Tidak pernahkah ada rindu yang
merasuki kamu untuk kembali pulang? Atau pernahkah sekali saja kamu
berkeinginan untuk kembali dan menyelesaikan semua janji yang tertinggal di
masa lalu?
Saya mengamati kamu dari kejauhan.
Menikmati setiap gerak gerik dan tuturmu tanpa pernah lagi menyentuhmu secara
langsung. Saya tahu saya cinta kamu begitu dalam sampai-sampai tidak pernah ada
yang saya biarkan untuk singgah sebentar dirumah saya. Saya hanya mengenal dua
orang pria yang saya cintai selama ini,
Kamu... dan ekspektasi saya
terhadap kamu.
***
Agatha, 2000
Saya
melihat kamu berlari-lari begitu ceria mengejar teman-temanmu yang bermain di
lapangan. Matahari begitu terik, tapi kamu tetap ceria. Bahkan tawamu mampu
membuatku ikut tergelak geli dibawah lindungan ranting-ranting dan dedaunan
pohon akasia yang rimbun. Saya tidak melihat sama sekali ada raut wajah lelah
padamu, seolah-olah tidak pernah ada kata lelah yang pantas untuk
mendeskripsikan kamu.
Ibu
belum datang saat kamu menghampiri saya yang asik menyantap bekal makan siang.
“Aku juga lapar” begitu kata kamu sambil memegangi perut. Dan siang itu saya pertama
kalinya berbagi bekal bersama dengan kamu sembari menunggu ibu datang.
Agatha,
2001
Tahun
pertama masuk sekolah, dan saya masih bersama kamu menunggu ibu datang
menjemput di taman sekolah. Bahkan saya tidak tahu kapan persisnya saya mulai
menunggu kamu datang terlebih dahulu sebelum membuka kotak bekal kemudian kamu
mulai membuat candaan-candaan yang membuat saya tertawa hingga puas sampai ibu
datang.
Klakson
mobil ibu sudah menggema hingga ke taman sekolah. Kita sama-sama menunggu siapa
yang akan lebih dulu berlari menuju mobil. Dan kamu selalu jadi yang paling
akhir untuk mempersilahkan saya menyambut ibu lebih dulu.
Agatha,
2003
Saya
dan kamu sudah tidak lagi hanya bertemu saat pulang sekolah. Menunggu dering
bel istirahat sekolah adalah penantian saya yang paling panjang saat itu.
Menunggu kamu berlarian dan mengajak saya makan bersama di kantin sekolah.
Banyak teman-teman yang bilang kalau kami bermain cinta-cintaan, namun
kenyataannya cinta adalah hal paling tabu yang hanya bisa saya dengar saat ibu
membiarkan televisi menyala pada saat petang hingga larut. Saya sendiri belum
pernah mendapatkan jawaban mengapa disaat banyak teman yang bermain dengan
kita, saya dan kamu masih menyempatkan waktu untuk menikmati jajan dan makan
siang bersama sepulang sekolah. Kamu seperti memiliki kekuatan magnet tak
terlihat yang membuat saya terus menunggu kamu datang dan mengajak saya bermain
dan menghabiskan bekal bersama.
Agatha,
2006
Saya tidak bisa memperkirakan berapa tinggi badan kamu saat ini. Intensitas
bermain kami juga semakin mengendur seiring dengan kegiatan kamu yang semakin
padat. Bermain basket, les akademik, sampai dengan alat musik. Saya bingung
otak kamu sebenarnya terbuat dari apa hingga semua subjek bisa kamu lahap
bulat-bulat, dengan nilai sempurna. Kamu menjadi anak laki-laki paling pintar
di sekolah, sekaligus paling mempesona. Tidak jarang saya melihat isi loker
kamu yang penuh dengan surat-surat penggemar dari teman-teman sampai dengan
Sekolah Menengah. Dan entah mengapa saya mulai merasa ada hal yang membuat saya
khawatir kalau sebentar lagi kamu bukanlah lagi teman dekat saya.
Suatu
siang yang terik, mentari begitu menyengat seolah membakar kulit. Pohon akasia
di tengah taman memang selalu menjadi tempat yang paling nyaman dan tenang
untuk dipilih. Saya ingat kamu mengajak saya duduk disana. Tidak, kamu sedang
tidak ingin mengajak saya bercanda seperti biasanya, kamu menatap saya dalam –
dalam tanpa ada tawa yang menghiasi wajahmu seperti biasanya.
“Aku
mau pergi” Begitu katamu. 3 kata ajaib yang membuat seluruh tubuhku merinding
mendengarnya.
“Kemana?”
Saya balas menatapnya. Matanya selalu menjadi tempat favorit saya untuk
singgah, dalam dan teduh. Bahkan lebih teduh dari rimbunnya pohon akasia tua
ini.
“Surabaya,
besok pagi”
Hening.
Saya tidak tahu harus berbicara apa dengan kamu. Sepertinya kamu juga korban
dari keegoisan orang tuamu yang ingin memindahkanmu dari sini. Saya bingung dan
sedih.
“Jadi,
ini terakhir kalinya kita bermain, Ford?” Suara saya bergetar saat mengatakannya.
Kali ini saya kalah dengan matanya, saya tidak mau lagi menatap kedua matanya
karena saya tahu besok tidak akan ada lagi mata seperti yang dia miliki. Tangannya
hangat merangkul bahu saya, “Jangan sedih, nanti pasti kita bermain bersama
lagi. Hey, aku masih punya permainan seru yang bisa kita mainkan selama aku
pergi. Kamu mau?” tanyanya. Senyumnya kembali hadir dan membuatku ikut
tersenyum kembali dan mengangguk.
“Kamu
tahu? Sepupuku menikah dengan orang yang sudah lama ia tidak temui dan ia
benci. Bagaimana kalau kita berpura-pura saling membenci sehingga nanti kita
bisa menikah dan bermain bersama lagi. Kamu mau?”
Lama
saya tidak merespon ajakannya. Kata ibu jika seseorang laki-laki mengajak wanita menikah, namanya adalah
tunangan. Hanya itu yang saya tahu.
“Iya
aku mau” Aku membalasnya dengan deretan gigi yang menghiasi senyumku hari itu.
Kamu lalu berdiri dan melambaikan tangan seraya ibumu datang menjemput. Kali
ini kamu tidak mempersilahkan saya terlebih dahulu yang pergi. Lalu, tiba-tiba
kamu berbalik setelah saya panggil,
“Kamu
pasti kembali kan, Ford?” teriak saya saat itu. Dan saya bisa melihatnya
mengangguk dari kejauhan.
Semua
akan baik-baik saja.
***
Agatha,
2009
Sudah memasuki tahun akhir di Sekolah Menengah Pertama, dan sebentar
lagi saya akan melanjutkan sekolah di SMA pilihan ibu. Kamu belum pernah
kembali semenjak pertemuan terakhir kita dibawah pohon akasia itu. Waktu cepat
sekali berlalu, bahkan saya merasa kamu baru pergi meninggalkan saya kemarin.
Kamu
belum pernah mengirimi saya sepucuk surat atau direct message di facebook.
Namun, sebenarnya saya juga belum memastikan apakah saya sudah menjadi salah
satu akun yang sudah menjadi teman kamu di Facebook. Kabar terakhir yang saya
dengar tentang kamu adalah dari mading sekolah saya. Ada foto kamu disana
sambil memegang piala juara Speech Contest yang diadakan skala Nasional di
Jakarta. Kamu tertawa puas sambil memamerkan senyum 3 jari milikmu yang selalu
menjadi andalan. Saya bisa membayangkan berapa banyak wanita yang ingin menjadi
pacar kamu saat ini, pasti banyak.
Lama
sekali saya memandangi wajah kamu di mading sekolah. Sekarang kamu sudah
menjadi lebih besar dan tampan. Saya bisa melihat bulu halus yang ada diantara
hidung dan bibir kamu.
Ford,
masih ingatkah kamu tentang gadis pohon akasia yang selalu menunggu kamu
sepulang sekolah?
Agatha,
2012
Saya memang sudah lama tidak berjumpa dengan kamu, tapi saya selalu
berusaha mencari tahu keberadaan dan keadaan kamu disana. Setiap detail kamu
saya mengetahuinya. Jangan tanyakan darimana saya mendapatkannya, internet
sudah menjadi rumah kedua bagi saya untuk mencari dimana kamu sekarang.
Sekarang
saya dan kamu sama-sama berada di tingkat Universitas. Riset terakhir saya
tentang kamu, kamu sudah berhasil menjadi mahasiswa pertama di Indonesia yang
mengambil jurusan Liberal Arts di Inggris. Kamu tahu? Ada letupan kebanggaan
saya terhadap kamu. Kamu masih seperti kamu yang dahulu, selalu bersemangat dan
rajin belajar. Pencapaian kamu saat ini sama sekali tidak membuat saya heran.
Saya
rindu kamu. Selama ini tidak pernah ada yang saya tunggu selain kedatangan kamu
pulang. Tidak pernah ada yang bisa membuka kunci hati saya agar terbuka.
Bagaimana mungkin saya bisa mencintai orang lain sementara kamu masih berada
didalam hati saya? Saya kira kisah kemarin hanyalah sebatas perkataan anak usia
12 tahun kepada temannya, ternyata tidak. Saya masih berharap dan terus
berharap suatu saat nanti kamu akan pulang dan menepati janji 6 tahun lalu. Entah
saya harus menyebut perasaan ini apa, saya tidak mempersilahkan orang lain
untuk masuk dan menemani saya duduk di pohon akasia tua itu sampai kamu datang.
Ada desakan yang terus menekan saya untuk yakin bahwa suatu saat kamu akan
datang.
Kamu
memang belum pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang wanita. Itu yang
bisa saya tangkap dari analisa saya terhadap semua akun media sosial kamu. Entahlah,
kamu pria tampan, mudah bergaul, berpendidikan, dan terhormat. Sudah pasti
banyak sekali wanita yang memuja kamu saat ini, dan untuk memilih yang terbaik
diantara mereka mungkin salah satu hal yang paling mudah untuk kamu lakukan. Tapi
kamu lebih memilih sendiri. Bolehkah saya semakin berharap kepada kamu?
Saya
akan tunggu kamu.
Agatha,
2013
Hujan sore ini tidak kunjung berhenti turun dan halte bis sudah mulai
penuh dengan sekumpulan orang-orang yang memilih berlindung dibawahnya.
Termasuk saya. Kemudian lampu hijau dari hp saya mulai berkedip-kedip genit
meminta untuk segera diintip.
Notification Group.
Ada
anggota baru di grup SD saya. Ford
Julius D. Lama saya terpaku melihat namanya muncul di layar hp saya. Kamu
semakin dekat, saya bisa membuka pembicaraan lagi dengan kamu lewat hp ini.
Seharusnya saya senang, namun perasaan ini begitu takut dan ragu.
Ya,
saya memang menunggu kamu. Tapi saya begitu takut menerima kenyataan kalau kamu
bukan lagi Ford yang dulu saya cinta. Saya takut hanya mencintai sosok kamu
yang dulu, saya takut saya hanya mencintai ekspektasi saya kepada kamu. Bukan
kamu yang sekarang.
Berhari
– hari saya dedikasikan untuk menimbang apakah saya perlu membuka percakapan
dengan kamu saat ini? Kata-kata yang pantas sudah saya persiapkan untuk
menyambut kedatangan kamu yang jaraknya semakin mendekat.
“Apa
kabar, Ford?” Sent.
Setidaknya
saya sudah bisa melawan ego dan ketakutan saya untuk menanyakan kabar kamu
secara langsung, bukan lagi menerka-nerka kabarmu lewat media sosial. 1 menit,
1 jam, 3 jam, 5 jam kamu belum membalas pesan saya. Saya memberanikan diri lagi
untuk membuka jendela chat kamu. Read.
Degup
jantung saya terasa semakin cepat seiring dengan munculnya tulisan “Ford Julius
D. is writing a message...”
“Baik,
Gat. Kamu?”
Dan
kami melanjutkan percakapan ringan saat itu. Memang ada sensasi tersendiri
ketika menunggu balasan pesan dari kamu. Saya tahu kamu pasti sibuk dan rentang
waktu 7 jam diantara kita sangat sulit untuk ditolerir. Tapi saya
begitu bahagia dengan percakapan singkat ini. Kamu membalas pesan saya dengan
singkat dan padat. Kamu banyak membicarakan tentang kegiatan perkuliahan dan
semua hal yang bersifat sangat akademis yang sama sekali tidak saya mengerti.
Kamu banyak menyebutkan kata-kata yang berhubungan dengan politik dan
pemerintahan, dan saya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu sebutkan
tadi.
Saya
tidak berani menanyakan tentang janji kita dahulu atau berusaha mengingatkan
kamu tentang bagaimana serunya kita bermain dahulu. Saya terlalu takut menerima
kenyataan jika kamu sudah tidak mengingatnya lagi. Kamu lebih menganggap saya
seperti stranger yang baru saja mengenalmu. Ada perih yang terselip disetiap
letupan kebahagiaan yang kembali menggores hati ketika kamu membalas pesan
saya.
Ada
yang salah. Ketakutan saya semakin membesar setelah percakapan kami selesai.
Kamu memang sudah berubah menjadi seseorang yang lebih akademis dan saya merasa
semakin jauh dibelakang kamu. Kamu pasti lebih pantas dengan ia yang sama
berprestasinya dengan kamu, sama-sama memiliki passion yang sama dan obrolan
topik yang sama dan menyenangkan. Apakah saya masih pantas menunggu kamu, Ford?
Agatha,
2018
Saya
sudah bekerja saat ini di salah satu industri minyak besar di Indonesia. Sudah
lama sekali rasanya saya tidak lagi mencari tahu keberadaan dan kabar kamu.
Semenjak percakapan aneh kita 5 tahun lalu, saya tidak lagi membuka percakapan
dengan kamu. Saya berusaha melupakan kamu dan perasaan saya terhadap kamu, tapi
semakin saya mencoba semakin saya tidak bisa. Kamu begitu kuat melekat dan
enggan pergi dari dalam diri saya. Bertahun-tahun saya menahan diri untuk mencari
keberadaan kamu, dan sungguh sangat berat. Sudah selama ini dan saya masih
belum bisa membawa seorang pria untuk dikenalkan dengan orang tua saya. Karena
saya masih menunggu kamu pulang. Apa saya terlalu berlebihan cinta kamu?
“Gatha”
Dia memanggil saya dari kejauhan. Namanya Carlo, seorang pilot profesional yang
semenjak setahun lalu selalu menemani saya. Saya tahu maksudnya, tapi saya
masih belum bisa memberikan kunci hati saya pada Carlo, karena kamu masih
memegang kuncinya. Saya masih mengharapkan kamu, lalu bagaimana mungkin saya
bisa mempersilahkan orang lain merajai hati saya sementara kamu masih singgah
disana?
Agatha,
2020
Pohon akasia ini tidak pernah berubah sepanjang tahun. Masih rimbun dan
menebarkan wangi dedaunan yang sangat khas. Saya rindu saat-saat masih SD dulu,
sekaligus rindu kamu. Bangku taman dibawah pohon akasia masih ada dengan
tampilan yang lebih modern ditambahkan dengan lampu taman yang semakin
mempercantik pohon ini. Saya duduk dibawahnya, berlindung dari sinar matahari,
sekaligus berlindung dari seluruh kenangan yang saya punya dengan kamu dahulu. Menghirup
dalam-dalam aroma khasnya dan membiarkan angin menyibak rambutku perlahan. Kemudian
seseorang datang dengan derap langkahnya
sangat tegas dan memilih duduk di sampingku.
“Agatha...”
Aku membuka mataku dan mengamatinya dengan seksama, aku mengenal wajahnya.
Wajah siapa yang tidak pernah luput dari ingatanku selama 20 tahun lamanya
hingga saat ini selain wajah kamu.
Kamu
tersenyum dan balas menatapku dalam-dalam dengan mata yang sudah 14 tahun
kurindukan.
“Aku
sudah pulang, Gat..” ujarnya pelan.
Wajahnya menunduk dan hening menghampiri kami sesaat.
Aku
menghambur kearahnya dan memberikannya peluk hangat. Sudah lama sekali aku
merindukan laki-laki kecil yang kukenal 20 tahun lalu ini.
“Sudah
lama sekali, Ford. Kemana saja kamu...” Suaraku datar dan membuatnya berhenti
bergerak. Gerakannya berubah menjadi salah tingkah, bingung bagaimana menjawab
pertanyaanku.
“Aku
mencari sesuatu, Gat. Maaf membuat kamu menunggu begitu lama”
Maaf.
Bahkan kamu tidak pernah membuat suatu kesalahan sekecil apapun dimataku. Jika
memang selama ini saya menunggu kamu pulang, itu karena saya memang memilih
kamu untuk saya tunggu. Sungguh bukan salah kamu.
“Apa
yang kamu cari? Apa kamu sudah dapat?” tanyaku.
Senyumnya
kembali mengembang. Ia menatapku dalam-dalam dan menunjuk dadanya.
“Begitu
lama aku mencari keyakinan dan kepercayaan diri untuk pulang. Aku melintasi
setengah poros bumi hanya untuk meyakinkan bahwa aku harus pulang menemui
seseorang disini. Dan aku sudah mendapat apa yang aku cari. Aku pulang. Aku
meyakinkan diriku untuk menyelesaikan studi dan kembali pulang. Untuk kamu..”
Kamu begitu sulit ditebak, Ford. Saya bingung
bagaimana dan apa yang harus saya katakan. Bening ini sudah tidak mungkin bisa
saya bendung mendengar jawabannya.
“20
tahun saya habiskan untuk cinta kamu dan 14 tahun saya dedikasikan untuk
menunggu kamu pulang, Ford. Saya rindu kamu..” Bibir saya bergetar ketika
akhirnya berhasil mengatakan apa yang sudah saya pendam bertahun lamanya. Kamu
balas lagi menatap saya dengan tatapan yang memasung saya semakin kuat dalam
perasaan saya terhadap kamu.
“Pohon
akasia ini tidak pernah berubah sejak terakhir kali saya meninggalkan kamu
disini sampai saat ini. Sama seperti apa yang saya rasakan terhadap kamu. Kita
sudah cukup lama memendam dan terpisah, Gat. Maukah kamu menjadi rumah tinggal
abadi untuk saya selama-lamanya, tempat saya selalu kembali dan pulang?”
Kamu
membuka kotak Tiffany kecil didepan saya dan kilau berlian muncul setelahnya.
Tidak ada lagi yang bisa saya ungkapkan kepada kamu selain anggukan mantap dan
pelukan hangat untuk kamu. Penantian saya selama ini sudah terbayarkan. Tidak
pernah ada lagi ragu yang datang ketika kamu sudah ada disini bersama saya.
Memang benar, kita hanya perlu mencari keyakinan dan kepercayaan diri jika
ingin pulang.
Kelak
rumah saya nanti bersama kamu akan ditumbuhi pohon akasia yang rimbun yang
menjaga dan melindungi memori kita dengan rimbunan daunnya..
Alicia
Agatha & Ford Julius D.
Cynthia S Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar