Tuxedo yang kamu kenakan terlihat sangat mewah dan membentuk
tubuh atletismu dengan sempurna. Rambutmu disisir rapi ke belakang bergaya ala vintage membuat kamu semakin terlihat
tampan. Dasi kupu-kupu segera disematkan di antara dada bidangmu,
menyempurnakan penampilan kamu hari ini. Tidak tidak, sebelum kamu tersenyum.
Bahkan semua aksesoris paling mahal sekalipun tidak ada yang mampu menandingi senyum
milik kamu.
Tamu-tamu sudah ramai berdatangan menempati tempat duduk
mereka masing-masing. Semua berpakaian resmi dan paling bagus yang mereka punya
hanya untuk datang ke acara kamu hari ini. Senyum dan tawa mereka merekah hari
itu menyempurnakan suasana bahagia hari ini. Sungguh beruntung kamu.. disayang
dan diberkati semua orang.
Sesekali saya lihat kamu terlihat gelisah dengan peluh yang
turun dari sela rambutmu. Wajar saja, hari ini hari terbesar dalam hidup kamu
dan kuyakin semua orang yang melewati hari ini juga akan merasakan apa yang
kamu rasakan. Tenanglah.. Kemudian
kamu duduk di depan cermin besar untuk memastikan lagi penampilan kamu hari
ini. Sempurna… Mungkin jika cermin
itu bisa berbicara, ia akan berbicara seperti itu dengan lantang. Kamu berputar
kembali memastikan tidak ada celah sedikitpun dalam penampilan kamu. Setelah
yakin, kamu kembali menatap cermin dengan nanar, lama sekali kamu menatapnya.
Matamu berkaca-kaca, entah mungkin kamu terlalu bahagia akan datangnya hari
ini. Mungkin..
Kulihat dari kejauhan seseorang datang memeriksa keadaan
kamu dan menjemputmu untuk segera turun ke bawah menyambut tamu-tamu yang sudah
datang. Kamu mengangguk dan mengisyaratkan pada orang itu untuk memberikan kamu
waktu sebentar lagi didalam sana. Sepertinya kamu masih gugup. Kamu kembali
menatap cermin, merogoh kantong celanamu dan menatap layar handphone mu. Tanganmu dalam keadaan siap menekan tombol call jika saja kamu tidak mengurungkan
niatmu. Matamu berkaca-kaca dan tak lama kemudian kamu banting dengan keras handphone ditanganmu ke lantai hingga
pecah tak beraturan.
PRANG
Kamu menatap lagi ke cermin melihat sosok dirimu didalamnya.
Kini sudut matamu sudah basah, mengeluarkan beberapa tetes air mata. Kamu
terlihat sangat kesal namun juga sedih dalam saat yang sama. Kamu kenapa? Aku ingin datang dan
memelukmu saat ini, aku ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja dan
bahagia tapi aku tidak bisa. Aku harus tetap berdiri disini.
Seseorang kembali datang dan terkejut dengan apa yang kamu
lakukan. Ia buru-buru datang dan membereskan pecahan-pecahan handphone di lantai. Sesekali kulihat
kamu mencuri waktu untuk menoleh ke belakang dan menyeka air mata yang turun
dari sudut matamu kemudian berpura-pura membantu orang itu untuk membereskan
sisa pecahan di lantai. Kamu bertingkah seolah kaget dan gugup didepannya. Kenapa kamu bohong?
Kamu menghela nafas berat lalu memutuskan untuk keluar
ruangan. Kamu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru gedung melihat semua
tamu sudah dalam keadaan siap berpesta hari itu. Tamu-tamu yang melihat
kedatangan kamu sontak bertepuk tangan, sesekali bersiul menyambut kamu datang.
Lalu kamu membalasnya dengan senyuman hangat dan lambaian tangan. Kamu pintar
sekali menyembunyikan ekspresi dibalik sebuah ekspresi. Kamu tidak pernah
berubah bahkan sampai pada hari ini.
Seseorang lagi naik ke podium dan menyambut tamu-tamu,
menandakan acara akan segera dimulai. Kemudian ia meminta sang pemilik acara
untuk naik ke atas podium. Pintu terbuka, saya bisa lihat kamu dari kejauhan
sangat tampan, senyummu masih menghiasi wajah kamu. Kemudian aku melihat
seseorang yang berdiri disampingmu tampak sangat bahagia hari ini. Wajahnya
cantik, sangat sesuai dengan kamu. Tubuhnya mungilnya seperti meminta
perlindungan dari tubuh atletismu. Tangannya terselip ditanganmu siap berjalan
menuju podium. Kamu dan dia berjalan dengan pelan diiringi music-musik romantic
dan tepukan tangan dari tamu yang datang. Beberapa ada yang memotret, sebagian
lagi terpesona dengan kecantikan dan ketampanan sang mempelai.
Kini kamu dan dia sudah sampai di podium, kalian duduk
dengan sangat hati-hati di singgasana. Sesekali kulihat kalian bercengkrama
entah apa yang dibicarakan. Pembawa acara mulai mempersilahkan pemimpin doa
untuk mendoakan kalian dan acara besar kalian hari itu. Tamu-tamu ikut berdoa
untuk masa depan kalian dengan khidmat. Sungguh
bahagia sekali menjadi kamu dan wanita disampingmu saat ini..
Beberapa penari mulai menari didepan podium untuk menyambut
tamu undangan dan mempelai. Pesta terasa begitu meriah dengan alunan musik yang
menghentak saat para penari mulai menari. Tepukan tangan penonton menambah riuh
acara hari itu. Semua berbahagia atas kamu, aku sangat senang.
Pembawa acara kemudian mempersilahkan tamu untuk antri
berurutan untuk memberikan selamat kepada mempelai. Tamu-tamu mulai antri dan
berjalan perlahan. Ratusan ucapan selamat diberikan untuk kamu dan dia hari
ini. Kulihat wanita disampingmu begitu bahagia, senyumnya tak pernah habis
untuk membalas ucapan selamat dari orang-orang yang menyalaminya. Begitupun
kamu.
“Selamat Max..” Aku berdiri didepan kamu
saat ini. Hanya beberapa inci dengan kamu, menatap mata kamu, menyalami kamu
dan tersenyum untuk kamu. Aku datang mengenakan baju paling bagus yang pernah
kumiliki, aku ingin terlihat cantik di depan kamu untuk terakhir kalinya. Mata
kamu lama menatapku, perlahan kulihat sudut matamu membendung air itu lagi,
“Terima kasih sudah
datang, El..” bisiknya. Aku mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan podium,
aku takut kamu tidak sanggup membendung air matamu. Aku tidak ingin kamu sedih
hari ini. Aku bergegas berlari keluar gedung dan menyeka air mataku. Setidaknya
aku sudah datang di hari besarnya. Aku berjanji ini adalah air mata terakhirku
untuk kamu. Sekarang semua sudah lega. Semua sudah tahu.
Dan
bertahun-tahun setelah hari ini, aku berjanji kamu takkan lagi melihatku.
***
“Aku suka sama kamu dari 10 tahun yang lalu,
Max” aku berdiri di hadapannya. Menceritakan semua yang kurasakan kepadanya
sejak dahulu, menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua yang ingin dia
ketahui.
Max diam. Matanya bingung melihatku
bertingkah seperti ini. Ia ingin menganggapku hanya bercanda namun sepertinya
ia ragu. “Tapi kamu kenapa baru bilang sekarang, El?Aku tidak pernah tahu”
jawabnya. Tangan kanannya mencoba meraih wajahku menghapus air mata yang
menetes tanpa henti dari sudut mataku.
“Aku takut. Karena tidak pernah
sekalipun aku merasa pantas bisa bersama kamu. Aku berusaha mati-matian untuk
mengejar kamu, tapi lihat saja.. kamu bahkan tak pernah sadar, kan? Aku belajar
menjadi apa yang kamu mau, mencoba menyamakan kamu sampai kurasa aku sudah
punya keberanian untuk berbicara ini dengan kamu. Bahkan untuk berbicara
tentang perasaanku dengan kamu saja aku merasa tak pantas, Max” Terbata-bata aku
mengucapkannya. Sia-sia ia menghapus jejak air mata di pipiku karena pada
akhirnya bening itu menetes lagi. Kali ini Max berusaha meraih dan memeluk
tubuhku erat.
“Selamanya engga ada yang bisa
gantiin kamu untuk jadi sahabat terbaikku, El. Engga akan ada yang bisa. Lihat!
Bahkan aku tidak pantas menjadi pendamping kamu yang sudah mati-matian berusaha
untuk aku, dan aku sama sekali tidak pernah lihat usaha kamu. Aku tidak pantas
atas semua sakit yang kamu rasakan, El. Aku terlalu buta, egois” Bibirnya
bergetar menahan getir sakit yang kini memenuhi dadanya. Hatinya sakit
membayangkan berapa lama aku menahan rasaku padanya bertahun-tahun tanpa pernah
ia sadari. Ia mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya selama ini. Bahkan
orang yang selama ini ia cari sudah ada di hadapannya namun tak pernah
sekalipun ia sadari keberadaannya.
“Sudahlah Max. Kamu akan segera
menikah dengan Louisa. Sebentar lagi kamu akan bahagia, aku Cuma ingin kamu
tahu saja. Sekarang kamu sudah tahu dan aku sudah lega. Aku harus pindah kerja
dan artinya akan jauh meninggalkan kamu. Aku ingin kamu bahagia sebelum aku
pergi. Tapi kamu tenang saja, aku pasti datang nanti” Aku melepaskan
pelukannya. Mengganti air mataku dengan senyum untuknya. Tidak pernah lagi
kurasakan perasaan selega ini setelah mengatakan semuanya kepada kamu.
“Aku jahat sama kamu, El.. Mana bisa
aku biarkan kamu sakit lagi kalau aku melanjutkan pernikahanku dengan Loui”
“Jangan bodoh kamu! Dia sangat cinta
kamu, Max. Jangan kecewakan. Teman yang baik tidak akan egois menghancurkan
hari besar temannya, Max. Aku yakin kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi
kan? Aku engga apa-apa”
Aku memeluknya untuk terakhir kali.
Membiarkan air matanya turun bersamaan dengan air mataku yang kutahan untuk
turun. Aku memutuskan untuk menerima tawaran kantor untuk bekerja di luar
negeri setelah mengetahui Max akan menikah dengan wanita pilihannya.
Bertahun-tahun aku berusaha untuk menjadi pantas untuknya, namun sepertinya aku
terlambat. Aku terlalu lama menunda waktu dan ketakutan akan kemampuanku
sendiri. Dan aku harus menerima resikonya sekarang.
Aku turun dari mobil dan melambaikan
tanganku padanya. Setelah ia menikah nanti, aku berjanji takkan lagi
menemuinya. Kita akan melanjutkan hidup kita masing-masing dan menyimpan
kenangan hari ini sebagai kenangan masa lalu kelak.
***
Elora
Tidak ada komentar:
Posting Komentar