Minggu, 18 Juni 2017

A Man's Promise

 
Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah kulakukan untuknya. Meluruhkan semua ego dan kuasa yang kupunya atas perempuanku satu-satunya. Kamu mau tahu rasanya? Seperti ada cambuk amarah berpadu dengan rela yang enggan lepas dari dalam diri karena bertahun-tahun sudah aku memilikinya lalu dengan lancang ada laki-laki baru yang berusaha mengambil hatinya dariku.

Does he know? I belong to her before anyone does.

Tidak lebih dari sepuluh menit setelah gemuruh amarah ini berkumpul, mereka kini duduk dengan senyum paling bahagia di depanku. Membuatku menyaksikan perempuanku memandang laki-laki yang baru ia kenal dengan penuh cinta. Memaksaku untuk segera merelakannya pergi dari kuasaku dan membiarkan laki-laki baru itu menguasainya atas nama cinta.

Sekarang kulihat laki-laki baru itu ganti menatap perempuanku sayang. Aku tahu ia sempat menoleh ke arahku dua kali sebelum tangannya merangkul dan mengusap lembut punggung perempuanku yang terlihat gugup hari ini. Perempuanku masih dengan tatapan dan gesture canggungnya berganti menoleh ke arahku, seperti berkata Ini saatnya”.

Kurasakan helaan nafasku semakin berat seiring dengan degup jantung yang mulai tak karuan saat duduk di hadapan mereka. Perempuanku sayang tersenyum sekali lagi dan aku tahu ia melakukannya dengan tulus dari hatinya, senyum itu dahulu milikku seorang tanpa harus berbagi dengan orang lain. Dan kini mataku terasa panas ketika tangannya menggenggam tanganku lembut. Genggamannya kuat seperti meyakinkanku bahwa takkan pernah ada yang berubah setelah ini. Aku tetap memilikinya meskipun kini harus rela berbagi dengan laki-laki barunya.

Kutatap mereka sekali lagi..

Pelan-pelan kurasakan ada ego yang meluruh berganti dengan ketenangan dan ikhlas saat mata kami bertiga bertemu secara bergantian. Seharusnya aku bahagia, menjadi satu-satunya orang yang mengantar perempuanku di hari bahagianya. Dipercaya olehnya sekali lagi untuk memegang tahta tertinggi pada hari ini, memberikan satu hal penting demi masa depannya, restuku. Aku memandang laki-laki di sebelahnya dengan wajah yakin bercampur gugup, laki-laki baru ini mencintai perempuanku dengan segenap hatinya. Ia yang tempo lalu meminta secara lembut untuk menjadikan perempuanku satu-satunya, rumah untuk seluruh hati dan jiwanya mulai hari ini dan selamanya. Ia yang kupaksa bertemu denganku sehari sebelum hari sakral ini, berjanji dengan segenap hatinya untuk takkan pernah sekalipun menyakiti hati dan raga perempuanku, mencintainya tanpa jeda, dan menjaganya seperti aku membesarkannya hingga saat ini.

Karena dalam  mencintainya aku tak pernah membubuhkan tanda baca, tak pernah ada koma ataupun titik.

Karena peluh dan lelahnya perjuangan saat membesarkannya takkan pernah terasa selama kulihat anakku tersenyum saat menyambutku pulang bekerja.

Karena separuh hidup dan cintaku adalah dirinya saat ini.

Kemudian, saat itu ia bersimpuh dan menjabat tanganku erat untuk berjanji atas nama laki-laki dengan seluruh ego dan cintanya kepada perempuanku, anakku.


“I swear to you with all of my heart, I will give my best for her till death do us apart, Dad”. 

Cyn

Minggu, 07 Mei 2017

The Art of Waiting


Apa kamu pernah berusaha mengintip takdir Tuhan sebelum benar-benar mengalaminya? Seperti ketika kamu bertemu dengan seseorang di suatu tempat, bertegur sapa sebentar, dan seketika itu pula ada intuisimu yang bekerja keras berteriak bahwa akan ada sesuatu yang terjadi di antara kalian setelahnya? Pernahkah? 

Karena aku saat ini mengalaminya dan sedang mendengar intuisiku yang terus berteriak sembari membiarkan takdir Tuhan berjalan dengan semestinya. 

12:45pm, tepat 15 menit sebelum waktu yang ditentukan. 
Sebelum sampai di sini, aku sudah berkata pada diriku sendiri berkali-kali bahwa pertemuan ini sederhana, tidak ada yang dikhususkan, tidak ada maksud apapun selain bertemu dan makan bersama sebagai seorang teman. Tidak ada yang salah kan? Setidaknya pembenaran itu yang berkali-kali terngiang di kepalaku. 

Ini adalah kali pertama kami bertemu untuk tujuan lain selain tugas dinas dan aku belum pernah mengenalnya lebih jauh selain nama dan pekerjaannya. Well, seharusnya aku tidak perlu berkali-kali menyemprotkan parfum ke tubuhku, menghitung detik jam yang berlalu, atau mencemaskan apakah penampilanku kali ini terlihat aneh saat ini. Iya kan? 

Saat ini detak arlojiku semakin terdengar cepat dan keras seperti ingin memastikan bahwa beberapa menit lagi dia datang, kemudian ia akan melihat perempuan yang duduk di kursi ujung peron stasiun sendirian dan menyapanya. Atau mungkin skenario lain adalah ia datang dan beberapa menit kemudian ia akan naik kereta paling cepat yang berhenti di hadapannya karena ternyata ia lupa pada wajah perempuan yang diajaknya makan bersama tiga jam lalu lewat telepon dadakan. Begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi saat ini, tapi seharusnya aku tak perlu repot memikirkan berbagai kemungkinan itu bukan? 

Just sit and wait him. Setidaknya ini yang dikatakan intuisiku. 

Rupanya takdir Tuhan kali ini belum puas menyiksaku dengan suara detak arloji yang semakin terdengar jelas, kini suara derap langkah orang yang berlalu lalang di stasiun ikut mengganggu. Membuatku lebih memperhatikan setiap wajah orang yang datang dari arah pintu masuk stasiun, memastikan apakah detik-detik kedatangannya akan tertangkap oleh kedua mataku? Siapa yang lebih dulu melihat? Aku atau dia? Setidaknya kalau aku yang melihatnya lebih dulu, aku bisa lebih siap saat ia datang tepat di hadapanku, karena aku bisa menghitung mundur derap langkahnya untuk sampai ke arahku. 

Tapi sekali lagi aku bertanya pada intuisiku, apakah persiapan seperti ini perlu dilakukan untuk sebuah pertemuan 'sederhana'? Apakah perlu?

Kualihkan perhatianku pada stasiun tempatku duduk saat ini. Memandangi tiap orang yang hilir mudik naik dan turun gerbong kereta. Tempat ini seperti gudangnya emosi, ada jutaan bahkan mungkin milyaran emosi yang bergerak seiring dengan laju kereta yang mengantar sang empunya raga dari satu peron stasiun ke stasiun lainnya. Apakah ada di antara emosi tersebut yang persis sepertiku saat ini? Apa ada di antara ribuan orang di sini yang sibuk memikirkan kalimat apa yang pantas diucapkan pertama kali ketika yang ditunggunya datang? Atau pertanyaan-pertanyaan apa yang kiranya akan seru dibahas bersama? 
Apakah ada?

12:59pm. 
Hanya butuh satu menit lagi untuk melihatnya datang dan aku ingin berdamai dengan intuisi dan kepalaku secepatnya sebelum satu menit itu habis. Aku ingin mengindahkan detak arloji, memasrahkan pandanganku untuk tidak lagi melihat ke arah pintu masuk stasiun atau menyiapkan berbagai macam kalimat yang sekiranya pantas diucapkan saat pertama kali menyapanya, berhenti menggerakkan kakiku yang naik turun tak jelas, dan menenangkan jutaan detak tak menentu yang sedari tadi menguasai ruang di hatiku diam-diam. 

13:10pm

I told you. 

Pertemuan ini sederhana. 

Sesederhana caranya tersenyum dan menyapaku pada detik kesepuluh setelah satu menitku habis. Ternyata hanya perlu cara sesederhana itu untuk menghentikan seluruh gemuruh yang terjadi padaku selama menunggu. Dan intuisiku benar, aku hanya perlu menunggu, tenang, dan membiarkan takdir dan intuisiku bekerja. 

Pertemuan - pertemuan kami selanjutnya selalu sederhana. 

Sesederhana cara kami mencintai. Tanpa basa basi, tanpa jeda dan skenario buatan, hanya mengandalkan intuisi dan takdir Tuhan. 

Cyn

Minggu, 23 April 2017

Usai Hujan Reda

 

Aku ingin bercerita tentang hujan. Coba tengok keluar jendela, dengarkan bisikannya, resapi dalam-dalam tiap titik basahnya, percaya atau tidak selalu ada sesuatu yang dibawa hujan tiap kali ia datang. Kadang kabar bahagia, sering kali menyedihkan, yang pasti selalu ada berkah di tiap titiknya. Tahu mengapa titik hujan selalu datang beramai-ramai dan beriringan? 

Karena setiap titik basah yang turun dari langit adalah satu cerita yang ingin disampaikan Tuhan kepada tiap manusia. 

Jutaan titik-titik air ini jadi saksi atas jutaan emosi dan ekspresi yang sibuk sembunyi saat hujan turun. Pertemuan kami selalu dimulai setelah hujan reda. Sembunyi di dalam tiap teguk teh yang dihabiskan sembari menunggu titik-titik air itu habis turun dari langit, kemudian kami keluar dari tempat persembunyian untuk meleburkan rasa yang kami punya. 

Seperti hari ini, hari ini titik hujan lagi-lagi jadi saksi milyaran emosi yang ada di dalam diriku untuknya. Aku bisa merasakan helaan nafasku menjadi terasa lebih berat dari sebelumnya saat menunggu hujan reda. Ruangan ini seperti hampa tanpa udara sesaat setelah kulihat ia datang dengan beberapa titik basah hujan yang mengenai permukaan jaketnya. Aku masih berusaha terlihat seperti biasanya menyambut siapa yang sedang berada di hadapanku saat ini. Laki-laki hujan, aku memanggilnya. Penggemar berat lagu-lagu klasik saat hujan turun sambil ditemani dengan chamomile tea yang selalu diteguknya sepuluh menit setelah tehnya tersaji. Laki-laki hujanku selalu datang setelah hujan usai, karena waktunya dihabiskan terlebih dahulu untuk menikmati hujan sendirian, seperti enggan berbagi dinginnya hujan bersamaku. Aku masih ingat jawabannya ketika sesekali pernah kutanya,

"Mata kamu dan hujan itu dua hal berbeda yang selalu aku suka. Engga bisa dinikmati berbarengan".  

Ribuan titik hujan sudah kulalui dengannya, bersamaan dengan ribuan cerita yang kami buat seusai hujan reda. Ia masih seperti dahulu saat pertama kali kami bertemu. Laki-laki hujanku selalu dengan rangkulan teduhnya, tak pernah sekalipun terlihat menyerah dengan kami, memberikan raganya untuk melindungiku sebisa mungkin, sebagian besar waktunya untuk bersamaku, dan mungkin seluruh hatinya kepadaku. Ia berhasil memupuk seluruh yakin yang ada dengan segala bentuk usaha dan perlakuannya selama ini. 

Aku melihatnya lekat-lekat, laki-laki hujan yang berhasil menjadi satu-satunya materi paling sejuk di antara ribuan titik hujan manapun yang pernah aku rasakan. Aku tahu beberapa kali ia memanggil namaku, namun aku lebih menginginkan momen ini. Menikmati hujan bersamanya, mengisi ruang dingin yang tercipta karena derasnya hujan.

Aku tak ingin kehilangan sosoknya di mataku saat ini. He really means a lot for me. 

And that kind of "means a lot" thing is now killing me back..


Gemuruh di hatiku semakin kencang seiring dengan hujan yang semakin deras menjadi badai sore ini. Entah titik hujan mana yang membawa cerita kali ini, memaksa untuk ikut menghujani pipiku dengan bening yang turun perlahan dari sudut mata. Mengingat kembali apa memori hitam yang kulihat beberapa hari lalu dari luar apartemennya, siluet dirinya dan seorang perempuan yang tak pernah kukenal sebelumnya, dua cangkir teh yang tergeletak di dalam sinknya saat pagi-pagi aku datang untuk memberikan sup hangat untuknya ketika ia sakit beberapa minggu lalu, atau beberapa kali melihatnya berhenti di satu tempat menjemput seseorang yang tak pernah kukenal di kala hujan. 

Ya.. laki-laki hujanku bahkan rela berbagi hujannya dengan perempuan itu. 

Ia mencoba menyeka basah di pipiku sebelum kutangkap ponselnya berdering, menampilkan segaris nama yang belum pernah kudengar sebelumnya saat kami bersama. Kutahu ia mulai bingung menyiapkan kalimat-kalimat jitu untuk menjawab pertanyaanku setelah ini. Hujan kali ini tak berpihak kepadanya. 

"Answer her. I knew exactly what you did.." 

***

Cyn

Minggu, 09 April 2017

Tabula Rasa



Garis Jingga

Ia melangkah dengan ragu, aku melihat nyalinya digantungkan hari ini untuk melangkah ke arahku. Ada sedikit takut di matanya, menerobos masuk di sela-sela udara dingin yang mengantar hujan datang sebentar lagi menutupi senja. Detik ini seharusnya sang jingga tiba, jinggaku yang tak pernah lagi berwarna emas semenjak terakhir kali kami bertemu.

Aku jelas mengenal siapa laki-laki lancang yang bisa saja tiba-tiba muncul kapanpun ia mau di depanku seperti saat ini. Akar Pinus. Laki-laki yang selama hampir dua tahun ini tak pernah lagi aku anggap ada. Bukan, ini bukan karena ia melakukan kesalahan terhadapku. Hanya aku saja yang memutuskan pergi saat kupikir tak akan mungkin ada ruang sisa untuk kami di sana.

Kami hanya berjarak 50cm saat kulihat Akar Pinusku mencoba menatap lekat mataku dalam. Ia tahu aku tak pernah bisa pergi dari matanya, ia menangkap seluruh emosi tanpa ekspresi yang mati matian aku sembunyikan dua tahun darinya. Tatapannya pasti, pasti habis menjera seluruh keinginanku untuk pergi lagi darinya.

"Would you come back and stay with me?". Laki-laki ini mengisi jeda senyap di antara kami dengan satu pertanyaan tanpa basa basi, langsung tepat sasaran menuju palung paling dalam dariku. Ia melangkah maju ke arahku seolah mencoba memecahkan bongkah es yang terlanjur membatu di antara kami. Matanya tak membiarkan aku lolos dan menemukan jalan keluar darinya.

Lepaskan aku, Akar. 


***

Akar Pinus

Aku harus menemukannya. Perempuan ini dengan berani mendekat kepadaku, mengisi ruang kosong tersembunyi dariku dengan segala bentuk abstrak yang ia lakukan, kemudian dengan lancang ia pergi tanpa pesan begitu saja sesaat setelah merobek nuraniku karena perasaan cintanya yang tumbuh sejak dulu saat kami berkawan akrab.

Garis Jingga, ia menamparku keras dengan kenyataan bahwa selama ini aku tak pernah sekuat yang kubayangkan. Kepergiannya memaksaku mengakui bahwa jelas-jelas aku membutuhkannya. 

Aku melihatnya lekat-lekat, berusaha mencari namaku yang mungkin masih tertinggal di sudut sudut terdalam darinya. Aku tahu pasti ada salah satu sudut hatinya yang masih menyimpan namaku di sana. Pelan-pelan ia membalas tatapanku lemah tanpa berkata apapun. Membiarkanku untuk semakin liar mendobrak tiap ruang yang ada padanya, mencari dengan brutal di mana kini aku disimpan di dalam hatinya.

"Pulanglah Akar..". Aku tak percaya ia memilih untuk menyelipkan kata-kata itu di antara jutaan emosi yang ada saat ini. Suaranya bergetar aku tahu itu, ia tak benar-benar menginginkannya.

Kau tak benar-benar menginginkan aku pergi, katakan sekali lagi Jingga..


***

Garis Jingga

Aku tak tahu berapa banyak berani yang ia gadaikan hari ini untuk pergi menemuiku, datang kepadaku membawa segala bentuk rasa yang seharusnya ada sejak dahulu, dan menagihku rasa yang sama untuknya sekarang.

"Pulanglah Akar.." Aku ingin mengakhiri detik-detik menyiksa ini secepat yang aku bisa. Menutup rapat setiap ruang yang berusaha ia jamah untuk mencari lagi di mana namanya kini berada.

Laki-laki sekuat akar pinus ini tetap bergeming lama. Tatapannya melemah seolah memintaku untuk mengatakan sekali lagi keinginanku untuk melihatnya pergi. Menyiksaku sekali lagi dengan permintaannya. 

Kamu tahu aku tak bisa, Akar. 

Langkahnya mendekat berusaha menggapai tubuhku yang kian lama kian bergetar seiring ada isak yang menyeruak keluar dari sudut kedua mataku. Mengalir tenang tanpa permisi, menggugurkan seluruh kuat yang aku punya, mengisi penuh tabula rasa semu yang kuciptakan semenjak terakhir kali kami bertemu, semua melebur menjadi satu dengan jutaan emosi dan rasa yang terkubur lama selama ini.

Aku tak bisa lari, Akar. Ada rindu yang tak kuasa menahan dirinya untuk sembunyi terus menerus, ada ingin untuk memeluk dalam dekap erat-erat dan memintanya untuk tetap di sini. 


***

Akar Pinus

Perempuan ini kokoh berdiri tak membiarkan aku lebih jauh masuk menyusuri dalam hatinya. Ia memintaku pergi sepuluh detik lalu, sebelum ada bening yang menyeruak memaksa keluar dari sudut matanya, membawa keluar seluruh rindu dan namaku yang tersembunyi lama dari dalam dirinya.

Aku merengkuhnya hangat, membawanya kembali padaku, menempati ruang yang telah kosong tanpanya. Aku bisa merasakan irama detak jantungnya menyatu dengan milikku dalam beberapa saat sebelum kutangkap tatapan matanya. Matanya yang masih menyisakan gurat ragu itu kembali menatapku, sambil berusaha menyeka sisa air mata di pipinya aku melihat benda berkilau itu. Melingkar pasti mengikat jari manis milik Jinggaku. Kilaunya menusuk mata hingga ke dalam tiap sudut kosong hatiku, seolah memaksaku untuk memaknai kenyataan yang ada saat ini.

Wajahnya sendu ketika ia menangkap mataku yang tertumpu kaku pada lingkaran berkilau itu. Matanya kembali basah saat aku mulai melepaskannya perlahan-lahan dengan seluruh sisa rasa yang kupunya saat ini.

Kini kurasakan cengkraman jemarinya semakin kuat, menahan dekapku lebih lama seperti meminta pertolongan.

"Win me back, Akar.." 


***

Cyn

Rabu, 30 November 2016

Second Thought

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Aku senang menghabiskan waktu bergeming di hadapannya, menemaninya membentuk berbagai macam garis tak beraturan dengan pensil abu-abu tua miliknya. Melihat keningnya yang berkerut seiring dengan rambut-rambut halus yang melekat di sisi rahangnya dibiarkan tumbuh menjalar dengan liar. Sesekali kulihat tangannya membetulkan letak kacamata yang turun saat ia kehabisan ruang untuk menggores kertas. Di sanalah aku mengisi ruang diam dengan irama degup jantung yang berdetak cepat setiap detiknya tiap kali aroma black musk dari tubuhnya menyeruak menggoda hidungku. 

Pria ini monokrom dengan pensil sebagai pedoman hidupnya. Kami begitu berbeda. Aku hidup dengan corak dan warna beragam, berusaha menghindar dari bayang hitam dan putih sedangkan ia berkawan dengan imaji hitam putih yang dihasilkan lewat kamera digitalnya. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku bahwa hitam dan putih adalah pelangi baru baginya. 

Lima tahun aku berusaha masuk ke dalam dunianya, pria monokrom dengan jutaan cerita tentang dia. Ia berdiri menantang langit berani menghadapi berbagai macam kemungkinan yang terjadi setiap harinya. Sendiri seperti tak pernah mengenal lelah ataupun sepi. Dunianya terlihat sangat mudah dan tanpa cela. Hampir tak pernah aku melihatnya bermasalah, meskipun tak jarang beberapa masalah datang dan ia sama sekali bergeming. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku untuk ke sekian kalinya bahwa masalah bukanlah hal yang pantas untuk ditakutkan dan pasti bisa terselesaikan.

Sekali lagi aku tatap dalam dirinya, kali ini lebih lama dengan nanar.

Memastikan sekali lagi apakah sudah saatnya aku bebankan hidupku kepadanya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanya ini semakin sering menemaniku mengarsir garis, mendesain garis-garis tajam rangka gedung pencakar langit di tengah kota. Ia akan menyiapkan banyak cemilan dan tiga botol air putih memastikan agar aku tidak akan kekurangan minum selagi menggambar, kemudian dihempaskan tubuhnya di kursi kayu warna coklat tua di depanku, ia akan duduk tenang, terkadang sambil sesekali membuka ponsel, tanpa tanya, hanya melihatku lama terkadang sampai dirinya dibiarkan jatuh tertidur sembari menungguku selesai.

Perempuan sejuta tanya ini tak pernah gagal membuatku terkesima dengan semua yang ia lakukan. She loves to cure everything, she loves to fix people. Her life is dedicated for the others and the universe. Tujuan hidupnya tak pernah muluk, ia hanya ingin berbahagia dan membahagiakan orang lain di sekitarnya. Perempuan 24/7 ini selalu ada kapanpun orang-orang di dekatnya membutuhkan bantuan atau hanya sekedar ingin didengar olehnya. Aku ingin sekali selalu ada di dekatnya, berbagi hidupku dengannya, i want to fix her. Menjadi orang yang selalu ia cari kapanpun dan dimanapun saat tak ada orang lain yang bisa menjadi sandarannya ketika ia terjatuh.

Tatapannya kini semakin dalam merasuk seluruh tubuhku. Semakin liar memperhatikan setiap gerik yang aku lakukan, tiap arsiran pensil yang kugaris di kertas, terus menjalar hingga saat matanya bertemu dengan mataku dan kulihat bening itu menyeruak memaksa keluar.

Kini kulihat perempuan sejuta tanyaku menangis sendu.

***

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Kini ia semakin memasuki dunia tanpa batasnya, masuk ke dalam seperti tak pernah ada orang lain yang bisa menjamah dunianya. Aku suka dengan caranya menggores garis di kertas, bagaimana ia memainkan garis-garis itu menjadi satu gambar utuh. Aku suka tiap kali ia memperbaiki letak kacamata bingkai kayu warna coklat tua miliknya atau sesekali melirik jam tangan klasik di lengan kirinya, berharap waktu tak lagi bergerak agar aku tak kemalaman menunggu imajinya bekerja.

Pria monokromku adalah manusia peraih mimpi paling ulung yang pernah kukenal. Ia berhasil dengan mudah meyakinkan banyak orang bahwa semua hal adalah mungkin. Memaksaku terus masuk ke dalam hidupnya tanpa pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki hal yang salah tentangnya. He has nothing to change. Langkahnya selalu pasti seperti enggan meragu dalam hidupnya karena semua baginya adalah mungkin. Seolah ia bisa menghadapi dunia sendiri, tanpa perlu ada bantuan dari orang lain.

Perempuan sejuta tanya, begitu panggilnya untukku. Perempuan sejuta tanya yang dalam hitungan hari akan berbagi hidup dengan sang pria monokrom. Perempuan sejuta tanya dengan miliaran pertanyaan tak terjawab atas pria di hadapannya saat ini. Ia terlalu kokoh berdiri sendiri dan tak memberiku celah untuk turut andil dalam hidupnya.

Kutatap dirinya semakin dalam, lebih dalam dari sebelumnya.

Menelusuri sekali lagi ruang mana yang bisa kuisi agar bisa menjadi alasan besar baginya untuk selalu pulang kepadaku. Meyakinkan diri sendiri akan dirinya, apakah ia benar-benar membutuhkanku dalam hidupnya?

Apakah kami siap berbagi hidup bersama ketika hanya aku yang selalu bergantung padanya dan tak pernah ada hal yang bisa aku perbaiki darinya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanyaku terisak sendu di pelukan. Entah apa yang membuatnya terlihat tanpa daya, menatap mataku nanar seperti kehilangan arah. Isaknya semakin terdengar lemah seperti ada sesuatu yang tak pernah terungkap dan meledak detik ini, memaksa keluar lewat bening-bening air matanya. 

Apa yang salah, Namira? 

Ia tak pernah terlihat selemah ini, matanya sayu seperti terbeban banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia mempererat dekapku hingga bisa kurasakan detak jantungnya. Mencoba mencari posisi nyaman untuknya bersandar, memintaku halus untuk segera berhenti bekerja dan mengusap lembut rambutnya. Ia ingin senyap bersamaku, diam dalam peluk tanpa ada lagi jarak waktu dan ruang. 

Aku merasakan ada sesuatu yang mencekat tenggorokan seiring dengan dekapannya yang semakin erat. Matanya masih melolong menatapku penuh tanya.

Aku tahu ia meragu. 

Mengapa terasa begitu sakit melihatnya seperti ini? Aku selalu berperan sebagai pria paling kuatnya. Tanpa sakit dan lelah, menembus segala macam kemungkinan yang ada untuk meraih apa yang aku bisa. Menjawab semua pertanyaan yang ia miliki atas dunia dan menjadi tujuan pulang kemanapun ia pergi atau tersesat. Meyakinkannya sekuat tenaga bahwa aku bisa menjadi prianya yang selalu bisa diandalkan. 

Aku ingin membuatnya sadar bahwa tidak selalu ada hal yang harus ia perbaiki untuk bisa jadi seseorang yang berarti besar bagi orang lain. Bahwa ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk bisa membuatku seperti ini. Bahwa sebenarnya takkan pernah ada pria monokrom di dekapnya saat ini tanpa sejuta tanya darinya. 

Lalu, akankah masih ada ragu di hatinya saat ini dan nanti? 

Selasa, 01 November 2016

Rhyme of Soul

-Nusa-
The Loudest Sound

Tak pernah ada lagi kegiatan paling menyenangkan selain memandang wajahnya tenang, ditemani rintik hujan yang kian detik semakin menggaduh. Aku tahu kamu bernyanyi dalam hatimu, mendentangkan segala jenis melodi yang ada dalam tiap nada, menghiraukan segala jenis suara alam bahkan suara hatimu sendiri.

Aku ingin sekali menjadi senjamu, Delila. Memandangmu lebih dekat dan mendengarmu lebih dalam di antara riuh ombak. Saat kuluangkan sepersekian detik waktu paling berharga yang kumiliki untuk melihat kamu tersenyum menyapa senjamu lebih dekat. Menemani setiap jejak langkah kakimu yang tercetak jelas di atas pasir, menyusuri pantai bersama.

Atau mungkin kamu ingin kembali berlayar bersamaku?

---

Aku ingin sekali menjadi penamu, Delila.

One thing that you can’t live without, selain sang senja. Kamu berbicara banyak lewatnya, membiarkan kertas-kertas itu habis kamu jajah dengan tajamnya goresan pena. Kamu mendengarkan setiap bentuk suara lebih dalam dari tiap objek yang kamu lihat, mencoba berinteraksi dengannya, dan mempercayai bahwa semua hal pasti bercerita.

“Semua hal bercerita, punya mimpi. Dan caraku menggantungkan mimpi adalah dengan menulis”. Begitu katamu bercerita.

Kamu masih seperti Delila yang kukenal. Gadis dermaga pecinta pena dan senja, menulis surat untuk sahabat pena di kala senja, menitipkannya pada nelayan di pinggir pantai, dan menunggu balasan dari siapapun yang menerima suratmu di seberang lautan sana. Aku juga bisa melihat pena-pena yang dulu selalu kamu pakai masih tertengger rapi di sudut mejamu. Entahlah, apakah saat ini kamu masih sering mengirimkan berbagai macam surat kecil untuk sahabat penamu di seberang sana?

Apa kamu pun masih menyimpan semua surat balasan dariku, Delila?

---

Percayalah, aku tak pernah bosan menemanimu kemanapun kamu pergi, mendengar betapa hebatnya kekuatan suara hatimu diantara ribuan suara yang pernah aku dengar.

Ajari aku cara berkawan dengan rindu dan senyap, Delila.

Bagaimana berperang melawan amarah pada takdir seperti dirimu saat ini? Mendengar tanpa perlu mengusik dengan suara parau atau bernyanyi tanpa pernah takut suaramu terdengar sumbang. Kamu melihat lebih dalam dari mereka, mendengar lebih jelas dibanding mereka, bahkan bernyanyi lebih indah dalam hatimu dibandingkan mereka dibalik kebisuan. 

Aku ingin sekali bercerita banyak denganmu, Delila. Membalas banyak surat darimu dengan berbagai macam postcard dari tempat berbeda. Beradu dengan rentang waktu menunggu postcard ku terisi dengan balasan darimu, dengan cerita-cerita dari berbagai macam hal yang kamu lalui hari itu di dermaga.

Ah, senja bisakah datang lebih cepat? Aku tak sabar ingin membaca surat yang dikirimkan darinya hari ini.

---

-365 hari-

Bisakah sebentar saja kamu tinggalkan gurat muram itu di dalam kamar, Delila?

Sebentar saja, melengkungkan senyum itu pada dunia. Padaku juga. Berbicaralah sebanyak yang kamu mau dalam hati, setidaknya aku pasti akan berusaha mendengarnya. Kumohon jangan mendendam pada hujan senja ini, tak pernah ada yang salah dengan alam, Delila.

Aku tahu kamu berteriak sekeras yang kamu bisa saat ini, aku tahu kamu menggerutu pada langit yang menurunkan hujan sore ini, aku pun tahu kamu merindu sang laut hari ini dalam bisu. 

Sudahlah Delila, aku tak ingin melihat bening-bening itu menyeruak keluar dari matamu. Kumohon Delila, berhentilah berteriak.

Aku ada di sini Delila..

---

-Delila-
The Unreplied Letters

Aku berteriak sekencang yang aku bisa meskipun takkan pernah ada orang lain yang bisa mendengar, menggerutu pada langit yang tega mengirimkan hujan pada senja hari ini.  Ingin rasanya menantang takdir yang terjadi kalau saja aku bisa, menerjang hujan dan pasangnya air laut. Aku ingin sekali mengirimkan surat ini untukmu.

Suratku yang ke-365.

Bagaimana kabarmu di dasar sana, Nusa?

Kamu tahu? senja menjadi hal paling kusuka, saat aku bisa lebih dekat dengan lautan. Dekat dengan di dasar manapun kamu berada saat ini. Kunikmati tiap jengkal rotasi bumi dengan menyapa senja setiap hari, mencoba terus mengirimkan 365 surat tak berbalas untukmu. Bercerita banyak tentang apa yang kurasakan di sini tanpa kamu lagi.

Bisakah kamu mengirimkan satu saja balasan untukku, Nusa?

Apa yang kamu rasa sekarang? Berselimut dinginnya samudera, sendiri berkawan dengan pekatnya ruang di dasar sana. Apa kamu masih kuat berjuang?

Semoga surat-surat ini bisa menemanimu selagi doa kami yang terus mengalir bersama dengan lautan.

Bersabarlah, aku percaya regu penyelamat masih terus akan berusaha menemukanmu.


Cyn

Minggu, 02 Oktober 2016

Letters from the Sea of (he)Art

Have you ever been in war situation?  Berada di tengah-tengah antara si kuat ego dan si konsisten logika yang berperang memperebutkan satu tempat di sisi sang hati. Bertarung habis-habisan berusaha melawan segala macam keadaan hanya untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang paling bertahan dalam gelombang waktu. 

“Tenanglah sebentar”. Seenaknya kamu bicara kala itu di sela pertempuran. Menyita trilyunan detik yang kupunya, hanya untuk mencerna apa maksud dari perkataanmu. Apakah jika aku tenang, akan ada satu pemenang diantara keduanya? 

Kamu tidak pernah menjawabnya. 

***

8 Desember 2015  

 I’m flying for more than 2000 miles away only to write something valuable on this postcard.

... And this is the last postcard. 

Ada sesuatu yang menarik ketika harus mengisi setiap lembar postcard kosong dengan goresan pena yang berantakan. Sesuatu yang jujur, luas, dan berharga tertuang di sana. Aku punya tiga dan ini adalah postcard terakhir yang harus kuisi dengan cerita lain yang bisa kudapat di tempat asing. 

“Bawalah setiap kamu pergi ke luar kota atau ke luar negeri saat waktu libur tiba, isi dengan cerita pendek yang terinspirasi dari tiap perjalananmu. Kembalilah ke sini tahun depan, ceritakan padaku apa saja yang kamu tulis di sana”.

Setidaknya itu pesan yang disampaikan dari dia yang memberi postcard. Memaksaku untuk selalu membawa tiga buah kertas ini kemanapun aku pergi dan menuliskan sesuatu di atasnya. With a lil’ rules, 

“Kamu bisa tulis apa aja di sana, Biru. Yang penting pakai pena ya”. 

Tinggal berbulan-bulan di tengah laut lepas, menghitung berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi dalam setiap inci pengeboran yang kami lakukan saja sudah menyita waktu setiap harinya, belum lagi waktu liburan sudah pasti habis untuk bersenang-senang, dan dia seenaknya saja menambah pekerjaanku. Aku bukan seorang penulis, ini bukan satu-satunya alasan kenapa aku ingin menolak permintaannya saat itu. Bukan hanya karena aku juga tidak bisa membuat rangkaian kata yang indah, tulisan penaku yang jelek, tapi juga kalau sudah ada orang yang bisa aku perintah untuk menulis untukku, kenapa harus aku yang melakukan? There should be a reason why God created a specific role in life, to be a writer and a reader. Me? Of course i’m in the reader side.

  Setidaknya paragraf tadi adalah pemikiranku sebelum postcard itu berhasil mengusik jari jemari ini untuk menulis sesuatu di atasnya pertama kali. 

***

24 Februari 2014

Aku selalu menyukai seni. Apapun bentuknya, entah dikemas dalam sebuah lukisan, lagu, tarian, tulisan, ataupun pementasan teater. Lewat sebuah karya seni, mereka bebas berekspresi tanpa peduli bagaimana orang lain akan menilai. Lewat karya seni, idealisme menjadi identitas mutlak sang kreator. Dan mungkin karena seni begitu sarat dengan idelisme kreatif, hal ini menjadi sesuatu yang paling kusuka.

“Cerita itu nyawa dari segala bentuk seni, Biru. Ada beragam bentuk emosi yang hadir dari setiap cerita dan terus mengganda menjadi berjuta-juta ketika seni itu dilahirkan”.

Perspektifnya akan seni hanya berputar pada sebuah cerita. Baginya, cerita adalah hal terpenting dalam sebuah seni, while i’m more focusing on the result. Aku ingin sekali membantahnya, karena aku tidak pernah memikirkan apa yang seorang Affandi pikirkan ketika ia melukis, atau apakah seorang Dee Lestari sangat menyukai perahu yang terbuat dari origami pada saat ia sedang menulis novel Perahu Kertas? Karena bagiku, bagaimana aku melihat dan menikmati seni tersebut jauh lebih penting. 

  “Seni itu ada di mana-mana, Biru. Aku melihat setiap manusia adalah sebuah karya seni milik Tuhan yang paling indah. Kamu tahu? Mereka masing-masing punya pengalaman dan jutaan cerita yang unik. Mereka adalah seni. Kamupun”. 

 Matanya berbinar saat membicarakan seni dari sudut pandangnya. Tangannya bergerak mengikuti intonasi dan merepresentasikan tiap kata yang ia ucap. Aku gatal sekali untuk bertanya, 

 “Tapi masa lalu kadang menjejak terlalu sakit untuk sebagian besar orang. Beberapa dari mereka bahkan diam dan tidak ada yang mau mengungkitnya kembali. Lantas darimana ia bisa bercerita?”  

   Aku ingin sekali melihatnya terdiam kalah. 

“Kalau begitu, bagian dari diamnya adalah sebuah cerita. Setiap cerita tidak perlu menjadi satu momok besar yang harus diceritakan, Biru. Terkadang kamu bisa menyimpannya untuk belajar suatu saat. Atau, ceritamu mungkin bisa dipelajari oleh orang lain. Jangan terlalu kakulah hehehe”. 

Dia menjawab pertanyaanku dengan cepat dan mengunci bibirku telak. Tidak ada yang bisa dibantah lagi, meskipun logika ini masih belum bisa terima dan mengikuti alur dari permainan kata-kata yang diucapnya. 

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita. Cobalah sesekali, Biru”. 

Poni rambutnya bergerak disapa angin ketika ia tersenyum seraya pamit masuk kembali ke dalam teater untuk berlatih dengan anak-anak panggung untuk mendongeng di pementasan selanjutnya. Kala itu adalah minggu ke dua sejak aku di Jogja dan menonton pementasan teater Nusa, sekaligus kali kedua aku harus mengasah habis perspektifku dengan berbicara dengannya, sang pendongeng di atas panggung yang selalu percaya dengan cerita setiap manusia. 

Dan perdebatan tersebut menjadi tidak pernah begitu berarti setelah aku berhasil menorehkan goresan pena pada lembar postcard pertama yang ia berikan padaku. Tiga lembar postcard itu selalu tersimpan rapi di dalam lembar terakhir notes yang biasa aku bawa. Tidak pernah ada yang tahu, bahkan akupun enggan menyentuhnya. Tidak pernah ada niatku untuk mengikuti apa yang diminta sang pendongeng. 

Sampai dengan saat kali pertama itu muncul.

                                                                    ***

15 Januari 2015

Setiap libur kerja selepas bekerja di offshore rig adalah waktu paling berharga yang kupunya. Setelah berbulan-bulan memasrahkan segala macam takdir pada debur ombak dan tekanan angin di tengah laut, kami diberikan waktu bebas untuk berlibur sebelum kembali ke tengah laut. Aku menghabiskan seminggu terakhir aku berlibur di Singapore, mengunjungi teman lama. Di ujung koridor jalan Bugis, kulihat beberapa orang berkerumun masuk ke dalam sebuah ruang pameran seni lukis. Karyanya aku yakin ada lebih dari seratus buah yang dipajang di sana dengan berbagai macam goresan warna di kanvas. Not so high class art, tapi aku bisa melihat semua karyanya adalah masterpiece. Semua orang terlihat memuji karya sang pelukis, tidak terkecuali seorang anak kecil yang membawa lembaran newspaper di tangannya. Ia mengintip di balik bilik jendela, dan kalau aku tidak salah melihat, ia membawa sebuah kanvas dan disimpannya di dalam saku celana pendek lusuh miliknya. Kakinya tak ia biarkan melengang masuk ke dalam, entah mengapa. Mengunci tubuhnya kaku di balik jendela mengagum lukisan dari kejauhan. 

Aku bisa saja pergi dan tak mengindahkan lelaki kecil itu, kalau tidak ada pikiranku untuk menulis postcard pada saat itu. Waktuku sedikit luang, and i think maybe this is the right moment to be written. Aku memperhatikan gerak-gerik sang anak yang tidak lama kemudian melengos pergi meninggalkan galeri sebelum sempat aku bertanya. Which means, i lose his story.

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita”.


Sulit sekali memang mengakui bahwa apa yang dikatakannya benar dan bisa dilakukan, bahwa mungkin memang anak itu tidak bisa menceritakan apa dan kenapa ia berada di sana mengagum dari kejauhan, tapi aku bisa.

***

24 Februari 2016

Sinar dari lampu sorot di tengah teater menjurus ke segala arah, memastikan edaran warnanya silih berganti menerangi tiap sudut podium. Senada dengan mereka yang berlenggok di atas panggung seperti tanpa canggung memberikan aksi pada tiap pasang mata yang menontonnya. Begitu juga dengan musik orkestra sederhana yang menambah energi dari pertunjukkan. Dawainya sempurna mengiringi langkah kaki anak-anak itu di panggung. 

Panggung itu menyala.

Tapi tak pernah seterang saat dia ada di sana. 

Pertunjukkan telah usai saat ini ketika kusadar hampir sebagian dari penonton riuh bertepuk tangan memuji keelokan dari tiap gerakan dan cerita pertunjukkan teater hari ini. Semua bergegas beranjak dari kursi penonton, berhambur keluar teater hingga menyisakan aku dan seorang di kursi penonton paling depan. 

“Mas Biru, bukan? Lama sekali baru datang kemari lagi”. Sena, pelatih tari kebanggan teater Nusa selama bertahun lamanya. Ia dedikasikan hampir setengah dari usianya untuk melatih tari di teater. 

“Panjang ceritanya Mas Sen. Selamat ya teaternya bagus sekali hari ini”. Aku duduk di sampingnya, melihat beberapa kru mulai membersihkan panggung dari segala jenis properti di atasnya. Beberapa penari menghampiri Sena, memeluknya dan menyalaminya. 

“Cari Ruby mas?”. Iya, pertanyaannya lebih terdengar seperti tebakan di telingaku. 

Tebakan yang tepat sasaran 100%.

“Ruby sudah tidak mendongeng di sini, Mas. Terakhir, dia bilang mau lanjut kuliah master biar makin pinter, bisa bikin dongeng sendiri. Hebat sekali dia itu”. Mas Sena masih melanjutkan bercerita tentang Ruby yang hebat, Ruby yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, belajar sastra tinggi-tinggi untuk kembali ke dunia teater. Dan semakin banyak cerita tentang Ruby yang kudengar, semakin aku ingin menemuinya saat ini. Karena Rubylah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku setahun belakangan. Ia merusak segala bentuk dogma yang sudah mendarah daging bertahun-tahun di otak, merobek dinding batas ego seorang Biru, hanya dengan tiga buah kertas lemah, usang, dan tanpa makna yang ada di tanganku saat ini. 

Betapa lancangnya kamu, Ruby. 

***

            I already flew a thousand miles away and the last postcard is still blank. Banyak sekali orang baru yang kukenal atau hal-hal baru yang kuketahui sepanjang perjalanan. Jutaan cerita bisa kutulis, namun tak ada satupun yang begitu menjejak, atau mungkin aku yang belum bisa menuliskan satupun dari sekian banyak cerita yang aku lalui. Aku menghabiskan masa berlibur dari satu kota ke kota lainnya, dari Asia hingga Eropa dan nihil. Postcard ketiga masih saja kosong dan tak bisa kuisi.

            Seperti candu, postcard pertama yang kuisi membuatku ingin menulis sesuatu di postcard lainnya. Lewatnya, aku mengenal banyak sekali sisi lain dari dunia yang biasa kulihat sebelumnya, memaksaku berpikir behind the scene of every event in life. Bagaimana mengambil intisari dari setiap objek dan menuangkannya dalam bentuk cerita versiku. Tidak hanya itu, dengan aku harus menulis sesuatu di atasnya, setiap objek dan kejadian sangat berarti untukku. Dan postcard-postcard ini dengan lancang memintaku untuk bisa lebih peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Aku melihat seni dari sisi yang berbeda dari sebelumnya,

            And those kind of behavior are not so me before. It turns out to be something miraculous, a better Biru. 

            Aku kembali ke Jogja untuk menemui Ruby. Mengiyakan semua perkataannya yang dulu ingin sekali aku bantah karena egoku yang selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Sesuai dengan permintaannya, aku ingin mengembalikan semua postcard yang diberikan dan menceritakan cerita yang kupunya di tiap postcard. Aku sudah terlambat satu tahun dari permintaannya, karena ternyata butuh dua tahun untuk mengisi dua postcard, dan dia seharusnya bangga karena aku tidak hanya datang membawa postcardnya, tapi juga lewat postcard-postcard ini ia mampu mengubah pola pikir seorang Biru. 

            “Mas Sena tahu kapan Ruby pulang?”. Aku menghampiri Sena yang sedang duduk di pendopo kayu besar dekat dengan kolam ikan mas koki milik teater Nusa. Ia menoleh kepadaku, 

            “Ndak tahu mas Biru. Mungkin dua tahun lagi, setelah Ruby lulus”.

            Bukan itu jawaban yang aku ingin dengar. Aku ingin sekali menemuinya sekali lagi dan berterima kasih atas semua bantuan yang diberikan Ruby untuk diriku lewat postcard ini. Sena hanya meninggalkan email Ruby padaku, katanya sebelum Ruby pergi ia meninggalkan alamat email kepada Sena agar anak-anak teater masih bisa berkomunikasi dengannya lewat email. 

***

To        : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!
Aku kembali ke Jogja untuk mengembalikan postcardmu dan ingin menceritakan semuanya. Sayang sekali Mas Sena bilang kamu sudah tidak lagi mendongeng di teater Nusa ya Ruby? Boleh aku tahu di mana kamu sekarang? 
These three postcards are want to talk to their owner, Ruby.
Let’s meet up. 
Biru. 
***

23 Maret 2018

            Entah sudah berapa milyar cerita yang Ruby punya saat ini. Mungkin ia sudah bisa berdongeng di kota tempat ia melanjutkan studi atau mungkin Ruby sudah kembali ke Jogja dan kembali mendongeng di teater Nusa. Tidak pernah ada lagi balasan dari Ruby semenjak email pertama yang aku kirimkan untuknya. 

            Dan Biru kembali dengan hari-hari tanpa lintasan waktu di offshore rig, menekan perut bumi di dasar laut, bertempur dengan jutaan liter minyak. 

            Tapi, kali ini sibukku bukan hanya untuk kepentingan bisnis dan segala macam bentuk mesin yang ada di offshore rig ini. Sibukku lebih berarti dengan berbagai macam cerita yang kudengar dari para engineer yang bekerja, dari deru ombak yang menghempas, dan dari banyak macam objek yang kutemui setiap harinya.

            Aku baru saja kembali ke dermaga untuk bertemu dengan beberapa shareholder pengeboran ini, dan hal yang paling kusuka dari dermaga adalah adanya jaringan internet yang bisa diakses. Kemudian satu pop-up email muncul.

From    : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!

Hi Biru, lama sekali tidak bertemu! Email ini lama tidak kugunakan dan baru kali ini kubuka :(
Can’t wait to hear your stories, buddy. I’m in Toronto, waiting for my (finally) master graduation. Pertengahan tahun ini aku akan pulang ke Jogja. Let’s meet up soonest.

Ruby.

       Akhirnya postcard-postcard ini akan segera bertemu dengan pemilik sesungguhnya, dengan milyaran cerita lain yang bisa dituliskan kembali di lain waktu. Postcard terakhir sudah berhasil kuisi tepat setelah aku membalas email Ruby. Kali ini aku tahu, dari postcard terakhir yang tersisa aku belajar bahwa ternyata aku masih sering melupakan diriku sendiri. Mencari hingga ribuan miles sesuatu yang memuaskan hatiku, tanpa pernah sadar dan peka bahwa sesungguhnya apa yang aku cari ada di dalam diriku sendiri. Bahwa ternyata cerita untuk postcard terakhir adalah cerita tentang apa yang kusadari selama ini lewat postcard-postcard Ruby. 

            Cerita tentang gemuruh perang yang terjadi antara logika dan ego,
            Tentang betapa sulitnya mengalah dan mendengarkan orang lain. 
            Tentang perubahan besar yang ternyata bisa dilakukan hanya dengan memulai hal kecil.
            Tentang Biru. 



A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...