Jangan
pernah sekalipun kamu berani sebut namanya. Jangan. Setidaknya itulah aturan
dariku yang berlaku sejak 15 tahun lalu. Jangankan orang lain, bahkan aku
sendiri tidak mengizinkan ada satu memori yang terlintas di benakku ketika
aku mengingat namanya. Sudah 15
tahun pula aku berusaha untuk tidak mengingat siapa namanya.. Bayangannya seperti siluet hitam tanpa edaran warna di pikiranku. Mengusir setiap rona warna lain yang kemungkinan bisa muncul kapanpun di sela si hitam pekat.
Hitam, kelam, sesal, benci, dingin, dan pekat darah. begitulah caraku mendeskripsikan bagaimana hatiku melihatnya.
Hitam, kelam, sesal, benci, dingin, dan pekat darah. begitulah caraku mendeskripsikan bagaimana hatiku melihatnya.
Aku bukan
tipe orang yang bisa membenci orang lain dengan mudah, namun sepertinya hal
tersebut tidak berlaku untuknya. Ia tak pernah berhasil memberikan aku satu
alasan untuk kembali, alasan untuk pulang… atau minimal alasan untuk membuatku
bisa meredam setiap getir luka yang terlanjur menyayat batin. Ia seperti fatamorgana api panas yang terus berkobar di daerah kering nan tandus. Kehadirannya bak
mata pisau paling tajam yang bisa dengan mudahnya menembus kulit tanpa perlu
ada usaha lebih untuk menekan pisau tersebut.
Then… here I am.
Berdiri
kaku, bergeming tak membiarkan satu sel-pun untuk bergerak. Ruangan berukuran
2.5 x 4 meter ini terasa begitu menyiksa batinku. Auranya kelabu dan pengap.
Tiap sudutnya seperti berusaha mendesakku untuk keluar dari sini dengan
cepat. Kemudian aku melihatnya di sudut kanan ruang ini, tergeletak pasrah
menatapku nanar. Aku melihatnya begitu menderita, namun ia balas menatapku
seolah-olah berkata bahwa penderitaan ini tak lebih menyakitkan dibandingkan
dengan ignorance dariku.
Aku bersumpah bahwa aku membencinya setengah mati. Lihat saja! Bahkan hingga saat ini ia dan sipir - sipir itu masih lancang mengiba dan membuatku akhirnya rela menginjakkan kaki di ruangan ini setelah bertahun lamanya.
Aku bersumpah bahwa aku membencinya setengah mati. Lihat saja! Bahkan hingga saat ini ia dan sipir - sipir itu masih lancang mengiba dan membuatku akhirnya rela menginjakkan kaki di ruangan ini setelah bertahun lamanya.
Kaki ini
seperti dirantai di kerak bumi seraya tangannya, ia-yang-aku-benci-setengah-mati itu masih berusaha menggapai diriku
lemah. Tatapannya penuh harap akan sepotong kata maaf dariku. Bibirnya susah
payah berusaha menyebut namaku, dan barusan kalau aku memang benar membaca
bahasa bibirnya… ia berkata “Maaf”. Aku ingin berteriak, memakinya dengan seluruh amarah yang selama ini tak pernah bisa aku lampiaskan. Aku ingin menghajarnya membabi buta tanpa pernah mengindahkan bisikan hati nuraniku. I do really want to kill him..
If i could.
If i could.
Stop denying yourself, Kim. Kemudian
sisi hatiku yang lain mulai angkat bicara, menekan seluruh benci yang terkumpul
bertahun-tahun untuknya. Susah payah aku berusaha menahan jatuhnya
bening-bening ini dari mataku, namun aku gagal. Bening itu terlanjur turun ke
pipi dan berakhir di daguku. Aku terduduk lemas seraya kulihat ada bening yang
jatuh juga dari kedua mata sendu itu.
“Kenapa….”
Aku hanya bisa menyelipkan pertanyaan yang selalu kutanyakan kepadanya
tiap kali ia berusaha datang kepadaku untuk meminta maaf, dan pertanyaan
tersebut pula yang tak pernah bisa aku dapatkan jawabannya. Tak pernah mau aku dengar jawabannya, lebih
tepatnya. Lalu perlahan memoar itu kembali menyeruak, merobek seluruh benci
yang kutanam dalam-dalam kepadanya. Memoar sejak kami masih saling menyayangi
satu sama lain, ketika ia selalu mengantar dan menemani kami di sela waktu
luangnya, ketika kami sama-sama berlibur, ketika aku menjadikannya sebagai
prioritas utama dalam hidupku, begitupun sebaliknya.
Snap. Memoar hitam tak ingin kalah saing
rupanya. Aku masih mengingatnya dengan jelas ketika ia mulai berubah menjadi
monster besar yang ganas dan tak pernah lagi aku kenal. Ketika lingkaran hitam
di matanya semakin terlihat seiring dengan bau alkohol yang menyengat keluar
dari bibir yang selalu membuat kami tertawa, ketika kehadirannya hanya membawa
bencana bagiku, bagi kami. Ketika aku mulai mendengar suara barang-barang yang
menghantam lantai dengan keras, ketika pecahan kaca mulai berserakan dimana-mana,
ketika ada wanita lain yang dengan lancang tidur di kasur ibu, dan..
Ketika kulihat pisau di tangannya menghunus dada ibu
dalam-dalam…
Kemudian
kilatan memoar itu menghilang bersamaan dengan tumbangnya sang pemilik raga setelah bersusah payah ia berkata,
“Maafkan ayah nak...”
***
Dua jam
yang lalu ayah dilarikan ke rumah sakit setelah lama aku menghambur ke arahnya
dan memeluk tubuh setengah baya itu dalam-dalam. Tubuhnya yang sudah kurus kering hanya berbalut seragam penjara yang aku yakin gigitan nyamukpun pasti akan tembus ke kulitnya. Kupeluk ia sambil merasakan kembali setiap rongga batinku terisi kembali oleh rasa cintanya. Pelukan itu meluluhlantakkan
semua rasa benci yang berkecamuk dalam diriku dan menggantinya dengan rasa
rindu akan sosok ayah yang selama ini aku lupakan secara paksa.
Hari ini aku
memaafkannya. Melihat kembali tatapan cinta ayah kepadaku 15 tahun silam dan
menemukan sebongkah cinta dan rindu disana bercampur dengan rasa sesal dan
getir di dadanya. Berat sekali rasanya membawa beban benci menahun ini
kemanapun aku pergi, terlebih ternyata selama ini diam-diam aku hanya menutupi cinta dan rinduku padanya dengan rasa benci yang berlebihan. Ia sudah cukup jera dan
terluka dengan perbuatannya dan sepertinya akan sangat tidak manusiawi jika
aku-anaknya tega menghukumnya lebih
berat dari penderitaan yang sedang ia jalani sampai dengan saat ini.
Forgive people in your life
even those who are not sorry for their actions, holding on to anger only hurts
you, not them – Unknown.
Karena memang sesungguhnya hujan
yang turun tak pernah bisa membenci sang langit…
Cynthia Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar