Have
you ever been in war situation? Berada di
tengah-tengah antara si kuat ego dan si konsisten logika yang berperang
memperebutkan satu tempat di sisi sang hati. Bertarung habis-habisan berusaha
melawan segala macam keadaan hanya untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang
paling bertahan dalam gelombang waktu.
“Tenanglah
sebentar”.
Seenaknya kamu bicara kala itu di sela pertempuran. Menyita trilyunan detik
yang kupunya, hanya untuk mencerna apa maksud dari perkataanmu. Apakah jika aku
tenang, akan ada satu pemenang diantara keduanya?
Kamu
tidak pernah menjawabnya.
***
8 Desember 2015
I’m flying for more than 2000 miles
away only to write something valuable on this postcard.
...
And this is the last postcard.
Ada
sesuatu yang menarik ketika harus mengisi setiap lembar postcard kosong dengan
goresan pena yang berantakan. Sesuatu yang jujur, luas, dan berharga tertuang
di sana. Aku punya tiga dan ini adalah postcard terakhir yang harus kuisi
dengan cerita lain yang bisa kudapat di tempat asing.
“Bawalah
setiap kamu pergi ke luar kota atau ke luar negeri saat waktu libur tiba, isi
dengan cerita pendek yang terinspirasi dari tiap perjalananmu. Kembalilah ke
sini tahun depan, ceritakan padaku apa saja yang kamu tulis di sana”.
Setidaknya
itu pesan yang disampaikan dari dia yang memberi postcard. Memaksaku untuk
selalu membawa tiga buah kertas ini kemanapun aku pergi dan menuliskan sesuatu
di atasnya. With a lil’ rules,
“Kamu
bisa tulis apa aja di sana, Biru. Yang penting pakai pena ya”.
Tinggal
berbulan-bulan di tengah laut lepas, menghitung berbagai macam kemungkinan yang
bisa terjadi dalam setiap inci pengeboran yang kami lakukan saja sudah menyita
waktu setiap harinya, belum lagi waktu liburan sudah pasti habis untuk
bersenang-senang, dan dia seenaknya saja menambah pekerjaanku. Aku bukan
seorang penulis, ini bukan satu-satunya alasan kenapa aku ingin menolak
permintaannya saat itu. Bukan hanya karena aku juga tidak bisa membuat
rangkaian kata yang indah, tulisan penaku yang jelek, tapi juga kalau sudah ada
orang yang bisa aku perintah untuk menulis untukku, kenapa harus aku yang
melakukan? There should be a
reason why God created a specific role in life, to be a writer and a reader.
Me? Of course i’m in the reader side.
Setidaknya paragraf tadi adalah
pemikiranku sebelum postcard itu berhasil mengusik jari jemari ini untuk
menulis sesuatu di atasnya pertama kali.
***
24 Februari 2014
Aku selalu menyukai seni. Apapun bentuknya, entah dikemas dalam sebuah lukisan,
lagu, tarian, tulisan, ataupun pementasan teater. Lewat sebuah karya seni,
mereka bebas berekspresi tanpa peduli bagaimana orang lain akan menilai. Lewat
karya seni, idealisme menjadi identitas mutlak sang kreator. Dan mungkin karena
seni begitu sarat dengan idelisme kreatif, hal ini menjadi sesuatu yang paling
kusuka.
“Cerita itu nyawa dari segala
bentuk seni, Biru. Ada beragam bentuk emosi yang hadir dari setiap cerita dan
terus mengganda menjadi berjuta-juta ketika seni itu dilahirkan”.
Perspektifnya akan seni hanya berputar pada sebuah cerita. Baginya, cerita
adalah hal terpenting dalam sebuah seni, while
i’m more focusing on the result. Aku
ingin sekali membantahnya, karena aku tidak pernah memikirkan apa yang seorang
Affandi pikirkan ketika ia melukis, atau apakah seorang Dee Lestari sangat
menyukai perahu yang terbuat dari origami pada saat ia sedang menulis novel
Perahu Kertas? Karena bagiku, bagaimana aku melihat dan menikmati seni tersebut
jauh lebih penting.
“Seni itu ada di mana-mana, Biru.
Aku melihat setiap manusia adalah sebuah karya seni milik Tuhan yang paling
indah. Kamu tahu? Mereka masing-masing punya pengalaman dan jutaan cerita yang
unik. Mereka adalah seni. Kamupun”.
Matanya berbinar saat membicarakan seni dari sudut pandangnya. Tangannya
bergerak mengikuti intonasi dan merepresentasikan tiap kata yang ia ucap. Aku
gatal sekali untuk bertanya,
“Tapi masa lalu kadang menjejak terlalu sakit untuk sebagian besar orang.
Beberapa dari mereka bahkan diam dan tidak ada yang mau mengungkitnya kembali.
Lantas darimana ia bisa bercerita?”
Aku ingin sekali melihatnya terdiam kalah.
“Kalau begitu, bagian dari diamnya
adalah sebuah cerita. Setiap cerita tidak perlu menjadi satu momok besar yang
harus diceritakan, Biru. Terkadang kamu bisa menyimpannya untuk belajar suatu
saat. Atau, ceritamu mungkin bisa dipelajari oleh orang lain. Jangan terlalu
kakulah hehehe”.
Dia menjawab pertanyaanku dengan cepat dan mengunci bibirku telak. Tidak ada
yang bisa dibantah lagi, meskipun logika ini masih belum bisa terima dan
mengikuti alur dari permainan kata-kata yang diucapnya.
“Setiap orang bisa berbagi cerita,
entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi
kamu untuk bercerita. Cobalah sesekali, Biru”.
Poni rambutnya bergerak disapa angin ketika ia tersenyum seraya pamit masuk
kembali ke dalam teater untuk berlatih dengan anak-anak panggung untuk
mendongeng di pementasan selanjutnya. Kala itu adalah minggu ke dua sejak aku
di Jogja dan menonton pementasan teater Nusa, sekaligus kali kedua aku harus
mengasah habis perspektifku dengan berbicara dengannya, sang pendongeng di atas
panggung yang selalu percaya dengan cerita setiap manusia.
Dan perdebatan tersebut menjadi tidak pernah begitu berarti setelah aku
berhasil menorehkan goresan pena pada lembar postcard pertama yang ia berikan
padaku. Tiga lembar postcard itu selalu tersimpan rapi di dalam lembar terakhir notes yang biasa aku bawa. Tidak pernah ada
yang tahu, bahkan akupun enggan menyentuhnya. Tidak pernah ada niatku untuk
mengikuti apa yang diminta sang pendongeng.
Sampai
dengan saat kali pertama itu muncul.
***
15 Januari 2015
Setiap libur kerja selepas bekerja di offshore rig adalah waktu
paling berharga yang kupunya. Setelah berbulan-bulan memasrahkan segala macam
takdir pada debur ombak dan tekanan angin di tengah laut, kami diberikan waktu
bebas untuk berlibur sebelum kembali ke tengah laut. Aku menghabiskan seminggu
terakhir aku berlibur di Singapore, mengunjungi teman lama. Di ujung koridor
jalan Bugis, kulihat beberapa orang berkerumun masuk ke dalam sebuah ruang
pameran seni lukis. Karyanya aku yakin ada lebih dari seratus buah yang
dipajang di sana dengan berbagai macam goresan warna di kanvas. Not so high class art, tapi aku bisa melihat semua
karyanya adalah masterpiece. Semua orang terlihat memuji karya
sang pelukis, tidak terkecuali seorang anak kecil yang membawa lembaran newspaper di tangannya. Ia mengintip di
balik bilik jendela, dan kalau aku tidak salah melihat, ia membawa sebuah
kanvas dan disimpannya di dalam saku celana pendek lusuh miliknya. Kakinya tak
ia biarkan melengang masuk ke dalam, entah mengapa. Mengunci tubuhnya kaku di
balik jendela mengagum lukisan dari kejauhan.
Aku bisa saja pergi dan tak mengindahkan lelaki kecil itu, kalau tidak ada
pikiranku untuk menulis postcard pada saat itu. Waktuku sedikit luang, and i think maybe this is the right
moment to be written. Aku
memperhatikan gerak-gerik sang anak yang tidak lama kemudian melengos pergi
meninggalkan galeri sebelum sempat aku bertanya. Which means, i lose his story.
“Setiap orang bisa berbagi cerita,
entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi
kamu untuk bercerita”.
Sulit sekali memang mengakui bahwa apa yang dikatakannya benar dan bisa
dilakukan, bahwa mungkin memang anak itu tidak bisa menceritakan apa dan kenapa
ia berada di sana mengagum dari kejauhan, tapi aku bisa.
***
24 Februari 2016
Sinar
dari lampu sorot di tengah teater menjurus ke segala arah, memastikan edaran
warnanya silih berganti menerangi tiap sudut podium. Senada dengan mereka yang
berlenggok di atas panggung seperti tanpa canggung memberikan aksi pada tiap
pasang mata yang menontonnya. Begitu juga dengan musik orkestra sederhana yang
menambah energi dari pertunjukkan. Dawainya sempurna mengiringi langkah kaki
anak-anak itu di panggung.
Panggung
itu menyala.
Tapi
tak pernah seterang saat dia ada di sana.
Pertunjukkan
telah usai saat ini ketika kusadar hampir sebagian dari penonton riuh bertepuk
tangan memuji keelokan dari tiap gerakan dan cerita pertunjukkan teater hari
ini. Semua bergegas beranjak dari kursi penonton, berhambur keluar teater
hingga menyisakan aku dan seorang di kursi penonton paling depan.
“Mas
Biru, bukan? Lama sekali baru datang kemari lagi”. Sena, pelatih tari kebanggan
teater Nusa selama bertahun lamanya. Ia dedikasikan hampir setengah dari
usianya untuk melatih tari di teater.
“Panjang
ceritanya Mas Sen. Selamat ya teaternya bagus sekali hari ini”. Aku duduk di sampingnya, melihat
beberapa kru mulai membersihkan panggung dari segala jenis properti di atasnya.
Beberapa penari menghampiri Sena, memeluknya dan menyalaminya.
“Cari Ruby mas?”. Iya, pertanyaannya
lebih terdengar seperti tebakan di telingaku.
Tebakan yang tepat
sasaran 100%.
“Ruby
sudah tidak mendongeng di sini, Mas. Terakhir, dia bilang mau lanjut kuliah
master biar makin pinter, bisa bikin dongeng sendiri. Hebat sekali dia itu”. Mas Sena masih melanjutkan
bercerita tentang Ruby yang hebat, Ruby yang melanjutkan sekolah ke luar
negeri, belajar sastra tinggi-tinggi untuk kembali ke dunia teater. Dan semakin
banyak cerita tentang Ruby yang kudengar, semakin aku ingin menemuinya saat
ini. Karena Rubylah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas semua
yang terjadi padaku setahun belakangan. Ia merusak segala bentuk dogma yang
sudah mendarah daging bertahun-tahun di otak, merobek dinding batas ego seorang
Biru, hanya dengan tiga buah kertas lemah, usang, dan tanpa makna yang ada di
tanganku saat ini.
Betapa
lancangnya kamu, Ruby.
***
I already flew a thousand miles
away and the last postcard is still blank. Banyak
sekali orang baru yang kukenal atau hal-hal baru yang kuketahui sepanjang
perjalanan. Jutaan cerita bisa kutulis, namun tak ada satupun yang begitu
menjejak, atau mungkin aku yang belum bisa menuliskan satupun dari sekian
banyak cerita yang aku lalui. Aku menghabiskan masa berlibur dari satu kota ke
kota lainnya, dari Asia hingga Eropa dan nihil. Postcard ketiga masih saja
kosong dan tak bisa kuisi.
Seperti candu, postcard pertama yang kuisi membuatku ingin menulis sesuatu di
postcard lainnya. Lewatnya, aku mengenal banyak sekali sisi lain dari dunia
yang biasa kulihat sebelumnya, memaksaku berpikir behind the scene of every event in
life. Bagaimana mengambil
intisari dari setiap objek dan menuangkannya dalam bentuk cerita versiku. Tidak
hanya itu, dengan aku harus menulis sesuatu di atasnya, setiap objek dan
kejadian sangat berarti untukku. Dan postcard-postcard ini dengan lancang
memintaku untuk bisa lebih peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Aku
melihat seni dari sisi yang berbeda dari sebelumnya,
And those kind of behavior are not
so me before. It turns out to be something miraculous, a better Biru.
Aku kembali ke Jogja untuk menemui Ruby. Mengiyakan semua perkataannya yang
dulu ingin sekali aku bantah karena egoku yang selalu ingin menang dalam setiap
perdebatan. Sesuai dengan permintaannya, aku ingin mengembalikan semua postcard
yang diberikan dan menceritakan cerita yang kupunya di tiap postcard. Aku sudah
terlambat satu tahun dari permintaannya, karena ternyata butuh dua tahun untuk
mengisi dua postcard, dan dia seharusnya bangga karena aku tidak hanya datang
membawa postcardnya, tapi juga lewat postcard-postcard ini ia mampu mengubah
pola pikir seorang Biru.
“Mas Sena tahu kapan Ruby pulang?”. Aku menghampiri Sena yang sedang
duduk di pendopo kayu besar dekat dengan kolam ikan mas koki milik teater Nusa.
Ia menoleh kepadaku,
“Ndak tahu mas Biru. Mungkin dua
tahun lagi, setelah Ruby lulus”.
Bukan itu jawaban yang aku ingin dengar. Aku ingin sekali menemuinya sekali
lagi dan berterima kasih atas semua bantuan yang diberikan Ruby untuk diriku
lewat postcard ini. Sena hanya meninggalkan email Ruby padaku, katanya sebelum
Ruby pergi ia meninggalkan alamat email kepada Sena agar anak-anak teater masih
bisa berkomunikasi dengannya lewat email.
***
To
: Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three
postcards are want to meet you!
Aku kembali ke Jogja
untuk mengembalikan postcardmu dan ingin menceritakan semuanya. Sayang sekali
Mas Sena bilang kamu sudah tidak lagi mendongeng di teater Nusa ya Ruby? Boleh
aku tahu di mana kamu sekarang?
These three postcards
are want to talk to their owner, Ruby.
Let’s meet up.
Biru.
***
23 Maret 2018
Entah sudah berapa milyar cerita yang Ruby punya saat ini. Mungkin ia sudah
bisa berdongeng di kota tempat ia melanjutkan studi atau mungkin Ruby sudah
kembali ke Jogja dan kembali mendongeng di teater Nusa. Tidak pernah ada lagi
balasan dari Ruby semenjak email pertama yang aku kirimkan untuknya.
Dan Biru kembali dengan hari-hari
tanpa lintasan waktu di offshore rig, menekan perut bumi di dasar laut,
bertempur dengan jutaan liter minyak.
Tapi, kali ini sibukku bukan hanya untuk kepentingan bisnis dan segala macam
bentuk mesin yang ada di offshore rig ini. Sibukku lebih berarti dengan berbagai macam cerita yang
kudengar dari para engineer yang
bekerja, dari deru ombak yang menghempas, dan dari banyak macam objek yang
kutemui setiap harinya.
Aku baru saja kembali ke dermaga untuk bertemu dengan beberapa shareholder pengeboran ini, dan hal yang
paling kusuka dari dermaga adalah adanya jaringan internet yang bisa diakses.
Kemudian satu pop-up email muncul.
From
: Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three
postcards are want to meet you!
Hi Biru, lama sekali tidak bertemu! Email ini lama tidak kugunakan dan baru
kali ini kubuka :(
Can’t wait to hear
your stories, buddy. I’m in Toronto, waiting for my (finally) master
graduation. Pertengahan tahun ini aku akan pulang ke Jogja. Let’s meet up
soonest.
Ruby.
Akhirnya postcard-postcard ini akan segera bertemu
dengan pemilik sesungguhnya, dengan milyaran cerita lain yang bisa dituliskan
kembali di lain waktu. Postcard terakhir sudah berhasil kuisi tepat
setelah aku membalas email Ruby. Kali ini aku tahu, dari postcard terakhir yang
tersisa aku belajar bahwa ternyata aku masih sering melupakan diriku sendiri.
Mencari hingga ribuan miles sesuatu yang memuaskan hatiku,
tanpa pernah sadar dan peka bahwa sesungguhnya apa yang aku cari ada di dalam
diriku sendiri. Bahwa ternyata cerita untuk postcard terakhir adalah cerita
tentang apa yang kusadari selama ini lewat postcard-postcard Ruby.
Cerita
tentang gemuruh perang yang terjadi antara logika dan ego,
Tentang betapa sulitnya mengalah dan mendengarkan orang lain.
Tentang perubahan besar yang ternyata bisa dilakukan hanya dengan memulai hal
kecil.
Tentang Biru.
