Rabu, 28 Mei 2014

PULANG

Tidak pernahkah ada rindu yang merasuki kamu untuk kembali pulang? Atau pernahkah sekali saja kamu berkeinginan untuk kembali dan menyelesaikan semua janji yang tertinggal di masa lalu?
Saya mengamati kamu dari kejauhan. Menikmati setiap gerak gerik dan tuturmu tanpa pernah lagi menyentuhmu secara langsung. Saya tahu saya cinta kamu begitu dalam sampai-sampai tidak pernah ada yang saya biarkan untuk singgah sebentar dirumah saya. Saya hanya mengenal dua orang pria yang saya cintai selama ini,
Kamu... dan ekspektasi saya terhadap kamu.
***

Agatha, 2000
                Saya melihat kamu berlari-lari begitu ceria mengejar teman-temanmu yang bermain di lapangan. Matahari begitu terik, tapi kamu tetap ceria. Bahkan tawamu mampu membuatku ikut tergelak geli dibawah lindungan ranting-ranting dan dedaunan pohon akasia yang rimbun. Saya tidak melihat sama sekali ada raut wajah lelah padamu, seolah-olah tidak pernah ada kata lelah yang pantas untuk mendeskripsikan kamu. 
                Ibu belum datang saat kamu menghampiri saya yang asik menyantap bekal makan siang. “Aku juga lapar” begitu kata kamu sambil memegangi perut. Dan siang itu saya pertama kalinya berbagi bekal bersama dengan kamu sembari menunggu ibu datang.

Agatha, 2001
                Tahun pertama masuk sekolah, dan saya masih bersama kamu menunggu ibu datang menjemput di taman sekolah. Bahkan saya tidak tahu kapan persisnya saya mulai menunggu kamu datang terlebih dahulu sebelum membuka kotak bekal kemudian kamu mulai membuat candaan-candaan yang membuat saya tertawa hingga puas sampai ibu datang.
                Klakson mobil ibu sudah menggema hingga ke taman sekolah. Kita sama-sama menunggu siapa yang akan lebih dulu berlari menuju mobil. Dan kamu selalu jadi yang paling akhir untuk mempersilahkan saya menyambut ibu lebih dulu.

Agatha, 2003
                Saya dan kamu sudah tidak lagi hanya bertemu saat pulang sekolah. Menunggu dering bel istirahat sekolah adalah penantian saya yang paling panjang saat itu. Menunggu kamu berlarian dan mengajak saya makan bersama di kantin sekolah. Banyak teman-teman yang bilang kalau kami bermain cinta-cintaan, namun kenyataannya cinta adalah hal paling tabu yang hanya bisa saya dengar saat ibu membiarkan televisi menyala pada saat petang hingga larut. Saya sendiri belum pernah mendapatkan jawaban mengapa disaat banyak teman yang bermain dengan kita, saya dan kamu masih menyempatkan waktu untuk menikmati jajan dan makan siang bersama sepulang sekolah. Kamu seperti memiliki kekuatan magnet tak terlihat yang membuat saya terus menunggu kamu datang dan mengajak saya bermain dan menghabiskan bekal bersama.

Agatha, 2006
                Saya tidak bisa memperkirakan berapa tinggi badan kamu saat ini. Intensitas bermain kami juga semakin mengendur seiring dengan kegiatan kamu yang semakin padat. Bermain basket, les akademik, sampai dengan alat musik. Saya bingung otak kamu sebenarnya terbuat dari apa hingga semua subjek bisa kamu lahap bulat-bulat, dengan nilai sempurna. Kamu menjadi anak laki-laki paling pintar di sekolah, sekaligus paling mempesona. Tidak jarang saya melihat isi loker kamu yang penuh dengan surat-surat penggemar dari teman-teman sampai dengan Sekolah Menengah. Dan entah mengapa saya mulai merasa ada hal yang membuat saya khawatir kalau sebentar lagi kamu bukanlah lagi teman dekat saya.
                Suatu siang yang terik, mentari begitu menyengat seolah membakar kulit. Pohon akasia di tengah taman memang selalu menjadi tempat yang paling nyaman dan tenang untuk dipilih. Saya ingat kamu mengajak saya duduk disana. Tidak, kamu sedang tidak ingin mengajak saya bercanda seperti biasanya, kamu menatap saya dalam – dalam tanpa ada tawa yang menghiasi wajahmu seperti biasanya.
                “Aku mau pergi” Begitu katamu. 3 kata ajaib yang membuat seluruh tubuhku merinding mendengarnya.
                “Kemana?” Saya balas menatapnya. Matanya selalu menjadi tempat favorit saya untuk singgah, dalam dan teduh. Bahkan lebih teduh dari rimbunnya pohon akasia tua ini.
                “Surabaya, besok pagi”
                Hening. Saya tidak tahu harus berbicara apa dengan kamu. Sepertinya kamu juga korban dari keegoisan orang tuamu yang ingin memindahkanmu dari sini. Saya bingung dan sedih.
                “Jadi, ini terakhir kalinya kita bermain, Ford?” Suara saya bergetar saat mengatakannya. Kali ini saya kalah dengan matanya, saya tidak mau lagi menatap kedua matanya karena saya tahu besok tidak akan ada lagi mata seperti yang dia miliki. Tangannya hangat merangkul bahu saya, “Jangan sedih, nanti pasti kita bermain bersama lagi. Hey, aku masih punya permainan seru yang bisa kita mainkan selama aku pergi. Kamu mau?” tanyanya. Senyumnya kembali hadir dan membuatku ikut tersenyum kembali dan mengangguk.
                “Kamu tahu? Sepupuku menikah dengan orang yang sudah lama ia tidak temui dan ia benci. Bagaimana kalau kita berpura-pura saling membenci sehingga nanti kita bisa menikah dan bermain bersama lagi. Kamu mau?”
                Lama saya tidak merespon ajakannya. Kata ibu jika seseorang laki-laki  mengajak wanita menikah, namanya adalah tunangan. Hanya itu yang saya tahu.
                “Iya aku mau” Aku membalasnya dengan deretan gigi yang menghiasi senyumku hari itu. Kamu lalu berdiri dan melambaikan tangan seraya ibumu datang menjemput. Kali ini kamu tidak mempersilahkan saya terlebih dahulu yang pergi. Lalu, tiba-tiba kamu berbalik setelah saya panggil,
                “Kamu pasti kembali kan, Ford?” teriak saya saat itu. Dan saya bisa melihatnya mengangguk dari kejauhan.
                Semua akan baik-baik saja.
***

Agatha, 2009
                Sudah memasuki tahun akhir di Sekolah Menengah Pertama, dan sebentar lagi saya akan melanjutkan sekolah di SMA pilihan ibu. Kamu belum pernah kembali semenjak pertemuan terakhir kita dibawah pohon akasia itu. Waktu cepat sekali berlalu, bahkan saya merasa kamu baru pergi meninggalkan saya kemarin.
                Kamu belum pernah mengirimi saya sepucuk surat atau direct message di facebook. Namun, sebenarnya saya juga belum memastikan apakah saya sudah menjadi salah satu akun yang sudah menjadi teman kamu di Facebook. Kabar terakhir yang saya dengar tentang kamu adalah dari mading sekolah saya. Ada foto kamu disana sambil memegang piala juara Speech Contest yang diadakan skala Nasional di Jakarta. Kamu tertawa puas sambil memamerkan senyum 3 jari milikmu yang selalu menjadi andalan. Saya bisa membayangkan berapa banyak wanita yang ingin menjadi pacar kamu saat ini, pasti banyak.
                Lama sekali saya memandangi wajah kamu di mading sekolah. Sekarang kamu sudah menjadi lebih besar dan tampan. Saya bisa melihat bulu halus yang ada diantara hidung dan bibir kamu.
                Ford, masih ingatkah kamu tentang gadis pohon akasia yang selalu menunggu kamu sepulang sekolah?

Agatha, 2012
                Saya memang sudah lama tidak berjumpa dengan kamu, tapi saya selalu berusaha mencari tahu keberadaan dan keadaan kamu disana. Setiap detail kamu saya mengetahuinya. Jangan tanyakan darimana saya mendapatkannya, internet sudah menjadi rumah kedua bagi saya untuk mencari dimana kamu sekarang.
                Sekarang saya dan kamu sama-sama berada di tingkat Universitas. Riset terakhir saya tentang kamu, kamu sudah berhasil menjadi mahasiswa pertama di Indonesia yang mengambil jurusan Liberal Arts di Inggris. Kamu tahu? Ada letupan kebanggaan saya terhadap kamu. Kamu masih seperti kamu yang dahulu, selalu bersemangat dan rajin belajar. Pencapaian kamu saat ini sama sekali tidak membuat saya heran.
                Saya rindu kamu. Selama ini tidak pernah ada yang saya tunggu selain kedatangan kamu pulang. Tidak pernah ada yang bisa membuka kunci hati saya agar terbuka. Bagaimana mungkin saya bisa mencintai orang lain sementara kamu masih berada didalam hati saya? Saya kira kisah kemarin hanyalah sebatas perkataan anak usia 12 tahun kepada temannya, ternyata tidak. Saya masih berharap dan terus berharap suatu saat nanti kamu akan pulang dan menepati janji 6 tahun lalu. Entah saya harus menyebut perasaan ini apa, saya tidak mempersilahkan orang lain untuk masuk dan menemani saya duduk di pohon akasia tua itu sampai kamu datang. Ada desakan yang terus menekan saya untuk yakin bahwa suatu saat kamu akan datang.
                Kamu memang belum pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang wanita. Itu yang bisa saya tangkap dari analisa saya terhadap semua akun media sosial kamu. Entahlah, kamu pria tampan, mudah bergaul, berpendidikan, dan terhormat. Sudah pasti banyak sekali wanita yang memuja kamu saat ini, dan untuk memilih yang terbaik diantara mereka mungkin salah satu hal yang paling mudah untuk kamu lakukan. Tapi kamu lebih memilih sendiri. Bolehkah saya semakin berharap kepada kamu?
                Saya akan tunggu kamu.

Agatha, 2013
                Hujan sore ini tidak kunjung berhenti turun dan halte bis sudah mulai penuh dengan sekumpulan orang-orang yang memilih berlindung dibawahnya. Termasuk saya. Kemudian lampu hijau dari hp saya mulai berkedip-kedip genit meminta untuk segera diintip.
                Notification Group.
                Ada anggota baru di grup SD saya. Ford Julius D. Lama saya terpaku melihat namanya muncul di layar hp saya. Kamu semakin dekat, saya bisa membuka pembicaraan lagi dengan kamu lewat hp ini. Seharusnya saya senang, namun perasaan ini begitu takut dan ragu.
                Ya, saya memang menunggu kamu. Tapi saya begitu takut menerima kenyataan kalau kamu bukan lagi Ford yang dulu saya cinta. Saya takut hanya mencintai sosok kamu yang dulu, saya takut saya hanya mencintai ekspektasi saya kepada kamu. Bukan kamu yang sekarang.
                Berhari – hari saya dedikasikan untuk menimbang apakah saya perlu membuka percakapan dengan kamu saat ini? Kata-kata yang pantas sudah saya persiapkan untuk menyambut kedatangan kamu yang jaraknya semakin mendekat.
                “Apa kabar, Ford?” Sent.
                Setidaknya saya sudah bisa melawan ego dan ketakutan saya untuk menanyakan kabar kamu secara langsung, bukan lagi menerka-nerka kabarmu lewat media sosial. 1 menit, 1 jam, 3 jam, 5 jam kamu belum membalas pesan saya. Saya memberanikan diri lagi untuk membuka jendela chat kamu. Read.
                Degup jantung saya terasa semakin cepat seiring dengan munculnya tulisan “Ford Julius D. is writing a message...”
                “Baik, Gat. Kamu?”
                Dan kami melanjutkan percakapan ringan saat itu. Memang ada sensasi tersendiri ketika menunggu balasan pesan dari kamu. Saya tahu kamu pasti sibuk dan rentang waktu 7  jam diantara  kita sangat sulit untuk ditolerir. Tapi saya begitu bahagia dengan percakapan singkat ini. Kamu membalas pesan saya dengan singkat dan padat. Kamu banyak membicarakan tentang kegiatan perkuliahan dan semua hal yang bersifat sangat akademis yang sama sekali tidak saya mengerti. Kamu banyak menyebutkan kata-kata yang berhubungan dengan politik dan pemerintahan, dan saya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu sebutkan tadi.
                Saya tidak berani menanyakan tentang janji kita dahulu atau berusaha mengingatkan kamu tentang bagaimana serunya kita bermain dahulu. Saya terlalu takut menerima kenyataan jika kamu sudah tidak mengingatnya lagi. Kamu lebih menganggap saya seperti stranger yang baru saja mengenalmu. Ada perih yang terselip disetiap letupan kebahagiaan yang kembali menggores hati ketika kamu membalas pesan saya.
                Ada yang salah. Ketakutan saya semakin membesar setelah percakapan kami selesai. Kamu memang sudah berubah menjadi seseorang yang lebih akademis dan saya merasa semakin jauh dibelakang kamu. Kamu pasti lebih pantas dengan ia yang sama berprestasinya dengan kamu, sama-sama memiliki passion yang sama dan obrolan topik yang sama dan menyenangkan. Apakah saya masih pantas menunggu kamu, Ford?

Agatha, 2018
                Saya sudah bekerja saat ini di salah satu industri minyak besar di Indonesia. Sudah lama sekali rasanya saya tidak lagi mencari tahu keberadaan dan kabar kamu. Semenjak percakapan aneh kita 5 tahun lalu, saya tidak lagi membuka percakapan dengan kamu. Saya berusaha melupakan kamu dan perasaan saya terhadap kamu, tapi semakin saya mencoba semakin saya tidak bisa. Kamu begitu kuat melekat dan enggan pergi dari dalam diri saya. Bertahun-tahun saya menahan diri untuk mencari keberadaan kamu, dan sungguh sangat berat. Sudah selama ini dan saya masih belum bisa membawa seorang pria untuk dikenalkan dengan orang tua saya. Karena saya masih menunggu kamu pulang. Apa saya terlalu berlebihan cinta kamu?
                “Gatha” Dia memanggil saya dari kejauhan. Namanya Carlo, seorang pilot profesional yang semenjak setahun lalu selalu menemani saya. Saya tahu maksudnya, tapi saya masih belum bisa memberikan kunci hati saya pada Carlo, karena kamu masih memegang kuncinya. Saya masih mengharapkan kamu, lalu bagaimana mungkin saya bisa mempersilahkan orang lain merajai hati saya sementara kamu masih singgah disana?

Agatha, 2020
                Pohon akasia ini tidak pernah berubah sepanjang tahun. Masih rimbun dan menebarkan wangi dedaunan yang sangat khas. Saya rindu saat-saat masih SD dulu, sekaligus rindu kamu. Bangku taman dibawah pohon akasia masih ada dengan tampilan yang lebih modern ditambahkan dengan lampu taman yang semakin mempercantik pohon ini. Saya duduk dibawahnya, berlindung dari sinar matahari, sekaligus berlindung dari seluruh kenangan yang saya punya dengan kamu dahulu. Menghirup dalam-dalam aroma khasnya dan membiarkan angin menyibak rambutku perlahan. Kemudian seseorang datang dengan  derap langkahnya sangat tegas dan memilih duduk di sampingku.
                “Agatha...” Aku membuka mataku dan mengamatinya dengan seksama, aku mengenal wajahnya. Wajah siapa yang tidak pernah luput dari ingatanku selama 20 tahun lamanya hingga saat ini selain wajah kamu.

                Kamu tersenyum dan balas menatapku dalam-dalam dengan mata yang sudah 14 tahun kurindukan.
                “Aku sudah pulang, Gat..”  ujarnya pelan. Wajahnya menunduk dan hening menghampiri kami sesaat.  
                Aku menghambur kearahnya dan memberikannya peluk hangat. Sudah lama sekali aku merindukan laki-laki kecil yang kukenal 20 tahun lalu ini.
                “Sudah lama sekali, Ford. Kemana saja kamu...” Suaraku datar dan membuatnya berhenti bergerak. Gerakannya berubah menjadi salah tingkah, bingung bagaimana menjawab pertanyaanku.
                “Aku mencari sesuatu, Gat. Maaf membuat kamu menunggu begitu lama”
                Maaf. Bahkan kamu tidak pernah membuat suatu kesalahan sekecil apapun dimataku. Jika memang selama ini saya menunggu kamu pulang, itu karena saya memang memilih kamu untuk saya tunggu. Sungguh bukan salah kamu.
                “Apa yang kamu cari? Apa kamu sudah dapat?” tanyaku.
                Senyumnya kembali mengembang. Ia menatapku dalam-dalam dan menunjuk dadanya.
                “Begitu lama aku mencari keyakinan dan kepercayaan diri untuk pulang. Aku melintasi setengah poros bumi hanya untuk meyakinkan bahwa aku harus pulang menemui seseorang disini. Dan aku sudah mendapat apa yang aku cari. Aku pulang. Aku meyakinkan diriku untuk menyelesaikan studi dan kembali pulang. Untuk kamu..”
                Kamu  begitu sulit ditebak, Ford. Saya bingung bagaimana dan apa yang harus saya katakan. Bening ini sudah tidak mungkin bisa saya bendung mendengar jawabannya.
                “20 tahun saya habiskan untuk cinta kamu dan 14 tahun saya dedikasikan untuk menunggu kamu pulang, Ford. Saya rindu kamu..” Bibir saya bergetar ketika akhirnya berhasil mengatakan apa yang sudah saya pendam bertahun lamanya. Kamu balas lagi menatap saya dengan tatapan yang memasung saya semakin kuat dalam perasaan saya terhadap kamu.
                “Pohon akasia ini tidak pernah berubah sejak terakhir kali saya meninggalkan kamu disini sampai saat ini. Sama seperti apa yang saya rasakan terhadap kamu. Kita sudah cukup lama memendam dan terpisah, Gat. Maukah kamu menjadi rumah tinggal abadi untuk saya selama-lamanya, tempat saya selalu kembali dan pulang?”
                Kamu membuka kotak Tiffany kecil didepan saya dan kilau berlian muncul setelahnya. Tidak ada lagi yang bisa saya ungkapkan kepada kamu selain anggukan mantap dan pelukan hangat untuk kamu. Penantian saya selama ini sudah terbayarkan. Tidak pernah ada lagi ragu yang datang ketika kamu sudah ada disini bersama saya. Memang benar, kita hanya perlu mencari keyakinan dan kepercayaan diri jika ingin pulang.
                Kelak rumah saya nanti bersama kamu akan ditumbuhi pohon akasia yang rimbun yang menjaga dan melindungi memori kita dengan rimbunan daunnya..



Alicia Agatha & Ford Julius D.

Cynthia S Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...