Minggu, 12 Oktober 2014

Friendsology


Tuxedo yang kamu kenakan terlihat sangat mewah dan membentuk tubuh atletismu dengan sempurna. Rambutmu disisir rapi ke belakang bergaya ala vintage membuat kamu semakin terlihat tampan. Dasi kupu-kupu segera disematkan di antara dada bidangmu, menyempurnakan penampilan kamu hari ini. Tidak tidak, sebelum kamu tersenyum. Bahkan semua aksesoris paling mahal sekalipun tidak ada yang mampu menandingi senyum milik kamu.
Tamu-tamu sudah ramai berdatangan menempati tempat duduk mereka masing-masing. Semua berpakaian resmi dan paling bagus yang mereka punya hanya untuk datang ke acara kamu hari ini. Senyum dan tawa mereka merekah hari itu menyempurnakan suasana bahagia hari ini. Sungguh beruntung kamu.. disayang dan diberkati semua orang.
Sesekali saya lihat kamu terlihat gelisah dengan peluh yang turun dari sela rambutmu. Wajar saja, hari ini hari terbesar dalam hidup kamu dan kuyakin semua orang yang melewati hari ini juga akan merasakan apa yang kamu rasakan. Tenanglah.. Kemudian kamu duduk di depan cermin besar untuk memastikan lagi penampilan kamu hari ini. Sempurna… Mungkin jika cermin itu bisa berbicara, ia akan berbicara seperti itu dengan lantang. Kamu berputar kembali memastikan tidak ada celah sedikitpun dalam penampilan kamu. Setelah yakin, kamu kembali menatap cermin dengan nanar, lama sekali kamu menatapnya. Matamu berkaca-kaca, entah mungkin kamu terlalu bahagia akan datangnya hari ini. Mungkin..
Kulihat dari kejauhan seseorang datang memeriksa keadaan kamu dan menjemputmu untuk segera turun ke bawah menyambut tamu-tamu yang sudah datang. Kamu mengangguk dan mengisyaratkan pada orang itu untuk memberikan kamu waktu sebentar lagi didalam sana. Sepertinya kamu masih gugup. Kamu kembali menatap cermin, merogoh kantong celanamu dan menatap layar handphone mu. Tanganmu dalam keadaan siap menekan tombol call jika saja kamu tidak mengurungkan niatmu. Matamu berkaca-kaca dan tak lama kemudian kamu banting dengan keras handphone ditanganmu ke lantai hingga pecah tak beraturan.
PRANG
Kamu menatap lagi ke cermin melihat sosok dirimu didalamnya. Kini sudut matamu sudah basah, mengeluarkan beberapa tetes air mata. Kamu terlihat sangat kesal namun juga sedih dalam saat yang sama. Kamu kenapa? Aku ingin datang dan memelukmu saat ini, aku ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja dan bahagia tapi aku tidak bisa. Aku harus tetap berdiri disini.
Seseorang kembali datang dan terkejut dengan apa yang kamu lakukan. Ia buru-buru datang dan membereskan pecahan-pecahan handphone di lantai. Sesekali kulihat kamu mencuri waktu untuk menoleh ke belakang dan menyeka air mata yang turun dari sudut matamu kemudian berpura-pura membantu orang itu untuk membereskan sisa pecahan di lantai. Kamu bertingkah seolah kaget dan gugup didepannya. Kenapa kamu bohong?
Kamu menghela nafas berat lalu memutuskan untuk keluar ruangan. Kamu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru gedung melihat semua tamu sudah dalam keadaan siap berpesta hari itu. Tamu-tamu yang melihat kedatangan kamu sontak bertepuk tangan, sesekali bersiul menyambut kamu datang. Lalu kamu membalasnya dengan senyuman hangat dan lambaian tangan. Kamu pintar sekali menyembunyikan ekspresi dibalik sebuah ekspresi. Kamu tidak pernah berubah bahkan sampai pada hari ini.
Seseorang lagi naik ke podium dan menyambut tamu-tamu, menandakan acara akan segera dimulai. Kemudian ia meminta sang pemilik acara untuk naik ke atas podium. Pintu terbuka, saya bisa lihat kamu dari kejauhan sangat tampan, senyummu masih menghiasi wajah kamu. Kemudian aku melihat seseorang yang berdiri disampingmu tampak sangat bahagia hari ini. Wajahnya cantik, sangat sesuai dengan kamu. Tubuhnya mungilnya seperti meminta perlindungan dari tubuh atletismu. Tangannya terselip ditanganmu siap berjalan menuju podium. Kamu dan dia berjalan dengan pelan diiringi music-musik romantic dan tepukan tangan dari tamu yang datang. Beberapa ada yang memotret, sebagian lagi terpesona dengan kecantikan dan ketampanan sang mempelai.
Kini kamu dan dia sudah sampai di podium, kalian duduk dengan sangat hati-hati di singgasana. Sesekali kulihat kalian bercengkrama entah apa yang dibicarakan. Pembawa acara mulai mempersilahkan pemimpin doa untuk mendoakan kalian dan acara besar kalian hari itu. Tamu-tamu ikut berdoa untuk masa depan kalian dengan khidmat. Sungguh bahagia sekali menjadi kamu dan wanita disampingmu saat ini..
Beberapa penari mulai menari didepan podium untuk menyambut tamu undangan dan mempelai. Pesta terasa begitu meriah dengan alunan musik yang menghentak saat para penari mulai menari. Tepukan tangan penonton menambah riuh acara hari itu. Semua berbahagia atas kamu, aku sangat senang.
Pembawa acara kemudian mempersilahkan tamu untuk antri berurutan untuk memberikan selamat kepada mempelai. Tamu-tamu mulai antri dan berjalan perlahan. Ratusan ucapan selamat diberikan untuk kamu dan dia hari ini. Kulihat wanita disampingmu begitu bahagia, senyumnya tak pernah habis untuk membalas ucapan selamat dari orang-orang yang menyalaminya. Begitupun kamu.
            Selamat Max..” Aku berdiri didepan kamu saat ini. Hanya beberapa inci dengan kamu, menatap mata kamu, menyalami kamu dan tersenyum untuk kamu. Aku datang mengenakan baju paling bagus yang pernah kumiliki, aku ingin terlihat cantik di depan kamu untuk terakhir kalinya. Mata kamu lama menatapku, perlahan kulihat sudut matamu membendung air itu lagi,
Terima kasih sudah datang, El..” bisiknya. Aku mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan podium, aku takut kamu tidak sanggup membendung air matamu. Aku tidak ingin kamu sedih hari ini. Aku bergegas berlari keluar gedung dan menyeka air mataku. Setidaknya aku sudah datang di hari besarnya. Aku berjanji ini adalah air mata terakhirku untuk kamu. Sekarang semua sudah lega. Semua sudah tahu.
Dan bertahun-tahun setelah hari ini, aku berjanji kamu takkan lagi melihatku.
***
            Aku suka sama kamu dari 10 tahun yang lalu, Max” aku berdiri di hadapannya. Menceritakan semua yang kurasakan kepadanya sejak dahulu, menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua yang ingin dia ketahui.
            Max diam. Matanya bingung melihatku bertingkah seperti ini. Ia ingin menganggapku hanya bercanda namun sepertinya ia ragu. “Tapi kamu kenapa baru bilang sekarang, El?Aku tidak pernah tahu” jawabnya. Tangan kanannya mencoba meraih wajahku menghapus air mata yang menetes tanpa henti dari sudut mataku.
            “Aku takut. Karena tidak pernah sekalipun aku merasa pantas bisa bersama kamu. Aku berusaha mati-matian untuk mengejar kamu, tapi lihat saja.. kamu bahkan tak pernah sadar, kan? Aku belajar menjadi apa yang kamu mau, mencoba menyamakan kamu sampai kurasa aku sudah punya keberanian untuk berbicara ini dengan kamu. Bahkan untuk berbicara tentang perasaanku dengan kamu saja aku merasa tak pantas, Max” Terbata-bata aku mengucapkannya. Sia-sia ia menghapus jejak air mata di pipiku karena pada akhirnya bening itu menetes lagi. Kali ini Max berusaha meraih dan memeluk tubuhku erat.
            “Selamanya engga ada yang bisa gantiin kamu untuk jadi sahabat terbaikku, El. Engga akan ada yang bisa. Lihat! Bahkan aku tidak pantas menjadi pendamping kamu yang sudah mati-matian berusaha untuk aku, dan aku sama sekali tidak pernah lihat usaha kamu. Aku tidak pantas atas semua sakit yang kamu rasakan, El. Aku terlalu buta, egois” Bibirnya bergetar menahan getir sakit yang kini memenuhi dadanya. Hatinya sakit membayangkan berapa lama aku menahan rasaku padanya bertahun-tahun tanpa pernah ia sadari. Ia mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya selama ini. Bahkan orang yang selama ini ia cari sudah ada di hadapannya namun tak pernah sekalipun ia sadari keberadaannya.
            “Sudahlah Max. Kamu akan segera menikah dengan Louisa. Sebentar lagi kamu akan bahagia, aku Cuma ingin kamu tahu saja. Sekarang kamu sudah tahu dan aku sudah lega. Aku harus pindah kerja dan artinya akan jauh meninggalkan kamu. Aku ingin kamu bahagia sebelum aku pergi. Tapi kamu tenang saja, aku pasti datang nanti” Aku melepaskan pelukannya. Mengganti air mataku dengan senyum untuknya. Tidak pernah lagi kurasakan perasaan selega ini setelah mengatakan semuanya kepada kamu.
            “Aku jahat sama kamu, El.. Mana bisa aku biarkan kamu sakit lagi kalau aku melanjutkan pernikahanku dengan Loui”
            “Jangan bodoh kamu! Dia sangat cinta kamu, Max. Jangan kecewakan. Teman yang baik tidak akan egois menghancurkan hari besar temannya, Max. Aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi kan? Aku engga apa-apa”
            Aku memeluknya untuk terakhir kali. Membiarkan air matanya turun bersamaan dengan air mataku yang kutahan untuk turun. Aku memutuskan untuk menerima tawaran kantor untuk bekerja di luar negeri setelah mengetahui Max akan menikah dengan wanita pilihannya. Bertahun-tahun aku berusaha untuk menjadi pantas untuknya, namun sepertinya aku terlambat. Aku terlalu lama menunda waktu dan ketakutan akan kemampuanku sendiri. Dan aku harus menerima resikonya sekarang.
            Aku turun dari mobil dan melambaikan tanganku padanya. Setelah ia menikah nanti, aku berjanji takkan lagi menemuinya. Kita akan melanjutkan hidup kita masing-masing dan menyimpan kenangan hari ini sebagai kenangan masa lalu kelak.
***

Elora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...