Minggu, 23 April 2017

Usai Hujan Reda

 

Aku ingin bercerita tentang hujan. Coba tengok keluar jendela, dengarkan bisikannya, resapi dalam-dalam tiap titik basahnya, percaya atau tidak selalu ada sesuatu yang dibawa hujan tiap kali ia datang. Kadang kabar bahagia, sering kali menyedihkan, yang pasti selalu ada berkah di tiap titiknya. Tahu mengapa titik hujan selalu datang beramai-ramai dan beriringan? 

Karena setiap titik basah yang turun dari langit adalah satu cerita yang ingin disampaikan Tuhan kepada tiap manusia. 

Jutaan titik-titik air ini jadi saksi atas jutaan emosi dan ekspresi yang sibuk sembunyi saat hujan turun. Pertemuan kami selalu dimulai setelah hujan reda. Sembunyi di dalam tiap teguk teh yang dihabiskan sembari menunggu titik-titik air itu habis turun dari langit, kemudian kami keluar dari tempat persembunyian untuk meleburkan rasa yang kami punya. 

Seperti hari ini, hari ini titik hujan lagi-lagi jadi saksi milyaran emosi yang ada di dalam diriku untuknya. Aku bisa merasakan helaan nafasku menjadi terasa lebih berat dari sebelumnya saat menunggu hujan reda. Ruangan ini seperti hampa tanpa udara sesaat setelah kulihat ia datang dengan beberapa titik basah hujan yang mengenai permukaan jaketnya. Aku masih berusaha terlihat seperti biasanya menyambut siapa yang sedang berada di hadapanku saat ini. Laki-laki hujan, aku memanggilnya. Penggemar berat lagu-lagu klasik saat hujan turun sambil ditemani dengan chamomile tea yang selalu diteguknya sepuluh menit setelah tehnya tersaji. Laki-laki hujanku selalu datang setelah hujan usai, karena waktunya dihabiskan terlebih dahulu untuk menikmati hujan sendirian, seperti enggan berbagi dinginnya hujan bersamaku. Aku masih ingat jawabannya ketika sesekali pernah kutanya,

"Mata kamu dan hujan itu dua hal berbeda yang selalu aku suka. Engga bisa dinikmati berbarengan".  

Ribuan titik hujan sudah kulalui dengannya, bersamaan dengan ribuan cerita yang kami buat seusai hujan reda. Ia masih seperti dahulu saat pertama kali kami bertemu. Laki-laki hujanku selalu dengan rangkulan teduhnya, tak pernah sekalipun terlihat menyerah dengan kami, memberikan raganya untuk melindungiku sebisa mungkin, sebagian besar waktunya untuk bersamaku, dan mungkin seluruh hatinya kepadaku. Ia berhasil memupuk seluruh yakin yang ada dengan segala bentuk usaha dan perlakuannya selama ini. 

Aku melihatnya lekat-lekat, laki-laki hujan yang berhasil menjadi satu-satunya materi paling sejuk di antara ribuan titik hujan manapun yang pernah aku rasakan. Aku tahu beberapa kali ia memanggil namaku, namun aku lebih menginginkan momen ini. Menikmati hujan bersamanya, mengisi ruang dingin yang tercipta karena derasnya hujan.

Aku tak ingin kehilangan sosoknya di mataku saat ini. He really means a lot for me. 

And that kind of "means a lot" thing is now killing me back..


Gemuruh di hatiku semakin kencang seiring dengan hujan yang semakin deras menjadi badai sore ini. Entah titik hujan mana yang membawa cerita kali ini, memaksa untuk ikut menghujani pipiku dengan bening yang turun perlahan dari sudut mata. Mengingat kembali apa memori hitam yang kulihat beberapa hari lalu dari luar apartemennya, siluet dirinya dan seorang perempuan yang tak pernah kukenal sebelumnya, dua cangkir teh yang tergeletak di dalam sinknya saat pagi-pagi aku datang untuk memberikan sup hangat untuknya ketika ia sakit beberapa minggu lalu, atau beberapa kali melihatnya berhenti di satu tempat menjemput seseorang yang tak pernah kukenal di kala hujan. 

Ya.. laki-laki hujanku bahkan rela berbagi hujannya dengan perempuan itu. 

Ia mencoba menyeka basah di pipiku sebelum kutangkap ponselnya berdering, menampilkan segaris nama yang belum pernah kudengar sebelumnya saat kami bersama. Kutahu ia mulai bingung menyiapkan kalimat-kalimat jitu untuk menjawab pertanyaanku setelah ini. Hujan kali ini tak berpihak kepadanya. 

"Answer her. I knew exactly what you did.." 

***

Cyn

Minggu, 09 April 2017

Tabula Rasa



Garis Jingga

Ia melangkah dengan ragu, aku melihat nyalinya digantungkan hari ini untuk melangkah ke arahku. Ada sedikit takut di matanya, menerobos masuk di sela-sela udara dingin yang mengantar hujan datang sebentar lagi menutupi senja. Detik ini seharusnya sang jingga tiba, jinggaku yang tak pernah lagi berwarna emas semenjak terakhir kali kami bertemu.

Aku jelas mengenal siapa laki-laki lancang yang bisa saja tiba-tiba muncul kapanpun ia mau di depanku seperti saat ini. Akar Pinus. Laki-laki yang selama hampir dua tahun ini tak pernah lagi aku anggap ada. Bukan, ini bukan karena ia melakukan kesalahan terhadapku. Hanya aku saja yang memutuskan pergi saat kupikir tak akan mungkin ada ruang sisa untuk kami di sana.

Kami hanya berjarak 50cm saat kulihat Akar Pinusku mencoba menatap lekat mataku dalam. Ia tahu aku tak pernah bisa pergi dari matanya, ia menangkap seluruh emosi tanpa ekspresi yang mati matian aku sembunyikan dua tahun darinya. Tatapannya pasti, pasti habis menjera seluruh keinginanku untuk pergi lagi darinya.

"Would you come back and stay with me?". Laki-laki ini mengisi jeda senyap di antara kami dengan satu pertanyaan tanpa basa basi, langsung tepat sasaran menuju palung paling dalam dariku. Ia melangkah maju ke arahku seolah mencoba memecahkan bongkah es yang terlanjur membatu di antara kami. Matanya tak membiarkan aku lolos dan menemukan jalan keluar darinya.

Lepaskan aku, Akar. 


***

Akar Pinus

Aku harus menemukannya. Perempuan ini dengan berani mendekat kepadaku, mengisi ruang kosong tersembunyi dariku dengan segala bentuk abstrak yang ia lakukan, kemudian dengan lancang ia pergi tanpa pesan begitu saja sesaat setelah merobek nuraniku karena perasaan cintanya yang tumbuh sejak dulu saat kami berkawan akrab.

Garis Jingga, ia menamparku keras dengan kenyataan bahwa selama ini aku tak pernah sekuat yang kubayangkan. Kepergiannya memaksaku mengakui bahwa jelas-jelas aku membutuhkannya. 

Aku melihatnya lekat-lekat, berusaha mencari namaku yang mungkin masih tertinggal di sudut sudut terdalam darinya. Aku tahu pasti ada salah satu sudut hatinya yang masih menyimpan namaku di sana. Pelan-pelan ia membalas tatapanku lemah tanpa berkata apapun. Membiarkanku untuk semakin liar mendobrak tiap ruang yang ada padanya, mencari dengan brutal di mana kini aku disimpan di dalam hatinya.

"Pulanglah Akar..". Aku tak percaya ia memilih untuk menyelipkan kata-kata itu di antara jutaan emosi yang ada saat ini. Suaranya bergetar aku tahu itu, ia tak benar-benar menginginkannya.

Kau tak benar-benar menginginkan aku pergi, katakan sekali lagi Jingga..


***

Garis Jingga

Aku tak tahu berapa banyak berani yang ia gadaikan hari ini untuk pergi menemuiku, datang kepadaku membawa segala bentuk rasa yang seharusnya ada sejak dahulu, dan menagihku rasa yang sama untuknya sekarang.

"Pulanglah Akar.." Aku ingin mengakhiri detik-detik menyiksa ini secepat yang aku bisa. Menutup rapat setiap ruang yang berusaha ia jamah untuk mencari lagi di mana namanya kini berada.

Laki-laki sekuat akar pinus ini tetap bergeming lama. Tatapannya melemah seolah memintaku untuk mengatakan sekali lagi keinginanku untuk melihatnya pergi. Menyiksaku sekali lagi dengan permintaannya. 

Kamu tahu aku tak bisa, Akar. 

Langkahnya mendekat berusaha menggapai tubuhku yang kian lama kian bergetar seiring ada isak yang menyeruak keluar dari sudut kedua mataku. Mengalir tenang tanpa permisi, menggugurkan seluruh kuat yang aku punya, mengisi penuh tabula rasa semu yang kuciptakan semenjak terakhir kali kami bertemu, semua melebur menjadi satu dengan jutaan emosi dan rasa yang terkubur lama selama ini.

Aku tak bisa lari, Akar. Ada rindu yang tak kuasa menahan dirinya untuk sembunyi terus menerus, ada ingin untuk memeluk dalam dekap erat-erat dan memintanya untuk tetap di sini. 


***

Akar Pinus

Perempuan ini kokoh berdiri tak membiarkan aku lebih jauh masuk menyusuri dalam hatinya. Ia memintaku pergi sepuluh detik lalu, sebelum ada bening yang menyeruak memaksa keluar dari sudut matanya, membawa keluar seluruh rindu dan namaku yang tersembunyi lama dari dalam dirinya.

Aku merengkuhnya hangat, membawanya kembali padaku, menempati ruang yang telah kosong tanpanya. Aku bisa merasakan irama detak jantungnya menyatu dengan milikku dalam beberapa saat sebelum kutangkap tatapan matanya. Matanya yang masih menyisakan gurat ragu itu kembali menatapku, sambil berusaha menyeka sisa air mata di pipinya aku melihat benda berkilau itu. Melingkar pasti mengikat jari manis milik Jinggaku. Kilaunya menusuk mata hingga ke dalam tiap sudut kosong hatiku, seolah memaksaku untuk memaknai kenyataan yang ada saat ini.

Wajahnya sendu ketika ia menangkap mataku yang tertumpu kaku pada lingkaran berkilau itu. Matanya kembali basah saat aku mulai melepaskannya perlahan-lahan dengan seluruh sisa rasa yang kupunya saat ini.

Kini kurasakan cengkraman jemarinya semakin kuat, menahan dekapku lebih lama seperti meminta pertolongan.

"Win me back, Akar.." 


***

Cyn

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...