Jumat, 30 Agustus 2013

A Half-Wing Angel

Hey,
Jangan salahkan merpati jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah tidak lagi ada disampingmu. Kumohon,  jangan pernah salahkan angin dan hujan jika surat ini sampai di tanganmu ketika aku sudah tidak mungkin lagi menjadi sandaran semua keluh kesahmu setiap harinya. Dan jangan pernah salahkan dirimu sendiri jika kamu sudah menyadari semuanya setelah membaca surat dariku. Kamu ingat kan? aku benci melihatmu duduk diam, tatapanmu kosong, auramu abu-abu, kemudian tanganmu terluka karena kamu benturkan kesemua benda yang ada di sekelilingmu. Aku benci melihat kamu terpuruk.

Maafkan aku jika surat ini dibuka dengan kalimat-kalimat yangmembuatmu semakin penasaran dengan inti dari lembaran-lembaran kotor ini. (actually, Aku bukan penulis surat yang baik). Lewat surat ini, aku ingin menceritakanmu sebuah kisah mengenai seorang malaikat yang rela jatuh ke bumi untuk mencintai seorang manusia. Pernahkah kamu mendengarnya? Begini saja, aku akan memberimu beberapa fakta mengenai kisai ini kepadamu, asal kamu janji jangan pernah memotong, menyela, atau bereaksi apapun sampai aku selesai menceritakan semuanya kepadamu. Bagaimana?

1.       Malaikat Separuh Sayap Yang Rela Jatuh ke Bumi
Jika aku bilang kalau ada seorang malaikat yang mencintai seorang manusia dan rela jatuh ke bumi dengan separuh sayapnya, apakah kamu percaya? Kamu pasti meragukan ini. Karena disetiap kisah agama menceritakan bahwa malaikat takkan pernah memiliki nafsu. Tapi tahukah kamu? Ada satu malaikat yang rela melepaskan separuh sayapnya untuk turun ke bumi hanya untuk berada didekatmu. Ia mengintip dibalik celah langit ketika hujan turun, mencium aroma tubuhmu yang menembus langit, merasuki kesadarannya, lalu tenggelam didalam palung paling dasar yang ada pada kedua bola matamu. Sesaat ia mabuk karenamu, merasakan adanya letupan dahsyat dari dalam darah yang mengalir di sekujur tubuhnya dan menyadari betapa indahnya makhluk Tuhan dibawah sana. Ia menerbangkan setiap kalimat-kalimat doa kepada Tuhan agar bisa mengubahnya menjadi makhluk yang sama sepertimu, agar bisa merasakan lagi letupan-letupan dahsyat di hatinya ketika berada lebih dekat denganmu. Tapi, Tuhan tidak langsung mengatakan ‘ya’ kepadanya, dengan bijak ia mematahkan separuh dari sayap malaikat itu dan menurunkannya ke bumi. Dengan catatan, perlahan-lahan setiap bulu dari sayap itu akan jatuh untuk setiap bentuk sakit yang dirasakan oleh sang malaikat ketika bersamamu. Dan ketika semua bulu sayapnya telah lenyap, ia akan kembali menjadi malaikat langit yang hanya bisa melihatmu dari atas sana.

2.       Malaikat yang Jatuh Takkan Pernah Membiarkanmu Tenggelam dan Hilang di Dasar Jurang
Pernahkah kamu merasakannya? Ia turun ke bumi sebagai seorang manusia yang memiliki separuh sayap transparan yang tidak akan pernah terlihat olehmu. Ingatkah kamu ketika kau bertemu dengan seorang stranger yang duduk di taman kota, mengenakan baju biru muda dengan rambut yang ia kuncir ke belakang? Itulah pertama kalinya kalian akhirnya bertemu. Kamu melihatnya dengan seksama, mencoba menerka-nerka “siapa dia?”. Mungkin penampilannya terlihat dimatamu seperti seorang gadis desa yang jauh dan tersesat di kota besar. Dan letupan dahsyat itu muncul kembali setelah ia berhasil menjabat tanganmu, mengenalkan namanya kepadamu, “Alice” (Aku tahu setelah ini kau akan mencoba mengingat-ingat bagaimana pertemuan kalian saat itu).
Lalu, ingatkah kamu ketika kau menjadi sering berkunjung ke taman kota untuk menemuinya, dan menceritakan semua hal yang ingin sekali kau ceritakan kepada orang yang mungkin bisa kau percaya. Kamu menganggapnya sebagai gadis desa yang lugu yang lebih bisa memahamimu dengan baik dibanding teman-teman kotamu yang brengsek dan sombong itu. Kamu menemukan ada yang lain dari gadis ini yang bisa kau percaya sepenuhnya dibandingkan teman-teman kotamu yang terkadang hanya memanfaatkan kehadiranmu untuk memberi mereka tumpangan, makan, atau sekedar meminjam uang.
Sadarkah kamu bahwa ia selalu melindungimu dari setiap kesempatan buruk yang mungkin kamu ambil disetiap pilihan? Membisikimu jutaan kalimat-kalimat positif  yang kadang (atau selalu) tidak kau hiraukan. Mendengarkan semua keluh kesah, suka duka yang kamu alami setiap harinya tanpa kenal lelah. Membersihkan semua perkataan dan anggapan orang yang buruk tentangmu, menjadi makhluk pertama kali yang kau temui untuk dimintai pendapat mengenai semua hal baru yang kau temui, atau bahkan menjagamu dalam tidur lewat doa-doa yang ia panjatkan kepada Tuhan yang memberikannya kesempatan untuk berada lebih dekat denganmu. (Tanganku cukup lelah untuk menceritakan semua yang telah ia lakukan untukmu). Tahukah kamu tentang semua ini? Aku yakin saat kamu membaca ini, kamu masih mencoba untuk mengingat apa saja yang sudah ia lakukan untukmu.

3.       Hujan yang Turun di Pagi Hari dan Setiap Kebahagiaan yang Kamu Alami Adalah Setiap Bulu-bulu Sayap yang Perlahan Terlepas dari Pemiliknya.
Ketika turun ke bumi dan mengamatimu dari jarak yang lebih dekat, ia menyadari bahwa ada desakan dari ruang lain dalam dirinya yang ingin diisi olehmu. Lebih dari sebagai seorang ‘teman baik’ untukmu. Ketika ia mencoba untuk mendekat lebih dari batas yang seharusnya dijalani sebagai seorang teman, ia menyadari bahwa takkan mungkin meminta lebih dari sekedar ‘Keeper’ bagimu. Kamu manusia, akan mencintai manusia lainnya yang rupawan, modis, tampil elegan, kaya, terpelajar, dan sama terhormatnya denganmu. Untuk itu, sang malaikat harus puas dengan pekerjaannya sekarang sebagai seorang keeper bagimu (Satu bulu disayapnya pun terjatuh). Kemudian keesokan harinya kamu tersadar bahwa semalam hujan telah turun dengan deras membasahi tanah yang kau pijak pagi ini. Tapi hujan pagi ini takkan memudarkan kebahagiaanmu hari ini, setelah berhasil mendapatkan gadis cantik di sekolahmu untuk menjadi kekasihmu.
Selanjutnya, masih dengan rutinitas yang selalu dilakukan oleh sang malaikat setiap harinya, seiring bertumbuhnya kau menjadi dewasa, pekerjaannya bertambah. Kini topik yang kamu bahas setiap kali datang menemuinya bukan lagi mengenai teman-teman kotamu yang meninggalkanmu ketika kesusahan atau bukan lagi tentang kecemburuanmu terhadap saudaramu yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuamu. Topik yang kalian bicarakan selalu berputar pada wanita. Kamu mulai mencintai dan dicintai banyak gadis di kota, dan kamu menikmatinya. Malaikat ini mendengarkan setiap cerita cintamu dari satu gadis ke gadis lainnya sambil sesekali menyeka air mata yang turun dari kedua matanya ketika kamu tidak melihatnya. Ia membantu memilihkan hampir setiap wanita yang akan kamu jadikan kekasihmu tanpa kenal pamrih. Kamu bisa membayangkan rasanya? Ketika kamu harus berpura-pura tertawa karena cerita-cerita cinta yang teman baikmu ceritakan kepadamu, ketika kamu harus menahan segala jenis emosi yang ada dalam dirimu untuk sekedar mengatakan kalimat penyesalan, “Kenapa bukan aku saja yang menjadi gadis-gadis kota itu? Kenapa bukan aku yang kamu cintai?” Dan setelah ini kamu pasti tahu, bulu-bulu sayap yang lainnya pun ikut turun satu persatu ke bumi, ditukar dengan setiap kebahagiaan yang kamu dapatkan dengan berbagai macam gadis kota selalu kamu ceritakan itu.

4.       Selimut Hangat Yang Menghangatkan Tidurmu Berasal dari Doa-Doa yang Dipanjatkan Sang Malaikat Jatuh
Berjanjilah, jangan pernah merasa kedinginan saat kamu terlelap dalam tidurmu setelah membaca surat ini. Pernahkah kamu merasakannya? Merasakan setiap kehangatan yang menjagamu dalam lelap. Tahukah kamu bahwa semua itu berasal dari sang malaikat jatuh yang memanjatkan permohonan doa kepada Tuhan agar selalu menjagamu dalam tidur dan setiap langkah yang kamu ambil. Meskipun kadang terselip doa yang terdengar egois keluar dari bibirnya, “Kumohon jadikanlah aku jadi orang yang dapat ia cintai selamanya..”.
Ingatkah kamu? Ketika langit senja sudah menutup pintunya dan titik-titik hujan mulai turun dengan derasnya, kamu datang menerobos setiap titik-titik air langit untuk menemui gadis desa tersebut sambil mengepalkan seluruh jari-jarimu dan membiarkan gigimu berbenturan dengan keras menahan dingin yang menusuk hingga kedalam tulangmu. Gadis desa itu keluar dan kamu memeluknya dengan erat. Kamu katakan bahwa kamu baru saja kehilangan harapanmu dengan salah satu gadis kota yang selama ini kamu pacari. Kamu frustasi. Kamu biarkan tangan-tanganmu terluka ketika kau benturkan dengan keras ke tembok rumah sederhana itu. Kamu menangis sejadi-jadinya didepan perempuan desa yang bahkan belum pernah tampak menangis dihadapanmu. Kamu ceritakan semua yang kamu rasakan kepadanya, kecewa, marah, sedih, semua yang kamu rasakan. Dan gadis desa itu hanya bisa mendengarkan, memberikanmu suntikan-suntikan penyemangat agar kamu bisa kembali seperti dulu. Ia benci melihatmu terluka seperti ini. Sesaat kemudian, ingatkah kamu ketika kau meminta gadis desa itu untuk menjadi kekasihmu? “...aku lelah terus mencari seseorang yang rupawan untuk dijadikan seorang kekasih yang pantas untukku, tidak ada yang bisa mengertiku sepenuhnya. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Gadis desa itu menggeleng pelan kemudian memelukmu erat. Ia kembali membisikimu kalimat-kalimat positif agar kamu bisa bangkit kembali dan tidak menyesali keadaan yang terjadi sekarang. Dan kamu tertidur lama di sofa rumahnya.
Hey, apa kamu menyadari ada bekas titik-titik bulir airmata yang jatuh dari matanya ketika melihatmu terpuruk seperti ini? Apa kamu pernah sedikit meluangkan waktumu untuk sebentar saja melihat wajahnya lekat-lekat dan menyadari ada ketulusan di hatinya untuk selalu berada disampingmu? Pernahkah?
Hey, apa kamu bertanya-tanya mengapa ia tidak menerimamu saat itu?
Rasanya sungguh menyakitkan ketika mendengarmu mengucapkan kata-kata seperti itu. Seolah-olah ia hanyalah pilihan terakhir dari semua pilihan terbaik yang ada. Lebih baik menjadi seperti ini selamanya dibandingkan harus memiliki ragamu tanpa pernah memiliki hatimu yang sesungguhnya. Kamu hanya sedang merasa kesepian ketika mengatakan itu. Dan benar saja, bertahun kemudian kamu tak pernah mencoba untuk membahas apa yang kamu minta hari ini padanya, bahkan aku tidak yakin kamu mengingat apa yang kau katakan padanya hari ini.

5.                   Dua Bulu Yang Masih Menggantung di Sayap Sang Malaikat Jatuh
Tanpa terasa sudah bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan langit dan menghuni bumi hanya untuk bersama kamu. Bertahun-tahun menggantungkan harapan hanya untuk bersama kamu. Mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk bersama kamu. Terdengar naif memang, tapi apa daya jika memang kenyatannya seperti itu?
Pernahkah kamu bertanya mengapa ia rela mengejar pendidikan yang tinggi dan belajar menggunakan make up setiap kali menemuimu?
lemme tell you, Ia sedang berusaha mengkhianati langit.
Berusaha mati-matian memantaskan diri untuk bersanding denganmu. Berharap ketika ia berhasil memilikimu seutuhnya, ia akan menjadi manusia seutuhnya tanpa harus takut lagi bulu-bulu sayapnya berjatuhan dan kembali ke langit.
Mengalami proses bahagia kemudian terpuruk, hidup kemudian mati adalah hal yang membedakan malaikat dengan manusia seutuhnya. Dan jika orang-orang diluar sana takut akan kematian, tidak baginya. Jika memang harus merasakan proses hidup kemudian mati, ia akan sangat bersyukur dan bahagia karena sebelumnya pernah hidup untuk dan bersama orang yang ia cintai semasa hidupnya.
Tahukah kamu? Pernah suatu ketika disuatu senja berwarna jingga kemerahan, ia bertekad untuk mengatakan semuanya kepadamu. Tentang penantian, letupan-letupan yang sering kali muncul ketika bersama kamu, dan juga air mata yang kadang mengalir begitu deras tanpa mampu ia tahan.
Lalu kamu datang...
Wajahmu begitu cerah menyiratkan kebahagiaan besar yang sedang kamu dapatkan saat ini. Gadis desa itu menerka-nerka “Apa ada aku dibalik semua kebahagiaan yang dia miliki?”.
“Terima kasih. Terima kasih atas semua waktu yang kamu luangkan untukku bertahun-tahun ini. Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Doakan aku, besok pagi aku akan melamar gadis kota yang cantik dan terhormat di rumahnya”
Kamu tahu bagaimana rasanya menahan rasa sakit yang terlanjur naik hingga ke kerongkongan begitu mendengarmu mengatakan itu?Tidak Tidak, ia seharusnya bahagia karena kini kamu sudah berhasil memilih dengan baik siapa yang pantas mendampingimu seumur hidup. Tidak seharusnya ia bersedih. Ia mengucapkan selamat, mengulurkan tangannya dan membawa kamu kedalam pelukannya erat. Pelukan hangat seorang teman baik yang hanya kamu dapatkan ketika kamu sudah siap menjadi seorang brideman.
“Terima kasih sudah menjadi teman-terbaik-sedunia-ku. Percayalah, sebentar lagi pasti ada pria beruntung yang melamarmu menjadi pengantinnya”
Malaikat jatuh itu mengangguk dan membiarkan air matanya meleleh di punggungmu. Tidakkah kamu tahu bahwa tidak ada pria lain yang ia inginkan melebihi apapun di dunia ini kecuali kamu? Tidak tahukah kamu ada ratusan letupan kebahagiaan dan kecaman emosi dalam dirinya yang menyatu begitu mendengar kamu menyebutnya sebagai ‘teman-terbaik-sedunia’. Mengetahui bahwa kamu hanya membagi kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan, bahkan kesepianmu hanya padanya saja sudah merupakan satu kebahagiaan yang besar baginya. it’s nice to have my other half is sitting here next to me.. Lantas, nikmat Tuhan mana lagi yang harus ia dustakan?
Dan hujan pun turun dengan derasnya.

6.       Satu Bulu Sayap yang Tidak Pernah Terjatuh ke Bumi
Jangan pernah mengira malaikat ini tetap menjadi manusia seutuhnya karena bulu sayapnya yang terakhir tidak terjatuh ke bumi.
Kamu tahu? Sesaat setelah kau mengatakan kamu akan melamar seorang gadis lain, ia belajar mengimbangi paksaan ruang dalam hatinya yang ingin diisi olehmu dengan perasaan-yang seharusnya ada didalam hatinya. Ia mulai belajar untuk berbahagia seutuhnya karena kebahagiaanmu. Bukankah melihat orang yang kita cintai bahagia sudah cukup membuat diri kita bahagia?
Detik-detik menjelang hari pernikahanmu, ia masih terus berlatih siang dan malam menjadi seorang pengiring wanita yang berlaku manis dan cantik untuk pesta pernikahan sahabat terbaiknya.
Dan ia bisa memastikan takkan ada langit kelabu dan hujan yang turun di hari pernikahan sahabat terbaik sedunia-nya.

***

Well, sebenarnya aku tidak ingin menceritakan bagaimana akhirnya, karena kurasa kamu sudah mengetahuinya saat ini. Perlukah aku mengulangnya kepadamu lagi memori 1 tahun silam?

...Baiklah jika kamu memaksa. Sang malaikat pergi sesaat setelah ia menuntaskan tugasnya sebagai seorang pengiring pengantin. Kalau setelah membaca cerita diatas kamu berpikir ia hilang karena ia gagal berbahagia atas kebahagiaanmu, kamu salah. Ia menghilang bukan karena satu bulu sayap terakhir yang jatuh ke bumi, karena memang sesungguhnya bulu terakhir itu tidak pernah jatuh menghentak bumi. Ia mencabutnya secara paksa dan menyimpan bulu sayap terakhir tersebut dan memberikannya kepada mempelai wanitamu. Ia memberikannya karena ia tidak ingin ada lagi bulu-bulu sayap yang jatuh karena sakit yang dirasa dihatinya. Bulu sayap yang terakhir itu tidak akan pernah turun ke bumi karena ia pasti akan berbahagia selalu ketika bersama dengan pria sepertimu. Jika kamu berkenan, tanyakan kepada mempelai wanitamu, apakah ia masih menyimpannya dengan rapi hingga hingga saat ini?

Ceritaku sudah selesai. Apakah kamu merindukanku saat ini? Tengoklah keatas langit jika kamu ingin melihatku, mungkin saja aku sedang bermain-main diatas sana dengan malaikat lainnya sambil mengawasimu dibawah sana. Mungkin saja ketika kamu menengadah keatas sana aku juga sedang melihatmu. Maafkan jika aku tidak pernah mengatakannya langsung kepadamu apa yang sebenarnya kurasakan selama bertahun-tahun. Maafkan aku karena akulah yang melepaskanmu pertama kali. Maafkan aku karena aku tidak memiliki nyali yang cukup kuat untuk mengkhianati langit dan takdir Tuhan.
Dan jika setelah kamu membaca surat ini, kamu menyesal karena baru mengingat dan menyadarinya, jangan pernah salahkan istrimu. Bagaimanapun jangan pernah salahkan takdir dan berjalan diluar jalur yang sudah diberikan oleh Tuhan kepadamu. She’s the best. Percayalah kepadaku.
Klise memang jika aku menutup surat ini dengan ucapan-ucapan terima kasih kepadamu karena memang jika aku melakukannya, mungkin butuh berlembar-lembar hanya untuk mengucapkan berbagai macam bentuk terima kasihku kepadamu. Aku hanya menuliskannya satu kali dan semoga ini mewakilkan semua rasa terima kasihku kepada kamu.

Lewis Dylan Ferdinand..
Have a wonderful life, surrounded by the people you love.
Terima kasih karena sudah pernah memenuhi ruang kosong yang ada di hatiku selama bertahun-tahun hingga saat ini.
Aku cinta kamu.


With Love,


The Half-Wing Angel, Alice. 

Senin, 12 Agustus 2013

PROLOG

PROLOG

Nico
            BRAK!
            Aku membanting pintu kamar keras-keras, menjambak rambutku berkali-kali dan terduduk lemas di sudut kamar. Aku bosan dengan ocehan mama yang selalu menyuruhku segera menikah. “Usiamu sudah 35 tahun Nico, mau sampai kapan? Kasihan mama nak” Mama selalu menggunakan dirinya sebagai senjata untuk mengunduh belas kasihan dariku. Siapa laki-laki yang di usia (kelewat) ideal yang tidak menginginkan sebuah pernikahan? Tapi bagaimana caranya aku menikah dengan orang lain sementara hatiku belum bisa menerima dan enggan berhenti mencintai orang itu? Dan hari ini ada lagi alasan yang membuatku berkali-kali menjambaki rambutku, merutuki diriku dan menyebabkan kaca dikamarku pecah. Dia.

            Aku bertemu lagi dengannya. Dengannya yang bertanggung jawab atas porak porandanya diriku saat ini. Entah perasaan apa yang kupunya saat ini, tapi aku masih ingin menggenggam erat tangannya, membelai rambutnya, aku ingin berada disampingnya saat ini. Tapi separuh dari diriku memutuskan untuk membencinya, membencinya karena ia masih sama seperti dahulu. Hey, kenapa kamu tidak mengubah penampilanmu saja agar memoriku tidak terbawa kepada masa lalu? Aku lebih setuju jika kau sekaligus mengubah namamu sehingga tidak akan ada lagi nama sepertimu yang kukenal di dunia ini. Lihat dirimu, bahkan rambut sebahumu masih terawat dengan indah mengikuti setiap langkahmu pergi, lalu parfum yang kau pakai masih sama seperti pertama kali kita bertemu, dan lihat! liontin itu masih bertengger indah menghiasi kulit lehermu yang mengkilau.

            Apa kamu rasakan degub jantungku serasa berhenti ketika kau panggil namaku siang tadi? Jelas, sangat jelas aku mengenali suaramu namun aku enggan untuk menoleh hingga kamu mengejarku sampai ujung jalan dan membuatmu terengah-engah. Aku benci pada diriku karena tidak mampu melihatmu kelelahan seperti itu hanya untuk mengejar pengecut sepertiku. Aku kalah, (mengalah lebih tepatnya). Dan siang tadi adalah pertama kalinya kita bertemu lagi setelah 7 tahun lalu aku berjanji untuk menemuimu yang terakhir kalinya di hari terpenting dalam hidupmu. Tanpa aku. 


P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :) 

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...