Selasa, 04 Agustus 2015

Cerita Langit

"It's up to you to write your own story. You choose your destiny."
Notes from Nora.

Kau boleh sebut aku pemimpi atau seorang jalang jalanan yang selalu mengkhayal di tengah dinginnya malam. Hobiku menulis pada berlembar-lembar kertas putih, membuatnya indah dengan tarian penaku. Menuangkan segala bentuk pikiran dan cintaku di sana. Menjadi saksi bisu perasaanku kepada tokoh yang aku buat sendiri di dalamnya. Aku bebas mengarang segala bentuk cerita yang kuinginkan tentangnya di kertas.
Mereka sebut aku gila. Berlembar tumpukan kertas ini hanya dapat mengisi sudut kamarku tanpa pernah ada yang aku jadikan buku. Aku tidak ingin orang lain membaca semua tulisanku. Aku tidak ingin seorangpun tahu apa isi hatiku yang sebenarnya. Aku tidak ingin ada yang mengetahui siapa Langit yang ada di dalam ceritaku sebenarnya. Atau lebih parahnya, aku tidak ingin sampai dia tahu bahwa Langit yang ada di dalam cerita-ceritaku adalah dirinya.
Langit sangat hidup. Begitu berani dan menyala. Aku yakin jika mereka membacanya, takkan ada yang tak terpesona olehnya. Termasuk aku. Langit melihat dunia dari sisi yang berbeda, begitupun aku. Hanya dengan melihatnya, aku merasa bisa melihat dunia dari berbagai macam sisi. Aku jatuh cinta padamu Langit, tokoh imajiku.
Apa sekarang kau juga ingin menyebutku gila seperti mereka? Boleh saja. Sebut aku semaumu, mungkin aku memang seperti itu.
Lupakan Langit, tokoh dalam ceritaku. Jangan coba-coba membayangkan seperti apa rupanya karena sejauh dan sedalam apapun kalian membayangkannya, dia akan terus sembunyi. Aku tak mengizinkannya terlihat oleh orang-orang diluar sana karena hanya aku yang boleh memilikinya. Hanya aku yang bisa menghidupkan dia.
Di dalam fantasiku….
Karena hanya di sana aku bisa bebas memilikinya.
Aku tahu kau pasti bertanya-tanya mengapa aku begitu mencintai Langit-ku. Tidak, sebenarnya kalian salah. Aku tidak mencintai Langit. Aku mencintai seseorang di balik lahirnya Langit. Dialah inspirasi dari segala bentuk cerita dalam hidupku dari dulu hingga kini. Kamu begitu mempesona dengan cara yang sangat sederhana. Dan aku terlalu sederhana untuk bisa bersamamu. Kamu seperti mentari dengan sinar-sinar dan kehangatan yang selalu dirindukan orang-orang, sedangkan aku seperti pekatnya malam. Aku terlalu takut dan malu untuk bisa berada di sampingmu. Aku takkan pernah pantas.
***
Aku memang bebas menulis cerita tokoh fiktifku semaunya, namun tidak dengan ceritaku sendiri. Ceritaku berubah saat sahabatku menemukan setumpuk kertas-kertas berisi Langit di sudut kamarku. Dengan lancang ia kirimkan satu persatu kisah Langit ke penerbit. Dan Voila! Kini aku tak bisa menyembunyikan Langit-ku. Orang-orang mulai mengenal Langit… dan mereka menyukai Langit dan segala kisah cintanya. Tentang Langit dan segala bentuk kelebihan di dalam dirinya. Tentang cara pandang Langit melihat dunia. Tentang Langit yang kini sukses di negeri tetangga. Dan tentang seorang Langit yang dipuja bertahun-tahun oleh seorang gadis sederhana yang tak pernah berani mengungkapkan perasaannya.
Aku banyak mendapatkan e-mail dari pembaca Langit-ku. Mereka sangat menyukai Langit-ku dan banyak dari mereka yang mulai menanyakan darimana aku mendapatkan inspirasi untuk menciptakan Langit. Dari belasan e-mail  yang belum kubaca hari ini, terselip satu e-mail dengan subjek “Dari Langit untuk Elena”. Aku segera membuka ­e-mail tersebut dan terdiam kaku saat membacanya.
Osaka, 24th Februari
Selamat ya, Langit sampai dengan selamat di Osaka. Meskipun aku yakin dia pasti kedinginan karena terlalu lama berada di luar terkena salju. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan perapian hangat di dalam rumah untuk menghangatkan Langit-mu itu.
Kamu tahu? Langit sangat senang berada di dekat pemilik raganya. Ia berkata bahwa kini hidupnya terasa begitu sempurna karena kamu telah menyatukannya dengan sang empunya raga.
Terima kasih Elena. Kamu menciptakan Langit lebih dari yang sebenarnya. Kamu tak hanya berhasil menciptakan Langit lewat ceritamu, tapi juga lewat rasamu. Selamanya takkan pernah ada wanita segenius kamu, Elena. Terima kasih, kamu telah membiarkan orang-orang mengenal Langit sebaik ini.
Dan terima kasih Elena, kamu sudah membiarkan aku hidup dalam rasamu selama ini. Meskipun aku takkan pernah sebaik dan se-mempesona Langit-mu. Kamu begitu mengenalku lebih dari diriku sendiri. Jika kamu bilang bahwa malam takkan pernah pantas mencintai mentari, kamu salah.
Mentari takkan pernah ada dan bisa menyinari dunia jika malam tak mengalah dan mengizinkannya untuk muncul.
Elena, Langit berbisik kepadaku barusan. Katanya, “Bolehkah aku menjadi tokoh dalam cerita hidupmu selamanya?” Ia tidak hanya ingin hidup dalam tulisan, tapi juga dalam hidupmu.
Jawabannya aku tunggu selepas musim salju di Osaka. Aku akan pulang ke Jakarta pertengahan tahun nanti.

Langit-mu,

Ken
***
Ya… kini aku tahu Langit tak lagi terkurung dalam rasa dan tulisanku, namun dalam cerita hidupku. Ia tetap Langit-ku meskipun dengan nama yang sebenarnya. Nama yang selama ini aku sembunyikan dengan rapat.

Ken.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...