Rabu, 30 November 2016

Second Thought

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Aku senang menghabiskan waktu bergeming di hadapannya, menemaninya membentuk berbagai macam garis tak beraturan dengan pensil abu-abu tua miliknya. Melihat keningnya yang berkerut seiring dengan rambut-rambut halus yang melekat di sisi rahangnya dibiarkan tumbuh menjalar dengan liar. Sesekali kulihat tangannya membetulkan letak kacamata yang turun saat ia kehabisan ruang untuk menggores kertas. Di sanalah aku mengisi ruang diam dengan irama degup jantung yang berdetak cepat setiap detiknya tiap kali aroma black musk dari tubuhnya menyeruak menggoda hidungku. 

Pria ini monokrom dengan pensil sebagai pedoman hidupnya. Kami begitu berbeda. Aku hidup dengan corak dan warna beragam, berusaha menghindar dari bayang hitam dan putih sedangkan ia berkawan dengan imaji hitam putih yang dihasilkan lewat kamera digitalnya. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku bahwa hitam dan putih adalah pelangi baru baginya. 

Lima tahun aku berusaha masuk ke dalam dunianya, pria monokrom dengan jutaan cerita tentang dia. Ia berdiri menantang langit berani menghadapi berbagai macam kemungkinan yang terjadi setiap harinya. Sendiri seperti tak pernah mengenal lelah ataupun sepi. Dunianya terlihat sangat mudah dan tanpa cela. Hampir tak pernah aku melihatnya bermasalah, meskipun tak jarang beberapa masalah datang dan ia sama sekali bergeming. Pria monokrom ini berhasil meyakinkanku untuk ke sekian kalinya bahwa masalah bukanlah hal yang pantas untuk ditakutkan dan pasti bisa terselesaikan.

Sekali lagi aku tatap dalam dirinya, kali ini lebih lama dengan nanar.

Memastikan sekali lagi apakah sudah saatnya aku bebankan hidupku kepadanya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanya ini semakin sering menemaniku mengarsir garis, mendesain garis-garis tajam rangka gedung pencakar langit di tengah kota. Ia akan menyiapkan banyak cemilan dan tiga botol air putih memastikan agar aku tidak akan kekurangan minum selagi menggambar, kemudian dihempaskan tubuhnya di kursi kayu warna coklat tua di depanku, ia akan duduk tenang, terkadang sambil sesekali membuka ponsel, tanpa tanya, hanya melihatku lama terkadang sampai dirinya dibiarkan jatuh tertidur sembari menungguku selesai.

Perempuan sejuta tanya ini tak pernah gagal membuatku terkesima dengan semua yang ia lakukan. She loves to cure everything, she loves to fix people. Her life is dedicated for the others and the universe. Tujuan hidupnya tak pernah muluk, ia hanya ingin berbahagia dan membahagiakan orang lain di sekitarnya. Perempuan 24/7 ini selalu ada kapanpun orang-orang di dekatnya membutuhkan bantuan atau hanya sekedar ingin didengar olehnya. Aku ingin sekali selalu ada di dekatnya, berbagi hidupku dengannya, i want to fix her. Menjadi orang yang selalu ia cari kapanpun dan dimanapun saat tak ada orang lain yang bisa menjadi sandarannya ketika ia terjatuh.

Tatapannya kini semakin dalam merasuk seluruh tubuhku. Semakin liar memperhatikan setiap gerik yang aku lakukan, tiap arsiran pensil yang kugaris di kertas, terus menjalar hingga saat matanya bertemu dengan mataku dan kulihat bening itu menyeruak memaksa keluar.

Kini kulihat perempuan sejuta tanyaku menangis sendu.

***

Gema & Nami Days - 7
-Nami-

Kini ia semakin memasuki dunia tanpa batasnya, masuk ke dalam seperti tak pernah ada orang lain yang bisa menjamah dunianya. Aku suka dengan caranya menggores garis di kertas, bagaimana ia memainkan garis-garis itu menjadi satu gambar utuh. Aku suka tiap kali ia memperbaiki letak kacamata bingkai kayu warna coklat tua miliknya atau sesekali melirik jam tangan klasik di lengan kirinya, berharap waktu tak lagi bergerak agar aku tak kemalaman menunggu imajinya bekerja.

Pria monokromku adalah manusia peraih mimpi paling ulung yang pernah kukenal. Ia berhasil dengan mudah meyakinkan banyak orang bahwa semua hal adalah mungkin. Memaksaku terus masuk ke dalam hidupnya tanpa pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki hal yang salah tentangnya. He has nothing to change. Langkahnya selalu pasti seperti enggan meragu dalam hidupnya karena semua baginya adalah mungkin. Seolah ia bisa menghadapi dunia sendiri, tanpa perlu ada bantuan dari orang lain.

Perempuan sejuta tanya, begitu panggilnya untukku. Perempuan sejuta tanya yang dalam hitungan hari akan berbagi hidup dengan sang pria monokrom. Perempuan sejuta tanya dengan miliaran pertanyaan tak terjawab atas pria di hadapannya saat ini. Ia terlalu kokoh berdiri sendiri dan tak memberiku celah untuk turut andil dalam hidupnya.

Kutatap dirinya semakin dalam, lebih dalam dari sebelumnya.

Menelusuri sekali lagi ruang mana yang bisa kuisi agar bisa menjadi alasan besar baginya untuk selalu pulang kepadaku. Meyakinkan diri sendiri akan dirinya, apakah ia benar-benar membutuhkanku dalam hidupnya?

Apakah kami siap berbagi hidup bersama ketika hanya aku yang selalu bergantung padanya dan tak pernah ada hal yang bisa aku perbaiki darinya?

***

Gema & Nami Days - 7
-Gema-

Perempuan sejuta tanyaku terisak sendu di pelukan. Entah apa yang membuatnya terlihat tanpa daya, menatap mataku nanar seperti kehilangan arah. Isaknya semakin terdengar lemah seperti ada sesuatu yang tak pernah terungkap dan meledak detik ini, memaksa keluar lewat bening-bening air matanya. 

Apa yang salah, Namira? 

Ia tak pernah terlihat selemah ini, matanya sayu seperti terbeban banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia mempererat dekapku hingga bisa kurasakan detak jantungnya. Mencoba mencari posisi nyaman untuknya bersandar, memintaku halus untuk segera berhenti bekerja dan mengusap lembut rambutnya. Ia ingin senyap bersamaku, diam dalam peluk tanpa ada lagi jarak waktu dan ruang. 

Aku merasakan ada sesuatu yang mencekat tenggorokan seiring dengan dekapannya yang semakin erat. Matanya masih melolong menatapku penuh tanya.

Aku tahu ia meragu. 

Mengapa terasa begitu sakit melihatnya seperti ini? Aku selalu berperan sebagai pria paling kuatnya. Tanpa sakit dan lelah, menembus segala macam kemungkinan yang ada untuk meraih apa yang aku bisa. Menjawab semua pertanyaan yang ia miliki atas dunia dan menjadi tujuan pulang kemanapun ia pergi atau tersesat. Meyakinkannya sekuat tenaga bahwa aku bisa menjadi prianya yang selalu bisa diandalkan. 

Aku ingin membuatnya sadar bahwa tidak selalu ada hal yang harus ia perbaiki untuk bisa jadi seseorang yang berarti besar bagi orang lain. Bahwa ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk bisa membuatku seperti ini. Bahwa sebenarnya takkan pernah ada pria monokrom di dekapnya saat ini tanpa sejuta tanya darinya. 

Lalu, akankah masih ada ragu di hatinya saat ini dan nanti? 

Selasa, 01 November 2016

Rhyme of Soul

-Nusa-
The Loudest Sound

Tak pernah ada lagi kegiatan paling menyenangkan selain memandang wajahnya tenang, ditemani rintik hujan yang kian detik semakin menggaduh. Aku tahu kamu bernyanyi dalam hatimu, mendentangkan segala jenis melodi yang ada dalam tiap nada, menghiraukan segala jenis suara alam bahkan suara hatimu sendiri.

Aku ingin sekali menjadi senjamu, Delila. Memandangmu lebih dekat dan mendengarmu lebih dalam di antara riuh ombak. Saat kuluangkan sepersekian detik waktu paling berharga yang kumiliki untuk melihat kamu tersenyum menyapa senjamu lebih dekat. Menemani setiap jejak langkah kakimu yang tercetak jelas di atas pasir, menyusuri pantai bersama.

Atau mungkin kamu ingin kembali berlayar bersamaku?

---

Aku ingin sekali menjadi penamu, Delila.

One thing that you can’t live without, selain sang senja. Kamu berbicara banyak lewatnya, membiarkan kertas-kertas itu habis kamu jajah dengan tajamnya goresan pena. Kamu mendengarkan setiap bentuk suara lebih dalam dari tiap objek yang kamu lihat, mencoba berinteraksi dengannya, dan mempercayai bahwa semua hal pasti bercerita.

“Semua hal bercerita, punya mimpi. Dan caraku menggantungkan mimpi adalah dengan menulis”. Begitu katamu bercerita.

Kamu masih seperti Delila yang kukenal. Gadis dermaga pecinta pena dan senja, menulis surat untuk sahabat pena di kala senja, menitipkannya pada nelayan di pinggir pantai, dan menunggu balasan dari siapapun yang menerima suratmu di seberang lautan sana. Aku juga bisa melihat pena-pena yang dulu selalu kamu pakai masih tertengger rapi di sudut mejamu. Entahlah, apakah saat ini kamu masih sering mengirimkan berbagai macam surat kecil untuk sahabat penamu di seberang sana?

Apa kamu pun masih menyimpan semua surat balasan dariku, Delila?

---

Percayalah, aku tak pernah bosan menemanimu kemanapun kamu pergi, mendengar betapa hebatnya kekuatan suara hatimu diantara ribuan suara yang pernah aku dengar.

Ajari aku cara berkawan dengan rindu dan senyap, Delila.

Bagaimana berperang melawan amarah pada takdir seperti dirimu saat ini? Mendengar tanpa perlu mengusik dengan suara parau atau bernyanyi tanpa pernah takut suaramu terdengar sumbang. Kamu melihat lebih dalam dari mereka, mendengar lebih jelas dibanding mereka, bahkan bernyanyi lebih indah dalam hatimu dibandingkan mereka dibalik kebisuan. 

Aku ingin sekali bercerita banyak denganmu, Delila. Membalas banyak surat darimu dengan berbagai macam postcard dari tempat berbeda. Beradu dengan rentang waktu menunggu postcard ku terisi dengan balasan darimu, dengan cerita-cerita dari berbagai macam hal yang kamu lalui hari itu di dermaga.

Ah, senja bisakah datang lebih cepat? Aku tak sabar ingin membaca surat yang dikirimkan darinya hari ini.

---

-365 hari-

Bisakah sebentar saja kamu tinggalkan gurat muram itu di dalam kamar, Delila?

Sebentar saja, melengkungkan senyum itu pada dunia. Padaku juga. Berbicaralah sebanyak yang kamu mau dalam hati, setidaknya aku pasti akan berusaha mendengarnya. Kumohon jangan mendendam pada hujan senja ini, tak pernah ada yang salah dengan alam, Delila.

Aku tahu kamu berteriak sekeras yang kamu bisa saat ini, aku tahu kamu menggerutu pada langit yang menurunkan hujan sore ini, aku pun tahu kamu merindu sang laut hari ini dalam bisu. 

Sudahlah Delila, aku tak ingin melihat bening-bening itu menyeruak keluar dari matamu. Kumohon Delila, berhentilah berteriak.

Aku ada di sini Delila..

---

-Delila-
The Unreplied Letters

Aku berteriak sekencang yang aku bisa meskipun takkan pernah ada orang lain yang bisa mendengar, menggerutu pada langit yang tega mengirimkan hujan pada senja hari ini.  Ingin rasanya menantang takdir yang terjadi kalau saja aku bisa, menerjang hujan dan pasangnya air laut. Aku ingin sekali mengirimkan surat ini untukmu.

Suratku yang ke-365.

Bagaimana kabarmu di dasar sana, Nusa?

Kamu tahu? senja menjadi hal paling kusuka, saat aku bisa lebih dekat dengan lautan. Dekat dengan di dasar manapun kamu berada saat ini. Kunikmati tiap jengkal rotasi bumi dengan menyapa senja setiap hari, mencoba terus mengirimkan 365 surat tak berbalas untukmu. Bercerita banyak tentang apa yang kurasakan di sini tanpa kamu lagi.

Bisakah kamu mengirimkan satu saja balasan untukku, Nusa?

Apa yang kamu rasa sekarang? Berselimut dinginnya samudera, sendiri berkawan dengan pekatnya ruang di dasar sana. Apa kamu masih kuat berjuang?

Semoga surat-surat ini bisa menemanimu selagi doa kami yang terus mengalir bersama dengan lautan.

Bersabarlah, aku percaya regu penyelamat masih terus akan berusaha menemukanmu.


Cyn

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...