Lengkung manis itu tak pernah lagi singgah di
bibir bulan, mampirpun tidak. Auranya terlihat abu-abu tak
lagi pernah ia berwarna. Ini sudah kesekian kalinya aku biarkan Bulan bersandar
di tubuh kokohku, membiarkan bening-bening itu mendarat tepat di tubuhku hingga
aku bisa merasakan sakitnya sampai ke akar.
Menangislah semaumu, Bulan…
Ia masih di tempat yang sama dengan beberapa
tahun lalu, yang berbeda hanya kerutan dan kantung mata yang menggantung di
wajahnya. Aku ingin sekali merengkuhnya dan berkata “Semua akan baik-baik
saja Bulan” atau se-frontal “Kenapa kamu tak pernah mencari yang
lain saja? Yang selalu ada untuk kamu contohnya….” Atau yang lebih
egois seperti, “Kenapa bukan aku yang kamu cari Bulan?”. Namun
semua kata-kata itu seolah terkunci rapat tak pernah berani aku ungkapkan.
Bulan lebih menginginkan Senja pulang dari apapun dan aku hanya bisa
melindunginya dari terik mentari dan menampung semua bening yang mengalir
dari matanya di akarku.
Sekaligus merasakan seninya mencinta Bulan dalam
bisu.
SENJA
Baginya, indikator kesuksesan adalah ketika ia
bisa membeli langit. Hidupnya begitu nomaden mengikuti kemanapun arus angin membawanya
pergi. Rencana dan ambisi adalah dua komponen utama yang membentuk dirinya.
Hidupnya sesimpel “Kejar dan dapatkan” dan “Now or never” dan
orientasinya lebih terhadap hasil. Bahkan, siapapun takkan pernah
sempat berpikir bahwa senja pernah mencinta seseorang selain dirinya sendiri.
Tapi mereka salah… Senja pernah mencinta
seseorang selain dirinya sendiri, membiarkan dirinya merasakan ada getaran rasa
lain selain ambisi dan gengsi yang terus meletup dalam dirinya. Menyadari bahwa
ternyata ada indikator kebahagiaan lain selain pride dan
kesuksesan membeli langit,
yaitu cinta.
Ia bertemu dengan cintanya 5 tahun lalu di
bawah rindangnya pepohonan Pinus. Sama-sama menatap langit sambil menyandarkan
tubuh mereka di sebuah pohon Pinus tua yang sudah banyak menjatuhkan
bunga-bunga Pinus di dekat akarnya. Senja tak pernah bertemu dengan seseorang
yang begitu peduli terhadap semesta dengan segala sudut
pandangnya dalam melihat luasnya langit. Bagi "cintanya", rencana dan ambisi
memang penting, namun tak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati segala
proses hidup di bawah naungan langit sambil terus berdoa dan berusaha meragas
tiap lapisan langit hingga ke puncak. Sudut pandang cintanya membuatnya sadar
bahwa,
Ternyata
untuk menikmati hidup tak perlu menjadi sekeras batu.
Namun, angin membisikkan kepada Senja bahwa akan
lebih baik jika mereka bisa saling berbagi bahagia. Bulan juga bisa ikut
berbahagia dengan merasakan bahagia yang dirasakan Senja.
“Mau bermain hide & seek denganku, Bulan?” Senja bertanya dan
langsung disambut anggukan dari cintanya.
“Kamu berhitung, aku bersembunyi. Seandainya
kamu lelah mencariku, datanglah lagi ke Pinus tua ini. Aku akan kembali”.
Itulah kalimat terakhir yang dikatakan oleh
Senja sebelum akhirnya ia mengembara lagi bertahun lamanya untuk kembali
mengejar mimpi yang sebenarnya diperuntukkan untuk sang Bulan.
BULAN
Berjanji untuk pulang adalah janji paling
menyakitkan yang pernah diucapkan seseorang ketika ia sendiri belum bisa
meyakinkan kamu bahwa kamulah rumahnya.
Begitulah Senja. Seenaknya pergi dan berjanji
pulang tanpa pernah memberikan isyarat kapan ia akan pulang dan membiarkan
Bulan menunggunya setiap hari di bawah lindungan Si Pinus tua. Bulan tak pernah
bertemu dengan seseorang sekeras Senja. Hidupnya terlalu kaku hingga ia lupa
bagaimana caranya menikmati hidup yang sesungguhnya.
Tapi Bulan begitu mencinta sang Senja. Ia
mengagumi Senja dan segala mimpi-mimpinya, ia menyukai bagaimana Senja
melupakan cara menikmati hidup yang sesungguhnya, dan Bulan ingin menjadi
seseorang yang bisa membuatnya sama-sama merasakan proses menuju mimpi Senja. Ia ingin meyakinkan Senja bahwa bahagia juga bisa dirasa saat kita berusaha mencapai tujuan. Bahagia tidak melulu masalah pencapaian besar, bahkan hal-hal kecil seperti melihat orang lain tertawa dan menanti esok hari juga bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang. Mereka memang berbeda namun bukankah berbeda akan selalu tegak lurus dengan
saling melengkapi?
Dan disinilah Bulan. Memeluk Si Pinus tua
dalam-dalam dan menangis sendu di tubuh kokoh Si Pinus. Si Pinus dengan sabar
dan setia menjadi tempatnya berbagi cerita dan menampung bening-bening air
matanya karena merindu sang Senja. Ia menanti Senja sejak hitungannya sudah
mencapai angka 100 saat bermain hide & seek dengan Senja 5
tahun lalu dan Bulan tak pernah sangka bahwa ia akan terus berhitung hingga
saat ini karena memang Senja tak pernah lagi menunjukkan diri di depannya.
Bulan hanya berpegang kuat pada kata-kata yang dikatakan Senja dengan tegas, “Aku
akan kembali”. Dan hanya itu yang menjadi sumber kekuatan percayanya.
Lalu kapan kamu akan pulang, Senja? Kemudian bening itu
kembali jatuh ke dasar akar Si Pinus seraya ia menjatuhkan Bulan satu bunga Pinus
cantik untuk menghibur laranya.
PAGI
Aku tak pernah akur dengan Bulan. Aku
membencinya. Untuk apa menunggu Senja sementara ia bahkan tak bisa merasakan
ada sosok lain yang dengan tulus dan sabar mencintanya?
Pinus.
Seandainya mengungkap cinta bisa sesimpel ketika
kamu merasakannya, mungkin Pinus takkan pernah tumbuh besar berkat air mata
Bulan yang pelan-pelan merasuk hingga ke akar dan membuatnya terus hidup. Ya..
dia tumbuh dari rasa sakit, rindu, dan cinta Bulan terhadap Senja.
Aku mengamati kisah Senja, Bulan, dan Pinus-ku
setiap kali malam rela berganti tempat denganku. Menyaksikan setiap pagi Si Pinus
merasakan sendu karena hari ini ia harus melihat Bulan datang kepadanya –
menangis – dan memaksanya terus berpura-pura tidak mencinta Bulan. Aku
tahu kau ingin merengkuhnya, kan Pinus?
Pinus menjatuhkan satu persatu bunganya untuk
Bulan setiap kali Bulan menangis. Ia ingin menghibur Bulan dengan segala yang
ia punya. Tubuhnya, bunganya, akarnya. Egois memang kalau dipikir-pikir. Bagaimana
mungkin kamu bisa mencintai seseorang dalam diam yang begitu lama? Kamu katakan
itu adalah cinta yang sesungguhnya, bahwa cinta memang tak harus saling
menginginkan. Tak perlu harus memiliki.
Tapi menurutku itu egois.
Apa namanya kalau bukan egois? Membiarkan diri
sendiri tersiksa, kemudian dengan lancang mengatasnamakan siksa tersebut sebagai
rasa cinta. Yang bahkan kamu sendiri tidak pernah tahu bagaimana
perasaan Bulan kepadamu kalau kamu tidak pernah coba ungkapkan. Atau
kamu pernah kan mendengar ada orang yang berkata bahwa seseorang harus
disadarkan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia memang benar-benar menyadarinya?
Mungkin saja ketika kamu mengungkapkan cintamu
kepada Bulan, ia akan mulai menyadari eksistensi kamu selama ini? Who knows.
Maaf, aku memang hanya menjadi cameo disini, namun sepertinya aku sudah terlalu banyak protes terhadap skenario dan keadaan yang
terjadi sesungguhnya.
Aku benci melihat Bulan yang begitu
mencinta Senja begitu lamanya tanpa pernah mencoba peka terhadap seseorang yang
selalu ada di sampingnya.
Aku juga benci melihat Senja yang terlalu
ambisius dalam mengejar mimpi-mimpinya dan begitu egois meminta Bulan untuk
menunggunya pulang hingga saat ini.
Aku juga benci melihat Pinus yang rela menjadi
sandaran sang Bulan yang bahkan tak pernah sekalipun mencinta dirinya.
Akupun benci diriku sendiri…. Yang terlalu
banyak mengeluh dan protes dengan skenario dan keadaan yang ada. Aku benci
karena saat ini aku mulai menyadari bahwa aku mulai masuk ke mata rantai cinta
yang rumit ini. Aku benci….
Aku benci karena aku mulai sadar bahwa ternyata diam-diam aku juga mencinta Si Pinus.
Kisah Si Pinus, Sang Senja, Cintanya, dan Pagi
oleh
Cynthia S Lestari & Arie Fuzacky.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar