Hey, the greatest distance on Earth, is not North to South or South to North. It is when i am right in front of you and you don't know that i adore you.
Senin, 16 September 2013
Jumat, 30 Agustus 2013
A Half-Wing Angel
Hey,
Jangan
salahkan merpati jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah tidak lagi
ada disampingmu. Kumohon, jangan pernah
salahkan angin dan hujan jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah
tidak mungkin lagi menjadi sandaran semua keluh kesahmu setiap harinya. Dan
jangan pernah salahkan dirimu sendiri jika kamu sudah menyadari semuanya
setelah membaca surat dariku. Kamu ingat kan? aku benci melihatmu duduk diam,
tatapanmu kosong, auramu abu-abu, kemudian tanganmu terluka karena kamu
benturkan kesemua benda yang ada di sekelilingmu. Aku benci melihat kamu
terpuruk.
Maafkan
aku jika surat ini dibuka dengan kalimat-kalimat yangmembuatmu semakin
penasaran dengan inti dari lembaran-lembaran kotor ini. (actually, Aku bukan
penulis surat yang baik). Lewat surat ini, aku ingin menceritakanmu sebuah kisah
mengenai seorang malaikat yang rela jatuh ke bumi untuk mencintai seorang
manusia. Pernahkah kamu mendengarnya? Begini saja, aku akan memberimu beberapa
fakta mengenai kisai ini kepadamu, asal kamu janji jangan pernah memotong,
menyela, atau bereaksi apapun sampai aku selesai menceritakan semuanya
kepadamu. Bagaimana?
1.
Malaikat Separuh Sayap Yang Rela Jatuh ke
Bumi
Jika aku bilang kalau ada seorang malaikat
yang mencintai seorang manusia dan rela jatuh ke bumi dengan separuh sayapnya,
apakah kamu percaya? Kamu pasti meragukan ini. Karena disetiap kisah agama
menceritakan bahwa malaikat takkan pernah memiliki nafsu. Tapi tahukah kamu?
Ada satu malaikat yang rela melepaskan separuh sayapnya untuk turun ke bumi
hanya untuk berada didekatmu. Ia mengintip dibalik celah langit ketika hujan
turun, mencium aroma tubuhmu yang menembus langit, merasuki kesadarannya, lalu
tenggelam didalam palung paling dasar yang ada pada kedua bola matamu. Sesaat
ia mabuk karenamu, merasakan adanya letupan dahsyat dari dalam darah yang
mengalir di sekujur tubuhnya dan menyadari betapa indahnya makhluk Tuhan
dibawah sana. Ia menerbangkan setiap kalimat-kalimat doa kepada Tuhan agar bisa
mengubahnya menjadi makhluk yang sama sepertimu, agar bisa merasakan lagi
letupan-letupan dahsyat di hatinya ketika berada lebih dekat denganmu. Tapi, Tuhan
tidak langsung mengatakan ‘ya’ kepadanya, dengan bijak ia mematahkan separuh
dari sayap malaikat itu dan menurunkannya ke bumi. Dengan catatan,
perlahan-lahan setiap bulu dari sayap itu akan jatuh untuk setiap bentuk sakit
yang dirasakan oleh sang malaikat ketika bersamamu. Dan ketika semua bulu
sayapnya telah lenyap, ia akan kembali menjadi malaikat langit yang hanya bisa
melihatmu dari atas sana.
2.
Malaikat yang Jatuh Takkan Pernah
Membiarkanmu Tenggelam dan Hilang di Dasar Jurang
Pernahkah kamu merasakannya? Ia turun ke
bumi sebagai seorang manusia yang memiliki separuh sayap transparan yang tidak
akan pernah terlihat olehmu. Ingatkah kamu ketika kau bertemu dengan seorang
stranger yang duduk di taman kota, mengenakan baju biru muda dengan rambut yang
ia kuncir ke belakang? Itulah pertama kalinya kalian akhirnya bertemu. Kamu
melihatnya dengan seksama, mencoba menerka-nerka “siapa dia?”. Mungkin
penampilannya terlihat dimatamu seperti seorang gadis desa yang jauh dan
tersesat di kota besar. Dan letupan dahsyat itu muncul kembali setelah ia
berhasil menjabat tanganmu, mengenalkan namanya kepadamu, “Alice” (Aku tahu
setelah ini kau akan mencoba mengingat-ingat bagaimana pertemuan kalian saat
itu).
Lalu, ingatkah kamu ketika kau menjadi
sering berkunjung ke taman kota untuk menemuinya, dan menceritakan semua hal
yang ingin sekali kau ceritakan kepada orang yang mungkin bisa kau percaya.
Kamu menganggapnya sebagai gadis desa yang lugu yang lebih bisa memahamimu
dengan baik dibanding teman-teman kotamu yang brengsek dan sombong itu. Kamu
menemukan ada yang lain dari gadis ini yang bisa kau percaya sepenuhnya
dibandingkan teman-teman kotamu yang terkadang hanya memanfaatkan kehadiranmu
untuk memberi mereka tumpangan, makan, atau sekedar meminjam uang.
Sadarkah kamu bahwa ia selalu melindungimu
dari setiap kesempatan buruk yang mungkin kamu ambil disetiap pilihan?
Membisikimu jutaan kalimat-kalimat positif
yang kadang (atau selalu) tidak kau hiraukan. Mendengarkan semua keluh
kesah, suka duka yang kamu alami setiap harinya tanpa kenal lelah. Membersihkan
semua perkataan dan anggapan orang yang buruk tentangmu, menjadi makhluk
pertama kali yang kau temui untuk dimintai pendapat mengenai semua hal baru
yang kau temui, atau bahkan menjagamu dalam tidur lewat doa-doa yang ia
panjatkan kepada Tuhan yang memberikannya kesempatan untuk berada lebih dekat
denganmu. (Tanganku cukup lelah untuk menceritakan semua yang telah ia lakukan
untukmu). Tahukah kamu tentang semua ini? Aku yakin saat kamu membaca ini, kamu
masih mencoba untuk mengingat apa saja yang sudah ia lakukan untukmu.
3.
Hujan yang Turun di Pagi Hari dan Setiap Kebahagiaan
yang Kamu Alami Adalah Setiap Bulu-bulu Sayap yang Perlahan Terlepas dari
Pemiliknya.
Ketika turun ke bumi dan mengamatimu dari
jarak yang lebih dekat, ia menyadari bahwa ada desakan dari ruang lain dalam
dirinya yang ingin diisi olehmu. Lebih dari sebagai seorang ‘teman baik’
untukmu. Ketika ia mencoba untuk mendekat lebih dari batas yang seharusnya
dijalani sebagai seorang teman, ia menyadari bahwa takkan mungkin meminta lebih
dari sekedar ‘Keeper’ bagimu. Kamu manusia, akan mencintai manusia lainnya yang
rupawan, modis, tampil elegan, kaya, terpelajar, dan sama terhormatnya
denganmu. Untuk itu, sang malaikat harus puas dengan pekerjaannya sekarang sebagai
seorang keeper bagimu (Satu bulu disayapnya pun terjatuh). Kemudian keesokan
harinya kamu tersadar bahwa semalam hujan telah turun dengan deras membasahi
tanah yang kau pijak pagi ini. Tapi hujan pagi ini takkan memudarkan kebahagiaanmu
hari ini, setelah berhasil mendapatkan gadis cantik di sekolahmu untuk menjadi
kekasihmu.
Selanjutnya, masih dengan rutinitas yang
selalu dilakukan oleh sang malaikat setiap harinya, seiring bertumbuhnya kau
menjadi dewasa, pekerjaannya bertambah. Kini topik yang kamu bahas setiap kali
datang menemuinya bukan lagi mengenai teman-teman kotamu yang meninggalkanmu
ketika kesusahan atau bukan lagi tentang kecemburuanmu terhadap saudaramu yang
selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuamu. Topik yang kalian
bicarakan selalu berputar pada wanita. Kamu mulai mencintai dan dicintai banyak
gadis di kota, dan kamu menikmatinya. Malaikat ini mendengarkan setiap cerita
cintamu dari satu gadis ke gadis lainnya sambil sesekali menyeka air mata yang
turun dari kedua matanya ketika kamu tidak melihatnya. Ia membantu memilihkan
hampir setiap wanita yang akan kamu jadikan kekasihmu tanpa kenal pamrih. Kamu
bisa membayangkan rasanya? Ketika kamu harus berpura-pura tertawa karena
cerita-cerita cinta yang teman baikmu ceritakan kepadamu, ketika kamu harus
menahan segala jenis emosi yang ada dalam dirimu untuk sekedar mengatakan
kalimat penyesalan, “Kenapa bukan aku saja yang menjadi gadis-gadis kota itu?
Kenapa bukan aku yang kamu cintai?” Dan setelah ini kamu pasti tahu, bulu-bulu
sayap yang lainnya pun ikut turun satu persatu ke bumi, ditukar dengan setiap
kebahagiaan yang kamu dapatkan dengan berbagai macam gadis kota selalu kamu
ceritakan itu.
4.
Selimut Hangat Yang Menghangatkan Tidurmu
Berasal dari Doa-Doa yang Dipanjatkan Sang Malaikat Jatuh
Berjanjilah, jangan pernah merasa kedinginan
saat kamu terlelap dalam tidurmu setelah membaca surat ini. Pernahkah kamu
merasakannya? Merasakan setiap kehangatan yang menjagamu dalam lelap. Tahukah
kamu bahwa semua itu berasal dari sang malaikat jatuh yang memanjatkan
permohonan doa kepada Tuhan agar selalu menjagamu dalam tidur dan setiap
langkah yang kamu ambil. Meskipun kadang terselip doa yang terdengar egois
keluar dari bibirnya, “Kumohon jadikanlah aku jadi orang yang dapat ia cintai
selamanya..”.
Ingatkah kamu? Ketika langit senja sudah
menutup pintunya dan titik-titik hujan mulai turun dengan derasnya, kamu datang
menerobos setiap titik-titik air langit untuk menemui gadis desa tersebut
sambil mengepalkan seluruh jari-jarimu dan membiarkan gigimu berbenturan dengan
keras menahan dingin yang menusuk hingga kedalam tulangmu. Gadis desa itu
keluar dan kamu memeluknya dengan erat. Kamu katakan bahwa kamu baru saja
kehilangan harapanmu dengan salah satu gadis kota yang selama ini kamu pacari.
Kamu frustasi. Kamu biarkan tangan-tanganmu terluka ketika kau benturkan dengan
keras ke tembok rumah sederhana itu. Kamu menangis sejadi-jadinya didepan
perempuan desa yang bahkan belum pernah tampak menangis dihadapanmu. Kamu
ceritakan semua yang kamu rasakan kepadanya, kecewa, marah, sedih, semua yang
kamu rasakan. Dan gadis desa itu hanya bisa mendengarkan, memberikanmu suntikan-suntikan
penyemangat agar kamu bisa kembali seperti dulu. Ia benci melihatmu terluka
seperti ini. Sesaat kemudian, ingatkah kamu ketika kau meminta gadis desa itu
untuk menjadi kekasihmu? “...aku lelah terus mencari seseorang yang rupawan
untuk dijadikan seorang kekasih yang pantas untukku, tidak ada yang bisa
mengertiku sepenuhnya. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Gadis desa itu menggeleng
pelan kemudian memelukmu erat. Ia kembali membisikimu kalimat-kalimat positif
agar kamu bisa bangkit kembali dan tidak menyesali keadaan yang terjadi
sekarang. Dan kamu tertidur lama di sofa rumahnya.
Hey, apa kamu menyadari ada bekas
titik-titik bulir airmata yang jatuh dari matanya ketika melihatmu terpuruk seperti
ini? Apa kamu pernah sedikit meluangkan waktumu untuk sebentar saja melihat
wajahnya lekat-lekat dan menyadari ada ketulusan di hatinya untuk selalu berada
disampingmu? Pernahkah?
Hey, apa kamu bertanya-tanya mengapa ia
tidak menerimamu saat itu?
Rasanya sungguh menyakitkan ketika
mendengarmu mengucapkan kata-kata seperti itu. Seolah-olah ia hanyalah pilihan
terakhir dari semua pilihan terbaik yang ada. Lebih baik menjadi seperti ini
selamanya dibandingkan harus memiliki ragamu tanpa pernah memiliki hatimu yang
sesungguhnya. Kamu hanya sedang merasa kesepian ketika mengatakan itu. Dan benar
saja, bertahun kemudian kamu tak pernah mencoba untuk membahas apa yang kamu
minta hari ini padanya, bahkan aku tidak yakin kamu mengingat apa yang kau
katakan padanya hari ini.
5.
Dua Bulu Yang Masih Menggantung di Sayap
Sang Malaikat Jatuh
Tanpa terasa sudah bertahun-tahun lamanya ia
meninggalkan langit dan menghuni bumi hanya untuk bersama kamu. Bertahun-tahun
menggantungkan harapan hanya untuk bersama kamu. Mendedikasikan seluruh
hidupnya hanya untuk bersama kamu. Terdengar naif memang, tapi apa daya jika
memang kenyatannya seperti itu?
Pernahkah kamu bertanya mengapa ia rela
mengejar pendidikan yang tinggi dan belajar menggunakan make up setiap kali
menemuimu?
lemme tell you, Ia sedang berusaha
mengkhianati langit.
Berusaha mati-matian memantaskan diri untuk
bersanding denganmu. Berharap ketika ia berhasil memilikimu seutuhnya, ia akan
menjadi manusia seutuhnya tanpa harus takut lagi bulu-bulu sayapnya berjatuhan
dan kembali ke langit.
Mengalami proses bahagia kemudian terpuruk,
hidup kemudian mati adalah hal yang membedakan malaikat dengan manusia
seutuhnya. Dan jika orang-orang diluar sana takut akan kematian, tidak baginya.
Jika memang harus merasakan proses hidup kemudian mati, ia akan sangat
bersyukur dan bahagia karena sebelumnya pernah hidup untuk dan bersama orang
yang ia cintai semasa hidupnya.
Tahukah kamu? Pernah suatu ketika disuatu
senja berwarna jingga kemerahan, ia bertekad untuk mengatakan semuanya
kepadamu. Tentang penantian, letupan-letupan yang sering kali muncul ketika
bersama kamu, dan juga air mata yang kadang mengalir begitu deras tanpa mampu
ia tahan.
Lalu kamu datang...
Wajahmu begitu cerah menyiratkan kebahagiaan
besar yang sedang kamu dapatkan saat ini. Gadis desa itu menerka-nerka “Apa ada
aku dibalik semua kebahagiaan yang dia miliki?”.
“Terima kasih. Terima kasih atas semua waktu
yang kamu luangkan untukku bertahun-tahun ini. Aku tidak akan pernah melupakan
kamu. Doakan aku, besok pagi aku akan melamar gadis kota yang cantik dan
terhormat di rumahnya”
Kamu tahu bagaimana rasanya menahan rasa
sakit yang terlanjur naik hingga ke kerongkongan begitu mendengarmu mengatakan
itu?Tidak Tidak, ia seharusnya bahagia karena kini kamu sudah berhasil memilih
dengan baik siapa yang pantas mendampingimu seumur hidup. Tidak seharusnya ia
bersedih. Ia mengucapkan selamat, mengulurkan tangannya dan membawa kamu
kedalam pelukannya erat. Pelukan hangat seorang teman baik yang hanya kamu
dapatkan ketika kamu sudah siap menjadi seorang brideman.
“Terima kasih sudah menjadi
teman-terbaik-sedunia-ku. Percayalah, sebentar lagi pasti ada pria beruntung
yang melamarmu menjadi pengantinnya”
Malaikat jatuh itu mengangguk dan membiarkan
air matanya meleleh di punggungmu. Tidakkah kamu tahu bahwa tidak ada pria lain
yang ia inginkan melebihi apapun di dunia ini kecuali kamu? Tidak tahukah kamu
ada ratusan letupan kebahagiaan dan kecaman emosi dalam dirinya yang menyatu
begitu mendengar kamu menyebutnya sebagai ‘teman-terbaik-sedunia’. Mengetahui bahwa kamu hanya membagi kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan, bahkan
kesepianmu hanya padanya saja sudah merupakan satu kebahagiaan yang besar
baginya. it’s nice to have my other half is sitting here next to me.. Lantas,
nikmat Tuhan mana lagi yang harus ia dustakan?
Dan hujan pun turun dengan derasnya.
6.
Satu Bulu Sayap yang Tidak Pernah Terjatuh
ke Bumi
Jangan pernah mengira malaikat ini tetap
menjadi manusia seutuhnya karena bulu sayapnya yang terakhir tidak terjatuh ke
bumi.
Kamu tahu? Sesaat setelah kau mengatakan kamu
akan melamar seorang gadis lain, ia belajar mengimbangi paksaan ruang dalam
hatinya yang ingin diisi olehmu dengan perasaan-yang seharusnya ada didalam
hatinya. Ia mulai belajar untuk berbahagia seutuhnya karena kebahagiaanmu.
Bukankah melihat orang yang kita cintai bahagia sudah cukup membuat diri kita
bahagia?
Detik-detik menjelang hari pernikahanmu, ia
masih terus berlatih siang dan malam menjadi seorang pengiring wanita yang
berlaku manis dan cantik untuk pesta pernikahan sahabat terbaiknya.
Dan ia bisa memastikan takkan ada langit
kelabu dan hujan yang turun di hari pernikahan sahabat terbaik sedunia-nya.
***
Well, sebenarnya aku tidak ingin
menceritakan bagaimana akhirnya, karena kurasa kamu sudah mengetahuinya saat
ini. Perlukah aku mengulangnya kepadamu lagi memori 1 tahun silam?
...Baiklah jika kamu memaksa. Sang malaikat
pergi sesaat setelah ia menuntaskan tugasnya sebagai seorang pengiring
pengantin. Kalau setelah membaca cerita diatas kamu berpikir ia hilang karena ia
gagal berbahagia atas kebahagiaanmu, kamu salah. Ia menghilang bukan karena
satu bulu sayap terakhir yang jatuh ke bumi, karena memang sesungguhnya bulu
terakhir itu tidak pernah jatuh menghentak bumi. Ia mencabutnya secara paksa
dan menyimpan bulu sayap terakhir tersebut dan memberikannya kepada mempelai
wanitamu. Ia memberikannya karena ia tidak ingin ada lagi bulu-bulu sayap yang
jatuh karena sakit yang dirasa dihatinya. Bulu sayap yang terakhir itu tidak
akan pernah turun ke bumi karena ia pasti akan berbahagia selalu ketika bersama
dengan pria sepertimu. Jika kamu berkenan, tanyakan kepada mempelai wanitamu,
apakah ia masih menyimpannya dengan rapi hingga hingga saat ini?
Ceritaku sudah selesai. Apakah kamu merindukanku
saat ini? Tengoklah keatas langit jika kamu ingin melihatku, mungkin saja aku
sedang bermain-main diatas sana dengan malaikat lainnya sambil mengawasimu
dibawah sana. Mungkin saja ketika kamu menengadah keatas sana aku juga sedang
melihatmu. Maafkan jika aku tidak pernah mengatakannya langsung kepadamu apa
yang sebenarnya kurasakan selama bertahun-tahun. Maafkan aku karena akulah yang
melepaskanmu pertama kali. Maafkan aku karena aku tidak memiliki nyali yang
cukup kuat untuk mengkhianati langit dan takdir Tuhan.
Dan jika setelah kamu membaca surat ini,
kamu menyesal karena baru mengingat dan menyadarinya, jangan pernah salahkan
istrimu. Bagaimanapun jangan pernah salahkan takdir dan berjalan diluar jalur
yang sudah diberikan oleh Tuhan kepadamu. She’s the best. Percayalah kepadaku.
Klise memang jika aku menutup surat ini
dengan ucapan-ucapan terima kasih kepadamu karena memang jika aku melakukannya,
mungkin butuh berlembar-lembar hanya untuk mengucapkan berbagai macam bentuk
terima kasihku kepadamu. Aku hanya menuliskannya satu kali dan semoga ini
mewakilkan semua rasa terima kasihku kepada kamu.
Lewis Dylan Ferdinand..
Have a wonderful life, surrounded by the
people you love.
Terima kasih karena sudah pernah memenuhi ruang
kosong yang ada di hatiku selama bertahun-tahun hingga saat ini.
Aku cinta kamu.
With Love,
The Half-Wing Angel, Alice.
Senin, 12 Agustus 2013
PROLOG
PROLOG
Nico
BRAK!
Aku
membanting pintu kamar keras-keras, menjambak rambutku berkali-kali dan terduduk
lemas di sudut kamar. Aku bosan dengan ocehan mama yang selalu menyuruhku segera
menikah. “Usiamu sudah 35 tahun Nico, mau sampai kapan? Kasihan mama nak” Mama selalu
menggunakan dirinya sebagai senjata untuk mengunduh belas kasihan dariku. Siapa
laki-laki yang di usia (kelewat) ideal yang tidak menginginkan sebuah pernikahan?
Tapi bagaimana caranya aku menikah dengan orang lain sementara hatiku belum bisa
menerima dan enggan berhenti mencintai orang itu? Dan hari ini ada lagi alasan yang
membuatku berkali-kali menjambaki rambutku, merutuki diriku dan menyebabkan kaca
dikamarku pecah. Dia.
Aku
bertemu lagi dengannya. Dengannya yang bertanggung jawab atas porak porandanya
diriku saat ini. Entah perasaan apa yang kupunya saat ini, tapi aku masih ingin
menggenggam erat tangannya, membelai rambutnya, aku ingin berada disampingnya
saat ini. Tapi separuh dari diriku memutuskan untuk membencinya, membencinya
karena ia masih sama seperti dahulu. Hey, kenapa kamu tidak mengubah
penampilanmu saja agar memoriku tidak terbawa kepada masa lalu? Aku lebih
setuju jika kau sekaligus mengubah namamu sehingga tidak akan ada lagi nama
sepertimu yang kukenal di dunia ini. Lihat dirimu, bahkan rambut sebahumu masih
terawat dengan indah mengikuti setiap langkahmu pergi, lalu parfum yang kau
pakai masih sama seperti pertama kali kita bertemu, dan lihat! liontin itu
masih bertengger indah menghiasi kulit lehermu yang mengkilau.
Apa
kamu rasakan degub jantungku serasa berhenti ketika kau panggil namaku siang
tadi? Jelas, sangat jelas aku mengenali suaramu namun aku enggan untuk menoleh
hingga kamu mengejarku sampai ujung jalan dan membuatmu terengah-engah. Aku
benci pada diriku karena tidak mampu melihatmu kelelahan seperti itu hanya
untuk mengejar pengecut sepertiku. Aku kalah, (mengalah lebih tepatnya). Dan
siang tadi adalah pertama kalinya kita bertemu lagi setelah 7 tahun lalu aku
berjanji untuk menemuimu yang terakhir kalinya di hari terpenting dalam
hidupmu. Tanpa aku.
P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :)
P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :)
Sabtu, 25 Mei 2013
PART OF MINE
Pagi dan malam adalah sahabatku. Sahabat dekatku ketika aku menunggu detik-detik bersua denganmu. detik-detik berharga ketika penantian telah berakhir. Tahukah kamu, ketika aku menatap langit, ada wajahmu terlukis disana? Tahukah kamu ketika aku memandang jarum jam yang berputar di tanganku, aku selalu berharap agar Tuhan mempercepat waktu? Tahukah kamu ketika aku menginjakkan kakiku ke tanah, aku selalu ingin ketika aku mendongak, kau berada tepat dihadapanku saat itu juga? Dan tahukah kamu, berapa banyak gelas Cappucinno yang kuhabiskan untuk menunggumu datang? Aku ingin berlari menyusulmu kesana, bersua denganmu, mencium aroma tubuhmu dari dekat dan memandang matamu sepuluh cm dihadapanku. Namun aku berusaha keras menahan semua itu, karena aku tahu, ketika aku memandang langit dan menginjakkan kaki di tanah, kamu juga sedang melakukan hal yang sama. Ya... kita sedang berada dalam roda waktu yang masih terus berputar hingga takdir memutuskan untuk mempertemukan kita dalam detik yang sama....
@
Bandung, Januari 2004
Aku tidak ingat sejak kapan kota
ini begitu bising. Begitu silau karena banyaknya lampu kendaraan berplat B
memadati kota ini. Kadang aku merasa Bandung yang sekarang tidak lagi sedingin
dahulu, hingga aku memutuskan untuk membeli AC pertengahan bulan ini dan
membuat bunda semakin bawel menyuruhku untuk selalu mematikan AC karena biaya
listrik rumah kami naik. Cita-citaku tinggi, aku ingin meneruskan kuliah di
Belanda. Aku menyukai setiap postcard yang dikirimkan oleh tanteku yang tinggal
disana. Ada gambar kincir angin atau bunga tulip yang berwarna-warni dan
semakin menggodaku untuk pergi kesana secepatnya. Sebenarnya aku masih duduk di
bangku perkuliahan tahun ketiga. Masih ada satu tahun lagi untuk mempersiapkan
segala sesuatunya kesana.
Ehem, Cowok tinggi ini Oi. Namanya Gregory, hanya saja aku sering memanggilnya
dengan Oi. Terdengar simple.. dan classy. Dia adalah kekasihku. Kami kuliah di
Universitas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Oi menyukai seni dan aku masih
berkutat dengan ilmu-ilmu teknik ini. Sudah delapan tahun sejak pertama kali
aku dan Oi berubah menjadi “kita”, dan perasaan itu tidak berubah. Bagi kami,
setiap hari adalah hari pertama kami bertemu. Dan aku merasa hubunganku
dengannya adalah hubungan cinta yang paling sempurna. Oi tampan, pintar,
romantis, dan Oi mencintaiku dengan sangat. Dan tahun ini, ia akan segera
melanjutkan studinya ke Belanda.
Satu yang membuatku khawatir saat ini adalah, banyak sekali orang-orang yang
gagal dalam menjalankan hubungan jarak jauh dengan pasangannya, jangankan untuk
LDR, mereka yang tingga berdekatan saja bisa putus, lalu gimana yang tinggal
berjauhan? dalam zona waktu yang jauh berbeda?
“Kamu tenang aja, kalo
sekarang kita bisa, besok juga pasti bisa Em. Apa sih yang bisa ngalahin cinta?
Bahkan jarak sekalipun bukan halangan” Selalu
begitu jawab Oi. Ya, sedikit banyak menghibur perasaan khawatirku. Oi selalu
menenangkan aku, kalau aku tidak perlu khawatir akan dirinya yang jauh beberapa
hari lagi, he’s a good man. Bahkan beberapa hari terakhir
seBelum keberangkatannya ke negeri kincir angin itu, setiap hari Oi menemaniku
kemanapun yang aku mau, he
really knows how to treat me, and i love him so much.
---
Keberangkatan Oi tinggal menunggu 10 menit lagi, dan ya seperti yang kau
pikirkan, aku tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya agar segera
mengirimkan email kepadaku sesampainya disana. Ia menepuk tanganku yang berada
diatas jari-jarinya, “Tenang aja”. Ujarnya
santai. Ya.. seharusnya aku mendukungnya, toh setelah ia pulang nanti, Oi akan
melamarku.
Aku merasa deru nafasku semakin kencang ketika petugas bandara mengumumkan
bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Detik-detik terakhir aku berjarak
hanya 10 cm dari tubuhnya. God, please save him...
Dan kini lambaian tangan itu
mengantarkan kami pada takdir kami yang baru. Aku harus selalu percaya, Tuhan
selalu menjaga Oi dalam lindungannya, dalam cintanya padaku. I wish..
@
Sudah dua tahun kami terperangkap dalam zona waktu yang berbeda. Dua tahun yang
cukup sulit pada awalnya, namun semakin terasa begitu mudah ketika aku selalu
menghibur diriku dengan mengingat kalau Oi akan segera pulang dan melamarku.
Aku berusaha untuk selalu berpikir bahwa kami hanya tinggal beberapa langkah
lagi untuk kembali bersama. Setahun lalu aku meraih gelar sarjanaku dan
memutuskan untuk melanjutkan kerja terlebih dahulu seBelum melanjutkan
sekolahku. Aku akan menunggu Oi pulang dan kami akan sama-sama tinggal di
Emanda sekaligus melanjutkan studiku disana.
Oi menepati janji-janjinya, ia selalu mengirimkan email padaku semenjak ia
tinggal disana. Banyak sekali hal yang ia ceritakan, teman-temannya,
keluarganya disana. Hem, maksudku saudara laki-lakinya, disana ia hanya tinggal
berdua dengan Edward. Kakaknya sudah lebih dulu tinggal dan memilih untuk
menetap untuk bekerja disana. Ed sudah tidak asing lagi untukku, pertama
kali yang kukenal adalah Ed hingga ia memperkenalkan Oi padaku. Dulu kami teman
sepermainan di Bandung, Ed selalu berperan menjadi suami yang baik dan aku
sebagai istrinya saat kami bermain rumah-rumahan dulu.
Dearest Em,
Em, kau tau? betapa aku harus
bersyukur setiap hari karena memiliki keluarga dan kamu yang begitu
mendukungku. Aku mulai terbiasa tinggal disini, budaya, warga-warga disini,
teman-temanku, dan Ed sangat baik padaku. Aku jadi tidak sabar untuk segera
membawamu kesini dan tinggal bersama denganku..
Selamat atas pekerjaanmu, Em, aku
senang sekali kau sudah berkarir disana.Aku segera menyusulmu :D Hey, hari ini
aku baru saja mengunjungi kincir angin pertama di Holland. Indah sekali persis
seperti yang kau sering ceritakan lewat postcard yang dikirimkan tantemu. Em,
aku sangat rindu padamu. Tunggu aku pulang,
I love you, and you know who i am.
Oi, tahukah kamu ketika aku membuka email dan mendapati ada email baru darimu,
kau sudah berhasil membuat hari-hariku begitu sempurna. Menghapus semua kelabu
hari-hari yang kujalani tanpanya selama ini.
Namun, akhir-akhir ini begitu menjengkelkan, sudah sebulan ini Oi sudah jarang
mengirimiku pesan elektronik itu. Seperti hari ini, sudah lima kali aku mengiriminya
pesan dan Belum dibalas hingga saat ini.
Hi Em,
Maaf aku baru membalas pesanmu,
tugasku begitu banyak akhir-akhir ini. I miss you, hon. Bagaimana
kabarmu?Bunda? Salam untuknya ya,
Em, kau tau, sudah berapa lama
sejak aku disini dan selalu menandai kalenderku untuk menghitung berapa lama
lagi aku bisa memelukmu dengan erat seperti dulu? Hari ini mengalami masalah
dengan teman sekelasku, Kau tahu Delia? ya, aku hanya meminjam modul padanya,
dan pacarnya begitu cemburu melihatku dengannya. Rahangku terasa begitu kaku
saat ini, biru. Tak perlu khawatir, Ed bilang kalau semua lelaki pasti
mengalami fase ini, Fase saat rahangnya kaku akibat berkelahi dengan temannya
hahaha.
Bagaimana kerjaanmu? Jangan
terlalu diforsir. Jaga kesehatan.
from: The one that will always
love you so damn much,
Gregory.
Email dari Oi berhasil membuatku
melupakan semua kekesalanku padanya sebulan ini. Ah, Aku sangat mencintainya.
Kupejamkan mataku dalam-dalam, Semoga
ketika aku membuka mataku,Tuhan melongkap tahun dengan cepat dan membawaku ke
hadapan Oi.
---
Aku menyimpan semua email darinya, bahkan aku memiliki folder tersendiri untuk
emailnya. Penantian kami sebentar lagi akan berakhir, Oi akan segera pulang dan
kami akan segera menikah. Aku tahu email-email ini menjadi saksi pernikahan
kami, saksi kisah kami. Minggu depan Oi pulang, aku sudah tidak sabar untuk
menyambutnya di bandara. Yayaya! aku bahkan sudah merencanakan cuti dari
tempatku bekerja untuk menjemput Oi nanti.
Galery wedding ini menjadi tempatku bekerja sejak empat tahun yang lalu. Benar
juga kata orang, bekerja memang tidak harus sesuai dengan jurusan apa yang kita
ambil semasa kuliah dulu, lihatlah aku. Aku bekerja di bagian marketing di
galery ini. Galery ini cukup besar dan ternama di dunia. Dengan tangan-tangan
magic dari designer terkenal, menjadi magnet pasangan-pasangan bonafit kelas
atas untuk bersedia menyerahkan segala urusan busana pengantinnya pada galery
ini. Hari ini salah satu officer kami tidak bekerja sehingga aku bekerja sembari
melayani pelanggan yang datang. Sudah sore, gallery masih banyak dikunjungi
banyak pasangan-pasangan bahagia. Aku selalu berharap cepat menjadi salah satu
dari mereka, memilih busana pengantin bersama dengan Oi, dan mengenakannya pada
acara besar kami. Setiap wanita menginginkan hal itu dan pasti mengalami fase
tersebut.
“Aku mau yang ini aja sayang, warnanya cocok banget sama tema pernikahan kita
nanti” sayup-sayup kudengar salah satu pelanggan yang ada di gallery. Ya,
perdebatan antara pasangan juga tidak dapat dihindari ketika mereka memilih
gaun mana yang pantas untuk dikenakan dihari bersejarah mereka. Kulihat salah
satu penjaga toko sedikit kewalahan mengatasi pelanggan yang satu itu, “Kurasa
gallery ini harus mempekerjakan penjaga yang worth
it untuk digaji” Aku lalu
bergegas menemui mereka.
“Ada yang bisa saya bantu? Maaf kalau pelayanan toko kami kurang berkenan untuk
anda, nona”
“Oh oke, aku sedikit bingung untuk memilih beberapa gaun, pesta kami diadakan
di ruang terbuka dan tidak terlalu formal, aku ingin gaun yang indah, terlihat
mewah, dan tidak membuatku kaku untuk berjalan nanti”
“Baik, akan saya carikan nona” Aku sibuk mencari gaun yang sesuai dengan
permintaan nona tadi. Aku bisa menebak pasti pasangannya adalah lelaki yang
gagah dan tampan, cocok dengan nona tadi yang cantik. Aku mendapatkan gaun yang
sesuai dengan permintaannya, dan membawanya ke nona tadi dengan cepat... kalau
saja kakiku bisa lebih cepat dari yang kubayangkan saat ini, kalau saja tubuh
ini tidak bergetar dengan hebat begitu melihat apa yang ada di hadapanku saat
ini..
“Oi......” Apakah ini sejenis
surprise yang ia berikan padaku? Oh Tuhan ini sungguh tidak lucu, aku bahkan
belum siap-siap untuk bertemu dengannya, bukankah masih beberapa hari lagi
kedatangannya kesini?
Yang dipanggil tadi hanya menoleh dan mengernyitkan dahinya begitu melihatku
kaget. Aku ingin sekali berlari kearahnya dan memeluknya saat itu, namun ada
apa dengannya? ekpresi wajahnya bahkan seperti tidak senang dan seolah
berteriak padaku “Hei, ini bukan surprise!”
“Bukankah kamu bilang kau akan kesini beberapa hari lagi? Jangan katakan kau memberiku
surprise...” ujarku sambil memukul lembut tangannya. Oi masih diam, ia bahkan
tidak memberiku senyum yang kurindukan sejak empat tahun lalu.
“Em, kumohon jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu. A.. aku minta maaf
karena tidak berani mengatakannya langsung kepadamu saat itu, Aku kalut,
maafkan aku” Aku melepaskan pegangan tanganku darinya dan mundur perlahan, ada
apa? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Apa yang perlu dimaafkan?
“Sayang, gaun yang ini gimana?” Nona cantik tadi menemui Oi. Hey, siapa pasanganmu? Kenapa ia
menemui Oi dan meminta pendapatnya?
Oi terlihat semakin bingung, ia tidak menjawab pertanyaan nona tadi, dan tidak
juga berani menatap mataku lekat-lekat.
“Nona, ini gaunnya.. dan Oi, adakah sedikit penjelasan untukku atas semua ini?”
Nona tadi mengambil gaunnya dan ikut bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi
pada kami. Aku terus menatap matanya yang kebingungan, entah apa yang terjadi
aku pun tidak tahu, yang aku tahu ini jelas bukan sebuah surprise yang baik
untukku.
Kurasakan pergelangan tanganku begitu sakit ketika Oi mencengkeramnya dengan
keras,
“Dengarkan aku, Em! Tolong
berhenti memaksaku untuk berbicara seperti ini. Kau sudah tahu dengan jelas apa
yang sebenarnya terjadi. Kau marah? Maafkan aku Em, aku tidak punya banyak
nyali untuk mengatakannya langsung padamu, karena itu aku meminta Ed untuk
bicara padamu. Aku meminta maaf Em.. Hubungan kita sudah berakhir sejak setahun
yang lalu, dan sebentar lagi aku menikah dengan Hanna, kumohon.. aku tahu ini
sulit bagimu, aku minta maaf. Kumohon mengerti keadaanku saat ini”
Bening ini terus mengalir sejak Oi mencengkeram tanganku dengan keras. Aku
merasa langitku runtuh pada saat itu, apa yang terjadi sebenarnya? Aku bahkan
tidak pernah tahu kalau Oi memutuskan hubungan kami sejak setahun yang lalu,
aku juga tidak tahu kalau ia akan segera menikah dengan wanita lain selain aku,
selama ini hubungan kami baik-baik saja. Bangunkan aku sekarang Tuhan, mimpi
ini begitu menyakitkan. Bening ini terus mengalir tanpa henti, melihatnya
menunduk dengan perasaan bersalah semakin membuatku sakit. Aku ingin memeluknya
tapi hatiku berkata dia bukanlah Oi-ku lagi..
“Kamu bohong!! Aku bahkan tidak pernah menerima email darimu kalau kau
memutuskan hubungan kita setahun yang lalu hingga saat ini, Aku tidak pernah
tahu kau ingin segera menikah dengan wanita pilihanmu, Aku... aku salah apa?”
Aku tak sanggup meneruskan semua pertanyaan yang berputar di kepalaku, begitu
banyak. Dadaku sesak dengan semua lelucon ini, sungguh tidak lucu.
“Emma, maafkan aku. Aku meminta Ed untuk mengatakannya padamu lewat emailku,
aku sendiri sudah tidak lagi menggunakan emailku yang dulu. Aku menyerahkan
semuanya pada Ed, maaf Em, aku tidak ada nyali untuk mengatakannya langsung
padamu. Aku tidak ingin menyakitimu begitu dalam, oleh karena itu aku meminta
Ed yang bicara. Maafkan aku”
Aku tidak percaya orang ini tega menyakitiku, Orang yang selama ini menjadi
tokoh utama dalam setiap mimpi-mimpiku menjadi wanita seutuhnya, menikah
dengannya, hidup bersama dengannya. Lidahku kelu untuk berkata apa-apa lagi
padanya, sudah terlambat. Oi sudah memilih hidupnya dengan wanita lain, bukan
aku. Mungkin aku harus percaya dengan apa yang dikatakan bunda, memiliki
hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah, aku bertahan cukup lama dengan
hubungan LDR kami, dan aku dikhianati.
“Brengsek”
Aku rasa tamparan tadi belum cukup mewakilkan semua rasa sakitku. Aku berlari
dan meninggalkan Oi, Ed harus mempertanggungjawabkan semuanya, Cuma Ed yang
tahu maksud dari semua ini. Semua orang menatapku bingung karena aku tidak
berhenti menangis sepanjang jalan, aku berusaha untuk menghentikannya namun aku
tidak bisa. Lukanya terlalu dalam. Aku masih terus berlari dan bertanya-tanya,
Lalu selama ini aku bertahan sekian lama untuk siapa?
DUAK!
Hening....
@
“Emma... maafkan aku” Kudengar sayup-sayup suara dari orang yang duduk
disampingku. Putih, ruangan itu putih dan aku kenal dengan aroma ruangan ini.
Entahlah sepertinya aku mengalami kecelakaan sore tadi. Aku terlalu kalut dan
membuatku gegabah, yang aku ingat hanya ada benda besar yang datang kepadaku
dan mendorongku keras, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.
“Ed... siapa yang mengharapkan kedatangan pembohong sepertimu, brengsek?!” Aku
meronta dan memberikan beberapa pukulan padanya. Ed berusaha menahan seranganku
dan dengan cepat memeluk tubuhku erat.
“Dengarkan aku Emma, aku tahu semua perbuatanku begitu menyakitkan. Maafkan
aku, izinkan aku bicara dan menjelaskan semuanya, Em” Perlahan aku berhenti
meronta dari pelukannya, “Sudah terlambat Ed, Oi sudah pergi. Ia bahkan sudah
ingin menikah dengan wanita lain, bukan aku!!!” aku menangis sejadi-jadinya
yang aku bisa.
“Emma, setahun lalu Oi memintaku untuk bilang kepadamu kalau dia mencintai
wanita lain di Holland. Kau tau? Oi tidak menyelesaikan studinya hingga
sarjana, ia bergaul dengan orang-orang yang salah. Hingga ia bertemu dengan
Hanna. Malam itu aku ada lembur dan pulang larut malam, aku mendapatinya dengan
Hanna di apartemen dengan kondisi yang... kau tahulah. Banyak whisky disana.
Sungguh, maafkan adikku Em”
Gregory. F*ck.
“Aku menghadiahinya dengan beberapa pukulan di rahang dan dadanya, hatiku sakit
Em. Bagaimana bisa ia meninggalkanmu dengan cara seperti itu. Aku terus
memukulinya, bahkan ia hampir mati karenaku. Aku begitu kalut saat itu, aku
tidak ingin kau dicampakkan seperti ini Em. Ia meminta maaf dan bilang kalau ia
sudah terlanjur mencintai Hanna, Hanna hamil dan meminta Oi untuk bertanggung
jawab. Aku menghajarnya hingga pingsan saat itu. Besoknya ia memintaku untuk
bicara padaku, ia merasa sangat bersalah atas semua tindakannya, ia tidak ingin
menyakitimu Em, sehingga ia memintaku untuk bicara padamu lewat emailnya pada
saat itu, karena emailku di hack. Kau ingat ketika berkali-kali kamu
menghubungi Oi, namun ia tidak membalasnya? Itulah ketika neraka itu terjadi.
Kami sama-sama bingung untuk bertindak. Sejak saat itu aku memutuskan untuk
tidak menceritakannya kepadamu, aku memutuskan untuk berperan seperti Oi
kepadamu. Lebih baik kau tak tahu, itu pikirku..”
Luka di kepalaku karena kecelakaan kemarin terasa sangat ringan dibandingkan
dengan luka di hatiku dengan semua penjelasan dari Ed. Air mataku tak kunjung
berhenti mendengarkannya bercerita. You’re
fucking bastard ever, Gregory...
Aku tertidur di pelukan Ed saat itu, lama sekali. Ed membiarkan aku menangis
dan tertidur dalam pelukannya. Hari-hariku kini berubah, sejak keluar dari
rumah sakit, aku memulai hari-hariku kembali.., tanpa Oi dihatiku. Terakhir
kudengar ia menikah dengan Hanna dan tinggal di Jakarta. Aku masih bekerja di
gallery ini, melihat pasangan-pasangan itu bahagia dalam memilih gaun pengantin
merupakan obat bagiku. Ya, melihat orang lain bahagia sudah cukup membuatku
bahagia. Ed masih disini, ia memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya dan
tinggal sebentar di Bandung bersama dengan orang tuanya. Ed masih sering
mengunjungiku, menghiburku dan berusaha untuk membuatku lupa akan kejadian
beberapa bulan yang lalu. Hari ini kami ada janji makan siang bersama di cafe
dekat taman kota.
“Ed, kapan kau kembali ke Holland? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Ia tertawa
ringan, “Entah Em, aku masih ingin disini. Disana sepi”
Kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing.
Perlahan aku mulai melupakan semua kejadian pahit itu. Hidupku harus terus
berlanjut meski tanpa Oi. Begitu kata Ed berkali-kali padaku.
“Ed, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya?” Ada hening panjang saat ini. Pertanyaan ini sudah kusimpan lama sejak di
rumah sakit, saat Ed menceritakan semuanya kepadaku.
“Kenapa kau lakukan semua ini Edward? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?
Kenapa kau begitu marah pada Oi saat itu? Kenapa kau datang disaat aku
kecelakaan saat itu? Kau sedang di Holland kan..”
Ed mengambil nafas panjang, “Bisa kita bicara hal lain, Em?”
Aku diam menunggu jawabannya saat ini. Ed harus menjelaskan semuanya kepadaku.
“Baiklah.. kau memang pandai sekali memaksa, Emma. Sudah sejak lama aku
mencintaimu, bahkan sebelum aku mengenalkanmu pada Oi. Aku merasa tidak pantas
Em, Oi jauh lebih tampan, lebih berani, dan kurasa Oi adalah tipemu. Bukan aku.
Aku merelakanmu padanya, meskipun aku tahu aku menyakiti diriku sendiri saat
itu. Kukira cinta ini hanyalah sementara, ternyata aku sendiri tidak pernah
menemukan cinta yang lain yang lebih dari yang aku rasakan kepadamu. Melihatmu
bahagia saja sudah cukup membuatku senang. Aku memilih untuk tinggal di Holland
agar bisa melupakanmu, namun aku malah terjebak dalam kejadian ini Emma. Aku
memukul adikku sendiri membabi buta karena dadaku begitu sesak melihatnya
dengan orang lain sedangkan kau menunggunya pulang, kau membawa semua harapan
dan janji-janji bullshit yang kalian buat sebelumnya, aku
sakit Em.. Aku tidak ingin membuatmu lebih terluka dengan mengatakannya padamu
yang terjadi sebenarnya. Dan aku membuat tindakan terbodoh yang pernah
kulakukan, aku berperan seperti Oi dengan membalas semua email-emailmu seolah
tidak pernah terjadi apa-apa. Jauh dari hati kecilku, aku ingin merasakan apa
yang tidak dirasakan olehku ketika Oi berhubungan denganmu Em.. Harusnya aku
yang sedari dulu mencintaimu, bukan adikku.. Aku mencari tahu keberadaanmu di
Bandung, tempatmu bekerja, dan segala hal tentangmu. Aku juga ikut pulang
ketika Oi pulang kesini. Aku mengejarmu ketika kau berlari sambil menangis saat
itu, aku pula yang membawamu ke rumah sakit ketika kau mengalami kecelakaan
sore itu. Maafkan tindakan bodohku, Em” jawabnya. Aku membekap mulutku tak
percaya. Sejak kapan semua ini menjadi begitu complicated?
Ed mencintaiku sejak lama dan berlindung dibalik tameng Oi. Pengecut.
“Lalu, apa yang kau harapkan dariku Ed?” Aku menghapus bening yang turun dari
kedua mataku, meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
“Aku ingin kau bahagia Emma. Aku ingin memastikan kau bahagia ketika aku
kembali ke Holland nanti. Aku tahu sulit bagimu untuk menerima semua kenyataan
ini. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya padamu dan mengagumimu
dibalik cinta kalian.”
“R u sure?”
Ia mengangguk dan tersenyum hangat.
“Kamu orang ter-sok tahu dan pengecut yang pernah kutemukan, Ed”
“Maafkan aku Emma...”
“Kau tahu? memang sulit bagiku untuk menerima semua ini. Tapi kau membuatnya
begitu mudah Ed. Tenang saja, aku akan bahagia Ed. Aku akan bahagia jika kau
terus bersamaku seperti saat ini” jawabku padanya. Mengatakan ini sungguh
tidaklah mudah. Perlahan tapi aku memang merasa nyaman dengan Edward. Hey Em,
Edward jauh lebih baik dari Oi sejak dulu. Bodohnya aku tak pernah memandangnya
dengan mata dan hatiku.
Senyumnya mengembang, wajahnya semakin terlihat tegas dengan senyum itu.
“Kau akan ikut aku ke Holland?” tanyanya. Tangannya menggenggam balik jemariku
lembut.
“Tidak,
selesaikan urusanmu disana. Aku akan menyusul tahun depan. Aku harus mengurusi
pekerjaan besar bulan depan dan aku tidak ingin ketinggalan, setelah semua beres
aku akan terbang menyusulmu” Ia mengangguk senang, senyumnya tak pernah hilang
dari wajahnya, dan aku suka.
“Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya. Tatapan matanya tajam menatapku,
tangannya masih belum beranjak dari zona nyaman itu.
“Belum, semua butuh proses Ed. Beri kita waktu setahun untuk saling meyakinkan,
aku tidak ingin kejadian lalu terulang lagi, dan aku tidak ingin kau memilih
wanita yang salah Ed. Kita akan saling memberi kabar selama setahun ini, dan bertemu
tahun depan. Saat itu semuanya menjadi resmi. Apakah seorang Edward Thamrin
yang telah menungguku begitu lama merasa keberatan dengan rentang setahun ini?”
godaku. Sontak ia memelukku erat sekali, Paling erat dari yang pernah
kurasakan, “Tentu saja aku tidak keberatan, i’ll
wait for you” bisiknya.
Hidupku terasa begitu ringan dan berwarna saat ini. Kami akan memulai takdir
kami yang baru. Butuh waktu memang untuk memulainya dari awal bersama Ed. Tapi
aku yakin Ed yang terbaik untukku saat ini, dulu, dan esok.
Untuk kamu yang sedang ragu meyakinkan cintamu, kau takkan pernah begitu yakin
kau mencintainya dengan amat sangat, sampai kau merasakan dadamu sesak karena
kau merasakan duka yang ia rasakan, atau dadamu terasa begitu ringan ketika kau
merasakan kebahagiannya...
Because love is someone who feels
like a part of you,
and love never fails...
Created by:
Cynthia SL
Langganan:
Komentar (Atom)
A Man's Promise
Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...
-
Have you ever been in war situation? Berada di tengah-tengah antara si kuat ego dan si konsisten logika yang berperang memperebutkan sa...
-
Aku ingin bercerita tentang hujan. Coba tengok keluar jendela, dengarkan bisikannya, resapi dalam-dalam tiap titik basahnya, perca...
-
Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...