Sabtu, 09 Januari 2016

1...2...3....∞

Captured by Arie Fuzacky

PINUS
Lengkung manis itu tak pernah lagi singgah di bibir bulan, mampirpun tidak. Auranya terlihat abu-abu tak lagi pernah ia berwarna. Ini sudah kesekian kalinya aku biarkan Bulan bersandar di tubuh kokohku, membiarkan bening-bening itu mendarat tepat di tubuhku hingga aku bisa merasakan sakitnya sampai ke akar. 
Menangislah semaumu, Bulan… 
Ia masih di tempat yang sama dengan beberapa tahun lalu, yang berbeda hanya kerutan dan kantung mata yang menggantung di wajahnya. Aku ingin sekali merengkuhnya dan berkata “Semua akan baik-baik saja Bulan” atau se-frontal “Kenapa kamu tak pernah mencari yang lain saja? Yang selalu ada untuk kamu contohnya….” Atau yang lebih egois seperti, “Kenapa bukan aku yang kamu cari Bulan?”. Namun semua kata-kata itu seolah terkunci rapat tak pernah berani aku ungkapkan. Bulan lebih menginginkan Senja pulang dari apapun dan aku hanya bisa melindunginya dari terik mentari dan menampung semua bening yang mengalir dari matanya di akarku.
Sekaligus merasakan seninya mencinta Bulan dalam bisu.


SENJA
Baginya, indikator kesuksesan adalah ketika ia bisa membeli langit. Hidupnya begitu nomaden mengikuti kemanapun arus angin membawanya pergi. Rencana dan ambisi adalah dua komponen utama yang membentuk dirinya. Hidupnya sesimpel “Kejar dan dapatkan” dan “Now or never” dan orientasinya lebih terhadap hasilBahkan, siapapun takkan pernah sempat berpikir bahwa senja pernah mencinta seseorang selain dirinya sendiri.
Tapi mereka salah… Senja pernah mencinta seseorang selain dirinya sendiri, membiarkan dirinya merasakan ada getaran rasa lain selain ambisi dan gengsi yang terus meletup dalam dirinya. Menyadari bahwa ternyata ada indikator kebahagiaan lain selain pride dan kesuksesan membeli langit,
yaitu cinta.
Ia bertemu dengan cintanya 5 tahun lalu di bawah rindangnya pepohonan Pinus. Sama-sama menatap langit sambil menyandarkan tubuh mereka di sebuah pohon Pinus tua yang sudah banyak menjatuhkan bunga-bunga Pinus di dekat akarnya. Senja tak pernah bertemu dengan seseorang yang begitu peduli terhadap semesta dengan segala sudut pandangnya dalam melihat luasnya langit. Bagi "cintanya", rencana dan ambisi memang penting, namun tak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati segala proses hidup di bawah naungan langit sambil terus berdoa dan berusaha meragas tiap lapisan langit hingga ke puncak. Sudut pandang cintanya membuatnya sadar bahwa,
        Ternyata untuk menikmati hidup tak perlu menjadi sekeras batu.
Namun, angin membisikkan kepada Senja bahwa akan lebih baik jika mereka bisa saling berbagi bahagia. Bulan juga bisa ikut berbahagia dengan merasakan bahagia yang dirasakan Senja. 
“Mau bermain hide & seek denganku, Bulan?” Senja bertanya dan langsung disambut anggukan dari cintanya. 
“Kamu berhitung, aku bersembunyi. Seandainya kamu lelah mencariku, datanglah lagi ke Pinus tua ini. Aku akan kembali”. 
Itulah kalimat terakhir yang dikatakan oleh Senja sebelum akhirnya ia mengembara lagi bertahun lamanya untuk kembali mengejar mimpi yang sebenarnya diperuntukkan untuk sang Bulan.


BULAN
Berjanji untuk pulang adalah janji paling menyakitkan yang pernah diucapkan seseorang ketika ia sendiri belum bisa meyakinkan kamu bahwa kamulah rumahnya.
Begitulah Senja. Seenaknya pergi dan berjanji pulang tanpa pernah memberikan isyarat kapan ia akan pulang dan membiarkan Bulan menunggunya setiap hari di bawah lindungan Si Pinus tua. Bulan tak pernah bertemu dengan seseorang sekeras Senja. Hidupnya terlalu kaku hingga ia lupa bagaimana caranya menikmati hidup yang sesungguhnya.
Tapi Bulan begitu mencinta sang Senja. Ia mengagumi Senja dan segala mimpi-mimpinya, ia menyukai bagaimana Senja melupakan cara menikmati hidup yang sesungguhnya, dan Bulan ingin menjadi seseorang yang bisa membuatnya sama-sama merasakan proses menuju mimpi Senja. Ia ingin meyakinkan Senja bahwa bahagia juga bisa dirasa saat kita berusaha mencapai tujuan. Bahagia tidak melulu masalah pencapaian besar, bahkan hal-hal kecil seperti melihat orang lain tertawa dan menanti esok hari juga bisa menjadi sumber kebahagiaan seseorang. Mereka memang berbeda namun bukankah  berbeda akan selalu tegak lurus dengan saling melengkapi?
Dan disinilah Bulan. Memeluk Si Pinus tua dalam-dalam dan menangis sendu di tubuh kokoh Si Pinus. Si Pinus dengan sabar dan setia menjadi tempatnya berbagi cerita dan menampung bening-bening air matanya karena merindu sang Senja. Ia menanti Senja sejak hitungannya sudah mencapai angka 100 saat bermain hide & seek dengan Senja 5 tahun lalu dan Bulan tak pernah sangka bahwa ia akan terus berhitung hingga saat ini karena memang Senja tak pernah lagi menunjukkan diri di depannya. Bulan hanya berpegang kuat pada kata-kata yang dikatakan Senja dengan tegas, “Aku akan kembali”. Dan hanya itu yang menjadi sumber kekuatan percayanya.
Lalu kapan kamu akan pulang, Senja? Kemudian bening itu kembali jatuh ke dasar akar Si Pinus seraya ia menjatuhkan Bulan satu bunga Pinus cantik untuk menghibur laranya.


PAGI
Aku tak pernah akur dengan Bulan. Aku membencinya. Untuk apa menunggu Senja sementara ia bahkan tak bisa merasakan ada sosok lain yang dengan tulus dan sabar mencintanya?
Pinus.
Seandainya mengungkap cinta bisa sesimpel ketika kamu merasakannya, mungkin Pinus takkan pernah tumbuh besar berkat air mata Bulan yang pelan-pelan merasuk hingga ke akar dan membuatnya terus hidup. Ya.. dia tumbuh dari rasa sakit, rindu, dan cinta Bulan terhadap Senja.
Aku mengamati kisah Senja, Bulan, dan Pinus-ku setiap kali malam rela berganti tempat denganku. Menyaksikan setiap pagi Si Pinus merasakan sendu karena hari ini ia harus melihat Bulan datang kepadanya – menangis – dan memaksanya terus berpura-pura tidak mencinta Bulan. Aku tahu kau ingin merengkuhnya, kan Pinus?
Pinus menjatuhkan satu persatu bunganya untuk Bulan setiap kali Bulan menangis. Ia ingin menghibur Bulan dengan segala yang ia punya. Tubuhnya, bunganya, akarnya. Egois memang kalau dipikir-pikir. Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai seseorang dalam diam yang begitu lama? Kamu katakan itu adalah cinta yang sesungguhnya, bahwa cinta memang tak harus saling menginginkan. Tak perlu harus memiliki.
Tapi menurutku itu egois.
Apa namanya kalau bukan egois? Membiarkan diri sendiri tersiksa, kemudian dengan lancang mengatasnamakan siksa tersebut sebagai rasa cinta. Yang bahkan kamu sendiri tidak pernah tahu bagaimana perasaan Bulan kepadamu kalau kamu tidak pernah coba ungkapkan. Atau kamu pernah kan mendengar ada orang yang berkata bahwa seseorang harus disadarkan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia memang benar-benar menyadarinya?
Mungkin saja ketika kamu mengungkapkan cintamu kepada Bulan, ia akan mulai menyadari eksistensi kamu selama ini? Who knows.
Maaf, aku memang hanya menjadi cameo disini, namun sepertinya aku sudah terlalu banyak protes terhadap skenario dan keadaan yang terjadi sesungguhnya.
 Aku benci melihat Bulan yang begitu mencinta Senja begitu lamanya tanpa pernah mencoba peka terhadap seseorang yang selalu ada di sampingnya.
Aku juga benci melihat Senja yang terlalu ambisius dalam mengejar mimpi-mimpinya dan begitu egois meminta Bulan untuk menunggunya pulang hingga saat ini.
Aku juga benci melihat Pinus yang rela menjadi sandaran sang Bulan yang bahkan tak pernah sekalipun mencinta dirinya.
Akupun benci diriku sendiri…. Yang terlalu banyak mengeluh dan protes dengan skenario dan keadaan yang ada. Aku benci karena saat ini aku mulai menyadari bahwa aku mulai masuk ke mata rantai cinta yang rumit ini. Aku benci….

Aku benci karena aku mulai sadar bahwa ternyata diam-diam aku juga mencinta Si Pinus. 



Kisah Si Pinus, Sang Senja, Cintanya, dan Pagi oleh 
Cynthia S Lestari & Arie Fuzacky. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...