Pagi dan malam adalah sahabatku. Sahabat dekatku ketika aku menunggu detik-detik bersua denganmu. detik-detik berharga ketika penantian telah berakhir. Tahukah kamu, ketika aku menatap langit, ada wajahmu terlukis disana? Tahukah kamu ketika aku memandang jarum jam yang berputar di tanganku, aku selalu berharap agar Tuhan mempercepat waktu? Tahukah kamu ketika aku menginjakkan kakiku ke tanah, aku selalu ingin ketika aku mendongak, kau berada tepat dihadapanku saat itu juga? Dan tahukah kamu, berapa banyak gelas Cappucinno yang kuhabiskan untuk menunggumu datang? Aku ingin berlari menyusulmu kesana, bersua denganmu, mencium aroma tubuhmu dari dekat dan memandang matamu sepuluh cm dihadapanku. Namun aku berusaha keras menahan semua itu, karena aku tahu, ketika aku memandang langit dan menginjakkan kaki di tanah, kamu juga sedang melakukan hal yang sama. Ya... kita sedang berada dalam roda waktu yang masih terus berputar hingga takdir memutuskan untuk mempertemukan kita dalam detik yang sama....
@
Bandung, Januari 2004
Aku tidak ingat sejak kapan kota
ini begitu bising. Begitu silau karena banyaknya lampu kendaraan berplat B
memadati kota ini. Kadang aku merasa Bandung yang sekarang tidak lagi sedingin
dahulu, hingga aku memutuskan untuk membeli AC pertengahan bulan ini dan
membuat bunda semakin bawel menyuruhku untuk selalu mematikan AC karena biaya
listrik rumah kami naik. Cita-citaku tinggi, aku ingin meneruskan kuliah di
Belanda. Aku menyukai setiap postcard yang dikirimkan oleh tanteku yang tinggal
disana. Ada gambar kincir angin atau bunga tulip yang berwarna-warni dan
semakin menggodaku untuk pergi kesana secepatnya. Sebenarnya aku masih duduk di
bangku perkuliahan tahun ketiga. Masih ada satu tahun lagi untuk mempersiapkan
segala sesuatunya kesana.
Ehem, Cowok tinggi ini Oi. Namanya Gregory, hanya saja aku sering memanggilnya
dengan Oi. Terdengar simple.. dan classy. Dia adalah kekasihku. Kami kuliah di
Universitas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Oi menyukai seni dan aku masih
berkutat dengan ilmu-ilmu teknik ini. Sudah delapan tahun sejak pertama kali
aku dan Oi berubah menjadi “kita”, dan perasaan itu tidak berubah. Bagi kami,
setiap hari adalah hari pertama kami bertemu. Dan aku merasa hubunganku
dengannya adalah hubungan cinta yang paling sempurna. Oi tampan, pintar,
romantis, dan Oi mencintaiku dengan sangat. Dan tahun ini, ia akan segera
melanjutkan studinya ke Belanda.
Satu yang membuatku khawatir saat ini adalah, banyak sekali orang-orang yang
gagal dalam menjalankan hubungan jarak jauh dengan pasangannya, jangankan untuk
LDR, mereka yang tingga berdekatan saja bisa putus, lalu gimana yang tinggal
berjauhan? dalam zona waktu yang jauh berbeda?
“Kamu tenang aja, kalo
sekarang kita bisa, besok juga pasti bisa Em. Apa sih yang bisa ngalahin cinta?
Bahkan jarak sekalipun bukan halangan” Selalu
begitu jawab Oi. Ya, sedikit banyak menghibur perasaan khawatirku. Oi selalu
menenangkan aku, kalau aku tidak perlu khawatir akan dirinya yang jauh beberapa
hari lagi, he’s a good man. Bahkan beberapa hari terakhir
seBelum keberangkatannya ke negeri kincir angin itu, setiap hari Oi menemaniku
kemanapun yang aku mau, he
really knows how to treat me, and i love him so much.
---
Keberangkatan Oi tinggal menunggu 10 menit lagi, dan ya seperti yang kau
pikirkan, aku tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya agar segera
mengirimkan email kepadaku sesampainya disana. Ia menepuk tanganku yang berada
diatas jari-jarinya, “Tenang aja”. Ujarnya
santai. Ya.. seharusnya aku mendukungnya, toh setelah ia pulang nanti, Oi akan
melamarku.
Aku merasa deru nafasku semakin kencang ketika petugas bandara mengumumkan
bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Detik-detik terakhir aku berjarak
hanya 10 cm dari tubuhnya. God, please save him...
Dan kini lambaian tangan itu
mengantarkan kami pada takdir kami yang baru. Aku harus selalu percaya, Tuhan
selalu menjaga Oi dalam lindungannya, dalam cintanya padaku. I wish..
@
Sudah dua tahun kami terperangkap dalam zona waktu yang berbeda. Dua tahun yang
cukup sulit pada awalnya, namun semakin terasa begitu mudah ketika aku selalu
menghibur diriku dengan mengingat kalau Oi akan segera pulang dan melamarku.
Aku berusaha untuk selalu berpikir bahwa kami hanya tinggal beberapa langkah
lagi untuk kembali bersama. Setahun lalu aku meraih gelar sarjanaku dan
memutuskan untuk melanjutkan kerja terlebih dahulu seBelum melanjutkan
sekolahku. Aku akan menunggu Oi pulang dan kami akan sama-sama tinggal di
Emanda sekaligus melanjutkan studiku disana.
Oi menepati janji-janjinya, ia selalu mengirimkan email padaku semenjak ia
tinggal disana. Banyak sekali hal yang ia ceritakan, teman-temannya,
keluarganya disana. Hem, maksudku saudara laki-lakinya, disana ia hanya tinggal
berdua dengan Edward. Kakaknya sudah lebih dulu tinggal dan memilih untuk
menetap untuk bekerja disana. Ed sudah tidak asing lagi untukku, pertama
kali yang kukenal adalah Ed hingga ia memperkenalkan Oi padaku. Dulu kami teman
sepermainan di Bandung, Ed selalu berperan menjadi suami yang baik dan aku
sebagai istrinya saat kami bermain rumah-rumahan dulu.
Dearest Em,
Em, kau tau? betapa aku harus
bersyukur setiap hari karena memiliki keluarga dan kamu yang begitu
mendukungku. Aku mulai terbiasa tinggal disini, budaya, warga-warga disini,
teman-temanku, dan Ed sangat baik padaku. Aku jadi tidak sabar untuk segera
membawamu kesini dan tinggal bersama denganku..
Selamat atas pekerjaanmu, Em, aku
senang sekali kau sudah berkarir disana.Aku segera menyusulmu :D Hey, hari ini
aku baru saja mengunjungi kincir angin pertama di Holland. Indah sekali persis
seperti yang kau sering ceritakan lewat postcard yang dikirimkan tantemu. Em,
aku sangat rindu padamu. Tunggu aku pulang,
I love you, and you know who i am.
Oi, tahukah kamu ketika aku membuka email dan mendapati ada email baru darimu,
kau sudah berhasil membuat hari-hariku begitu sempurna. Menghapus semua kelabu
hari-hari yang kujalani tanpanya selama ini.
Namun, akhir-akhir ini begitu menjengkelkan, sudah sebulan ini Oi sudah jarang
mengirimiku pesan elektronik itu. Seperti hari ini, sudah lima kali aku mengiriminya
pesan dan Belum dibalas hingga saat ini.
Hi Em,
Maaf aku baru membalas pesanmu,
tugasku begitu banyak akhir-akhir ini. I miss you, hon. Bagaimana
kabarmu?Bunda? Salam untuknya ya,
Em, kau tau, sudah berapa lama
sejak aku disini dan selalu menandai kalenderku untuk menghitung berapa lama
lagi aku bisa memelukmu dengan erat seperti dulu? Hari ini mengalami masalah
dengan teman sekelasku, Kau tahu Delia? ya, aku hanya meminjam modul padanya,
dan pacarnya begitu cemburu melihatku dengannya. Rahangku terasa begitu kaku
saat ini, biru. Tak perlu khawatir, Ed bilang kalau semua lelaki pasti
mengalami fase ini, Fase saat rahangnya kaku akibat berkelahi dengan temannya
hahaha.
Bagaimana kerjaanmu? Jangan
terlalu diforsir. Jaga kesehatan.
from: The one that will always
love you so damn much,
Gregory.
Email dari Oi berhasil membuatku
melupakan semua kekesalanku padanya sebulan ini. Ah, Aku sangat mencintainya.
Kupejamkan mataku dalam-dalam, Semoga
ketika aku membuka mataku,Tuhan melongkap tahun dengan cepat dan membawaku ke
hadapan Oi.
---
Aku menyimpan semua email darinya, bahkan aku memiliki folder tersendiri untuk
emailnya. Penantian kami sebentar lagi akan berakhir, Oi akan segera pulang dan
kami akan segera menikah. Aku tahu email-email ini menjadi saksi pernikahan
kami, saksi kisah kami. Minggu depan Oi pulang, aku sudah tidak sabar untuk
menyambutnya di bandara. Yayaya! aku bahkan sudah merencanakan cuti dari
tempatku bekerja untuk menjemput Oi nanti.
Galery wedding ini menjadi tempatku bekerja sejak empat tahun yang lalu. Benar
juga kata orang, bekerja memang tidak harus sesuai dengan jurusan apa yang kita
ambil semasa kuliah dulu, lihatlah aku. Aku bekerja di bagian marketing di
galery ini. Galery ini cukup besar dan ternama di dunia. Dengan tangan-tangan
magic dari designer terkenal, menjadi magnet pasangan-pasangan bonafit kelas
atas untuk bersedia menyerahkan segala urusan busana pengantinnya pada galery
ini. Hari ini salah satu officer kami tidak bekerja sehingga aku bekerja sembari
melayani pelanggan yang datang. Sudah sore, gallery masih banyak dikunjungi
banyak pasangan-pasangan bahagia. Aku selalu berharap cepat menjadi salah satu
dari mereka, memilih busana pengantin bersama dengan Oi, dan mengenakannya pada
acara besar kami. Setiap wanita menginginkan hal itu dan pasti mengalami fase
tersebut.
“Aku mau yang ini aja sayang, warnanya cocok banget sama tema pernikahan kita
nanti” sayup-sayup kudengar salah satu pelanggan yang ada di gallery. Ya,
perdebatan antara pasangan juga tidak dapat dihindari ketika mereka memilih
gaun mana yang pantas untuk dikenakan dihari bersejarah mereka. Kulihat salah
satu penjaga toko sedikit kewalahan mengatasi pelanggan yang satu itu, “Kurasa
gallery ini harus mempekerjakan penjaga yang worth
it untuk digaji” Aku lalu
bergegas menemui mereka.
“Ada yang bisa saya bantu? Maaf kalau pelayanan toko kami kurang berkenan untuk
anda, nona”
“Oh oke, aku sedikit bingung untuk memilih beberapa gaun, pesta kami diadakan
di ruang terbuka dan tidak terlalu formal, aku ingin gaun yang indah, terlihat
mewah, dan tidak membuatku kaku untuk berjalan nanti”
“Baik, akan saya carikan nona” Aku sibuk mencari gaun yang sesuai dengan
permintaan nona tadi. Aku bisa menebak pasti pasangannya adalah lelaki yang
gagah dan tampan, cocok dengan nona tadi yang cantik. Aku mendapatkan gaun yang
sesuai dengan permintaannya, dan membawanya ke nona tadi dengan cepat... kalau
saja kakiku bisa lebih cepat dari yang kubayangkan saat ini, kalau saja tubuh
ini tidak bergetar dengan hebat begitu melihat apa yang ada di hadapanku saat
ini..
“Oi......” Apakah ini sejenis
surprise yang ia berikan padaku? Oh Tuhan ini sungguh tidak lucu, aku bahkan
belum siap-siap untuk bertemu dengannya, bukankah masih beberapa hari lagi
kedatangannya kesini?
Yang dipanggil tadi hanya menoleh dan mengernyitkan dahinya begitu melihatku
kaget. Aku ingin sekali berlari kearahnya dan memeluknya saat itu, namun ada
apa dengannya? ekpresi wajahnya bahkan seperti tidak senang dan seolah
berteriak padaku “Hei, ini bukan surprise!”
“Bukankah kamu bilang kau akan kesini beberapa hari lagi? Jangan katakan kau memberiku
surprise...” ujarku sambil memukul lembut tangannya. Oi masih diam, ia bahkan
tidak memberiku senyum yang kurindukan sejak empat tahun lalu.
“Em, kumohon jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu. A.. aku minta maaf
karena tidak berani mengatakannya langsung kepadamu saat itu, Aku kalut,
maafkan aku” Aku melepaskan pegangan tanganku darinya dan mundur perlahan, ada
apa? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Apa yang perlu dimaafkan?
“Sayang, gaun yang ini gimana?” Nona cantik tadi menemui Oi. Hey, siapa pasanganmu? Kenapa ia
menemui Oi dan meminta pendapatnya?
Oi terlihat semakin bingung, ia tidak menjawab pertanyaan nona tadi, dan tidak
juga berani menatap mataku lekat-lekat.
“Nona, ini gaunnya.. dan Oi, adakah sedikit penjelasan untukku atas semua ini?”
Nona tadi mengambil gaunnya dan ikut bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi
pada kami. Aku terus menatap matanya yang kebingungan, entah apa yang terjadi
aku pun tidak tahu, yang aku tahu ini jelas bukan sebuah surprise yang baik
untukku.
Kurasakan pergelangan tanganku begitu sakit ketika Oi mencengkeramnya dengan
keras,
“Dengarkan aku, Em! Tolong
berhenti memaksaku untuk berbicara seperti ini. Kau sudah tahu dengan jelas apa
yang sebenarnya terjadi. Kau marah? Maafkan aku Em, aku tidak punya banyak
nyali untuk mengatakannya langsung padamu, karena itu aku meminta Ed untuk
bicara padamu. Aku meminta maaf Em.. Hubungan kita sudah berakhir sejak setahun
yang lalu, dan sebentar lagi aku menikah dengan Hanna, kumohon.. aku tahu ini
sulit bagimu, aku minta maaf. Kumohon mengerti keadaanku saat ini”
Bening ini terus mengalir sejak Oi mencengkeram tanganku dengan keras. Aku
merasa langitku runtuh pada saat itu, apa yang terjadi sebenarnya? Aku bahkan
tidak pernah tahu kalau Oi memutuskan hubungan kami sejak setahun yang lalu,
aku juga tidak tahu kalau ia akan segera menikah dengan wanita lain selain aku,
selama ini hubungan kami baik-baik saja. Bangunkan aku sekarang Tuhan, mimpi
ini begitu menyakitkan. Bening ini terus mengalir tanpa henti, melihatnya
menunduk dengan perasaan bersalah semakin membuatku sakit. Aku ingin memeluknya
tapi hatiku berkata dia bukanlah Oi-ku lagi..
“Kamu bohong!! Aku bahkan tidak pernah menerima email darimu kalau kau
memutuskan hubungan kita setahun yang lalu hingga saat ini, Aku tidak pernah
tahu kau ingin segera menikah dengan wanita pilihanmu, Aku... aku salah apa?”
Aku tak sanggup meneruskan semua pertanyaan yang berputar di kepalaku, begitu
banyak. Dadaku sesak dengan semua lelucon ini, sungguh tidak lucu.
“Emma, maafkan aku. Aku meminta Ed untuk mengatakannya padamu lewat emailku,
aku sendiri sudah tidak lagi menggunakan emailku yang dulu. Aku menyerahkan
semuanya pada Ed, maaf Em, aku tidak ada nyali untuk mengatakannya langsung
padamu. Aku tidak ingin menyakitimu begitu dalam, oleh karena itu aku meminta
Ed yang bicara. Maafkan aku”
Aku tidak percaya orang ini tega menyakitiku, Orang yang selama ini menjadi
tokoh utama dalam setiap mimpi-mimpiku menjadi wanita seutuhnya, menikah
dengannya, hidup bersama dengannya. Lidahku kelu untuk berkata apa-apa lagi
padanya, sudah terlambat. Oi sudah memilih hidupnya dengan wanita lain, bukan
aku. Mungkin aku harus percaya dengan apa yang dikatakan bunda, memiliki
hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah, aku bertahan cukup lama dengan
hubungan LDR kami, dan aku dikhianati.
“Brengsek”
Aku rasa tamparan tadi belum cukup mewakilkan semua rasa sakitku. Aku berlari
dan meninggalkan Oi, Ed harus mempertanggungjawabkan semuanya, Cuma Ed yang
tahu maksud dari semua ini. Semua orang menatapku bingung karena aku tidak
berhenti menangis sepanjang jalan, aku berusaha untuk menghentikannya namun aku
tidak bisa. Lukanya terlalu dalam. Aku masih terus berlari dan bertanya-tanya,
Lalu selama ini aku bertahan sekian lama untuk siapa?
DUAK!
Hening....
@
“Emma... maafkan aku” Kudengar sayup-sayup suara dari orang yang duduk
disampingku. Putih, ruangan itu putih dan aku kenal dengan aroma ruangan ini.
Entahlah sepertinya aku mengalami kecelakaan sore tadi. Aku terlalu kalut dan
membuatku gegabah, yang aku ingat hanya ada benda besar yang datang kepadaku
dan mendorongku keras, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.
“Ed... siapa yang mengharapkan kedatangan pembohong sepertimu, brengsek?!” Aku
meronta dan memberikan beberapa pukulan padanya. Ed berusaha menahan seranganku
dan dengan cepat memeluk tubuhku erat.
“Dengarkan aku Emma, aku tahu semua perbuatanku begitu menyakitkan. Maafkan
aku, izinkan aku bicara dan menjelaskan semuanya, Em” Perlahan aku berhenti
meronta dari pelukannya, “Sudah terlambat Ed, Oi sudah pergi. Ia bahkan sudah
ingin menikah dengan wanita lain, bukan aku!!!” aku menangis sejadi-jadinya
yang aku bisa.
“Emma, setahun lalu Oi memintaku untuk bilang kepadamu kalau dia mencintai
wanita lain di Holland. Kau tau? Oi tidak menyelesaikan studinya hingga
sarjana, ia bergaul dengan orang-orang yang salah. Hingga ia bertemu dengan
Hanna. Malam itu aku ada lembur dan pulang larut malam, aku mendapatinya dengan
Hanna di apartemen dengan kondisi yang... kau tahulah. Banyak whisky disana.
Sungguh, maafkan adikku Em”
Gregory. F*ck.
“Aku menghadiahinya dengan beberapa pukulan di rahang dan dadanya, hatiku sakit
Em. Bagaimana bisa ia meninggalkanmu dengan cara seperti itu. Aku terus
memukulinya, bahkan ia hampir mati karenaku. Aku begitu kalut saat itu, aku
tidak ingin kau dicampakkan seperti ini Em. Ia meminta maaf dan bilang kalau ia
sudah terlanjur mencintai Hanna, Hanna hamil dan meminta Oi untuk bertanggung
jawab. Aku menghajarnya hingga pingsan saat itu. Besoknya ia memintaku untuk
bicara padaku, ia merasa sangat bersalah atas semua tindakannya, ia tidak ingin
menyakitimu Em, sehingga ia memintaku untuk bicara padamu lewat emailnya pada
saat itu, karena emailku di hack. Kau ingat ketika berkali-kali kamu
menghubungi Oi, namun ia tidak membalasnya? Itulah ketika neraka itu terjadi.
Kami sama-sama bingung untuk bertindak. Sejak saat itu aku memutuskan untuk
tidak menceritakannya kepadamu, aku memutuskan untuk berperan seperti Oi
kepadamu. Lebih baik kau tak tahu, itu pikirku..”
Luka di kepalaku karena kecelakaan kemarin terasa sangat ringan dibandingkan
dengan luka di hatiku dengan semua penjelasan dari Ed. Air mataku tak kunjung
berhenti mendengarkannya bercerita. You’re
fucking bastard ever, Gregory...
Aku tertidur di pelukan Ed saat itu, lama sekali. Ed membiarkan aku menangis
dan tertidur dalam pelukannya. Hari-hariku kini berubah, sejak keluar dari
rumah sakit, aku memulai hari-hariku kembali.., tanpa Oi dihatiku. Terakhir
kudengar ia menikah dengan Hanna dan tinggal di Jakarta. Aku masih bekerja di
gallery ini, melihat pasangan-pasangan itu bahagia dalam memilih gaun pengantin
merupakan obat bagiku. Ya, melihat orang lain bahagia sudah cukup membuatku
bahagia. Ed masih disini, ia memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya dan
tinggal sebentar di Bandung bersama dengan orang tuanya. Ed masih sering
mengunjungiku, menghiburku dan berusaha untuk membuatku lupa akan kejadian
beberapa bulan yang lalu. Hari ini kami ada janji makan siang bersama di cafe
dekat taman kota.
“Ed, kapan kau kembali ke Holland? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Ia tertawa
ringan, “Entah Em, aku masih ingin disini. Disana sepi”
Kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing.
Perlahan aku mulai melupakan semua kejadian pahit itu. Hidupku harus terus
berlanjut meski tanpa Oi. Begitu kata Ed berkali-kali padaku.
“Ed, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya?” Ada hening panjang saat ini. Pertanyaan ini sudah kusimpan lama sejak di
rumah sakit, saat Ed menceritakan semuanya kepadaku.
“Kenapa kau lakukan semua ini Edward? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?
Kenapa kau begitu marah pada Oi saat itu? Kenapa kau datang disaat aku
kecelakaan saat itu? Kau sedang di Holland kan..”
Ed mengambil nafas panjang, “Bisa kita bicara hal lain, Em?”
Aku diam menunggu jawabannya saat ini. Ed harus menjelaskan semuanya kepadaku.
“Baiklah.. kau memang pandai sekali memaksa, Emma. Sudah sejak lama aku
mencintaimu, bahkan sebelum aku mengenalkanmu pada Oi. Aku merasa tidak pantas
Em, Oi jauh lebih tampan, lebih berani, dan kurasa Oi adalah tipemu. Bukan aku.
Aku merelakanmu padanya, meskipun aku tahu aku menyakiti diriku sendiri saat
itu. Kukira cinta ini hanyalah sementara, ternyata aku sendiri tidak pernah
menemukan cinta yang lain yang lebih dari yang aku rasakan kepadamu. Melihatmu
bahagia saja sudah cukup membuatku senang. Aku memilih untuk tinggal di Holland
agar bisa melupakanmu, namun aku malah terjebak dalam kejadian ini Emma. Aku
memukul adikku sendiri membabi buta karena dadaku begitu sesak melihatnya
dengan orang lain sedangkan kau menunggunya pulang, kau membawa semua harapan
dan janji-janji bullshit yang kalian buat sebelumnya, aku
sakit Em.. Aku tidak ingin membuatmu lebih terluka dengan mengatakannya padamu
yang terjadi sebenarnya. Dan aku membuat tindakan terbodoh yang pernah
kulakukan, aku berperan seperti Oi dengan membalas semua email-emailmu seolah
tidak pernah terjadi apa-apa. Jauh dari hati kecilku, aku ingin merasakan apa
yang tidak dirasakan olehku ketika Oi berhubungan denganmu Em.. Harusnya aku
yang sedari dulu mencintaimu, bukan adikku.. Aku mencari tahu keberadaanmu di
Bandung, tempatmu bekerja, dan segala hal tentangmu. Aku juga ikut pulang
ketika Oi pulang kesini. Aku mengejarmu ketika kau berlari sambil menangis saat
itu, aku pula yang membawamu ke rumah sakit ketika kau mengalami kecelakaan
sore itu. Maafkan tindakan bodohku, Em” jawabnya. Aku membekap mulutku tak
percaya. Sejak kapan semua ini menjadi begitu complicated?
Ed mencintaiku sejak lama dan berlindung dibalik tameng Oi. Pengecut.
“Lalu, apa yang kau harapkan dariku Ed?” Aku menghapus bening yang turun dari
kedua mataku, meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
“Aku ingin kau bahagia Emma. Aku ingin memastikan kau bahagia ketika aku
kembali ke Holland nanti. Aku tahu sulit bagimu untuk menerima semua kenyataan
ini. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya padamu dan mengagumimu
dibalik cinta kalian.”
“R u sure?”
Ia mengangguk dan tersenyum hangat.
“Kamu orang ter-sok tahu dan pengecut yang pernah kutemukan, Ed”
“Maafkan aku Emma...”
“Kau tahu? memang sulit bagiku untuk menerima semua ini. Tapi kau membuatnya
begitu mudah Ed. Tenang saja, aku akan bahagia Ed. Aku akan bahagia jika kau
terus bersamaku seperti saat ini” jawabku padanya. Mengatakan ini sungguh
tidaklah mudah. Perlahan tapi aku memang merasa nyaman dengan Edward. Hey Em,
Edward jauh lebih baik dari Oi sejak dulu. Bodohnya aku tak pernah memandangnya
dengan mata dan hatiku.
Senyumnya mengembang, wajahnya semakin terlihat tegas dengan senyum itu.
“Kau akan ikut aku ke Holland?” tanyanya. Tangannya menggenggam balik jemariku
lembut.
“Tidak,
selesaikan urusanmu disana. Aku akan menyusul tahun depan. Aku harus mengurusi
pekerjaan besar bulan depan dan aku tidak ingin ketinggalan, setelah semua beres
aku akan terbang menyusulmu” Ia mengangguk senang, senyumnya tak pernah hilang
dari wajahnya, dan aku suka.
“Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya. Tatapan matanya tajam menatapku,
tangannya masih belum beranjak dari zona nyaman itu.
“Belum, semua butuh proses Ed. Beri kita waktu setahun untuk saling meyakinkan,
aku tidak ingin kejadian lalu terulang lagi, dan aku tidak ingin kau memilih
wanita yang salah Ed. Kita akan saling memberi kabar selama setahun ini, dan bertemu
tahun depan. Saat itu semuanya menjadi resmi. Apakah seorang Edward Thamrin
yang telah menungguku begitu lama merasa keberatan dengan rentang setahun ini?”
godaku. Sontak ia memelukku erat sekali, Paling erat dari yang pernah
kurasakan, “Tentu saja aku tidak keberatan, i’ll
wait for you” bisiknya.
Hidupku terasa begitu ringan dan berwarna saat ini. Kami akan memulai takdir
kami yang baru. Butuh waktu memang untuk memulainya dari awal bersama Ed. Tapi
aku yakin Ed yang terbaik untukku saat ini, dulu, dan esok.
Untuk kamu yang sedang ragu meyakinkan cintamu, kau takkan pernah begitu yakin
kau mencintainya dengan amat sangat, sampai kau merasakan dadamu sesak karena
kau merasakan duka yang ia rasakan, atau dadamu terasa begitu ringan ketika kau
merasakan kebahagiannya...
Because love is someone who feels
like a part of you,
and love never fails...
Created by:
Cynthia SL