Senin, 16 September 2013

Hey, the greatest distance on Earth, is not North to South or South to North. It is when i am right in front of you and you don't know that i adore you. 

Jumat, 30 Agustus 2013

A Half-Wing Angel

Hey,
Jangan salahkan merpati jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah tidak lagi ada disampingmu. Kumohon,  jangan pernah salahkan angin dan hujan jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah tidak mungkin lagi menjadi sandaran semua keluh kesahmu setiap harinya. Dan jangan pernah salahkan dirimu sendiri jika kamu sudah menyadari semuanya setelah membaca surat dariku. Kamu ingat kan? aku benci melihatmu duduk diam, tatapanmu kosong, auramu abu-abu, kemudian tanganmu terluka karena kamu benturkan kesemua benda yang ada di sekelilingmu. Aku benci melihat kamu terpuruk.

Maafkan aku jika surat ini dibuka dengan kalimat-kalimat yangmembuatmu semakin penasaran dengan inti dari lembaran-lembaran kotor ini. (actually, Aku bukan penulis surat yang baik). Lewat surat ini, aku ingin menceritakanmu sebuah kisah mengenai seorang malaikat yang rela jatuh ke bumi untuk mencintai seorang manusia. Pernahkah kamu mendengarnya? Begini saja, aku akan memberimu beberapa fakta mengenai kisai ini kepadamu, asal kamu janji jangan pernah memotong, menyela, atau bereaksi apapun sampai aku selesai menceritakan semuanya kepadamu. Bagaimana?

1.       Malaikat Separuh Sayap Yang Rela Jatuh ke Bumi
Jika aku bilang kalau ada seorang malaikat yang mencintai seorang manusia dan rela jatuh ke bumi dengan separuh sayapnya, apakah kamu percaya? Kamu pasti meragukan ini. Karena disetiap kisah agama menceritakan bahwa malaikat takkan pernah memiliki nafsu. Tapi tahukah kamu? Ada satu malaikat yang rela melepaskan separuh sayapnya untuk turun ke bumi hanya untuk berada didekatmu. Ia mengintip dibalik celah langit ketika hujan turun, mencium aroma tubuhmu yang menembus langit, merasuki kesadarannya, lalu tenggelam didalam palung paling dasar yang ada pada kedua bola matamu. Sesaat ia mabuk karenamu, merasakan adanya letupan dahsyat dari dalam darah yang mengalir di sekujur tubuhnya dan menyadari betapa indahnya makhluk Tuhan dibawah sana. Ia menerbangkan setiap kalimat-kalimat doa kepada Tuhan agar bisa mengubahnya menjadi makhluk yang sama sepertimu, agar bisa merasakan lagi letupan-letupan dahsyat di hatinya ketika berada lebih dekat denganmu. Tapi, Tuhan tidak langsung mengatakan ‘ya’ kepadanya, dengan bijak ia mematahkan separuh dari sayap malaikat itu dan menurunkannya ke bumi. Dengan catatan, perlahan-lahan setiap bulu dari sayap itu akan jatuh untuk setiap bentuk sakit yang dirasakan oleh sang malaikat ketika bersamamu. Dan ketika semua bulu sayapnya telah lenyap, ia akan kembali menjadi malaikat langit yang hanya bisa melihatmu dari atas sana.

2.       Malaikat yang Jatuh Takkan Pernah Membiarkanmu Tenggelam dan Hilang di Dasar Jurang
Pernahkah kamu merasakannya? Ia turun ke bumi sebagai seorang manusia yang memiliki separuh sayap transparan yang tidak akan pernah terlihat olehmu. Ingatkah kamu ketika kau bertemu dengan seorang stranger yang duduk di taman kota, mengenakan baju biru muda dengan rambut yang ia kuncir ke belakang? Itulah pertama kalinya kalian akhirnya bertemu. Kamu melihatnya dengan seksama, mencoba menerka-nerka “siapa dia?”. Mungkin penampilannya terlihat dimatamu seperti seorang gadis desa yang jauh dan tersesat di kota besar. Dan letupan dahsyat itu muncul kembali setelah ia berhasil menjabat tanganmu, mengenalkan namanya kepadamu, “Alice” (Aku tahu setelah ini kau akan mencoba mengingat-ingat bagaimana pertemuan kalian saat itu).
Lalu, ingatkah kamu ketika kau menjadi sering berkunjung ke taman kota untuk menemuinya, dan menceritakan semua hal yang ingin sekali kau ceritakan kepada orang yang mungkin bisa kau percaya. Kamu menganggapnya sebagai gadis desa yang lugu yang lebih bisa memahamimu dengan baik dibanding teman-teman kotamu yang brengsek dan sombong itu. Kamu menemukan ada yang lain dari gadis ini yang bisa kau percaya sepenuhnya dibandingkan teman-teman kotamu yang terkadang hanya memanfaatkan kehadiranmu untuk memberi mereka tumpangan, makan, atau sekedar meminjam uang.
Sadarkah kamu bahwa ia selalu melindungimu dari setiap kesempatan buruk yang mungkin kamu ambil disetiap pilihan? Membisikimu jutaan kalimat-kalimat positif  yang kadang (atau selalu) tidak kau hiraukan. Mendengarkan semua keluh kesah, suka duka yang kamu alami setiap harinya tanpa kenal lelah. Membersihkan semua perkataan dan anggapan orang yang buruk tentangmu, menjadi makhluk pertama kali yang kau temui untuk dimintai pendapat mengenai semua hal baru yang kau temui, atau bahkan menjagamu dalam tidur lewat doa-doa yang ia panjatkan kepada Tuhan yang memberikannya kesempatan untuk berada lebih dekat denganmu. (Tanganku cukup lelah untuk menceritakan semua yang telah ia lakukan untukmu). Tahukah kamu tentang semua ini? Aku yakin saat kamu membaca ini, kamu masih mencoba untuk mengingat apa saja yang sudah ia lakukan untukmu.

3.       Hujan yang Turun di Pagi Hari dan Setiap Kebahagiaan yang Kamu Alami Adalah Setiap Bulu-bulu Sayap yang Perlahan Terlepas dari Pemiliknya.
Ketika turun ke bumi dan mengamatimu dari jarak yang lebih dekat, ia menyadari bahwa ada desakan dari ruang lain dalam dirinya yang ingin diisi olehmu. Lebih dari sebagai seorang ‘teman baik’ untukmu. Ketika ia mencoba untuk mendekat lebih dari batas yang seharusnya dijalani sebagai seorang teman, ia menyadari bahwa takkan mungkin meminta lebih dari sekedar ‘Keeper’ bagimu. Kamu manusia, akan mencintai manusia lainnya yang rupawan, modis, tampil elegan, kaya, terpelajar, dan sama terhormatnya denganmu. Untuk itu, sang malaikat harus puas dengan pekerjaannya sekarang sebagai seorang keeper bagimu (Satu bulu disayapnya pun terjatuh). Kemudian keesokan harinya kamu tersadar bahwa semalam hujan telah turun dengan deras membasahi tanah yang kau pijak pagi ini. Tapi hujan pagi ini takkan memudarkan kebahagiaanmu hari ini, setelah berhasil mendapatkan gadis cantik di sekolahmu untuk menjadi kekasihmu.
Selanjutnya, masih dengan rutinitas yang selalu dilakukan oleh sang malaikat setiap harinya, seiring bertumbuhnya kau menjadi dewasa, pekerjaannya bertambah. Kini topik yang kamu bahas setiap kali datang menemuinya bukan lagi mengenai teman-teman kotamu yang meninggalkanmu ketika kesusahan atau bukan lagi tentang kecemburuanmu terhadap saudaramu yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuamu. Topik yang kalian bicarakan selalu berputar pada wanita. Kamu mulai mencintai dan dicintai banyak gadis di kota, dan kamu menikmatinya. Malaikat ini mendengarkan setiap cerita cintamu dari satu gadis ke gadis lainnya sambil sesekali menyeka air mata yang turun dari kedua matanya ketika kamu tidak melihatnya. Ia membantu memilihkan hampir setiap wanita yang akan kamu jadikan kekasihmu tanpa kenal pamrih. Kamu bisa membayangkan rasanya? Ketika kamu harus berpura-pura tertawa karena cerita-cerita cinta yang teman baikmu ceritakan kepadamu, ketika kamu harus menahan segala jenis emosi yang ada dalam dirimu untuk sekedar mengatakan kalimat penyesalan, “Kenapa bukan aku saja yang menjadi gadis-gadis kota itu? Kenapa bukan aku yang kamu cintai?” Dan setelah ini kamu pasti tahu, bulu-bulu sayap yang lainnya pun ikut turun satu persatu ke bumi, ditukar dengan setiap kebahagiaan yang kamu dapatkan dengan berbagai macam gadis kota selalu kamu ceritakan itu.

4.       Selimut Hangat Yang Menghangatkan Tidurmu Berasal dari Doa-Doa yang Dipanjatkan Sang Malaikat Jatuh
Berjanjilah, jangan pernah merasa kedinginan saat kamu terlelap dalam tidurmu setelah membaca surat ini. Pernahkah kamu merasakannya? Merasakan setiap kehangatan yang menjagamu dalam lelap. Tahukah kamu bahwa semua itu berasal dari sang malaikat jatuh yang memanjatkan permohonan doa kepada Tuhan agar selalu menjagamu dalam tidur dan setiap langkah yang kamu ambil. Meskipun kadang terselip doa yang terdengar egois keluar dari bibirnya, “Kumohon jadikanlah aku jadi orang yang dapat ia cintai selamanya..”.
Ingatkah kamu? Ketika langit senja sudah menutup pintunya dan titik-titik hujan mulai turun dengan derasnya, kamu datang menerobos setiap titik-titik air langit untuk menemui gadis desa tersebut sambil mengepalkan seluruh jari-jarimu dan membiarkan gigimu berbenturan dengan keras menahan dingin yang menusuk hingga kedalam tulangmu. Gadis desa itu keluar dan kamu memeluknya dengan erat. Kamu katakan bahwa kamu baru saja kehilangan harapanmu dengan salah satu gadis kota yang selama ini kamu pacari. Kamu frustasi. Kamu biarkan tangan-tanganmu terluka ketika kau benturkan dengan keras ke tembok rumah sederhana itu. Kamu menangis sejadi-jadinya didepan perempuan desa yang bahkan belum pernah tampak menangis dihadapanmu. Kamu ceritakan semua yang kamu rasakan kepadanya, kecewa, marah, sedih, semua yang kamu rasakan. Dan gadis desa itu hanya bisa mendengarkan, memberikanmu suntikan-suntikan penyemangat agar kamu bisa kembali seperti dulu. Ia benci melihatmu terluka seperti ini. Sesaat kemudian, ingatkah kamu ketika kau meminta gadis desa itu untuk menjadi kekasihmu? “...aku lelah terus mencari seseorang yang rupawan untuk dijadikan seorang kekasih yang pantas untukku, tidak ada yang bisa mengertiku sepenuhnya. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Gadis desa itu menggeleng pelan kemudian memelukmu erat. Ia kembali membisikimu kalimat-kalimat positif agar kamu bisa bangkit kembali dan tidak menyesali keadaan yang terjadi sekarang. Dan kamu tertidur lama di sofa rumahnya.
Hey, apa kamu menyadari ada bekas titik-titik bulir airmata yang jatuh dari matanya ketika melihatmu terpuruk seperti ini? Apa kamu pernah sedikit meluangkan waktumu untuk sebentar saja melihat wajahnya lekat-lekat dan menyadari ada ketulusan di hatinya untuk selalu berada disampingmu? Pernahkah?
Hey, apa kamu bertanya-tanya mengapa ia tidak menerimamu saat itu?
Rasanya sungguh menyakitkan ketika mendengarmu mengucapkan kata-kata seperti itu. Seolah-olah ia hanyalah pilihan terakhir dari semua pilihan terbaik yang ada. Lebih baik menjadi seperti ini selamanya dibandingkan harus memiliki ragamu tanpa pernah memiliki hatimu yang sesungguhnya. Kamu hanya sedang merasa kesepian ketika mengatakan itu. Dan benar saja, bertahun kemudian kamu tak pernah mencoba untuk membahas apa yang kamu minta hari ini padanya, bahkan aku tidak yakin kamu mengingat apa yang kau katakan padanya hari ini.

5.                   Dua Bulu Yang Masih Menggantung di Sayap Sang Malaikat Jatuh
Tanpa terasa sudah bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan langit dan menghuni bumi hanya untuk bersama kamu. Bertahun-tahun menggantungkan harapan hanya untuk bersama kamu. Mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk bersama kamu. Terdengar naif memang, tapi apa daya jika memang kenyatannya seperti itu?
Pernahkah kamu bertanya mengapa ia rela mengejar pendidikan yang tinggi dan belajar menggunakan make up setiap kali menemuimu?
lemme tell you, Ia sedang berusaha mengkhianati langit.
Berusaha mati-matian memantaskan diri untuk bersanding denganmu. Berharap ketika ia berhasil memilikimu seutuhnya, ia akan menjadi manusia seutuhnya tanpa harus takut lagi bulu-bulu sayapnya berjatuhan dan kembali ke langit.
Mengalami proses bahagia kemudian terpuruk, hidup kemudian mati adalah hal yang membedakan malaikat dengan manusia seutuhnya. Dan jika orang-orang diluar sana takut akan kematian, tidak baginya. Jika memang harus merasakan proses hidup kemudian mati, ia akan sangat bersyukur dan bahagia karena sebelumnya pernah hidup untuk dan bersama orang yang ia cintai semasa hidupnya.
Tahukah kamu? Pernah suatu ketika disuatu senja berwarna jingga kemerahan, ia bertekad untuk mengatakan semuanya kepadamu. Tentang penantian, letupan-letupan yang sering kali muncul ketika bersama kamu, dan juga air mata yang kadang mengalir begitu deras tanpa mampu ia tahan.
Lalu kamu datang...
Wajahmu begitu cerah menyiratkan kebahagiaan besar yang sedang kamu dapatkan saat ini. Gadis desa itu menerka-nerka “Apa ada aku dibalik semua kebahagiaan yang dia miliki?”.
“Terima kasih. Terima kasih atas semua waktu yang kamu luangkan untukku bertahun-tahun ini. Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Doakan aku, besok pagi aku akan melamar gadis kota yang cantik dan terhormat di rumahnya”
Kamu tahu bagaimana rasanya menahan rasa sakit yang terlanjur naik hingga ke kerongkongan begitu mendengarmu mengatakan itu?Tidak Tidak, ia seharusnya bahagia karena kini kamu sudah berhasil memilih dengan baik siapa yang pantas mendampingimu seumur hidup. Tidak seharusnya ia bersedih. Ia mengucapkan selamat, mengulurkan tangannya dan membawa kamu kedalam pelukannya erat. Pelukan hangat seorang teman baik yang hanya kamu dapatkan ketika kamu sudah siap menjadi seorang brideman.
“Terima kasih sudah menjadi teman-terbaik-sedunia-ku. Percayalah, sebentar lagi pasti ada pria beruntung yang melamarmu menjadi pengantinnya”
Malaikat jatuh itu mengangguk dan membiarkan air matanya meleleh di punggungmu. Tidakkah kamu tahu bahwa tidak ada pria lain yang ia inginkan melebihi apapun di dunia ini kecuali kamu? Tidak tahukah kamu ada ratusan letupan kebahagiaan dan kecaman emosi dalam dirinya yang menyatu begitu mendengar kamu menyebutnya sebagai ‘teman-terbaik-sedunia’. Mengetahui bahwa kamu hanya membagi kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan, bahkan kesepianmu hanya padanya saja sudah merupakan satu kebahagiaan yang besar baginya. it’s nice to have my other half is sitting here next to me.. Lantas, nikmat Tuhan mana lagi yang harus ia dustakan?
Dan hujan pun turun dengan derasnya.

6.       Satu Bulu Sayap yang Tidak Pernah Terjatuh ke Bumi
Jangan pernah mengira malaikat ini tetap menjadi manusia seutuhnya karena bulu sayapnya yang terakhir tidak terjatuh ke bumi.
Kamu tahu? Sesaat setelah kau mengatakan kamu akan melamar seorang gadis lain, ia belajar mengimbangi paksaan ruang dalam hatinya yang ingin diisi olehmu dengan perasaan-yang seharusnya ada didalam hatinya. Ia mulai belajar untuk berbahagia seutuhnya karena kebahagiaanmu. Bukankah melihat orang yang kita cintai bahagia sudah cukup membuat diri kita bahagia?
Detik-detik menjelang hari pernikahanmu, ia masih terus berlatih siang dan malam menjadi seorang pengiring wanita yang berlaku manis dan cantik untuk pesta pernikahan sahabat terbaiknya.
Dan ia bisa memastikan takkan ada langit kelabu dan hujan yang turun di hari pernikahan sahabat terbaik sedunia-nya.

***

Well, sebenarnya aku tidak ingin menceritakan bagaimana akhirnya, karena kurasa kamu sudah mengetahuinya saat ini. Perlukah aku mengulangnya kepadamu lagi memori 1 tahun silam?

...Baiklah jika kamu memaksa. Sang malaikat pergi sesaat setelah ia menuntaskan tugasnya sebagai seorang pengiring pengantin. Kalau setelah membaca cerita diatas kamu berpikir ia hilang karena ia gagal berbahagia atas kebahagiaanmu, kamu salah. Ia menghilang bukan karena satu bulu sayap terakhir yang jatuh ke bumi, karena memang sesungguhnya bulu terakhir itu tidak pernah jatuh menghentak bumi. Ia mencabutnya secara paksa dan menyimpan bulu sayap terakhir tersebut dan memberikannya kepada mempelai wanitamu. Ia memberikannya karena ia tidak ingin ada lagi bulu-bulu sayap yang jatuh karena sakit yang dirasa dihatinya. Bulu sayap yang terakhir itu tidak akan pernah turun ke bumi karena ia pasti akan berbahagia selalu ketika bersama dengan pria sepertimu. Jika kamu berkenan, tanyakan kepada mempelai wanitamu, apakah ia masih menyimpannya dengan rapi hingga hingga saat ini?

Ceritaku sudah selesai. Apakah kamu merindukanku saat ini? Tengoklah keatas langit jika kamu ingin melihatku, mungkin saja aku sedang bermain-main diatas sana dengan malaikat lainnya sambil mengawasimu dibawah sana. Mungkin saja ketika kamu menengadah keatas sana aku juga sedang melihatmu. Maafkan jika aku tidak pernah mengatakannya langsung kepadamu apa yang sebenarnya kurasakan selama bertahun-tahun. Maafkan aku karena akulah yang melepaskanmu pertama kali. Maafkan aku karena aku tidak memiliki nyali yang cukup kuat untuk mengkhianati langit dan takdir Tuhan.
Dan jika setelah kamu membaca surat ini, kamu menyesal karena baru mengingat dan menyadarinya, jangan pernah salahkan istrimu. Bagaimanapun jangan pernah salahkan takdir dan berjalan diluar jalur yang sudah diberikan oleh Tuhan kepadamu. She’s the best. Percayalah kepadaku.
Klise memang jika aku menutup surat ini dengan ucapan-ucapan terima kasih kepadamu karena memang jika aku melakukannya, mungkin butuh berlembar-lembar hanya untuk mengucapkan berbagai macam bentuk terima kasihku kepadamu. Aku hanya menuliskannya satu kali dan semoga ini mewakilkan semua rasa terima kasihku kepada kamu.

Lewis Dylan Ferdinand..
Have a wonderful life, surrounded by the people you love.
Terima kasih karena sudah pernah memenuhi ruang kosong yang ada di hatiku selama bertahun-tahun hingga saat ini.
Aku cinta kamu.


With Love,


The Half-Wing Angel, Alice. 

Senin, 12 Agustus 2013

PROLOG

PROLOG

Nico
            BRAK!
            Aku membanting pintu kamar keras-keras, menjambak rambutku berkali-kali dan terduduk lemas di sudut kamar. Aku bosan dengan ocehan mama yang selalu menyuruhku segera menikah. “Usiamu sudah 35 tahun Nico, mau sampai kapan? Kasihan mama nak” Mama selalu menggunakan dirinya sebagai senjata untuk mengunduh belas kasihan dariku. Siapa laki-laki yang di usia (kelewat) ideal yang tidak menginginkan sebuah pernikahan? Tapi bagaimana caranya aku menikah dengan orang lain sementara hatiku belum bisa menerima dan enggan berhenti mencintai orang itu? Dan hari ini ada lagi alasan yang membuatku berkali-kali menjambaki rambutku, merutuki diriku dan menyebabkan kaca dikamarku pecah. Dia.

            Aku bertemu lagi dengannya. Dengannya yang bertanggung jawab atas porak porandanya diriku saat ini. Entah perasaan apa yang kupunya saat ini, tapi aku masih ingin menggenggam erat tangannya, membelai rambutnya, aku ingin berada disampingnya saat ini. Tapi separuh dari diriku memutuskan untuk membencinya, membencinya karena ia masih sama seperti dahulu. Hey, kenapa kamu tidak mengubah penampilanmu saja agar memoriku tidak terbawa kepada masa lalu? Aku lebih setuju jika kau sekaligus mengubah namamu sehingga tidak akan ada lagi nama sepertimu yang kukenal di dunia ini. Lihat dirimu, bahkan rambut sebahumu masih terawat dengan indah mengikuti setiap langkahmu pergi, lalu parfum yang kau pakai masih sama seperti pertama kali kita bertemu, dan lihat! liontin itu masih bertengger indah menghiasi kulit lehermu yang mengkilau.

            Apa kamu rasakan degub jantungku serasa berhenti ketika kau panggil namaku siang tadi? Jelas, sangat jelas aku mengenali suaramu namun aku enggan untuk menoleh hingga kamu mengejarku sampai ujung jalan dan membuatmu terengah-engah. Aku benci pada diriku karena tidak mampu melihatmu kelelahan seperti itu hanya untuk mengejar pengecut sepertiku. Aku kalah, (mengalah lebih tepatnya). Dan siang tadi adalah pertama kalinya kita bertemu lagi setelah 7 tahun lalu aku berjanji untuk menemuimu yang terakhir kalinya di hari terpenting dalam hidupmu. Tanpa aku. 


P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :) 

Sabtu, 25 Mei 2013

PART OF MINE


        Pagi dan malam adalah sahabatku. Sahabat dekatku ketika aku menunggu detik-detik bersua denganmu. detik-detik berharga ketika penantian telah berakhir. Tahukah kamu, ketika aku menatap langit, ada wajahmu terlukis disana? Tahukah kamu ketika aku memandang jarum jam yang berputar di tanganku, aku selalu berharap agar Tuhan mempercepat waktu? Tahukah kamu ketika aku menginjakkan kakiku ke tanah, aku selalu ingin ketika aku mendongak, kau berada tepat dihadapanku saat itu juga? Dan tahukah kamu, berapa banyak gelas Cappucinno yang kuhabiskan untuk menunggumu datang? Aku ingin berlari menyusulmu kesana, bersua denganmu, mencium aroma tubuhmu dari dekat dan memandang matamu sepuluh cm dihadapanku. Namun aku berusaha keras menahan semua itu, karena aku tahu, ketika aku memandang langit dan menginjakkan kaki di tanah, kamu juga sedang melakukan hal yang sama. Ya... kita sedang berada dalam roda waktu yang masih terus berputar hingga takdir memutuskan untuk mempertemukan kita dalam detik yang sama....

@
        Bandung, Januari 2004
Aku tidak ingat sejak kapan kota ini begitu bising. Begitu silau karena banyaknya lampu kendaraan berplat B memadati kota ini. Kadang aku merasa Bandung yang sekarang tidak lagi sedingin dahulu, hingga aku memutuskan untuk membeli AC pertengahan bulan ini dan membuat bunda semakin bawel menyuruhku untuk selalu mematikan AC karena biaya listrik rumah kami naik. Cita-citaku tinggi, aku ingin meneruskan kuliah di Belanda. Aku menyukai setiap postcard yang dikirimkan oleh tanteku yang tinggal disana. Ada gambar kincir angin atau bunga tulip yang berwarna-warni dan semakin menggodaku untuk pergi kesana secepatnya. Sebenarnya aku masih duduk di bangku perkuliahan tahun ketiga. Masih ada satu tahun lagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya kesana.

        Ehem, Cowok tinggi ini Oi. Namanya Gregory, hanya saja aku sering memanggilnya dengan Oi. Terdengar simple.. dan classy. Dia adalah kekasihku. Kami kuliah di Universitas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Oi menyukai seni dan aku masih berkutat dengan ilmu-ilmu teknik ini. Sudah delapan tahun sejak pertama kali aku dan Oi berubah menjadi “kita”, dan perasaan itu tidak berubah. Bagi kami, setiap hari adalah hari pertama kami bertemu. Dan aku merasa hubunganku dengannya adalah hubungan cinta yang paling sempurna. Oi tampan, pintar, romantis, dan Oi mencintaiku dengan sangat. Dan tahun ini, ia akan segera melanjutkan studinya ke Belanda.

        Satu yang membuatku khawatir saat ini adalah, banyak sekali orang-orang yang gagal dalam menjalankan hubungan jarak jauh dengan pasangannya, jangankan untuk LDR, mereka yang tingga berdekatan saja bisa putus, lalu gimana yang tinggal berjauhan? dalam zona waktu yang jauh berbeda?

        “Kamu tenang aja, kalo sekarang kita bisa, besok juga pasti bisa Em. Apa sih yang bisa ngalahin cinta? Bahkan jarak sekalipun bukan halangan” Selalu begitu jawab Oi. Ya, sedikit banyak menghibur perasaan khawatirku. Oi selalu menenangkan aku, kalau aku tidak perlu khawatir akan dirinya yang jauh beberapa hari lagi, he’s a good man. Bahkan beberapa hari terakhir seBelum keberangkatannya ke negeri kincir angin itu, setiap hari Oi menemaniku kemanapun yang aku mau, he really knows how to treat me, and i love him so much.

---

        Keberangkatan Oi tinggal menunggu 10 menit lagi, dan ya seperti yang kau pikirkan, aku tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya agar segera mengirimkan email kepadaku sesampainya disana. Ia menepuk tanganku yang berada diatas jari-jarinya, “Tenang aja”. Ujarnya santai. Ya.. seharusnya aku mendukungnya, toh setelah ia pulang nanti, Oi akan melamarku.

        Aku merasa deru nafasku semakin kencang ketika petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Detik-detik terakhir aku berjarak hanya 10 cm dari tubuhnya. God, please save him...

        Dan kini lambaian tangan itu mengantarkan kami pada takdir kami yang baru. Aku harus selalu percaya, Tuhan selalu menjaga Oi dalam lindungannya, dalam cintanya padaku. I wish..

@
        Sudah dua tahun kami terperangkap dalam zona waktu yang berbeda. Dua tahun yang cukup sulit pada awalnya, namun semakin terasa begitu mudah ketika aku selalu menghibur diriku dengan mengingat kalau Oi akan segera pulang dan melamarku. Aku berusaha untuk selalu berpikir bahwa kami hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk kembali bersama. Setahun lalu aku meraih gelar sarjanaku dan memutuskan untuk melanjutkan kerja terlebih dahulu seBelum melanjutkan sekolahku. Aku akan menunggu Oi pulang dan kami akan sama-sama tinggal di Emanda sekaligus melanjutkan studiku disana. 

        Oi menepati janji-janjinya, ia selalu mengirimkan email padaku semenjak ia tinggal disana. Banyak sekali hal yang ia ceritakan, teman-temannya, keluarganya disana. Hem, maksudku saudara laki-lakinya, disana ia hanya tinggal berdua dengan Edward. Kakaknya sudah lebih dulu tinggal dan memilih untuk menetap untuk bekerja disana.  Ed sudah tidak asing lagi untukku, pertama kali yang kukenal adalah Ed hingga ia memperkenalkan Oi padaku. Dulu kami teman sepermainan di Bandung, Ed selalu berperan menjadi suami yang baik dan aku sebagai istrinya saat kami bermain rumah-rumahan dulu.

Dearest Em,
Em, kau tau? betapa aku harus bersyukur setiap hari karena memiliki keluarga dan kamu yang begitu mendukungku. Aku mulai terbiasa tinggal disini, budaya, warga-warga disini, teman-temanku, dan Ed sangat baik padaku. Aku jadi tidak sabar untuk segera membawamu kesini dan tinggal bersama denganku..
Selamat atas pekerjaanmu, Em, aku senang sekali kau sudah berkarir disana.Aku segera menyusulmu :D Hey, hari ini aku baru saja mengunjungi kincir angin pertama di Holland. Indah sekali persis seperti yang kau sering ceritakan lewat postcard yang dikirimkan tantemu. Em, aku sangat rindu padamu. Tunggu aku pulang,
I love you, and you know who i am.

        Oi, tahukah kamu ketika aku membuka email dan mendapati ada email baru darimu, kau sudah berhasil membuat hari-hariku begitu sempurna. Menghapus semua kelabu hari-hari yang kujalani tanpanya selama ini.

        Namun, akhir-akhir ini begitu menjengkelkan, sudah sebulan ini Oi sudah jarang mengirimiku pesan elektronik itu. Seperti hari ini, sudah lima kali aku mengiriminya pesan dan Belum dibalas hingga saat ini.

Hi Em,
Maaf aku baru membalas pesanmu, tugasku begitu banyak akhir-akhir ini. I miss you, hon. Bagaimana kabarmu?Bunda? Salam untuknya ya,
Em, kau tau, sudah berapa lama sejak aku disini dan selalu menandai kalenderku untuk menghitung berapa lama lagi aku bisa memelukmu dengan erat seperti dulu? Hari ini mengalami masalah dengan teman sekelasku, Kau tahu Delia? ya, aku hanya meminjam modul padanya, dan pacarnya begitu cemburu melihatku dengannya. Rahangku terasa begitu kaku saat ini, biru. Tak perlu khawatir, Ed bilang kalau semua lelaki pasti mengalami fase ini, Fase saat rahangnya kaku akibat berkelahi dengan temannya hahaha.
Bagaimana kerjaanmu? Jangan terlalu diforsir. Jaga kesehatan.
from: The one that will always love you so damn much,
Gregory.

Email dari Oi berhasil membuatku melupakan semua kekesalanku padanya sebulan ini. Ah, Aku sangat mencintainya. Kupejamkan mataku dalam-dalam, Semoga ketika aku membuka mataku,Tuhan melongkap tahun dengan cepat dan membawaku ke hadapan Oi.

---

        Aku menyimpan semua email darinya, bahkan aku memiliki folder tersendiri untuk emailnya. Penantian kami sebentar lagi akan berakhir, Oi akan segera pulang dan kami akan segera menikah. Aku tahu email-email ini menjadi saksi pernikahan kami, saksi kisah kami. Minggu depan Oi pulang, aku sudah tidak sabar untuk menyambutnya di bandara. Yayaya! aku bahkan sudah merencanakan cuti dari tempatku bekerja untuk menjemput Oi nanti.

        Galery wedding ini menjadi tempatku bekerja sejak empat tahun yang lalu. Benar juga kata orang, bekerja memang tidak harus sesuai dengan jurusan apa yang kita ambil semasa kuliah dulu, lihatlah aku. Aku bekerja di bagian marketing di galery ini. Galery ini cukup besar dan ternama di dunia. Dengan tangan-tangan magic dari designer terkenal, menjadi magnet pasangan-pasangan bonafit kelas atas untuk bersedia menyerahkan segala urusan busana pengantinnya pada galery ini. Hari ini salah satu officer kami tidak bekerja sehingga aku bekerja sembari melayani pelanggan yang datang. Sudah sore, gallery masih banyak dikunjungi banyak pasangan-pasangan bahagia. Aku selalu berharap cepat menjadi salah satu dari mereka, memilih busana pengantin bersama dengan Oi, dan mengenakannya pada acara besar kami. Setiap wanita menginginkan hal itu dan pasti mengalami fase tersebut.

        “Aku mau yang ini aja sayang, warnanya cocok banget sama tema pernikahan kita nanti” sayup-sayup kudengar salah satu pelanggan yang ada di gallery. Ya, perdebatan antara pasangan juga tidak dapat dihindari ketika mereka memilih gaun mana yang pantas untuk dikenakan dihari bersejarah mereka. Kulihat salah satu penjaga toko sedikit kewalahan mengatasi pelanggan yang satu itu, “Kurasa gallery ini harus mempekerjakan penjaga yang worth it untuk digaji” Aku lalu bergegas menemui mereka.

        “Ada yang bisa saya bantu? Maaf kalau pelayanan toko kami kurang berkenan untuk anda, nona”

        “Oh oke, aku sedikit bingung untuk memilih beberapa gaun, pesta kami diadakan di ruang terbuka dan tidak terlalu formal, aku ingin gaun yang indah, terlihat mewah, dan tidak membuatku kaku untuk berjalan nanti”

        “Baik, akan saya carikan nona” Aku sibuk mencari gaun yang sesuai dengan permintaan nona tadi. Aku bisa menebak pasti pasangannya adalah lelaki yang gagah dan tampan, cocok dengan nona tadi yang cantik. Aku mendapatkan gaun yang sesuai dengan permintaannya, dan membawanya ke nona tadi dengan cepat... kalau saja kakiku bisa lebih cepat dari yang kubayangkan saat ini, kalau saja tubuh ini tidak bergetar dengan hebat begitu melihat apa yang ada di hadapanku saat ini..

        “Oi......” Apakah ini sejenis surprise yang ia berikan padaku? Oh Tuhan ini sungguh tidak lucu, aku bahkan belum siap-siap untuk bertemu dengannya, bukankah masih beberapa hari lagi kedatangannya kesini?

        Yang dipanggil tadi hanya menoleh dan mengernyitkan dahinya begitu melihatku kaget. Aku ingin sekali berlari kearahnya dan memeluknya saat itu, namun ada apa dengannya? ekpresi wajahnya bahkan seperti tidak senang dan seolah berteriak padaku “Hei, ini bukan surprise!”

        “Bukankah kamu bilang kau akan kesini beberapa hari lagi? Jangan katakan kau memberiku surprise...” ujarku sambil memukul lembut tangannya. Oi masih diam, ia bahkan tidak memberiku senyum yang kurindukan sejak empat tahun lalu.

        “Em, kumohon jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu. A.. aku minta maaf karena tidak berani mengatakannya langsung kepadamu saat itu, Aku kalut, maafkan aku” Aku melepaskan pegangan tanganku darinya dan mundur perlahan, ada apa? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Apa yang perlu dimaafkan?

        “Sayang, gaun yang ini gimana?” Nona cantik tadi menemui Oi. Hey, siapa pasanganmu? Kenapa ia menemui Oi dan meminta pendapatnya?

        Oi terlihat semakin bingung, ia tidak menjawab pertanyaan nona tadi, dan tidak juga berani menatap mataku lekat-lekat.

        “Nona, ini gaunnya.. dan Oi, adakah sedikit penjelasan untukku atas semua ini?” Nona tadi mengambil gaunnya dan ikut bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada kami. Aku terus menatap matanya yang kebingungan, entah apa yang terjadi aku pun tidak tahu, yang aku tahu ini jelas bukan sebuah surprise yang baik untukku.

        Kurasakan pergelangan tanganku begitu sakit ketika Oi mencengkeramnya dengan keras, 

“Dengarkan aku, Em! Tolong berhenti memaksaku untuk berbicara seperti ini. Kau sudah tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Kau marah? Maafkan aku Em, aku tidak punya banyak nyali untuk mengatakannya langsung padamu, karena itu aku meminta Ed untuk bicara padamu. Aku meminta maaf Em.. Hubungan kita sudah berakhir sejak setahun yang lalu, dan sebentar lagi aku menikah dengan Hanna, kumohon.. aku tahu ini sulit bagimu, aku minta maaf. Kumohon mengerti keadaanku saat ini”

        Bening ini terus mengalir sejak Oi mencengkeram tanganku dengan keras. Aku merasa langitku runtuh pada saat itu, apa yang terjadi sebenarnya? Aku bahkan tidak pernah tahu kalau Oi memutuskan hubungan kami sejak setahun yang lalu, aku juga tidak tahu kalau ia akan segera menikah dengan wanita lain selain aku, selama ini hubungan kami baik-baik saja. Bangunkan aku sekarang Tuhan, mimpi ini begitu menyakitkan. Bening ini terus mengalir tanpa henti, melihatnya menunduk dengan perasaan bersalah semakin membuatku sakit. Aku ingin memeluknya tapi hatiku berkata dia bukanlah Oi-ku lagi..

        “Kamu bohong!! Aku bahkan tidak pernah menerima email darimu kalau kau memutuskan hubungan kita setahun yang lalu hingga saat ini, Aku tidak pernah tahu kau ingin segera menikah dengan wanita pilihanmu, Aku... aku salah apa?” Aku tak sanggup meneruskan semua pertanyaan yang berputar di kepalaku, begitu banyak. Dadaku sesak dengan semua lelucon ini, sungguh tidak lucu.

        “Emma, maafkan aku. Aku meminta Ed untuk mengatakannya padamu lewat emailku, aku sendiri sudah tidak lagi menggunakan emailku yang dulu. Aku menyerahkan semuanya pada Ed, maaf Em, aku tidak ada nyali untuk mengatakannya langsung padamu. Aku tidak ingin menyakitimu begitu dalam, oleh karena itu aku meminta Ed yang bicara. Maafkan aku”

        Aku tidak percaya orang ini tega menyakitiku, Orang yang selama ini menjadi tokoh utama dalam setiap mimpi-mimpiku menjadi wanita seutuhnya, menikah dengannya, hidup bersama dengannya. Lidahku kelu untuk berkata apa-apa lagi padanya, sudah terlambat. Oi sudah memilih hidupnya dengan wanita lain, bukan aku. Mungkin aku harus percaya dengan apa yang dikatakan bunda, memiliki hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah, aku bertahan cukup lama dengan hubungan LDR kami, dan aku dikhianati.
        “Brengsek”

        Aku rasa tamparan tadi belum cukup mewakilkan semua rasa sakitku. Aku berlari dan meninggalkan Oi, Ed harus mempertanggungjawabkan semuanya, Cuma Ed yang tahu maksud dari semua ini. Semua orang menatapku bingung karena aku tidak berhenti menangis sepanjang jalan, aku berusaha untuk menghentikannya namun aku tidak bisa. Lukanya terlalu dalam. Aku masih terus berlari dan bertanya-tanya, Lalu selama ini aku bertahan sekian lama untuk siapa?

        DUAK!

        Hening....
@

        “Emma... maafkan aku” Kudengar sayup-sayup suara dari orang yang duduk disampingku. Putih, ruangan itu putih dan aku kenal dengan aroma ruangan ini. Entahlah sepertinya aku mengalami kecelakaan sore tadi. Aku terlalu kalut dan membuatku gegabah, yang aku ingat hanya ada benda besar yang datang kepadaku dan mendorongku keras, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

        “Ed... siapa yang mengharapkan kedatangan pembohong sepertimu, brengsek?!” Aku meronta dan memberikan beberapa pukulan padanya. Ed berusaha menahan seranganku dan dengan cepat memeluk tubuhku erat.

        “Dengarkan aku Emma, aku tahu semua perbuatanku begitu menyakitkan. Maafkan aku, izinkan aku bicara dan menjelaskan semuanya, Em” Perlahan aku berhenti meronta dari pelukannya, “Sudah terlambat Ed, Oi sudah pergi. Ia bahkan sudah ingin menikah dengan wanita lain, bukan aku!!!” aku menangis sejadi-jadinya yang aku bisa.

        “Emma, setahun lalu Oi memintaku untuk bilang kepadamu kalau dia mencintai wanita lain di Holland. Kau tau? Oi tidak menyelesaikan studinya hingga sarjana, ia bergaul dengan orang-orang yang salah. Hingga ia bertemu dengan Hanna. Malam itu aku ada lembur dan pulang larut malam, aku mendapatinya dengan Hanna di apartemen dengan kondisi yang... kau tahulah. Banyak whisky disana. Sungguh, maafkan adikku Em”

        Gregory. F*ck.

        “Aku menghadiahinya dengan beberapa pukulan di rahang dan dadanya, hatiku sakit Em. Bagaimana bisa ia meninggalkanmu dengan cara seperti itu. Aku terus memukulinya, bahkan ia hampir mati karenaku. Aku begitu kalut saat itu, aku tidak ingin kau dicampakkan seperti ini Em. Ia meminta maaf dan bilang kalau ia sudah terlanjur mencintai Hanna, Hanna hamil dan meminta Oi untuk bertanggung jawab. Aku menghajarnya hingga pingsan saat itu. Besoknya ia memintaku untuk bicara padaku, ia merasa sangat bersalah atas semua tindakannya, ia tidak ingin menyakitimu Em, sehingga ia memintaku untuk bicara padamu lewat emailnya pada saat itu, karena emailku di hack. Kau ingat ketika berkali-kali kamu menghubungi Oi, namun ia tidak membalasnya? Itulah ketika neraka itu terjadi. Kami sama-sama bingung untuk bertindak. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak menceritakannya kepadamu, aku memutuskan untuk berperan seperti Oi kepadamu. Lebih baik kau tak tahu, itu pikirku..” 

        Luka di kepalaku karena kecelakaan kemarin terasa sangat ringan dibandingkan dengan luka di hatiku dengan semua penjelasan dari Ed. Air mataku tak kunjung berhenti mendengarkannya bercerita. You’re fucking bastard ever, Gregory...

        Aku tertidur di pelukan Ed saat itu, lama sekali. Ed membiarkan aku menangis dan tertidur dalam pelukannya. Hari-hariku kini berubah, sejak keluar dari rumah sakit, aku memulai hari-hariku kembali.., tanpa Oi dihatiku. Terakhir kudengar ia menikah dengan Hanna dan tinggal di Jakarta. Aku masih bekerja di gallery ini, melihat pasangan-pasangan itu bahagia dalam memilih gaun pengantin merupakan obat bagiku. Ya, melihat orang lain bahagia sudah cukup membuatku bahagia. Ed masih disini, ia memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya dan tinggal sebentar di Bandung bersama dengan orang tuanya. Ed masih sering mengunjungiku, menghiburku dan berusaha untuk membuatku lupa akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Hari ini kami ada janji makan siang bersama di cafe dekat taman kota. 

        “Ed, kapan kau kembali ke Holland? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Ia tertawa ringan, “Entah Em, aku masih ingin disini. Disana sepi”

        Kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing. Perlahan aku mulai melupakan semua kejadian pahit itu. Hidupku harus terus berlanjut meski tanpa Oi. Begitu kata Ed berkali-kali padaku.

        “Ed, boleh aku bertanya sesuatu?”

        “Ya?” Ada hening panjang saat ini. Pertanyaan ini sudah kusimpan lama sejak di rumah sakit, saat Ed menceritakan semuanya kepadaku.

        “Kenapa kau lakukan semua ini Edward? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau begitu marah pada Oi saat itu? Kenapa kau datang disaat aku kecelakaan saat itu? Kau sedang di Holland kan..”

        Ed mengambil nafas panjang, “Bisa kita bicara hal lain, Em?”

        Aku diam menunggu jawabannya saat ini. Ed harus menjelaskan semuanya kepadaku.

        “Baiklah.. kau memang pandai sekali memaksa, Emma. Sudah sejak lama aku mencintaimu, bahkan sebelum aku mengenalkanmu pada Oi. Aku merasa tidak pantas Em, Oi jauh lebih tampan, lebih berani, dan kurasa Oi adalah tipemu. Bukan aku. Aku merelakanmu padanya, meskipun aku tahu aku menyakiti diriku sendiri saat itu. Kukira cinta ini hanyalah sementara, ternyata aku sendiri tidak pernah menemukan cinta yang lain yang lebih dari yang aku rasakan kepadamu. Melihatmu bahagia saja sudah cukup membuatku senang. Aku memilih untuk tinggal di Holland agar bisa melupakanmu, namun aku malah terjebak dalam kejadian ini Emma. Aku memukul adikku sendiri membabi buta karena dadaku begitu sesak melihatnya dengan orang lain sedangkan kau menunggunya pulang, kau membawa semua harapan dan janji-janji bullshit yang kalian buat sebelumnya, aku sakit Em.. Aku tidak ingin membuatmu lebih terluka dengan mengatakannya padamu yang terjadi sebenarnya. Dan aku membuat tindakan terbodoh yang pernah kulakukan, aku berperan seperti Oi dengan membalas semua email-emailmu seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Jauh dari hati kecilku, aku ingin merasakan apa yang tidak dirasakan olehku ketika Oi berhubungan denganmu Em.. Harusnya aku yang sedari dulu mencintaimu, bukan adikku.. Aku mencari tahu keberadaanmu di Bandung, tempatmu bekerja, dan segala hal tentangmu. Aku juga ikut pulang ketika Oi pulang kesini. Aku mengejarmu ketika kau berlari sambil menangis saat itu, aku pula yang membawamu ke rumah sakit ketika kau mengalami kecelakaan sore itu. Maafkan tindakan bodohku, Em” jawabnya. Aku membekap mulutku tak percaya. Sejak kapan semua ini menjadi begitu complicated? Ed mencintaiku sejak lama dan berlindung dibalik tameng Oi. Pengecut.

        “Lalu, apa yang kau harapkan dariku Ed?” Aku menghapus bening yang turun dari kedua mataku, meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

        “Aku ingin kau bahagia Emma. Aku ingin memastikan kau bahagia ketika aku kembali ke Holland nanti. Aku tahu sulit bagimu untuk menerima semua kenyataan ini. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya padamu dan mengagumimu dibalik cinta kalian.”

        “R u sure?”

        Ia mengangguk dan tersenyum hangat.
        “Kamu orang ter-sok tahu dan pengecut yang pernah kutemukan, Ed”

        “Maafkan aku Emma...”

        “Kau tahu? memang sulit bagiku untuk menerima semua ini. Tapi kau membuatnya begitu mudah Ed. Tenang saja, aku akan bahagia Ed. Aku akan bahagia jika kau terus bersamaku seperti saat ini” jawabku padanya. Mengatakan ini sungguh tidaklah mudah. Perlahan tapi aku memang merasa nyaman dengan Edward. Hey Em, Edward jauh lebih baik dari Oi sejak dulu. Bodohnya aku tak pernah memandangnya dengan mata dan hatiku.

        Senyumnya mengembang, wajahnya semakin terlihat tegas dengan senyum itu.
        “Kau akan ikut aku ke Holland?” tanyanya. Tangannya menggenggam balik jemariku lembut.

       “Tidak, selesaikan urusanmu disana. Aku akan menyusul tahun depan. Aku harus mengurusi pekerjaan besar bulan depan dan aku tidak ingin ketinggalan, setelah semua beres aku akan terbang menyusulmu” Ia mengangguk senang, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya, dan aku suka.

        “Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya. Tatapan matanya tajam menatapku, tangannya masih belum beranjak dari zona nyaman itu.

        “Belum, semua butuh proses Ed. Beri kita waktu setahun untuk saling meyakinkan, aku tidak ingin kejadian lalu terulang lagi, dan aku tidak ingin kau memilih wanita yang salah Ed. Kita akan saling memberi kabar selama setahun ini, dan bertemu tahun depan. Saat itu semuanya menjadi resmi. Apakah seorang Edward Thamrin yang telah menungguku begitu lama merasa keberatan dengan rentang setahun ini?” godaku. Sontak ia memelukku erat sekali, Paling erat dari yang pernah kurasakan, “Tentu saja aku tidak keberatan, i’ll wait for you” bisiknya.

        Hidupku terasa begitu ringan dan berwarna saat ini. Kami akan memulai takdir kami yang baru. Butuh waktu memang untuk memulainya dari awal bersama Ed. Tapi aku yakin Ed yang terbaik untukku saat ini, dulu, dan esok.

        Untuk kamu yang sedang ragu meyakinkan cintamu, kau takkan pernah begitu yakin kau mencintainya dengan amat sangat, sampai kau merasakan dadamu sesak karena kau merasakan duka yang ia rasakan, atau dadamu terasa begitu ringan ketika kau merasakan kebahagiannya...

Because love is someone who feels like a part of you,
and love never fails...

Created by:

Cynthia SL


A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...