Minggu, 18 Juni 2017

A Man's Promise

 
Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah kulakukan untuknya. Meluruhkan semua ego dan kuasa yang kupunya atas perempuanku satu-satunya. Kamu mau tahu rasanya? Seperti ada cambuk amarah berpadu dengan rela yang enggan lepas dari dalam diri karena bertahun-tahun sudah aku memilikinya lalu dengan lancang ada laki-laki baru yang berusaha mengambil hatinya dariku.

Does he know? I belong to her before anyone does.

Tidak lebih dari sepuluh menit setelah gemuruh amarah ini berkumpul, mereka kini duduk dengan senyum paling bahagia di depanku. Membuatku menyaksikan perempuanku memandang laki-laki yang baru ia kenal dengan penuh cinta. Memaksaku untuk segera merelakannya pergi dari kuasaku dan membiarkan laki-laki baru itu menguasainya atas nama cinta.

Sekarang kulihat laki-laki baru itu ganti menatap perempuanku sayang. Aku tahu ia sempat menoleh ke arahku dua kali sebelum tangannya merangkul dan mengusap lembut punggung perempuanku yang terlihat gugup hari ini. Perempuanku masih dengan tatapan dan gesture canggungnya berganti menoleh ke arahku, seperti berkata Ini saatnya”.

Kurasakan helaan nafasku semakin berat seiring dengan degup jantung yang mulai tak karuan saat duduk di hadapan mereka. Perempuanku sayang tersenyum sekali lagi dan aku tahu ia melakukannya dengan tulus dari hatinya, senyum itu dahulu milikku seorang tanpa harus berbagi dengan orang lain. Dan kini mataku terasa panas ketika tangannya menggenggam tanganku lembut. Genggamannya kuat seperti meyakinkanku bahwa takkan pernah ada yang berubah setelah ini. Aku tetap memilikinya meskipun kini harus rela berbagi dengan laki-laki barunya.

Kutatap mereka sekali lagi..

Pelan-pelan kurasakan ada ego yang meluruh berganti dengan ketenangan dan ikhlas saat mata kami bertiga bertemu secara bergantian. Seharusnya aku bahagia, menjadi satu-satunya orang yang mengantar perempuanku di hari bahagianya. Dipercaya olehnya sekali lagi untuk memegang tahta tertinggi pada hari ini, memberikan satu hal penting demi masa depannya, restuku. Aku memandang laki-laki di sebelahnya dengan wajah yakin bercampur gugup, laki-laki baru ini mencintai perempuanku dengan segenap hatinya. Ia yang tempo lalu meminta secara lembut untuk menjadikan perempuanku satu-satunya, rumah untuk seluruh hati dan jiwanya mulai hari ini dan selamanya. Ia yang kupaksa bertemu denganku sehari sebelum hari sakral ini, berjanji dengan segenap hatinya untuk takkan pernah sekalipun menyakiti hati dan raga perempuanku, mencintainya tanpa jeda, dan menjaganya seperti aku membesarkannya hingga saat ini.

Karena dalam  mencintainya aku tak pernah membubuhkan tanda baca, tak pernah ada koma ataupun titik.

Karena peluh dan lelahnya perjuangan saat membesarkannya takkan pernah terasa selama kulihat anakku tersenyum saat menyambutku pulang bekerja.

Karena separuh hidup dan cintaku adalah dirinya saat ini.

Kemudian, saat itu ia bersimpuh dan menjabat tanganku erat untuk berjanji atas nama laki-laki dengan seluruh ego dan cintanya kepada perempuanku, anakku.


“I swear to you with all of my heart, I will give my best for her till death do us apart, Dad”. 

Cyn

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...