Florist
Mataku nanar menatap hujan yang semakin deras.
Titik-titiknya menyentuh kasar kelopak bunga mawar yang ada di pekarangan toko
ini, sakit. Mungkin itu yang dirasa bunga-bunga nan cantik itu jikalau mampu
mereka berbicara. Sama seperti bunga-bunga itu, mungkin detik ini Will juga
merasakan dan ingin mengungkapkan hal yang sama. Inilah aku, seseorang yang menunggu kedatangan pria bermata seteduh beringin, sedalam samudera dan sehangat mentari pagi. Menunggu ketika lautan membawa pria itu kepadaku. William
***
Aku suka bunga. Warnanya, bentuknya, harumnya, dan
ekspresi orang-orang saat menerima atau memberikan bunga kepada mereka yang
dikasihi. Inilah mengapa aku memutuskan untuk meneruskan usaha ibu mengelola
toko bunga ini setelah lulus kuliah. Sejak kecil aku sudah berkutat dengan
bermacam-macam bunga yang ada di toko ini. Toko ini bukan saja memberi ibu
penghasilan, namun juga menjaga setiap serpihan kenangan yang ayah berikan kepada
kami. Kini setelah ibu pergi, kenangan itu tetap terjaga bersamaan dengan
datangnya sosok pria yang kini berdiri tegap dihadapanku.
“Kau mau rose warna apa tuan?” tanyaku gemas. Ini
sudah berpuluh kalinya aku menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya dan
berkali-kali pula ia hanya menggerak-gerakkan tangannya dan tersenyum padaku.
Aneh.
“Cukup. Kalau tuan tidak mampu membayar bunga yang
tuan inginkan itu, lebih baik segera tinggalkan toko ini karena saya masih
banyak pesanan bouquet bunga. Terima kasih” Aku segera beranjak dari meja kasir
dan membukakan pintu keluar untuk pria aneh tersebut. Bel yang dulu
digantungkan di atas pintupun berdenting seraya aku membuka pintu itu. Dan hey!
Pria itu masih berdiri disana tanpa menggubris perkataanku. Sedetik sebelum aku
kembali menyuruhnya untuk pergi, ia meletakkan jari telunjuknya dibibirku, dan
Hai Scarlet, aku
menginginkan rose putih yang ada di ujung sana. Bisa kau ambilkan untukku? Aku
bisu, maaf karena membuatmu kesal J
Kupandangi sekali lagi note yang ada ditanganku. 5
detik yang lalu, pria itu memberikan note itu padaku dan aku menyesal. Ternyata
ia bisu. Dasar Scarl bodoh.
“Maafkan
aku sudah lancang tuan, ini bunganya. Terimakasih” pria itu hanya tersenyum
kepadaku lalu pergi membawa setangkai mawar putih digenggamannya. Ting..Ting..Ting dan bel pun berdenting
saat ia menutup pintu toko bungaku.
***
Aku
harus berterima kasih kepada Tuhan atas musim hujan tahun ini yang terus
menerus membuat bunga-bunga di tamanku tumbuh subur dan segar. Bunga dan air
adalah dua komponen alam yang sangat indah. Aku menyukai keduanya, aku menyukai
wangi bunga dan tetes air hujan saat menyentuh tanah meskipun terkadang tetesan
hujan terlihat sangat kasar menyentuh kelopak bunga ketika hujan deras atau
badai datang.
Sama
dengan hujan, aku menyukai pantai. Aku suka dengan semua yang berhubungan
dengan air karena air memberikan penghidupan, kedamaian. Hampir setiap weekend
kuhabiskan waktuku di tepi pantai hanya untuk menikmati angin pantai yang
menyibak lebut rambutku, terpaan halus ombak yang menyentuh lembut pasir pantai
nan cantik, juga merasakan lembutnya pasir pantai. Dan hari ini aku disini…
menatap lembayung senja, ditemani sinar mentari yang kian lama kian tenggelam.
Aku duduk di atas pasir putih yang lembut diterpa ombak lalu merasakan dan
menghitung mundur perlahan detik-detik saat matahari itu seolah tenggelam
ditelan lautan.
5..4..3..2..1..
Gelap.
Aku menghela nafas lega saat mentari mulai tak
Nampak dari kejauhan. Lautan tampak semakin tenang dan damai saat ini hingga
aku melihat ada yang terapung disana. Terombang ambing air laut yang membawanya
terus menuju samudera. Aku bangkit dan berlari mengejar benda itu. Entah apa
yang menggerakkan kakiku untuk menerjang air laut dan meraih sesuatu yang
terombang-ambing itu.
Mawar putih.
Belum lama aku membawa bunga cantik itu ke daratan,
seseorang berlari kearahku dan menyambar bunga ‘ku’.
“Eh” Baru saja aku ingin merebut bunga itu dari
tangannya namun mataku kembali terpaku pada sosok yang kini berada didepanku
dan menggenggam erat bunga itu. Sorot matanya tajam dan genggamannya keras
seolah tidak perduli mengenai duri-duri mawar yang bisa saja melukai telapak
tangannya.
“Bunga itu milikku…”ujarku halus dan pelan. Aku
tidak ingin bertengkar dengan pria tuna wicara ini lagi.
Sorot matanya semakin tajam dan kali ini aku tau
jelas ia seolah berkata “Ini milikku!”
“Tapi aku jelas-jelas barusan berlari dan mengambil
bunga itu di tepi laut, tuan” pria berpostur tinggi semampai itu mengerutkan
dahinya lalu menunjuk bunga itu, meletakkan jari telunjuknya didadanya dan
telunjuknya menunjuk pada sisi 20 m sebelah kanan tempatku duduk sebelumnya.
Berulang kali ia melakukan gerakan-gerakan tersebut sampai akhirnya aku
mengetahui maksud pria tak bernama ini.
“Jadi, tuan yang membiarkan bunga ini terapung di
lautan?” tanyaku padanya yang akhirnya membuat ia tersenyum dan mengangguk
senang karena aku berhasil mengerti maksudnya. Sesaat kami diam karena aku
sudah tidak memiliki hak lagi akan bunga yang ada ditangannya. Matanya menatap
luas dan tajam kearah lautan lepas. Lalu perlahan ia terduduk di atas pasir
pantai yang membuatku ikut duduk disampingnya.
“Mengapa tuan biarkan bunga cantik itu terapung
sendirian di lautan lepas? Membiarkan ia layu dan tenggelam diterpa ombak?”
tanyaku langsung. Aku tidak habis piker ada orang yang sengaja membeli bunga
dan beberapa lama kemudian melepaskan bunga itu ke lautan luas. Membiarkan
bunga itu tenggelam bersama tenangnya lautan.
Tangkai mawar itu diputarnya pelan dan aku bisa
melihatnya tersenyum masam kala itu dan memilih untuk tidak menjawab
pertanyaanku lalu berlalu begitu saja meninggalkan aku, lautan, dan pertanyaanku.
Double aneh.
***
Will
Galeri
“Carmen, hari
ini aku bertemu dengan gadis yang sangat menguji kesabaranku. Ia adalah seorang
perangkai dan penjual bunga di tepi jalan menuju pantai. Dua kali aku bertemu
dengannya dan ia hampir saja membuatku naik pitam saat ia merebut bunga yang
seharusnya kau miliki sekarang. Tapi tenang saja, bunga ini tetap milikmu
karena aku berhasil merebutnya kembali.”
Aku tersenyum usai ‘bercerita’ kepada Carmen, kekasihku. Mungkin ‘mantan’
kekasihku lebih tepatnya. Carmen sudah meninggal dua tahun lalu dan seharusnya
aku ikut bersamanya sekarang, menemaninya mengarungi lautan luas yang dingin
dan gelap.
Aku benci laut. Aku benci semua yang berhubungan
dengan laut dan mereka yang memuji keindahan laut. Lautan tenang dan damai.
Kata mereka. Mereka hanya belum mengetahui isi didalamnya yang hampa, dingin,
dan gelap. Setidaknya itu yang kurasakan dua tahun lalu saat terombang ambing
di tengah lautan bersama Carmen. Kapal yang kami tumpangi tenggelam ke dasar
lautan dan kami berusaha menyelamatkan diri dari dalamnya lautan luas malam
itu. Aku berusaha menggapai semua benda yang terapung diatas permukaan air
sambil menggenggam tangan Carmen hingga akhirnya aku menyadari lengan Carmen
tidak lagi ada di genggamanku dan… aku kehilangan Carmen selama-lamanya malam
itu, selamanya.
3 hari aku terombang ambing di lautan luas tanpa ada
suara, tanpa mengenal cahaya apapun kecuali cahaya bulan yang Nampak iba
menyinari lautan kala itu. Setelah masyarakat hanya menemukan aku satu-satunya
yang selamat dalam kecelakaan itu, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kota
dan memohon kepada masyarakat agar merahasiakan keberadaanku pada pihak polisi
dan keluargaku. Aku hanya ingin disini bersama Carmen. Menemani dan
mengirimkannya bunga mawar putih kesukaannya setiap sabtu dan minggu sore. Hanya
dengan cara ini aku bisa merasakan kehadirannya disini. Meskipun hanya lewat
setiap tangkai bunga mawar putih yang kulepaskan dilautan dan berharap Carmen
akan mengumpulkan dan menyimpannnya disana.
Satu lagi hal yang membuatku begitu mencintai
Carmen. Aku bisu sejak lahir dan hanya Carmen yang melihat itu sebagai suatu
karunia Tuhan yang patut kusyukuri di tengah caci maki dan tertawa orang-orang
yang mengejekku.
Kanvas dan kuas menjadi dua alat yang menemaniku
dalam kesepian. Aku bunuh kesendirianku dengan goresan cat di kanvas putih itu.
Entah sudah berapa kanvas yang kuhabiskan untuk melukis wajah Carmen. Carmen
hanya meninggalkan kenangan yang tersimpan dan tertata rapi di memori otakku
dan aku tuangkan di atas kanvas. Kadang, ingin sekali aku pulang kerumah dan
memberitahu mereka yang mengira aku sudah meninggal tahu, bahwa aku masih
hidup. Aku masih disini bersama Carmen.
***
Scarlet
Pantai
Laut memang obat yang paling mujarab untuk mengobati
kepenatanku hari ini. Sudah dua hari ini aku menerima pelanggan yang aneh.
Sebenarnya hanya satu yang aneh dan unik mungkin. Pria kemarin datang lagi dan
membeli bunga yang sama seperti kemarin. Sudah bisa kupastikan ia pasti akan
melakukan hal yang sama seperti kemarin. Membuang sia-sia bunga yang sudah
dibelinya ditempatku ke lautan lepas. Dan itulah mengapa aku kembali ke pantai.
Selain untuk melepas penat, aku ingin sekali memastikan pria itu datang lagi
dan menangkap basah ia sedang melakukan tindakan yang aneh seperti kemarin.
Aku hanya tinggal menghitung mundur detik-detik
menjelang tenggelamnya mentari hari ini. Dan ketika aku menoleh ke sebelah
kanan, pria itu datang! Dengan membawa bunga mawar putih yang dibelinya tadi
siang ditempatku ia berjalan ke lautan dan berhenti pada saat air laut sudah
mencapai betis kakinya. Lalu… ia meletakkan bunga cantik itu diatas permukaan
air dan membiarkannya pergi ke tengah lautan bersama dinginnya air laut. Apa maksudnya?
Aku berlari menghampiri pria itu meminta pertanggung
jawaban atas tindakannya barusan. Bunga itu kurawat dengan susah payah dan
dengan mudahnya ia buang ke tengah lautan. Tidak bisa dibiarkan!
“Hey!” Aku menghampiri pria tersebut dan menarik lengannya.
Dekat. Sangat dekat saat tubuhnya terdorong kearahku, tepat dihadapanku yang
mungkin hanya berjarak 10cm. Kini aku bisa melihat dengan jelas gurat-gurat
wajahnya, matanya, semuanya. Aku mengambil jarak 2 langkah mundur kebelakang
menyadari hal tersebut.
“Sudah dua kali tuan melakukan hal ini dan jujur
saja aku tersinggung karena bunga yang baru saja kau buang itu adalah bunga
yang selalu kurawat setiap harinya. Dan dengan mudahnya tuan buang bunga itu ke
lautan” seru ku padanya. Padanya yang kini menatapku lurus dan tajam lalu
beberapa kali menggerak-gerakkan tangannya seolah berkata aku mengganggunya dan
harus pergi dari sini.
“Aku tidak akan pergi dari sini” ia lalu diam dan
memilih untuk berlalu meninggalkanku. “Tidak sampai tuan mau menjawab
pertanyaanku” pria itu berhenti ketika aku melanjutkan perkataanku barusan. Ia
menoleh dan kembali menghampiriku yang masih diam di tepi pantai.
Ia memilih untuk duduk di pasir dan mulai
‘bercerita’. Beberapa kali ia menggerak-gerakkan tangannya dan aku mulai
mengerti apa yang sebenarnya ia ceritakan. Beberapa kali ia mengusap sudut
matanya karena ada bening yang menetes disana.
“Tuan rindu Carmen?” tanyaku pelan. Ia memilih untuk
tidak menjawab pertanyaanku dan tersenyum masam.
“Tapi tuan..” aku mendapati tangannya membekap
mulutku dan ia mulai menuliskan sesuatu. Will.
“Maaf Will, tapi kurasa keluargamu juga
merindukanmu. Mungkin Carmen akan lebih bahagia melihat kamu pulang sekarang.
Mana ada kekasih yang menginginkan pasangannya menderita karena dirinya? 1000
mawar yang kamu hanyutkan ke lautan ini hanya akan menjadi saksi bisu kerinduanmu
pada Carmen. Padanya yang tidak akan pernah kembali lagi.”
Will menatapku dan mawar ditangannya bergantian.
Lama hingga akhirnya ia mengangguk dan kembali mengusap sudut matanya karena
bening itu menetes kembali bersama dengan senyumannya.
***
Will
Galeri
Carmen, hari ini
aku kembali bertemu dengan gadis itu. Namanya Scarlet, dia gadis yang aku
ceritakan kemarin padamu. Carmen, apakah benar kau akan lebih bahagia melihatku
pergi dari sini dan kembali pada rutinitasku di kota? Meninggalkanmu sendirian
di lautan luas yang gelap dan hampa? Scarl yang bilang tadi di pantai. Scarl
bilang keeluargaku pasti sangat merindukanku dan Scarl bilang bunga-bunga yang
kukirimkan untukmu hanya akan menjadi saksi bisu kerinduanku padamu yang
selamanya tak akan kembali lagi. Kalau memang dengan cara itu bisa membuatmu
bahagia disana, aku akan pergi ke kota dan berhenti mengirimkanmu bunga-bunga
itu. Mungkin benar apa yang dikatakan Scarl, Carmen tidak akan tega
membiarkanku terus disini menunggunya yang tidak akan pernah pulang..
Aku menutup buku harianku dan mulai menuangkan
seluruh cat yang tersisa dan menggoreskannya pada kanvas putih bersih itu. Aku
menuangkan seluruh kemampuanku malam itu, seluruh sisa tenaga dan harapanku
pada Carmen. Aku akan pergi besok pagi meninggalkan semua kenangan tentang
Carmen dan lautan yang menyimpan jasadnya yang tengah tenang diselimuti
dinginnya air laut.
***
Scarlet
Florist
Hari ini aku lebih semangat untuk menjaga toko bunga
milik ibu. Hujan pagi ini membuat seluruh bungaku basah. Namun bukan karena
hujan yang membuat bungaku lebih terlihat segar yang membuatku lebih semangat,
aku ingin melihat Will datang lagi kesini dan membeli bungaku. Aku kagum dengan
kesetiaannya pada Carmen. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu.
Setidaknya itulah yang sebenarnya dilakukan Will dibalik semua bunga yang ia
hanyutkan ke laut. Aku ingin melihat Will lagi.
Aku mulai menghitung setiap bunyi dentingan bel.
Berharap kali ini yang datang adalah pria yang kemarin menangis dihadapanku
karena menunggu kekasihnya pulang. Pria bisu yang membuatku ingin mengenal
kehidupannya lebih jauh.
Aku mulai lelah saat menyadari ia tidak datang hari
ini. Apa Will memutuskan untuk mengikuti semua saranku untuk pergi dari sini
dan kembali ke kota?
Pertanyaan itu sudah memenuhi isi kepalaku sampai
aku tidak menyadari denting bel barusan dan seseorang yang berdiri dihadapanku.
Will.
“Kau kembali..” ia hanya tersenyum saat aku
membawakannya bunga mawar putih yang biasa ia beli di tokoku.
Aku tidak ingin
membeli bunga. Sekiranya itu
yang dapat aku terjemahkan dari bahasa ‘luar biasa’nya. Entah sejak kapan aku
mulai bisa mengerti apa yang ia katakana lewat bahasa tubuhnya. Aku
mempersilahkan Will untuk duduk untuk santai sejenak.
Aku akan pergi.
“Kamu serius?” Will mengangguk mantap dan meraih
kedua tanganku. Terima kasih. Aku
mengangguk dan tersenyum padanya. “Kau melakukan hal yang tepat, Will”
Ia menarik lenganku dan mengajakku ke sebuah tempat.
Sebuah galeri. Aroma cat lukis menyeruak dan menusuk hidungku saat Will membuka
pintunya. Aku bisa melihat warna-warna itu tersusun rapi pada sebuah kanvas dan
membentuk sebuah gambar yang indah.
“Ini semua karyamu?” aku bisa melihat senyum lebar
Will saat itu. Ia mempersilahkan aku masuk dan melihat-lihat seluruh karyanya.
Cantik. Aku suka dengan goresan-goresan cat itu, begitu hidup.
“Kau tahu? Semua yang kau ingin ungkapkan ada
tertuang di kanvas ini. Semua lukisanmu sangat hidup dan aku suka. Kau habiskan
2 tahunmu untuk ini semua, Will?” tanyaku lagi. Mataku belum beranjak dari
semua lukisan yang ada di sekelilingku. Ada yang abstrak hingga potret wajah seorang
wanita cantik yang sudah bisa kutebak, Carmen.
Aku suka
melukis. Aku suka seni. Dan menurutku, menjadi bisu adalah sebuah seni.
Will suka seni. Terlihat jelas dari semua maha
karyanya. Aku semakin bisa melihat keunikan dari seorang pria bisu dihadapanku
ini. Dia sungguh luar biasa.
“Yes Will, to
be silent is the art of conversation” aku setuju pada Will. Menjadi bisu
adalah sebuah seni yang berharga ketika kau bisa menuangkan apa yang ingin kau
katakan dalam sebuah karya. Itulah Will.
“Will… inikah Carmen?” aku menunjuk pada sebuah
lukisan yang sudah sejak tadi kuperhatikan. Hanya sedikit perpaduan warna yang
Will mainkan dalam lukisan tersebut, namun aku tetap bisa merasakan apa yang
ingin ia katakan melalui gambar tersebut. Will
rindu Carmen.
Will membalas pertanyaanku hanya dengan senyumannya.
Sejurus kemudian ia pindahkan lukisan itu ke belakang lemari yang berada di
sudut ruangan. Kali ini aku tahu, tidak akan ada lagi bunga-bunga yang akan
terapung di lautan.
***
Scarlet
Pantai
6 bulan belakangan ini, selain menjaga toko bunga
milik ibu aku juga membantu Will untuk menjual seluruh karyanya di galeri kota.
Seluruh karya Will habis terjual dengan harga yang fantastis. Kami habiskan
waktu bersama saat senja, menghitung semua keuntungan dari lukisan-lukisan itu.
Semua. Termasuk lukisan wanita cantik yang Will panggil Carmen. Kehidupanku dan
Will semakin membaik seiring dengan berjalannya waktu. Will sudah kembali ke
keluarganya, dan aku? Tentu saja aku masih berada di tempat ini menjaga
bunga-bunga milik ibu. Bunga dan lautan sudah menjadi bagian dariku sejak dulu
dan tidak pernah terbesit di pikiranku untuk pergi dari sini meskipun aku
mampu.
Menikmati senja bersama Will menjadi rutinitasku 6
bulan terakhir ini. Perlahan-lahan aku katakan padanya bahwa lautan tidak
sekejam yang ia bayangkan sebelumnya. Kolam luas dan dalam milik bumi ini memang
menyimpan berjuta rahasia, berjuta kenangan dan itulah yang menjadikannya
istimewa. Terkadang, menjadi bisu lebih baik dibandingkan harus mengeluarkan banyak
dusta.
Aku menyukai
lautan, Scarlet
Katanya dengan bahasa luar biasa yang ia miliki.
Hey, kali ini Will tidak perlu mengulangnya beberapa kali karena aku sudah
terbiasa dan mengerti apa yang ia katakan.
Ia menyerahkan sebuah amplop coklat dan membiarkan
aku membukanya.
“Will!! Aku tahu kamu memang berbakat! Selamat ya,
kau harus bergegas pergi besok. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua
kali, William” aku memberinya ucapan selamat dan pelukan hangat padannya senja
itu. Will sungguh beruntung karyanya bisa diterima di luar negeri dan sekarang
ia diundang untuk menjadi pelukis tetap di sebuah galeri ternama di kota New
York.
Aku tidak ingin pergi dari sini.
Ada
gurat halus di wajahnya. Ada apa? Kesempatan emas ini sangat sayang untuk
ditinggalkan begitu saja. Menjadi pelukis tetap di sebuah galeri ternama di New
York adalah impian seluruh pelukis di dunia, dan aku yakin Will pun memiliki
mimpi yang sama dengan pelukis-pelukis lainnya.
“Mengapa?
Kau harus pergi Will! Kurasa William tidak akan bodoh untuk meninggalkan
kesempatan langka seperti ini. Kau jenius Will” aku terus meyakinkan Will akan
kemampuannya agar ia mau merubah keputusannya dan segera mempersiapkan
keberangkatannya ke New York besok. Tapi Will hanya diam. Ia menatapku
dalam-dalam hingga aku tak berani untuk menatap matanya lebih lama.
“William,
aku akan sangat bahagia melihat kau dan karyamu berada disana. Kau pantas untuk
itu Will”
Dan
untuk terakhir kalinya kurasakan hangatnya berada didalam pelukan William.
***
Will
New York Gallery
Menjadi bisu adalah takdir dan aku tidak
menyesalinya selama aku bertemu dengan Scarlet dan mencintainya termasuk
didalam takdir Tuhan untukku. Sudah setahun aku berada di negeri makmur ini dan
belum sempat untuk kembali pulang. Entah sudah berapa surat, sms, ataupun
telepon yang kugunakan untuk menghubungi Scarlet, namun hasilnya nihil. Ia
sudah mengganti nomornya entah sejak kapan. Scarlet bukanlah orang yang rajin
memeriksa setiap pesan yang masuk di emailnya dan aku yakin merangkai bunga
lebih menyenangkan dibandingkan dengan memeriksa setiap email yang masuk di
akunnya.
Entah sejak kapanScarlet mulai masuk kedalam hidupku
menggantikan Carmen. Aku bahkan sudah tidak lagi sedih akan kepergian Carmen,
Scarlet yang mengubah semuanya menjadi nyata. Wanita itu yang berusaha untuk meyakinkanku
bahwa menjadi bisu adalah sesuatu yang istimewa. Mengubah semua pandanganku
terhadap laut dan bunga-bunga yang kuhanyutkan di sana untuk seseorang yang
tidak akan pernah kembali. Ia adalah seseorang yang membangunkanku dari zona
abu-abu hingga akhirnya penuh dengan warna. Tidakkah Scarlet tahu bahwa ialah
alasan mengapa aku tidak ingin pergi ke New York saat itu? Aku hanya ingin
bersamanya lebih lama. Tidak peduli seberapa langka kesempatan yang kumiliki
asalkan aku bisa bersamanya. Tidakkah ia juga tahu bahwa ialah yang menjadi
alasan mengapa aku mau untuk mengambil kesempatan ini? Mendengar ia akan
bahagia apabila aku mengambil kesempatan ini adalah segalanya bagiku. Dan
pelukanku senja itu adalah terakhir kalinya aku bisa memeluk tubuh mungilnya.
Langit semakin kelabu saat aku memutuskan keluar
galeri. Scarlet, apakah langit yang menaungi kau disana kelabu seperti disini?
Apakah tanah yang kau pijak saat ini adalah tanah yang sama ‘kita’ pijak?
***
Scarlet
Pantai
Sudah setahun berlalu sejak aku tidak lagi menyusuri
pantai saat senja bersama dengan William. Sejak bel toko bungaku tidak lagi
berdenting menyambut kedatangan pria itu. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku
merindukannya. Berharap ada kapal yang singgah di tepi pantai ini dan mengantar
Will di hadapanku. Sekarang. Hari ini. Dia yang sangat istimewa dengan suara
hatinya. Lautan ini terasa bisu tanpamu
William. Aku mencintaimu, Will…
***
Will
Fransisco Boat
Aku sangat bersyukut orang-orang disekitar pelabuhan
mengerti dengan bahasa tubuh yang ku ‘katakan’ pada mereka. Ya, aku akan segera
pulang dan memakaikanmu benda ini. Cincin berlian yang kubeli dengan uang hasil
penjualan lukisanku di New York. Boat yang kutumpangi menyebrangi pelabuhan
hingga ke tepi pantai tempat Scarlet tinggal. Lautan ini begitu tenang,
setenang hatiku saat ini karena sebentar lagi aku akan bicara pada wanita itu
dan memintanya untuk bersedia hidup selamanya denganku di New York. Aku menoleh
ke arah laut lepas dan melihat Carmen tersenyum dibawah sana.
Aku sudah
bertemu dengan wanita yang tepat, Carmen. Terima kasih
Boat ini masih tenang hingga akhirnya mengalami
goncangan yang sangat keras. Air mulai menggenangi seluruh permukaan boat dan
kini sudah naik hingga semata kakiku. Tidak! Aku tidak ingin tenggelam bersama
dengan harapan dan seluruh cintaku padanya. Aku tidak ingin membenci laut untuk
kedua kalinya dengan alasan yang sama. Namun air laut semakin deras masuk
kedalam boat dan akhirnya aku bisa merasakan seluruh tubuhku berada didalam
air. Boatnya terbalik! Aku berusaha sekuat tenaga berenang ke tepi pantai nun
jauh disana yang hingga saat ini belum terlihat dari tempatku berenang. Cincin
itu masih berada di genggaman tanganku. Aku ingin segera sampai di tepi pantai
dan memakaikan ini di jarinya. Kumohon…
Kondisiku kian melemah saat aku tahu kakiku mulai
kaku dan sulit untuk digerakkan. Aku membisu. Benar-benar membisu saat ini
hingga seluruh tubuhku ikut membisu. Aku merasakan tubuhku semakin tertarik ke
bawah dan…
Gelap.
***
Scarlet
Pantai Flona
William. Sudah 2 tahun sejak jasadnya ditemukan di
bibir pantai ini. Tangannya menggenggam sesuatu. Kotak tiffany. Dan ada namaku
disana. Tidak tidak. Aku berjanji tidak akan membiarkan bening ini turun
membasahi pipiku. Lautan ini sudah penuh dengan air dan aku tidak akan
menambahkannya dengan air mata kesedihanku. Aku meletakkan bunga mawar putih
diatas air laut dan membiarkannya pergi bersama dengan hatiku yang ikut pergi
bersama dengan dinginnya air laut. Lautan ini istimewa. Sama seperti dirimu,
Ken William…
To
be silent, is the art of conversation. Diamond in the sea. And soul that
unbreakable