkali-kali pula ia hanya menggerak-gerakkan tangannya dan tersenyum padaku. Aneh.

“Cukup. Kalau tuan tidak mampu membayar bunga yang tuan inginkan itu, lebih baik segera tinggalkan toko ini karena saya masih banyak pesanan bouquet bunga. Terima kasih” Aku segera beranjak dari meja kasir dan membukakan pintu keluar untuk pria aneh tersebut. Bel yang dulu digantungkan di atas pintupun berdenting seraya aku membuka pintu itu. Dan hey! Pria itu masih berdiri disana tanpa menggubris perkataanku. Sedetik sebelum aku kembali menyuruhnya untuk pergi, ia meletakkan jari telunjuknya dibibirku, dan

Hai Scarlet, aku menginginkan rose putih yang ada di ujung sana. Bisa kau ambilkan untukku? Aku bisu, maaf karena membuatmu kesal J

Kupandangi sekali lagi note yang ada ditanganku. 5 detik yang lalu, pria itu memberikan note itu padaku dan aku menyesal. Ternyata ia bisu. Dasar Scarl bodoh.

            “Maafkan aku sudah lancang tuan, ini bunganya. Terimakasih” pria itu hanya tersenyum kepadaku lalu pergi membawa setangkai mawar putih digenggamannya. Ting..Ting..Ting dan bel pun berdenting saat ia menutup pintu toko bungaku.

***

            Aku harus berterima kasih kepada Tuhan atas musim hujan tahun ini yang terus menerus membuat bunga-bunga di tamanku tumbuh subur dan segar. Bunga dan air adalah dua komponen alam yang sangat indah. Aku menyukai keduanya, aku menyukai wangi bunga dan tetes air hujan saat menyentuh tanah meskipun terkadang tetesan hujan terlihat sangat kasar menyentuh kelopak bunga ketika hujan deras atau badai datang.

            Sama dengan hujan, aku menyukai pantai. Aku suka dengan semua yang berhubungan dengan air karena air memberikan penghidupan, kedamaian. Hampir setiap weekend kuhabiskan waktuku di tepi pantai hanya untuk menikmati angin pantai yang menyibak lebut rambutku, terpaan halus ombak yang menyentuh lembut pasir pantai nan cantik, juga merasakan lembutnya pasir pantai. Dan hari ini aku disini… menatap lembayung senja, ditemani sinar mentari yang kian lama kian tenggelam. Aku duduk di atas pasir putih yang lembut diterpa ombak lalu merasakan dan menghitung mundur perlahan detik-detik saat matahari itu seolah tenggelam ditelan lautan.

            5..4..3..2..1..

            Gelap.

Aku menghela nafas lega saat mentari mulai tak Nampak dari kejauhan. Lautan tampak semakin tenang dan damai saat ini hingga aku melihat ada yang terapung disana. Terombang ambing air laut yang membawanya terus menuju samudera. Aku bangkit dan berlari mengejar benda itu. Entah apa yang menggerakkan kakiku untuk menerjang air laut dan meraih sesuatu yang terombang-ambing itu.

Mawar putih.

Belum lama aku membawa bunga cantik itu ke daratan, seseorang berlari kearahku dan menyambar bunga ‘ku’.

“Eh” Baru saja aku ingin merebut bunga itu dari tangannya namun mataku kembali terpaku pada sosok yang kini berada didepanku dan menggenggam erat bunga itu. Sorot matanya tajam dan genggamannya keras seolah tidak perduli mengenai duri-duri mawar yang bisa saja melukai telapak tangannya.

“Bunga itu milikku…”ujarku halus dan pelan. Aku tidak ingin bertengkar dengan pria tuna wicara ini lagi.

Sorot matanya semakin tajam dan kali ini aku tau jelas ia seolah berkata “Ini milikku!”

“Tapi aku jelas-jelas barusan berlari dan mengambil bunga itu di tepi laut, tuan” pria berpostur tinggi semampai itu mengerutkan dahinya lalu menunjuk bunga itu, meletakkan jari telunjuknya didadanya dan telunjuknya menunjuk pada sisi 20 m sebelah kanan tempatku duduk sebelumnya. Berulang kali ia melakukan gerakan-gerakan tersebut sampai akhirnya aku mengetahui maksud pria tak bernama ini.

“Jadi, tuan yang membiarkan bunga ini terapung di lautan?” tanyaku padanya yang akhirnya membuat ia tersenyum dan mengangguk senang karena aku berhasil mengerti maksudnya. Sesaat kami diam karena aku sudah tidak memiliki hak lagi akan bunga yang ada ditangannya. Matanya menatap luas dan tajam kearah lautan lepas. Lalu perlahan ia terduduk di atas pasir pantai yang membuatku ikut duduk disampingnya.

“Mengapa tuan biarkan bunga cantik itu terapung sendirian di lautan lepas? Membiarkan ia layu dan tenggelam diterpa ombak?” tanyaku langsung. Aku tidak habis piker ada orang yang sengaja membeli bunga dan beberapa lama kemudian melepaskan bunga itu ke lautan luas. Membiarkan bunga itu tenggelam bersama tenangnya lautan.

Tangkai mawar itu diputarnya pelan dan aku bisa melihatnya tersenyum masam kala itu dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaanku lalu berlalu begitu saja meninggalkan aku, lautan, dan pertanyaanku.

Double aneh.

***

Will

Galeri

“Carmen, hari ini aku bertemu dengan gadis yang sangat menguji kesabaranku. Ia adalah seorang perangkai dan penjual bunga di tepi jalan menuju pantai. Dua kali aku bertemu dengannya dan ia hampir saja membuatku naik pitam saat ia merebut bunga yang seharusnya kau miliki sekarang. Tapi tenang saja, bunga ini tetap milikmu karena aku berhasil merebutnya kembali.” Aku tersenyum usai ‘bercerita’ kepada Carmen, kekasihku. Mungkin ‘mantan’ kekasihku lebih tepatnya. Carmen sudah meninggal dua tahun lalu dan seharusnya aku ikut bersamanya sekarang, menemaninya mengarungi lautan luas yang dingin dan gelap.

Aku benci laut. Aku benci semua yang berhubungan dengan laut dan mereka yang memuji keindahan laut. Lautan tenang dan damai. Kata mereka. Mereka hanya belum mengetahui isi didalamnya yang hampa, dingin, dan gelap. Setidaknya itu yang kurasakan dua tahun lalu saat terombang ambing di tengah lautan bersama Carmen. Kapal yang kami tumpangi tenggelam ke dasar lautan dan kami berusaha menyelamatkan diri dari dalamnya lautan luas malam itu. Aku berusaha menggapai semua benda yang terapung diatas permukaan air sambil menggenggam tangan Carmen hingga akhirnya aku menyadari lengan Carmen tidak lagi ada di genggamanku dan… aku kehilangan Carmen selama-lamanya malam itu, selamanya.

3 hari aku terombang ambing di lautan luas tanpa ada suara, tanpa mengenal cahaya apapun kecuali cahaya bulan yang Nampak iba menyinari lautan kala itu. Setelah masyarakat hanya menemukan aku satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan itu, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kota dan memohon kepada masyarakat agar merahasiakan keberadaanku pada pihak polisi dan keluargaku. Aku hanya ingin disini bersama Carmen. Menemani dan mengirimkannya bunga mawar putih kesukaannya setiap sabtu dan minggu sore. Hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kehadirannya disini. Meskipun hanya lewat setiap tangkai bunga mawar putih yang kulepaskan dilautan dan berharap Carmen akan mengumpulkan dan menyimpannnya disana.

Satu lagi hal yang membuatku begitu mencintai Carmen. Aku bisu sejak lahir dan hanya Carmen yang melihat itu sebagai suatu karunia Tuhan yang patut kusyukuri di tengah caci maki dan tertawa orang-orang yang mengejekku.

Kanvas dan kuas menjadi dua alat yang menemaniku dalam kesepian. Aku bunuh kesendirianku dengan goresan cat di kanvas putih itu. Entah sudah berapa kanvas yang kuhabiskan untuk melukis wajah Carmen. Carmen hanya meninggalkan kenangan yang tersimpan dan tertata rapi di memori otakku dan aku tuangkan di atas kanvas. Kadang, ingin sekali aku pulang kerumah dan memberitahu mereka yang mengira aku sudah meninggal tahu, bahwa aku masih hidup. Aku masih disini bersama Carmen.

***

Scarlet

Pantai

Laut memang obat yang paling mujarab untuk mengobati kepenatanku hari ini. Sudah dua hari ini aku menerima pelanggan yang aneh. Sebenarnya hanya satu yang aneh dan unik mungkin. Pria kemarin datang lagi dan membeli bunga yang sama seperti kemarin. Sudah bisa kupastikan ia pasti akan melakukan hal yang sama seperti kemarin. Membuang sia-sia bunga yang sudah dibelinya ditempatku ke lautan lepas. Dan itulah mengapa aku kembali ke pantai. Selain untuk melepas penat, aku ingin sekali memastikan pria itu datang lagi dan menangkap basah ia sedang melakukan tindakan yang aneh seperti kemarin.

Aku hanya tinggal menghitung mundur detik-detik menjelang tenggelamnya mentari hari ini. Dan ketika aku menoleh ke sebelah kanan, pria itu datang! Dengan membawa bunga mawar putih yang dibelinya tadi siang ditempatku ia berjalan ke lautan dan berhenti pada saat air laut sudah mencapai betis kakinya. Lalu… ia meletakkan bunga cantik itu diatas permukaan air dan membiarkannya pergi ke tengah lautan bersama dinginnya air laut. Apa maksudnya?

Aku berlari menghampiri pria itu meminta pertanggung jawaban atas tindakannya barusan. Bunga itu kurawat dengan susah payah dan dengan mudahnya ia buang ke tengah lautan. Tidak bisa dibiarkan!

“Hey!” Aku menghampiri pria tersebut dan menarik lengannya. Dekat. Sangat dekat saat tubuhnya terdorong kearahku, tepat dihadapanku yang mungkin hanya berjarak 10cm. Kini aku bisa melihat dengan jelas gurat-gurat wajahnya, matanya, semuanya. Aku mengambil jarak 2 langkah mundur kebelakang menyadari hal tersebut.

“Sudah dua kali tuan melakukan hal ini dan jujur saja aku tersinggung karena bunga yang baru saja kau buang itu adalah bunga yang selalu kurawat setiap harinya. Dan dengan mudahnya tuan buang bunga itu ke lautan” seru ku padanya. Padanya yang kini menatapku lurus dan tajam lalu beberapa kali menggerak-gerakkan tangannya seolah berkata aku mengganggunya dan harus pergi dari sini.

“Aku tidak akan pergi dari sini” ia lalu diam dan memilih untuk berlalu meninggalkanku. “Tidak sampai tuan mau menjawab pertanyaanku” pria itu berhenti ketika aku melanjutkan perkataanku barusan. Ia menoleh dan kembali menghampiriku yang masih diam di tepi pantai.

Ia memilih untuk duduk di pasir dan mulai ‘bercerita’. Beberapa kali ia menggerak-gerakkan tangannya dan aku mulai mengerti apa yang sebenarnya ia ceritakan. Beberapa kali ia mengusap sudut matanya karena ada bening yang menetes disana.

“Tuan rindu Carmen?” tanyaku pelan. Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaanku dan tersenyum masam.

“Tapi tuan..” aku mendapati tangannya membekap mulutku dan ia mulai menuliskan sesuatu. Will.

“Maaf Will, tapi kurasa keluargamu juga merindukanmu. Mungkin Carmen akan lebih bahagia melihat kamu pulang sekarang. Mana ada kekasih yang menginginkan pasangannya menderita karena dirinya? 1000 mawar yang kamu hanyutkan ke lautan ini hanya akan menjadi saksi bisu kerinduanmu pada Carmen. Padanya yang tidak akan pernah kembali lagi.”

Will menatapku dan mawar ditangannya bergantian. Lama hingga akhirnya ia mengangguk dan kembali mengusap sudut matanya karena bening itu menetes kembali bersama dengan senyumannya.

***

Will

Galeri

Carmen, hari ini aku kembali bertemu dengan gadis itu. Namanya Scarlet, dia gadis yang aku ceritakan kemarin padamu. Carmen, apakah benar kau akan lebih bahagia melihatku pergi dari sini dan kembali pada rutinitasku di kota? Meninggalkanmu sendirian di lautan luas yang gelap dan hampa? Scarl yang bilang tadi di pantai. Scarl bilang keeluargaku pasti sangat merindukanku dan Scarl bilang bunga-bunga yang kukirimkan untukmu hanya akan menjadi saksi bisu kerinduanku padamu yang selamanya tak akan kembali lagi. Kalau memang dengan cara itu bisa membuatmu bahagia disana, aku akan pergi ke kota dan berhenti mengirimkanmu bunga-bunga itu. Mungkin benar apa yang dikatakan Scarl, Carmen tidak akan tega membiarkanku terus disini menunggunya yang tidak akan pernah pulang..

Aku menutup buku harianku dan mulai menuangkan seluruh cat yang tersisa dan menggoreskannya pada kanvas putih bersih itu. Aku menuangkan seluruh kemampuanku malam itu, seluruh sisa tenaga dan harapanku pada Carmen. Aku akan pergi besok pagi meninggalkan semua kenangan tentang Carmen dan lautan yang menyimpan jasadnya yang tengah tenang diselimuti dinginnya air laut.

***

Scarlet

Florist

Hari ini aku lebih semangat untuk menjaga toko bunga milik ibu. Hujan pagi ini membuat seluruh bungaku basah. Namun bukan karena hujan yang membuat bungaku lebih terlihat segar yang membuatku lebih semangat, aku ingin melihat Will datang lagi kesini dan membeli bungaku. Aku kagum dengan kesetiaannya pada Carmen. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu. Setidaknya itulah yang sebenarnya dilakukan Will dibalik semua bunga yang ia hanyutkan ke laut. Aku ingin melihat Will lagi.

Aku mulai menghitung setiap bunyi dentingan bel. Berharap kali ini yang datang adalah pria yang kemarin menangis dihadapanku karena menunggu kekasihnya pulang. Pria bisu yang membuatku ingin mengenal kehidupannya lebih jauh.

Aku mulai lelah saat menyadari ia tidak datang hari ini. Apa Will memutuskan untuk mengikuti semua saranku untuk pergi dari sini dan kembali ke kota?

Pertanyaan itu sudah memenuhi isi kepalaku sampai aku tidak menyadari denting bel barusan dan seseorang yang berdiri dihadapanku. Will.

“Kau kembali..” ia hanya tersenyum saat aku membawakannya bunga mawar putih yang biasa ia beli di tokoku.

Aku tidak ingin membeli bunga. Sekiranya itu yang dapat aku terjemahkan dari bahasa ‘luar biasa’nya. Entah sejak kapan aku mulai bisa mengerti apa yang ia katakana lewat bahasa tubuhnya. Aku mempersilahkan Will untuk duduk untuk santai sejenak.

Aku akan pergi.

“Kamu serius?” Will mengangguk mantap dan meraih kedua tanganku. Terima kasih. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Kau melakukan hal yang tepat, Will”

Ia menarik lenganku dan mengajakku ke sebuah tempat. Sebuah galeri. Aroma cat lukis menyeruak dan menusuk hidungku saat Will membuka pintunya. Aku bisa melihat warna-warna itu tersusun rapi pada sebuah kanvas dan membentuk sebuah gambar yang indah.

“Ini semua karyamu?” aku bisa melihat senyum lebar Will saat itu. Ia mempersilahkan aku masuk dan melihat-lihat seluruh karyanya. Cantik. Aku suka dengan goresan-goresan cat itu, begitu hidup.

“Kau tahu? Semua yang kau ingin ungkapkan ada tertuang di kanvas ini. Semua lukisanmu sangat hidup dan aku suka. Kau habiskan 2 tahunmu untuk ini semua, Will?” tanyaku lagi. Mataku belum beranjak dari semua lukisan yang ada di sekelilingku. Ada yang abstrak hingga potret wajah seorang wanita cantik yang sudah bisa kutebak, Carmen.

Aku suka melukis. Aku suka seni. Dan menurutku, menjadi bisu adalah sebuah seni.

Will suka seni. Terlihat jelas dari semua maha karyanya. Aku semakin bisa melihat keunikan dari seorang pria bisu dihadapanku ini. Dia sungguh luar biasa.

Yes Will, to be silent is the art of conversation” aku setuju pada Will. Menjadi bisu adalah sebuah seni yang berharga ketika kau bisa menuangkan apa yang ingin kau katakan dalam sebuah karya. Itulah Will.

“Will… inikah Carmen?” aku menunjuk pada sebuah lukisan yang sudah sejak tadi kuperhatikan. Hanya sedikit perpaduan warna yang Will mainkan dalam lukisan tersebut, namun aku tetap bisa merasakan apa yang ingin ia katakan melalui gambar tersebut. Will rindu Carmen.

Will membalas pertanyaanku hanya dengan senyumannya. Sejurus kemudian ia pindahkan lukisan itu ke belakang lemari yang berada di sudut ruangan. Kali ini aku tahu, tidak akan ada lagi bunga-bunga yang akan terapung di lautan.

***

Scarlet

Pantai

6 bulan belakangan ini, selain menjaga toko bunga milik ibu aku juga membantu Will untuk menjual seluruh karyanya di galeri kota. Seluruh karya Will habis terjual dengan harga yang fantastis. Kami habiskan waktu bersama saat senja, menghitung semua keuntungan dari lukisan-lukisan itu. Semua. Termasuk lukisan wanita cantik yang Will panggil Carmen. Kehidupanku dan Will semakin membaik seiring dengan berjalannya waktu. Will sudah kembali ke keluarganya, dan aku? Tentu saja aku masih berada di tempat ini menjaga bunga-bunga milik ibu. Bunga dan lautan sudah menjadi bagian dariku sejak dulu dan tidak pernah terbesit di pikiranku untuk pergi dari sini meskipun aku mampu.

Menikmati senja bersama Will menjadi rutinitasku 6 bulan terakhir ini. Perlahan-lahan aku katakan padanya bahwa lautan tidak sekejam yang ia bayangkan sebelumnya. Kolam luas dan dalam milik bumi ini memang menyimpan berjuta rahasia, berjuta kenangan dan itulah yang menjadikannya istimewa. Terkadang, menjadi bisu lebih baik dibandingkan harus mengeluarkan banyak dusta.

Aku menyukai lautan, Scarlet

Katanya dengan bahasa luar biasa yang ia miliki. Hey, kali ini Will tidak perlu mengulangnya beberapa kali karena aku sudah terbiasa dan mengerti apa yang ia katakan.

Ia menyerahkan sebuah amplop coklat dan membiarkan aku membukanya.

“Will!! Aku tahu kamu memang berbakat! Selamat ya, kau harus bergegas pergi besok. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, William” aku memberinya ucapan selamat dan pelukan hangat padannya senja itu. Will sungguh beruntung karyanya bisa diterima di luar negeri dan sekarang ia diundang untuk menjadi pelukis tetap di sebuah galeri ternama di kota New York.

            Aku tidak ingin pergi dari sini.

            Ada gurat halus di wajahnya. Ada apa? Kesempatan emas ini sangat sayang untuk ditinggalkan begitu saja. Menjadi pelukis tetap di sebuah galeri ternama di New York adalah impian seluruh pelukis di dunia, dan aku yakin Will pun memiliki mimpi yang sama dengan pelukis-pelukis lainnya.

            “Mengapa? Kau harus pergi Will! Kurasa William tidak akan bodoh untuk meninggalkan kesempatan langka seperti ini. Kau jenius Will” aku terus meyakinkan Will akan kemampuannya agar ia mau merubah keputusannya dan segera mempersiapkan keberangkatannya ke New York besok. Tapi Will hanya diam. Ia menatapku dalam-dalam hingga aku tak berani untuk menatap matanya lebih lama.

            “William, aku akan sangat bahagia melihat kau dan karyamu berada disana. Kau pantas untuk itu Will”

            Dan untuk terakhir kalinya kurasakan hangatnya berada didalam pelukan William.

***

            Will

New York Gallery

Menjadi bisu adalah takdir dan aku tidak menyesalinya selama aku bertemu dengan Scarlet dan mencintainya termasuk didalam takdir Tuhan untukku. Sudah setahun aku berada di negeri makmur ini dan belum sempat untuk kembali pulang. Entah sudah berapa surat, sms, ataupun telepon yang kugunakan untuk menghubungi Scarlet, namun hasilnya nihil. Ia sudah mengganti nomornya entah sejak kapan. Scarlet bukanlah orang yang rajin memeriksa setiap pesan yang masuk di emailnya dan aku yakin merangkai bunga lebih menyenangkan dibandingkan dengan memeriksa setiap email yang masuk di akunnya.

Entah sejak kapanScarlet mulai masuk kedalam hidupku menggantikan Carmen. Aku bahkan sudah tidak lagi sedih akan kepergian Carmen, Scarlet yang mengubah semuanya menjadi nyata. Wanita itu yang berusaha untuk meyakinkanku bahwa menjadi bisu adalah sesuatu yang istimewa. Mengubah semua pandanganku terhadap laut dan bunga-bunga yang kuhanyutkan di sana untuk seseorang yang tidak akan pernah kembali. Ia adalah seseorang yang membangunkanku dari zona abu-abu hingga akhirnya penuh dengan warna. Tidakkah Scarlet tahu bahwa ialah alasan mengapa aku tidak ingin pergi ke New York saat itu? Aku hanya ingin bersamanya lebih lama. Tidak peduli seberapa langka kesempatan yang kumiliki asalkan aku bisa bersamanya. Tidakkah ia juga tahu bahwa ialah yang menjadi alasan mengapa aku mau untuk mengambil kesempatan ini? Mendengar ia akan bahagia apabila aku mengambil kesempatan ini adalah segalanya bagiku. Dan pelukanku senja itu adalah terakhir kalinya aku bisa memeluk tubuh mungilnya.

Langit semakin kelabu saat aku memutuskan keluar galeri. Scarlet, apakah langit yang menaungi kau disana kelabu seperti disini? Apakah tanah yang kau pijak saat ini adalah tanah  yang sama ‘kita’ pijak?

***

Scarlet

Pantai

Sudah setahun berlalu sejak aku tidak lagi menyusuri pantai saat senja bersama dengan William. Sejak bel toko bungaku tidak lagi berdenting menyambut kedatangan pria itu. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku merindukannya. Berharap ada kapal yang singgah di tepi pantai ini dan mengantar Will di hadapanku. Sekarang. Hari ini. Dia yang sangat istimewa dengan suara hatinya.  Lautan ini terasa bisu tanpamu William. Aku mencintaimu, Will…

***

Will

Fransisco Boat

Aku sangat bersyukut orang-orang disekitar pelabuhan mengerti dengan bahasa tubuh yang ku ‘katakan’ pada mereka. Ya, aku akan segera pulang dan memakaikanmu benda ini. Cincin berlian yang kubeli dengan uang hasil penjualan lukisanku di New York. Boat yang kutumpangi menyebrangi pelabuhan hingga ke tepi pantai tempat Scarlet tinggal. Lautan ini begitu tenang, setenang hatiku saat ini karena sebentar lagi aku akan bicara pada wanita itu dan memintanya untuk bersedia hidup selamanya denganku di New York. Aku menoleh ke arah laut lepas dan melihat Carmen tersenyum dibawah sana.

Aku sudah bertemu dengan wanita yang tepat, Carmen. Terima kasih

Boat ini masih tenang hingga akhirnya mengalami goncangan yang sangat keras. Air mulai menggenangi seluruh permukaan boat dan kini sudah naik hingga semata kakiku. Tidak! Aku tidak ingin tenggelam bersama dengan harapan dan seluruh cintaku padanya. Aku tidak ingin membenci laut untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama. Namun air laut semakin deras masuk kedalam boat dan akhirnya aku bisa merasakan seluruh tubuhku berada didalam air. Boatnya terbalik! Aku berusaha sekuat tenaga berenang ke tepi pantai nun jauh disana yang hingga saat ini belum terlihat dari tempatku berenang. Cincin itu masih berada di genggaman tanganku. Aku ingin segera sampai di tepi pantai dan memakaikan ini di jarinya. Kumohon…

Kondisiku kian melemah saat aku tahu kakiku mulai kaku dan sulit untuk digerakkan. Aku membisu. Benar-benar membisu saat ini hingga seluruh tubuhku ikut membisu. Aku merasakan tubuhku semakin tertarik ke bawah dan…

Gelap.

***

Scarlet

Pantai Flona

William. Sudah 2 tahun sejak jasadnya ditemukan di bibir pantai ini. Tangannya menggenggam sesuatu. Kotak tiffany. Dan ada namaku disana. Tidak tidak. Aku berjanji tidak akan membiarkan bening ini turun membasahi pipiku. Lautan ini sudah penuh dengan air dan aku tidak akan menambahkannya dengan air mata kesedihanku. Aku meletakkan bunga mawar putih diatas air laut dan membiarkannya pergi bersama dengan hatiku yang ikut pergi bersama dengan dinginnya air laut. Lautan ini istimewa. Sama seperti dirimu, Ken William…

To be silent, is the art of conversation. Diamond in the sea. And soul that unbreakable

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...