Rabu, 30 November 2016

Second Thought

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Aku senang menghabiskan waktu bergeming di hadapannya, menemaninya membentuk berbagai macam garis tak beraturan dengan pensil abu-abu tua miliknya. Melihat keningnya yang berkerut seiring dengan rambut-rambut halus yang melekat di sisi rahangnya dibiarkan tumbuh menjalar dengan liar. Sesekali kulihat tangannya membetulkan letak kacamata yang turun saat ia kehabisan ruang untuk menggores kertas. Di sanalah aku mengisi ruang diam dengan irama degup jantung yang berdetak cepat setiap detiknya tiap kali aroma black musk dari tubuhnya menyeruak menggoda hidungku. 

Pria ini monokrom dengan pensil sebagai pedoman hidupnya. Kami begitu berbeda. Aku hidup dengan corak dan warna beragam, berusaha menghindar dari bayang hitam dan putih sedangkan ia berkawan dengan imaji hitam putih yang dihasilkan lewat kamera digitalnya. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku bahwa hitam dan putih adalah pelangi baru baginya. 

Lima tahun aku berusaha masuk ke dalam dunianya, pria monokrom dengan jutaan cerita tentang dia. Ia berdiri menantang langit berani menghadapi berbagai macam kemungkinan yang terjadi setiap harinya. Sendiri seperti tak pernah mengenal lelah ataupun sepi. Dunianya terlihat sangat mudah dan tanpa cela. Hampir tak pernah aku melihatnya bermasalah, meskipun tak jarang beberapa masalah datang dan ia sama sekali bergeming. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku untuk ke sekian kalinya bahwa masalah bukanlah hal yang pantas untuk ditakutkan dan pasti bisa terselesaikan.

Sekali lagi aku tatap dalam dirinya, kali ini lebih lama dengan nanar.

Memastikan sekali lagi apakah sudah saatnya aku bebankan hidupku kepadanya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanya ini semakin sering menemaniku mengarsir garis, mendesain garis-garis tajam rangka gedung pencakar langit di tengah kota. Ia akan menyiapkan banyak cemilan dan tiga botol air putih memastikan agar aku tidak akan kekurangan minum selagi menggambar, kemudian dihempaskan tubuhnya di kursi kayu warna coklat tua di depanku, ia akan duduk tenang, terkadang sambil sesekali membuka ponsel, tanpa tanya, hanya melihatku lama terkadang sampai dirinya dibiarkan jatuh tertidur sembari menungguku selesai.

Perempuan sejuta tanya ini tak pernah gagal membuatku terkesima dengan semua yang ia lakukan. She loves to cure everything, she loves to fix people. Her life is dedicated for the others and the universe. Tujuan hidupnya tak pernah muluk, ia hanya ingin berbahagia dan membahagiakan orang lain di sekitarnya. Perempuan 24/7 ini selalu ada kapanpun orang-orang di dekatnya membutuhkan bantuan atau hanya sekedar ingin didengar olehnya. Aku ingin sekali selalu ada di dekatnya, berbagi hidupku dengannya, i want to fix her. Menjadi orang yang selalu ia cari kapanpun dan dimanapun saat tak ada orang lain yang bisa menjadi sandarannya ketika ia terjatuh.

Tatapannya kini semakin dalam merasuk seluruh tubuhku. Semakin liar memperhatikan setiap gerik yang aku lakukan, tiap arsiran pensil yang kugaris di kertas, terus menjalar hingga saat matanya bertemu dengan mataku dan kulihat bening itu menyeruak memaksa keluar.

Kini kulihat perempuan sejuta tanyaku menangis sendu.

***

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Kini ia semakin memasuki dunia tanpa batasnya, masuk ke dalam seperti tak pernah ada orang lain yang bisa menjamah dunianya. Aku suka dengan caranya menggores garis di kertas, bagaimana ia memainkan garis-garis itu menjadi satu gambar utuh. Aku suka tiap kali ia memperbaiki letak kacamata bingkai kayu warna coklat tua miliknya atau sesekali melirik jam tangan klasik di lengan kirinya, berharap waktu tak lagi bergerak agar aku tak kemalaman menunggu imajinya bekerja.

Pria monokromku adalah manusia peraih mimpi paling ulung yang pernah kukenal. Ia berhasil dengan mudah meyakinkan banyak orang bahwa semua hal adalah mungkin. Memaksaku terus masuk ke dalam hidupnya tanpa pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki hal yang salah tentangnya. He has nothing to change. Langkahnya selalu pasti seperti enggan meragu dalam hidupnya karena semua baginya adalah mungkin. Seolah ia bisa menghadapi dunia sendiri, tanpa perlu ada bantuan dari orang lain.

Perempuan sejuta tanya, begitu panggilnya untukku. Perempuan sejuta tanya yang dalam hitungan hari akan berbagi hidup dengan sang pria monokrom. Perempuan sejuta tanya dengan miliaran pertanyaan tak terjawab atas pria di hadapannya saat ini. Ia terlalu kokoh berdiri sendiri dan tak memberiku celah untuk turut andil dalam hidupnya.

Kutatap dirinya semakin dalam, lebih dalam dari sebelumnya.

Menelusuri sekali lagi ruang mana yang bisa kuisi agar bisa menjadi alasan besar baginya untuk selalu pulang kepadaku. Meyakinkan diri sendiri akan dirinya, apakah ia benar-benar membutuhkanku dalam hidupnya?

Apakah kami siap berbagi hidup bersama ketika hanya aku yang selalu bergantung padanya dan tak pernah ada hal yang bisa aku perbaiki darinya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanyaku terisak sendu di pelukan. Entah apa yang membuatnya terlihat tanpa daya, menatap mataku nanar seperti kehilangan arah. Isaknya semakin terdengar lemah seperti ada sesuatu yang tak pernah terungkap dan meledak detik ini, memaksa keluar lewat bening-bening air matanya. 

Apa yang salah, Namira? 

Ia tak pernah terlihat selemah ini, matanya sayu seperti terbeban banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia mempererat dekapku hingga bisa kurasakan detak jantungnya. Mencoba mencari posisi nyaman untuknya bersandar, memintaku halus untuk segera berhenti bekerja dan mengusap lembut rambutnya. Ia ingin senyap bersamaku, diam dalam peluk tanpa ada lagi jarak waktu dan ruang. 

Aku merasakan ada sesuatu yang mencekat tenggorokan seiring dengan dekapannya yang semakin erat. Matanya masih melolong menatapku penuh tanya.

Aku tahu ia meragu. 

Mengapa terasa begitu sakit melihatnya seperti ini? Aku selalu berperan sebagai pria paling kuatnya. Tanpa sakit dan lelah, menembus segala macam kemungkinan yang ada untuk meraih apa yang aku bisa. Menjawab semua pertanyaan yang ia miliki atas dunia dan menjadi tujuan pulang kemanapun ia pergi atau tersesat. Meyakinkannya sekuat tenaga bahwa aku bisa menjadi prianya yang selalu bisa diandalkan. 

Aku ingin membuatnya sadar bahwa tidak selalu ada hal yang harus ia perbaiki untuk bisa jadi seseorang yang berarti besar bagi orang lain. Bahwa ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk bisa membuatku seperti ini. Bahwa sebenarnya takkan pernah ada pria monokrom di dekapnya saat ini tanpa sejuta tanya darinya. 

Lalu, akankah masih ada ragu di hatinya saat ini dan nanti? 

Selasa, 01 November 2016

Rhyme of Soul

-Nusa-
The Loudest Sound

Tak pernah ada lagi kegiatan paling menyenangkan selain memandang wajahnya tenang, ditemani rintik hujan yang kian detik semakin menggaduh. Aku tahu kamu bernyanyi dalam hatimu, mendentangkan segala jenis melodi yang ada dalam tiap nada, menghiraukan segala jenis suara alam bahkan suara hatimu sendiri.

Aku ingin sekali menjadi senjamu, Delila. Memandangmu lebih dekat dan mendengarmu lebih dalam di antara riuh ombak. Saat kuluangkan sepersekian detik waktu paling berharga yang kumiliki untuk melihat kamu tersenyum menyapa senjamu lebih dekat. Menemani setiap jejak langkah kakimu yang tercetak jelas di atas pasir, menyusuri pantai bersama.

Atau mungkin kamu ingin kembali berlayar bersamaku?

---

Aku ingin sekali menjadi penamu, Delila.

One thing that you can’t live without, selain sang senja. Kamu berbicara banyak lewatnya, membiarkan kertas-kertas itu habis kamu jajah dengan tajamnya goresan pena. Kamu mendengarkan setiap bentuk suara lebih dalam dari tiap objek yang kamu lihat, mencoba berinteraksi dengannya, dan mempercayai bahwa semua hal pasti bercerita.

“Semua hal bercerita, punya mimpi. Dan caraku menggantungkan mimpi adalah dengan menulis”. Begitu katamu bercerita.

Kamu masih seperti Delila yang kukenal. Gadis dermaga pecinta pena dan senja, menulis surat untuk sahabat pena di kala senja, menitipkannya pada nelayan di pinggir pantai, dan menunggu balasan dari siapapun yang menerima suratmu di seberang lautan sana. Aku juga bisa melihat pena-pena yang dulu selalu kamu pakai masih tertengger rapi di sudut mejamu. Entahlah, apakah saat ini kamu masih sering mengirimkan berbagai macam surat kecil untuk sahabat penamu di seberang sana?

Apa kamu pun masih menyimpan semua surat balasan dariku, Delila?

---

Percayalah, aku tak pernah bosan menemanimu kemanapun kamu pergi, mendengar betapa hebatnya kekuatan suara hatimu diantara ribuan suara yang pernah aku dengar.

Ajari aku cara berkawan dengan rindu dan senyap, Delila.

Bagaimana berperang melawan amarah pada takdir seperti dirimu saat ini? Mendengar tanpa perlu mengusik dengan suara parau atau bernyanyi tanpa pernah takut suaramu terdengar sumbang. Kamu melihat lebih dalam dari mereka, mendengar lebih jelas dibanding mereka, bahkan bernyanyi lebih indah dalam hatimu dibandingkan mereka dibalik kebisuan. 

Aku ingin sekali bercerita banyak denganmu, Delila. Membalas banyak surat darimu dengan berbagai macam postcard dari tempat berbeda. Beradu dengan rentang waktu menunggu postcard ku terisi dengan balasan darimu, dengan cerita-cerita dari berbagai macam hal yang kamu lalui hari itu di dermaga.

Ah, senja bisakah datang lebih cepat? Aku tak sabar ingin membaca surat yang dikirimkan darinya hari ini.

---

-365 hari-

Bisakah sebentar saja kamu tinggalkan gurat muram itu di dalam kamar, Delila?

Sebentar saja, melengkungkan senyum itu pada dunia. Padaku juga. Berbicaralah sebanyak yang kamu mau dalam hati, setidaknya aku pasti akan berusaha mendengarnya. Kumohon jangan mendendam pada hujan senja ini, tak pernah ada yang salah dengan alam, Delila.

Aku tahu kamu berteriak sekeras yang kamu bisa saat ini, aku tahu kamu menggerutu pada langit yang menurunkan hujan sore ini, aku pun tahu kamu merindu sang laut hari ini dalam bisu. 

Sudahlah Delila, aku tak ingin melihat bening-bening itu menyeruak keluar dari matamu. Kumohon Delila, berhentilah berteriak.

Aku ada di sini Delila..

---

-Delila-
The Unreplied Letters

Aku berteriak sekencang yang aku bisa meskipun takkan pernah ada orang lain yang bisa mendengar, menggerutu pada langit yang tega mengirimkan hujan pada senja hari ini.  Ingin rasanya menantang takdir yang terjadi kalau saja aku bisa, menerjang hujan dan pasangnya air laut. Aku ingin sekali mengirimkan surat ini untukmu.

Suratku yang ke-365.

Bagaimana kabarmu di dasar sana, Nusa?

Kamu tahu? senja menjadi hal paling kusuka, saat aku bisa lebih dekat dengan lautan. Dekat dengan di dasar manapun kamu berada saat ini. Kunikmati tiap jengkal rotasi bumi dengan menyapa senja setiap hari, mencoba terus mengirimkan 365 surat tak berbalas untukmu. Bercerita banyak tentang apa yang kurasakan di sini tanpa kamu lagi.

Bisakah kamu mengirimkan satu saja balasan untukku, Nusa?

Apa yang kamu rasa sekarang? Berselimut dinginnya samudera, sendiri berkawan dengan pekatnya ruang di dasar sana. Apa kamu masih kuat berjuang?

Semoga surat-surat ini bisa menemanimu selagi doa kami yang terus mengalir bersama dengan lautan.

Bersabarlah, aku percaya regu penyelamat masih terus akan berusaha menemukanmu.


Cyn

Minggu, 02 Oktober 2016

Letters from the Sea of (he)Art

Have you ever been in war situation?  Berada di tengah-tengah antara si kuat ego dan si konsisten logika yang berperang memperebutkan satu tempat di sisi sang hati. Bertarung habis-habisan berusaha melawan segala macam keadaan hanya untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang paling bertahan dalam gelombang waktu. 

“Tenanglah sebentar”. Seenaknya kamu bicara kala itu di sela pertempuran. Menyita trilyunan detik yang kupunya, hanya untuk mencerna apa maksud dari perkataanmu. Apakah jika aku tenang, akan ada satu pemenang diantara keduanya? 

Kamu tidak pernah menjawabnya. 

***

8 Desember 2015  

 I’m flying for more than 2000 miles away only to write something valuable on this postcard.

... And this is the last postcard. 

Ada sesuatu yang menarik ketika harus mengisi setiap lembar postcard kosong dengan goresan pena yang berantakan. Sesuatu yang jujur, luas, dan berharga tertuang di sana. Aku punya tiga dan ini adalah postcard terakhir yang harus kuisi dengan cerita lain yang bisa kudapat di tempat asing. 

“Bawalah setiap kamu pergi ke luar kota atau ke luar negeri saat waktu libur tiba, isi dengan cerita pendek yang terinspirasi dari tiap perjalananmu. Kembalilah ke sini tahun depan, ceritakan padaku apa saja yang kamu tulis di sana”.

Setidaknya itu pesan yang disampaikan dari dia yang memberi postcard. Memaksaku untuk selalu membawa tiga buah kertas ini kemanapun aku pergi dan menuliskan sesuatu di atasnya. With a lil’ rules, 

“Kamu bisa tulis apa aja di sana, Biru. Yang penting pakai pena ya”. 

Tinggal berbulan-bulan di tengah laut lepas, menghitung berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi dalam setiap inci pengeboran yang kami lakukan saja sudah menyita waktu setiap harinya, belum lagi waktu liburan sudah pasti habis untuk bersenang-senang, dan dia seenaknya saja menambah pekerjaanku. Aku bukan seorang penulis, ini bukan satu-satunya alasan kenapa aku ingin menolak permintaannya saat itu. Bukan hanya karena aku juga tidak bisa membuat rangkaian kata yang indah, tulisan penaku yang jelek, tapi juga kalau sudah ada orang yang bisa aku perintah untuk menulis untukku, kenapa harus aku yang melakukan? There should be a reason why God created a specific role in life, to be a writer and a reader. Me? Of course i’m in the reader side.

  Setidaknya paragraf tadi adalah pemikiranku sebelum postcard itu berhasil mengusik jari jemari ini untuk menulis sesuatu di atasnya pertama kali. 

***

24 Februari 2014

Aku selalu menyukai seni. Apapun bentuknya, entah dikemas dalam sebuah lukisan, lagu, tarian, tulisan, ataupun pementasan teater. Lewat sebuah karya seni, mereka bebas berekspresi tanpa peduli bagaimana orang lain akan menilai. Lewat karya seni, idealisme menjadi identitas mutlak sang kreator. Dan mungkin karena seni begitu sarat dengan idelisme kreatif, hal ini menjadi sesuatu yang paling kusuka.

“Cerita itu nyawa dari segala bentuk seni, Biru. Ada beragam bentuk emosi yang hadir dari setiap cerita dan terus mengganda menjadi berjuta-juta ketika seni itu dilahirkan”.

Perspektifnya akan seni hanya berputar pada sebuah cerita. Baginya, cerita adalah hal terpenting dalam sebuah seni, while i’m more focusing on the result. Aku ingin sekali membantahnya, karena aku tidak pernah memikirkan apa yang seorang Affandi pikirkan ketika ia melukis, atau apakah seorang Dee Lestari sangat menyukai perahu yang terbuat dari origami pada saat ia sedang menulis novel Perahu Kertas? Karena bagiku, bagaimana aku melihat dan menikmati seni tersebut jauh lebih penting. 

  “Seni itu ada di mana-mana, Biru. Aku melihat setiap manusia adalah sebuah karya seni milik Tuhan yang paling indah. Kamu tahu? Mereka masing-masing punya pengalaman dan jutaan cerita yang unik. Mereka adalah seni. Kamupun”. 

 Matanya berbinar saat membicarakan seni dari sudut pandangnya. Tangannya bergerak mengikuti intonasi dan merepresentasikan tiap kata yang ia ucap. Aku gatal sekali untuk bertanya, 

 “Tapi masa lalu kadang menjejak terlalu sakit untuk sebagian besar orang. Beberapa dari mereka bahkan diam dan tidak ada yang mau mengungkitnya kembali. Lantas darimana ia bisa bercerita?”  

   Aku ingin sekali melihatnya terdiam kalah. 

“Kalau begitu, bagian dari diamnya adalah sebuah cerita. Setiap cerita tidak perlu menjadi satu momok besar yang harus diceritakan, Biru. Terkadang kamu bisa menyimpannya untuk belajar suatu saat. Atau, ceritamu mungkin bisa dipelajari oleh orang lain. Jangan terlalu kakulah hehehe”. 

Dia menjawab pertanyaanku dengan cepat dan mengunci bibirku telak. Tidak ada yang bisa dibantah lagi, meskipun logika ini masih belum bisa terima dan mengikuti alur dari permainan kata-kata yang diucapnya. 

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita. Cobalah sesekali, Biru”. 

Poni rambutnya bergerak disapa angin ketika ia tersenyum seraya pamit masuk kembali ke dalam teater untuk berlatih dengan anak-anak panggung untuk mendongeng di pementasan selanjutnya. Kala itu adalah minggu ke dua sejak aku di Jogja dan menonton pementasan teater Nusa, sekaligus kali kedua aku harus mengasah habis perspektifku dengan berbicara dengannya, sang pendongeng di atas panggung yang selalu percaya dengan cerita setiap manusia. 

Dan perdebatan tersebut menjadi tidak pernah begitu berarti setelah aku berhasil menorehkan goresan pena pada lembar postcard pertama yang ia berikan padaku. Tiga lembar postcard itu selalu tersimpan rapi di dalam lembar terakhir notes yang biasa aku bawa. Tidak pernah ada yang tahu, bahkan akupun enggan menyentuhnya. Tidak pernah ada niatku untuk mengikuti apa yang diminta sang pendongeng. 

Sampai dengan saat kali pertama itu muncul.

                                                                    ***

15 Januari 2015

Setiap libur kerja selepas bekerja di offshore rig adalah waktu paling berharga yang kupunya. Setelah berbulan-bulan memasrahkan segala macam takdir pada debur ombak dan tekanan angin di tengah laut, kami diberikan waktu bebas untuk berlibur sebelum kembali ke tengah laut. Aku menghabiskan seminggu terakhir aku berlibur di Singapore, mengunjungi teman lama. Di ujung koridor jalan Bugis, kulihat beberapa orang berkerumun masuk ke dalam sebuah ruang pameran seni lukis. Karyanya aku yakin ada lebih dari seratus buah yang dipajang di sana dengan berbagai macam goresan warna di kanvas. Not so high class art, tapi aku bisa melihat semua karyanya adalah masterpiece. Semua orang terlihat memuji karya sang pelukis, tidak terkecuali seorang anak kecil yang membawa lembaran newspaper di tangannya. Ia mengintip di balik bilik jendela, dan kalau aku tidak salah melihat, ia membawa sebuah kanvas dan disimpannya di dalam saku celana pendek lusuh miliknya. Kakinya tak ia biarkan melengang masuk ke dalam, entah mengapa. Mengunci tubuhnya kaku di balik jendela mengagum lukisan dari kejauhan. 

Aku bisa saja pergi dan tak mengindahkan lelaki kecil itu, kalau tidak ada pikiranku untuk menulis postcard pada saat itu. Waktuku sedikit luang, and i think maybe this is the right moment to be written. Aku memperhatikan gerak-gerik sang anak yang tidak lama kemudian melengos pergi meninggalkan galeri sebelum sempat aku bertanya. Which means, i lose his story.

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita”.


Sulit sekali memang mengakui bahwa apa yang dikatakannya benar dan bisa dilakukan, bahwa mungkin memang anak itu tidak bisa menceritakan apa dan kenapa ia berada di sana mengagum dari kejauhan, tapi aku bisa.

***

24 Februari 2016

Sinar dari lampu sorot di tengah teater menjurus ke segala arah, memastikan edaran warnanya silih berganti menerangi tiap sudut podium. Senada dengan mereka yang berlenggok di atas panggung seperti tanpa canggung memberikan aksi pada tiap pasang mata yang menontonnya. Begitu juga dengan musik orkestra sederhana yang menambah energi dari pertunjukkan. Dawainya sempurna mengiringi langkah kaki anak-anak itu di panggung. 

Panggung itu menyala.

Tapi tak pernah seterang saat dia ada di sana. 

Pertunjukkan telah usai saat ini ketika kusadar hampir sebagian dari penonton riuh bertepuk tangan memuji keelokan dari tiap gerakan dan cerita pertunjukkan teater hari ini. Semua bergegas beranjak dari kursi penonton, berhambur keluar teater hingga menyisakan aku dan seorang di kursi penonton paling depan. 

“Mas Biru, bukan? Lama sekali baru datang kemari lagi”. Sena, pelatih tari kebanggan teater Nusa selama bertahun lamanya. Ia dedikasikan hampir setengah dari usianya untuk melatih tari di teater. 

“Panjang ceritanya Mas Sen. Selamat ya teaternya bagus sekali hari ini”. Aku duduk di sampingnya, melihat beberapa kru mulai membersihkan panggung dari segala jenis properti di atasnya. Beberapa penari menghampiri Sena, memeluknya dan menyalaminya. 

“Cari Ruby mas?”. Iya, pertanyaannya lebih terdengar seperti tebakan di telingaku. 

Tebakan yang tepat sasaran 100%.

“Ruby sudah tidak mendongeng di sini, Mas. Terakhir, dia bilang mau lanjut kuliah master biar makin pinter, bisa bikin dongeng sendiri. Hebat sekali dia itu”. Mas Sena masih melanjutkan bercerita tentang Ruby yang hebat, Ruby yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, belajar sastra tinggi-tinggi untuk kembali ke dunia teater. Dan semakin banyak cerita tentang Ruby yang kudengar, semakin aku ingin menemuinya saat ini. Karena Rubylah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku setahun belakangan. Ia merusak segala bentuk dogma yang sudah mendarah daging bertahun-tahun di otak, merobek dinding batas ego seorang Biru, hanya dengan tiga buah kertas lemah, usang, dan tanpa makna yang ada di tanganku saat ini. 

Betapa lancangnya kamu, Ruby. 

***

            I already flew a thousand miles away and the last postcard is still blank. Banyak sekali orang baru yang kukenal atau hal-hal baru yang kuketahui sepanjang perjalanan. Jutaan cerita bisa kutulis, namun tak ada satupun yang begitu menjejak, atau mungkin aku yang belum bisa menuliskan satupun dari sekian banyak cerita yang aku lalui. Aku menghabiskan masa berlibur dari satu kota ke kota lainnya, dari Asia hingga Eropa dan nihil. Postcard ketiga masih saja kosong dan tak bisa kuisi.

            Seperti candu, postcard pertama yang kuisi membuatku ingin menulis sesuatu di postcard lainnya. Lewatnya, aku mengenal banyak sekali sisi lain dari dunia yang biasa kulihat sebelumnya, memaksaku berpikir behind the scene of every event in life. Bagaimana mengambil intisari dari setiap objek dan menuangkannya dalam bentuk cerita versiku. Tidak hanya itu, dengan aku harus menulis sesuatu di atasnya, setiap objek dan kejadian sangat berarti untukku. Dan postcard-postcard ini dengan lancang memintaku untuk bisa lebih peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Aku melihat seni dari sisi yang berbeda dari sebelumnya,

            And those kind of behavior are not so me before. It turns out to be something miraculous, a better Biru. 

            Aku kembali ke Jogja untuk menemui Ruby. Mengiyakan semua perkataannya yang dulu ingin sekali aku bantah karena egoku yang selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Sesuai dengan permintaannya, aku ingin mengembalikan semua postcard yang diberikan dan menceritakan cerita yang kupunya di tiap postcard. Aku sudah terlambat satu tahun dari permintaannya, karena ternyata butuh dua tahun untuk mengisi dua postcard, dan dia seharusnya bangga karena aku tidak hanya datang membawa postcardnya, tapi juga lewat postcard-postcard ini ia mampu mengubah pola pikir seorang Biru. 

            “Mas Sena tahu kapan Ruby pulang?”. Aku menghampiri Sena yang sedang duduk di pendopo kayu besar dekat dengan kolam ikan mas koki milik teater Nusa. Ia menoleh kepadaku, 

            “Ndak tahu mas Biru. Mungkin dua tahun lagi, setelah Ruby lulus”.

            Bukan itu jawaban yang aku ingin dengar. Aku ingin sekali menemuinya sekali lagi dan berterima kasih atas semua bantuan yang diberikan Ruby untuk diriku lewat postcard ini. Sena hanya meninggalkan email Ruby padaku, katanya sebelum Ruby pergi ia meninggalkan alamat email kepada Sena agar anak-anak teater masih bisa berkomunikasi dengannya lewat email. 

***

To        : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!
Aku kembali ke Jogja untuk mengembalikan postcardmu dan ingin menceritakan semuanya. Sayang sekali Mas Sena bilang kamu sudah tidak lagi mendongeng di teater Nusa ya Ruby? Boleh aku tahu di mana kamu sekarang? 
These three postcards are want to talk to their owner, Ruby.
Let’s meet up. 
Biru. 
***

23 Maret 2018

            Entah sudah berapa milyar cerita yang Ruby punya saat ini. Mungkin ia sudah bisa berdongeng di kota tempat ia melanjutkan studi atau mungkin Ruby sudah kembali ke Jogja dan kembali mendongeng di teater Nusa. Tidak pernah ada lagi balasan dari Ruby semenjak email pertama yang aku kirimkan untuknya. 

            Dan Biru kembali dengan hari-hari tanpa lintasan waktu di offshore rig, menekan perut bumi di dasar laut, bertempur dengan jutaan liter minyak. 

            Tapi, kali ini sibukku bukan hanya untuk kepentingan bisnis dan segala macam bentuk mesin yang ada di offshore rig ini. Sibukku lebih berarti dengan berbagai macam cerita yang kudengar dari para engineer yang bekerja, dari deru ombak yang menghempas, dan dari banyak macam objek yang kutemui setiap harinya.

            Aku baru saja kembali ke dermaga untuk bertemu dengan beberapa shareholder pengeboran ini, dan hal yang paling kusuka dari dermaga adalah adanya jaringan internet yang bisa diakses. Kemudian satu pop-up email muncul.

From    : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!

Hi Biru, lama sekali tidak bertemu! Email ini lama tidak kugunakan dan baru kali ini kubuka :(
Can’t wait to hear your stories, buddy. I’m in Toronto, waiting for my (finally) master graduation. Pertengahan tahun ini aku akan pulang ke Jogja. Let’s meet up soonest.

Ruby.

       Akhirnya postcard-postcard ini akan segera bertemu dengan pemilik sesungguhnya, dengan milyaran cerita lain yang bisa dituliskan kembali di lain waktu. Postcard terakhir sudah berhasil kuisi tepat setelah aku membalas email Ruby. Kali ini aku tahu, dari postcard terakhir yang tersisa aku belajar bahwa ternyata aku masih sering melupakan diriku sendiri. Mencari hingga ribuan miles sesuatu yang memuaskan hatiku, tanpa pernah sadar dan peka bahwa sesungguhnya apa yang aku cari ada di dalam diriku sendiri. Bahwa ternyata cerita untuk postcard terakhir adalah cerita tentang apa yang kusadari selama ini lewat postcard-postcard Ruby. 

            Cerita tentang gemuruh perang yang terjadi antara logika dan ego,
            Tentang betapa sulitnya mengalah dan mendengarkan orang lain. 
            Tentang perubahan besar yang ternyata bisa dilakukan hanya dengan memulai hal kecil.
            Tentang Biru. 



Rabu, 06 Juli 2016

I'm That Friend

Hey! I won't make a common birthday greeting like common people give to you (you know who i am, kan? ;) 

This is a thankful post. Full of grateful, love from beloved friend, also hopes.

When you open this post, you are truly blessed by Allah, surrounded by love from people around you love most in life. For 22 years of yours.

Here you are. Standing by yourself, supported by your family, your beloved friends. 

Thank you, 
For being my twin in every way. The way we think, way we take a look for any situation, and many more. 

Thank you, 
For being one of my beloved friends that always be there when times get hard, and make me laugh when i didn't want to smile.

Thank you, 
For always stick around no matter how hard, how shit, how hard i am. 

Thank you, 
For always taking care and understanding me enough. 

Thank you
For never asking for reasons or explanations when all i wanted was a long hug and a few laughs. 

Thank you, 
For being one of reason i live. I live for happiness, and i found it on our friendshi(t)p :p

Thank you, 
For helping me find out who i really am. 

Thank you, 
For always be my VIP-Premier-first editor to my drafts. Thanks for all of your kind of support for me Bel. For making me believe on my draft, my passion.. 

Happy 22th Birthday! 

Happy birthday to the lifetime friend who brightens my day all the time, i hope that our friendship continues to burn brighter than a thousand suns. Just stay, don't ever change.

Because, 

I'm that friend. 
Whether it's late at night or early morning, you'll always have me. 
I'm not the greatest, not most talented, or have the most things..
but i'll be there,
untill you find someone who can do more for you. 

That's who i am. 
The lifetime friend that's always there until something better comes along. 

Cil.

Senin, 04 Juli 2016

Kala Pinus Meranggas


Seharusnya aku tidak di sini.

Ratusan kali kalimat penyesalan itu berputar seolah menertawakan keberadaanku di sini. Sudah satu jam aku duduk di tengah-tengah mereka yang masih asik melempar joke demi joke dari yang mampu mengocok perut hingga sakit, sampai ke joke yang terdengar begitu fail dan saking failnya berhasil mengocok perut juga. Sebagian besar makanan kami sudah habis, meskipun ada satu dua orang yang masih sibuk menghabiskan makanannya karena jeda joke tadi.

“Kenapa diam saja, Kal?”. Sial, ternyata masih ada saja yang menyadari keberadaanku padahal sedari tadi aku sudah sebisa mungkin bersembunyi dari ramai.

Bercandalah sekeras yang kalian bisa, teruslah sibuk dengan obrolan-obrolan kacang pengocok perut itu, biar aku tenggelam sendiri di sini.

Terdengar nyinyir ya? Aku memang sedang tidak mood untuk berada di lingkungan ini. Bukan dengan mereka, tapi dengan seseorang yang berjanji akan datang menyusul ke sini menemui kami.

“Everything will be fine, Kal” bisik Arin. Perempuan yang mengaku sebagai sahabat dekatku, tinggal di apartemen dan di kamar yang sama denganku, jelas tahu alasan dari diamnya seorang Kala hari ini.

“I should go now, Rin. Mumpung orangnya belum datang” Aku baru saja membereskan isi tasku dan bergegas berdiri untuk pamit tepat lima detik sebelum mereka mulai ribut lagi menyambut seseorang yang baru datang dengan langkah tergesa.

“Pinus long time no see!”
***

“Mau kopi panas?” Seseorang menghampiriku sambil menyodorkan segelas penuh kopi panas dengan uap yang masih mengudara. Tubuhnya tinggi, tegap, dengan wangi segar perfume dari tubuhnya. Aku segera menyeka air mata dan mempersilahkannya duduk.

“Terima kasih”.

Ia hanya mengangguk dan mengeluarkan sapu tangan warna biru dongker. “Pakai ini, biar engga jadi jelek mukanya karena air mata”. Ujarnya. Kedengarannya gombal, tapi percayalah ia mengatakannya dengan tatapan serius seolah aku benar-benar jadi wanita paling jelek yang pernah ditemuinya malam itu. Sejurus kemudian ia duduk di kursi kosong di hadapanku dan kini aku bisa lihat dengan jelas siapa stranger yang menyebutku jelek malam ini.

Kacamata kotak berbingkai kayu berwarna coklat tua, jam tangan silver di sebelah kanan lengannya, juga kemeja yang digulung rapi hingga ke siku. Mungkin salah satu pegawai kantoran di kota yang mampir menyeruput kopi di Dago.

“Agas”. Tatapannya masih sama seperti saat ia menawarkan kopi panas lima menit tadi. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti tak perlu tahu namaku siapa. Kemudian langsung sibuk dengan layar laptop di hadapannya, jari jemarinya lincah menari di atas keyboard. Dahinya berkerut, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.

Aku selalu suka suasana yang ada di kedai kopi ini. Senyuman pegawainya setiap kali ada pengunjung yang datang, aroma kopi yang semerbak tidak pernah hilang dari detik pertama aku datang sampai aku beranjak pulang. Atau suara mesin giling kopi tua yang berada di pojok kitchen. Perpaduan semuanya seolah menghasilkan harmoni, selaras dengan perdebatan yang terjadi antara hangatnya kopi dan rintik hujan di luar kedai.

“Lembur?”. Hanya itu kalimat yang aku tanyakan padanya. Suaraku yang parau melebur bersamaan dengan uap-uap panas kopi yang ada di genggaman.

“Engga, lagi cari tiket kereta api nih”. Jawabnya. “Aku mesti pulang ke Jakarta subuh ini, ada meeting jam 8 pagi”. Jawabnya.

Ternyata Jakartans.

 “Kamu masih betah di sini?” Ia kembali bertanya, kali ini diiringi dengan suara laptop yang berhasil di shut down.

“Ini mau pulang. Sekalian kuantar ke stasiun saja, rumahku searah ke sana kok”. Yang diajak bicara hanya mengangguk, kemudian menyeruput sisa kopi di cangkirnya.

Sudah hampir jam empat subuh namun pria ini masih terlihat produktif. Tidak ada cekungan atau hitam di tepi matanya. Ia memutuskan untuk duduk di kursi kemudi sambil sesekali mengajakku bicara.

“Aku belum tahu namamu siapa” . Akhirnya ia bertanya setelah pertemuan kami masuk ke jam ke dua sejak pertama kali bertemu.

“Kala”.

Kami tidak banyak berbicara, bahkan setelah aku menyebutkan namaku. Ia bergegas keluar mobil, mengucapkan terima kasih, dan melambaikan tangan salam perpisahan denganku. Satu kalimat yang kuingat dari pertemuan terakhir tadi hanya,

“Semoga bisa bertemu lagi kala di lain waktu, tapi janji tanpa harus aku pinjamkan sapu tangan ya”.

***

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Begitu kesan orang-orang di sekitar yang mengenalku dan Pinus. Pinus, laki-laki yang selalu mengusikku 24 jam penuh selama tujuh tahun lamanya hanya untuk mendengar semua ceritanya yang tidak pernah habis. Tujuh tahun menjadi orang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan, orang pertama yang mengetahui semua rahasia besar Pinus. Terdengarnya manis memang, tapi percayalah bahwa kenyataannya mungkin Kala lebih terlihat sebagai asisten Pinus dibandingkan sahabat dekatnya.

Itu dulu. Dahulu kala jauh sebelum semuanya berubah total.

“Kal, masih Pinus?!” Nada Arin tinggi menuntut jawaban Kala saat ia mendapati perempuan bodoh itu masih saja menatap kosong layar ponsel yang berisi chat terakhirnya dengan Pinus.

“Aku engga ngerti lagi deh Tuhan harus nampar kamu dengan kenyataan apa lagi biar kamu paham?! Udahlah Kal.. get dressed! Have fun, kalo gini terus pasti singlenya makin lama”.

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Persetan dengan premis ini. Karena nyatanya saat ini tak ada Kala, Pinus tidak apa-apa. Tidak ada Kala, Pinus bahagia, tanpa Kala mungkin Pinus bisa bernafas lebih lega, tanpa Kala mungkin Pinus bisa lebih mandiri, tanpa Kala pasti Pinus masih bisa menemukan teman terbaiknya di luar sana.

Karena eksistensi Kala selama ini terlihat semu dan palsu baginya.  

Karena  sebenarnya Kala dan seluruh cintanya adalah beban perasaan seribu ton bagi Pinus.


***

Kala rutin datang ke kedai kopi ini, berharap seluruh cintanya melebur bersama dengan uap-uap panas kopi yang menjadi satu dengan dinginnya ruangan, bergempur dengan hangatnya senyum orang-orang sekitar. Di sini ia menyatu dengan imajinasi, dituangkan dalam setiap garis dalam kanvas digitalnya, kadang ditemani Arin, kolega kantornya, dulu bersama Pinus namun sekarang lebih banyak ia habiskan sendiri. Setelah semua berubah.

“Boleh duduk di sini?” Dia lagi. Laki-laki asing yang pertama kali dikenalnya lewat panas kopi yang menguap tempo lalu. Pria asing yang melihatnya terisak sendu, menawarkan saputangan, menemaninya tanpa beban.. bahkan tanpa pernah bertanya kenapa ia menangis saat itu.

“Keluarga kamu di Bandung?”  Aku membuka pembicaraan.

“Engga Kal, aku suka ke sini setiap weekend atau kalau lagi penat di kantor. Nyoba banyak macam kuliner dan kedai kopi dari yang masih tradisional sampai modern. Stay di satu boutique hotel ke boutique hotel lainnya”. Kali ini ia bicara tanpa terhalang oleh layar laptopnya, hanya ada Agas, Kala, dan suara mesin giling kopi milik kedai.

“Aku jatuh cinta dengan kota ini. Tiap sudutnya punya magis sendiri yang buat banyak orang selalu mau kembali, termasuk aku. Alamnya, kulinernya, tempat wisata, bangunan-bangunannya, orang-orangnya.. somehow i feel like this place is my second home” lanjutnya.

“Kamu selalu ke kedai ini setiap weekend?” ia kembali bertanya.

“Iya, aku lebih suka membuat sketsa di luar rumah dan aroma kopi selalu berhasil membangkitkan mood dan imajinasi. And well, this mini place has its own coffee’s scent. It dominates me enough.. buat jadi pelanggan setia kedai ini”.

Ia menyeruput Americano di genggamannya. Sesekali matanya melirik pada tablet milikku yang masih berisi garis-garis tak beraturan. “Desain gaun ini belum selesai, aku masih mencari inspirasi untuk menggambar”. Aku berusaha menebak apa yang ia ingin tanyakan setelah mencuri pandang garis-garis antah berantah tak beraturan ini. Tanganku refleks menutup tablet dan segera memasukkannya ke dalam tas sebelum tangannya menyergah secara cepat.

“Tunggu! Aku boleh lihat?” Tangannya bergerak cepat menahan gerakanku. Aku berusaha menahannya namun tatapan itu seperti memohon melihat lebih lanjut si garis-garis itu.

Dan kini garis-garis tak beraturan itu dengan lancang memperlihatkan dirinya kepada orang lain selain aku.

Ia seperti masuk ke dalam tiap dimensi garis yang kubuat, menelusuri dan menatap tiap goresan lekat-lekat, sambil sesekali jarinya menyapu layar ke arah kiri melihat garis-garis lain tanpa memberi aku celah untuk menyelamatkan kembali garis-garis itu dari matanya.

Dan kini jemarinya berhenti pada garisan yang kuberi nama Pinus_Tux_Future.

“Aku engga ngerti kenapa kamu takut banget aku lihat karya-karya kamu. Kenapa?” Matanya masih terus melihat setiap jengkal garis yang ada pada karya Tux untuk Pinus itu.

“Hmm, aku memang jarang kasih lihat karya-karya ini ke orang lain sebelum semuanya selesai dan sesuai dengan ekspektasi. Ini hanya hobi, Gas. Engga aku seriusin.” Semakin fokus matanya menelanjangi setiap garis itu, semakin aku ingin segera merebut tablet di tangannya, menutup, dan menyimpannya di dalam tasku rapat. Asal kamu tahu, bahkan aku tidak pernah terpikir untuk menyebut garis-garis itu sebagai sebuah karya, Gas.

“Karya sebagus ini mau kamu sembunyiin sampe kapan Kal? Sakit kamu..” Ia akhirnya menyerahkan tablet itu kepadaku. Layarnya masih freeze pada si Pinus_Tux_Future. “Siapapun orang yang kamu bayangkan saat gambar ini, he’s the precious one. Aku berani bertaruh”.

Totally. He’s irreplaceable Gas.

“Besok aku mau coba kedai kopi baru di Tahura. Outdoor tempatnya, kamu bisa gambar di sana sepuasnya sambil ngobrol banyak. Kalau tidak hujan..” Kalau aku tidak salah mengartikan, kalimatnya tadi terdengar seperti ajakan. “Aku bisa besok..”. Ajakan atau bukan, aku bertekad untuk datang ke tempat itu.

***

“Aku tahu ini lancang, tapi i know this feeling must be finished as soon as possible, Nus. Kita berteman cukup lama dan aku engga mungkin terus-terusan punya rasa lebih ke kamu. I really want to see you happy, tanpa pernah lagi ada rasa lain selain itu”.

Jutaan emosi, harapan, doa yang terpendam untuk Pinus menyeruak jadi satu dan tumpah hari ini, detik ini. Kotak pandora itu sudah terbuka dan Kala tahu takkan pernah ada jalan lagi untuk menutupnya. Ia harus menuntaskannya hari ini.

“Kal.. you must be kidding. I’m totally jerk, and you’re the one who knows it very well, Kal! Atau selama ini kamu juga seperti mereka yang pura-pura jadi temen aku? Selama ini kita engga akan pernah jadi teman kalau kamu engga punya rasa lebih sama aku?”. Pinus meracau sejadinya dan kata-katanya tajam menusuk segala jenis perisai yang Kala punya. Bukan hal tersebut yang Kala prediksi akan keluar dari pikiran Pinus tentang dirinya. Bahkan tak pernah ada di benak Kala untuk berpura-pura dan memanfaatkan pertemanan mereka hanya untuk kepentingan perasaan semata, Kala mencintai Pinus sebagaimana adanya Pinus. Pinus dengan segala bentuk keteledorannya, keegoisannya, kekanak-kanakannya, Pinus yang punya banyak musuh, cuek, dan berbagai macam hal lain yang kalau terus disebutkan Kala sendiri tidak tahu bagian mana yang bisa menjadi alasan kuat ia mencinta sang Pinus.

Everyone has their own pride rules, dan memilih untuk jujur pada apa yang dirasakan dan mengungkapkannya kepada Pinus adalah keputusan besar yang melanggar segala macam bentuk gengsi dan ragu yang Kala punya.

If i win today, i will win much. If i lose, i will lose everything.

“You’re having me as your best buddy since first, Pinus. Aku engga mungkin punya pikiran seburuk itu. This thing is naturally happen, i just can’t resist..” Bibirku berusaha menjelaskan namun mataku sepertinya lebih bisa berkata sejujurnya lewat bening yang tak lagi mampu kutahan. Pinus menatapku lemah, tangannya mengepal keras di setir, seolah masih tak bisa percaya dengan apa yang kukatakan sejak awal.

“You really make me feel like i’m totally jerk like hell, Kal..”. Kulihat ada lelah dan bening yang ikut mengalir di pipinya. Mungkin ia gagal percaya dengan semua yang aku lakukan selama ini. Kala satu-satunya teman yang Pinus percaya atas semua yang ia lakukan. Dan Kala lakukan itu hanya karena Kala mencinta Pinus. Well, semua orang memang pasti akan lakukan apapun untuk terus berada di dekat orang yang dicintanya bukan?

Termasuk pura-pura tulus berteman.

Mungkin itu yang ada di otak Pinus sekarang.

And i’m losing him right now.

***

Kedai kopi ini letaknya di outdoor berbatasan langsung dengan alam di Tahura. Indah memang, setiap sudutnya bisa jadi spot yang bisa mempercantik feed Instagram. Yang unik di sini, aku suka cara barista meracik kopi dan membiarkan aromanya berbaur dengan angin yang tak sengaja lewat. Meskipun rasanya tidak seenak kopi buatan kedai kopi yang biasa kudatangi sebelumnya.

“Sejak kapan suka desain, Kal?” Lama Agas membiarkan aku menorehkan banyak garis di bidang kosong itu. Mungkin sekitar 30 menit sebelum ia akhirnya membuka pembicaraan.

“Sejak SD. Aku suka bagaimana ibu memadupadankan kebayanya, dress formalnya, menjadi satu kesatuan yang indah. Sejak itu coba-coba desain dan sampe sekarang. Tapi ya.. Cuma sebatas hobi aja engga pernah aku seriusin, Gas”.

“You should try, Kal. Aku yakin kamu akan lebih puas begitu desain kamu bisa di convert jadi nyata. Pilih bahan-bahan yang emang sesuai dan bikin desain kamu terlihat indah.. Mau coba?”

Aku belum pernah coba untuk bisnis desain sebelumnya, kepikiranpun tidak. Semua imajinasi ini hanya berakhir pada garis-garis yang kadang terlihat beraturan kadang tidak. Keluargaku lebih memilih menyekolahkan aku di jurusan yang memang lebih terdengar menjanjikan di telinga mereka, hukum. Dan yang tahu garis-garis ini hanya Arin dan Pinus. Dan tak ada satupun dari mereka yang pernah mengulik lebih dalam apa yang kulakukan. Tidak ada kecuali stranger yang lancang memaksa aku memperlihatkan semua garis itu.

Agas mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, “Aku punya kenalan tukang jahit apik di Jakarta. Udah renta sih tapi hasilnya oke kok. Atau kamu mau coba cari di Bandung aja?” Ia memperlihatkan foto nenek-nenek renta dan toko jahitnya. Gambarnya hitam putih namun seperti hidup dan berbicara banyak.

“Aku mau kenal beliau, Gas” Aku tersenyum mengagumi fotonya.

“Gas, kamu fotografer?”

Aku bertanya saat dia mulai menyapu layar kameranya ke arah kiri. Semuanya hitam putih.

“Hanya hobi Kal, sekaligus side job. Aku ini banker tapi suka sekali dengan fotografi. Aku suka pergi ke banyak tempat untuk hunting gambar. Awalnya seperti kamu, hanya jadikan ini hobi. Kemudian ada beberapa teman yang dukung dan minta aku untuk bantu foto banyak acara”.

Dia banker dan profesi itu sama sekali tidak pernah ada di tebakanku sebelumnya. Penampilan dan tingkahnya seperti pegawai kantor casual seperti reporter atau fotografer. Kulihat ia mulai berdiri dan memotret beberapa spot di kedai. Gerakannya tegas, matanya seperti bisa menangkap setiap sudut yang sekiranya bisa terlihat bagus di kamera. Beberapa kali aku juga pura-pura tidak sadar ketika ia berusaha mengambil gambarku yang sedang mendesain.

His camera is like his soul. it lives up the whole of him. “Kamu mau coba foto?” Kemudian ia sodorkan kamera itu kepadaku. Aku mulai mencoba kameranya, jiwanya. Dan memang benar, semua orang pasti bisa memotret, tapi hanya sebagian yang bisa menjadikan semua objek terlihat artistik.

“Kal, engga perlu ragu sama apa yang kamu suka. Bahkan kamu bisa ajak orang lain untuk nikmatin juga.” Bisiknya tepat di telingaku saat tangannya sibuk mengajari cara memotret dengan benar.

“Kamu tuh cuma perlu percaya dan sedikit dukungan dari orang lain..”

***

“Apa kabar Kal?” Apa kabar jadi pertanyaan paling dasar yang menjembatani segala bentuk kesenjangan status, waktu, dan perasaan yang membentang di antara kami. Pertanyaan basa basi yang kini terdengar penting, akhirnya terdengar setelah sekian lama aku tak pernah lagi mendengar suaranya.

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Pinus ada di sebelah Kala sekarang, berjarak hanya tiga jengkal tangan. Tidak ada yang berani beradu mata, padahal dulu kalau ada acara seperti ini pasti mereka akan berangkat bersama, telatpun bersama.

“Aku baik. Kamu gimana?” Sudah bisa ditebak pertanyaan selanjutnya pasti sekitar pekerjaan, kenapa telat, cuaca, dan ditutup dengan geming.

“Berantakan Kal. Engga ada yang marahin aku kalau malas-malasan kerja hehehe”.

Bukan jawaban itu yang ada di ekspektasi Kala sebelumnya. Baik, sempurna, atau jawaban lain yang menunjukkan dia memang baik-baik saja tanpa Kala. Kala hanya membalasnya dengan senyum getir dan memutuskan lebih banyak berinteraksi dengan Arin dan teman-teman yang lain. Sedangkan Pinus sibuk menghabiskan makanan dan sibuk dengan ponselnya yang terus berdering setiap 15 menit sekali.

Aku harus bersyukur karena acara selesai cepat dan bisa segera pulang. Kalau saja Pinus tahu bertahan dalam keadaan seperti ini dengan jarak yang hanya tiga jengkal tangan dengannya jauh lebih sulit dibandingkan pura-pura tulus berteman dengannya. Yang bahkan sama sekali tak pernah dilakukan Kala.

“Aku antar pulang, Kal” Pinus menarik tanganku cepat saat aku dan Arin melangkah menuju basement. Arin melihatku lama mengisyaratkan aku agar tetap pulang bersamanya.

“I’ll go with Pinus, Rin. Take care”.

Lima belas menit pertama hanya ada lagu di radio yang jadi penyelamat di dalam mobil. Aku masih belum berani menatap Pinus yang begitu fokus dengan setirnya. Dahinya berkerut lama, dan biasanya ia begitu hanya pada saat sedang berada dalam keadaan bingung dan ingin mengambil keputusan.

“This is not us, Kal..” Ia membuka suara di menit ke delapan belas. Pacu mobilnya perlahan berkurang kemudian berhenti di depan kedai kopi yang dulu biasa kami kunjungi untuk mendengarkan cerita Pinus yang tak pernah habis. Tentang mimpinya, tentang cintanya. Kemudian wajahnya dipalingkan ke arah Kala, menunggu jawaban.

“I thought there’s no us anymore between Kala and Pinus.. sejak terakhir kali kita ketemu.”  Aku sengaja tidak melihat ke arahnya. Menghindari mata yang dulu bisa membuatku mengiyakan semua permintaannya 24 jam penuh.

“Engga ada lagi teman sebaik kamu, Kal. Aku salah. Aku emosi dan engga bisa berpikir jernih saat itu. Aku tahu engga ada yang bisa pura-pura sampai korbanin waktu, ego, dan diri sendiri untuk bisa selalu ada buat orang lain”.

Kata pura-pura yang pernah keluar dari bibir Pinus saat itu benar-benar menusuk hingga ke dalam. Entah Pinus harus menggantinya dengan apa, hingga sampai saat ini Kala masih berada dalam bayang si pura-pura yang tidak pernah lepas dari dirinya.

“Maaf Kal..” Pinus merengkuh tubuhku dengan sempurna, membiarkan aku luruh dalam dekapannya. Lama, kemudian perlahan ia angkat wajahku pelan berusaha menyatukan bibirnya dengan milikku.

“Pinus, mau kamu apa?” Aku menyentak dan mendorong Pinus dengan sigap. Ini bukan Pinus. Bukan Pinus.

Pinus meraih kepalaku dan mengusapnya pelan. “Aku mau kita”. Jawabnya tegas sambil menatapku lama.

“Kita yang lebih dari sebelumnya, Kal..”

***

Sudah hampir satu tahun aku berteman dengan garis-garis, kedai kopi, kamera, dan pria stranger yang berani jujur bilang jelek padaku dari awal pertama kami bertemu. Kedai kopi di Bandung sudah semakin banyak, bahkan mampu menggeser pasar kopi tradisional lesehan yang biasa dijual di dekat Unpad. Garis-garisku kini sudah ada beberapa yang jadi dalam bentuk nyata, termasuk file yang dulu kuberi nama Pinus_Tux_Future.

“Lihat, bagus sekali Kal hasilnya!” Agas begitu semangat memperlihatkan hasil jahitan toko jahit nenek renta yang tempo lalu ia tunjukkan padaku. Kali ini cucu-cucu nenek tersebut berhasil menjahit dengan rapi desain tux Kala. Detail dan potongannya sesuai dengan ekspektasi Kala saat menggambar garis-garis tersebut.

“Tapi kayaknya ada beberapa detail yang berbeda sama gambar awalnya ya Kal? Tapi yang ini lebih bagus jadinya..”.

Iya memang berbeda. Aku sengaja merombak sedikit desain tersebut dan menorehkan garis lain yang lebih sempurna dibandingkan desain awalnya.

Aku juga mengganti nama filenya, Gas.

“Kapan kamu gambar ulang desainnya?” Tanyanya. Kini ia mencoba tux tersebut dan benar saja, ukuran dan desainnya cocok dengan Agas.

“Waktu aku lagi senyum, Gas”.

Agas pernah bilang bahwa Bandung adalah kota favoritnya. Dengan segala macam keelokan yang Bandung punya, Agas selalu percaya pada tulisan Bumi Pasundan lahir pada saat Tuhan sedang tersenyum. Bahkan segala keindahan itu tercipta pada saaat Tuhan sedang tersenyum. Begitupun dengan desain itu. Aku membuatnya memang pada saat sedang tersenyum.

Pada saat aku menyambut kedatangan Agas ke Bandung.
Pada saat Agas mulai bermain dengan kameranya.
Pada saat menunggu Agas selesai memotret sudut-sudut kota Bandung.
Pada saat Agas menunggu aku selesai mendesain.
Pada saat Agas percaya bahwa aku akan melahirkan karya yang bagus lagi hanya dengan melihat garis antah berantah yang belum jadi apa-apa di tabletku.
Pada saat aku mengganti nama file desain tersebut menjadi Agas_Tux_Future.
Pada saat aku kembali berhubungan baik dengan Pinus dan memutuskan untuk hanya menjadikannya sebagai teman karena aku lebih memilih bersama dengan Agas.
Pada saat aku menyadari bahwa semua hal yang membuatku tersenyum belakangan ini bersumber dari dirinya.

Everyone has one place to be his favourite escape, dan Agas menjadikan aku tempat tersebut.

“Lama-lama aku bisa pindah ke Bandung nih Kal kalo gini caranya..” ia berkata dalam dekapnya di Dago atas saat itu, berusaha melindungiku dari dingin.

“Kenapa Gas?”

“Because you are here”.

Dan akupun membalas dekapannya erat. “Then stay here Gas, sama aku..”

***

By Cynthia S Lestari
Image captured by Arie Fuzacky

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...