Minggu, 02 Oktober 2016

Letters from the Sea of (he)Art

Have you ever been in war situation?  Berada di tengah-tengah antara si kuat ego dan si konsisten logika yang berperang memperebutkan satu tempat di sisi sang hati. Bertarung habis-habisan berusaha melawan segala macam keadaan hanya untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang paling bertahan dalam gelombang waktu. 

“Tenanglah sebentar”. Seenaknya kamu bicara kala itu di sela pertempuran. Menyita trilyunan detik yang kupunya, hanya untuk mencerna apa maksud dari perkataanmu. Apakah jika aku tenang, akan ada satu pemenang diantara keduanya? 

Kamu tidak pernah menjawabnya. 

***

8 Desember 2015  

 I’m flying for more than 2000 miles away only to write something valuable on this postcard.

... And this is the last postcard. 

Ada sesuatu yang menarik ketika harus mengisi setiap lembar postcard kosong dengan goresan pena yang berantakan. Sesuatu yang jujur, luas, dan berharga tertuang di sana. Aku punya tiga dan ini adalah postcard terakhir yang harus kuisi dengan cerita lain yang bisa kudapat di tempat asing. 

“Bawalah setiap kamu pergi ke luar kota atau ke luar negeri saat waktu libur tiba, isi dengan cerita pendek yang terinspirasi dari tiap perjalananmu. Kembalilah ke sini tahun depan, ceritakan padaku apa saja yang kamu tulis di sana”.

Setidaknya itu pesan yang disampaikan dari dia yang memberi postcard. Memaksaku untuk selalu membawa tiga buah kertas ini kemanapun aku pergi dan menuliskan sesuatu di atasnya. With a lil’ rules, 

“Kamu bisa tulis apa aja di sana, Biru. Yang penting pakai pena ya”. 

Tinggal berbulan-bulan di tengah laut lepas, menghitung berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi dalam setiap inci pengeboran yang kami lakukan saja sudah menyita waktu setiap harinya, belum lagi waktu liburan sudah pasti habis untuk bersenang-senang, dan dia seenaknya saja menambah pekerjaanku. Aku bukan seorang penulis, ini bukan satu-satunya alasan kenapa aku ingin menolak permintaannya saat itu. Bukan hanya karena aku juga tidak bisa membuat rangkaian kata yang indah, tulisan penaku yang jelek, tapi juga kalau sudah ada orang yang bisa aku perintah untuk menulis untukku, kenapa harus aku yang melakukan? There should be a reason why God created a specific role in life, to be a writer and a reader. Me? Of course i’m in the reader side.

  Setidaknya paragraf tadi adalah pemikiranku sebelum postcard itu berhasil mengusik jari jemari ini untuk menulis sesuatu di atasnya pertama kali. 

***

24 Februari 2014

Aku selalu menyukai seni. Apapun bentuknya, entah dikemas dalam sebuah lukisan, lagu, tarian, tulisan, ataupun pementasan teater. Lewat sebuah karya seni, mereka bebas berekspresi tanpa peduli bagaimana orang lain akan menilai. Lewat karya seni, idealisme menjadi identitas mutlak sang kreator. Dan mungkin karena seni begitu sarat dengan idelisme kreatif, hal ini menjadi sesuatu yang paling kusuka.

“Cerita itu nyawa dari segala bentuk seni, Biru. Ada beragam bentuk emosi yang hadir dari setiap cerita dan terus mengganda menjadi berjuta-juta ketika seni itu dilahirkan”.

Perspektifnya akan seni hanya berputar pada sebuah cerita. Baginya, cerita adalah hal terpenting dalam sebuah seni, while i’m more focusing on the result. Aku ingin sekali membantahnya, karena aku tidak pernah memikirkan apa yang seorang Affandi pikirkan ketika ia melukis, atau apakah seorang Dee Lestari sangat menyukai perahu yang terbuat dari origami pada saat ia sedang menulis novel Perahu Kertas? Karena bagiku, bagaimana aku melihat dan menikmati seni tersebut jauh lebih penting. 

  “Seni itu ada di mana-mana, Biru. Aku melihat setiap manusia adalah sebuah karya seni milik Tuhan yang paling indah. Kamu tahu? Mereka masing-masing punya pengalaman dan jutaan cerita yang unik. Mereka adalah seni. Kamupun”. 

 Matanya berbinar saat membicarakan seni dari sudut pandangnya. Tangannya bergerak mengikuti intonasi dan merepresentasikan tiap kata yang ia ucap. Aku gatal sekali untuk bertanya, 

 “Tapi masa lalu kadang menjejak terlalu sakit untuk sebagian besar orang. Beberapa dari mereka bahkan diam dan tidak ada yang mau mengungkitnya kembali. Lantas darimana ia bisa bercerita?”  

   Aku ingin sekali melihatnya terdiam kalah. 

“Kalau begitu, bagian dari diamnya adalah sebuah cerita. Setiap cerita tidak perlu menjadi satu momok besar yang harus diceritakan, Biru. Terkadang kamu bisa menyimpannya untuk belajar suatu saat. Atau, ceritamu mungkin bisa dipelajari oleh orang lain. Jangan terlalu kakulah hehehe”. 

Dia menjawab pertanyaanku dengan cepat dan mengunci bibirku telak. Tidak ada yang bisa dibantah lagi, meskipun logika ini masih belum bisa terima dan mengikuti alur dari permainan kata-kata yang diucapnya. 

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita. Cobalah sesekali, Biru”. 

Poni rambutnya bergerak disapa angin ketika ia tersenyum seraya pamit masuk kembali ke dalam teater untuk berlatih dengan anak-anak panggung untuk mendongeng di pementasan selanjutnya. Kala itu adalah minggu ke dua sejak aku di Jogja dan menonton pementasan teater Nusa, sekaligus kali kedua aku harus mengasah habis perspektifku dengan berbicara dengannya, sang pendongeng di atas panggung yang selalu percaya dengan cerita setiap manusia. 

Dan perdebatan tersebut menjadi tidak pernah begitu berarti setelah aku berhasil menorehkan goresan pena pada lembar postcard pertama yang ia berikan padaku. Tiga lembar postcard itu selalu tersimpan rapi di dalam lembar terakhir notes yang biasa aku bawa. Tidak pernah ada yang tahu, bahkan akupun enggan menyentuhnya. Tidak pernah ada niatku untuk mengikuti apa yang diminta sang pendongeng. 

Sampai dengan saat kali pertama itu muncul.

                                                                    ***

15 Januari 2015

Setiap libur kerja selepas bekerja di offshore rig adalah waktu paling berharga yang kupunya. Setelah berbulan-bulan memasrahkan segala macam takdir pada debur ombak dan tekanan angin di tengah laut, kami diberikan waktu bebas untuk berlibur sebelum kembali ke tengah laut. Aku menghabiskan seminggu terakhir aku berlibur di Singapore, mengunjungi teman lama. Di ujung koridor jalan Bugis, kulihat beberapa orang berkerumun masuk ke dalam sebuah ruang pameran seni lukis. Karyanya aku yakin ada lebih dari seratus buah yang dipajang di sana dengan berbagai macam goresan warna di kanvas. Not so high class art, tapi aku bisa melihat semua karyanya adalah masterpiece. Semua orang terlihat memuji karya sang pelukis, tidak terkecuali seorang anak kecil yang membawa lembaran newspaper di tangannya. Ia mengintip di balik bilik jendela, dan kalau aku tidak salah melihat, ia membawa sebuah kanvas dan disimpannya di dalam saku celana pendek lusuh miliknya. Kakinya tak ia biarkan melengang masuk ke dalam, entah mengapa. Mengunci tubuhnya kaku di balik jendela mengagum lukisan dari kejauhan. 

Aku bisa saja pergi dan tak mengindahkan lelaki kecil itu, kalau tidak ada pikiranku untuk menulis postcard pada saat itu. Waktuku sedikit luang, and i think maybe this is the right moment to be written. Aku memperhatikan gerak-gerik sang anak yang tidak lama kemudian melengos pergi meninggalkan galeri sebelum sempat aku bertanya. Which means, i lose his story.

“Setiap orang bisa berbagi cerita, entah dari pengalaman diri sendiri atau cerita objek lain yang menginspirasi kamu untuk bercerita”.


Sulit sekali memang mengakui bahwa apa yang dikatakannya benar dan bisa dilakukan, bahwa mungkin memang anak itu tidak bisa menceritakan apa dan kenapa ia berada di sana mengagum dari kejauhan, tapi aku bisa.

***

24 Februari 2016

Sinar dari lampu sorot di tengah teater menjurus ke segala arah, memastikan edaran warnanya silih berganti menerangi tiap sudut podium. Senada dengan mereka yang berlenggok di atas panggung seperti tanpa canggung memberikan aksi pada tiap pasang mata yang menontonnya. Begitu juga dengan musik orkestra sederhana yang menambah energi dari pertunjukkan. Dawainya sempurna mengiringi langkah kaki anak-anak itu di panggung. 

Panggung itu menyala.

Tapi tak pernah seterang saat dia ada di sana. 

Pertunjukkan telah usai saat ini ketika kusadar hampir sebagian dari penonton riuh bertepuk tangan memuji keelokan dari tiap gerakan dan cerita pertunjukkan teater hari ini. Semua bergegas beranjak dari kursi penonton, berhambur keluar teater hingga menyisakan aku dan seorang di kursi penonton paling depan. 

“Mas Biru, bukan? Lama sekali baru datang kemari lagi”. Sena, pelatih tari kebanggan teater Nusa selama bertahun lamanya. Ia dedikasikan hampir setengah dari usianya untuk melatih tari di teater. 

“Panjang ceritanya Mas Sen. Selamat ya teaternya bagus sekali hari ini”. Aku duduk di sampingnya, melihat beberapa kru mulai membersihkan panggung dari segala jenis properti di atasnya. Beberapa penari menghampiri Sena, memeluknya dan menyalaminya. 

“Cari Ruby mas?”. Iya, pertanyaannya lebih terdengar seperti tebakan di telingaku. 

Tebakan yang tepat sasaran 100%.

“Ruby sudah tidak mendongeng di sini, Mas. Terakhir, dia bilang mau lanjut kuliah master biar makin pinter, bisa bikin dongeng sendiri. Hebat sekali dia itu”. Mas Sena masih melanjutkan bercerita tentang Ruby yang hebat, Ruby yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, belajar sastra tinggi-tinggi untuk kembali ke dunia teater. Dan semakin banyak cerita tentang Ruby yang kudengar, semakin aku ingin menemuinya saat ini. Karena Rubylah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku setahun belakangan. Ia merusak segala bentuk dogma yang sudah mendarah daging bertahun-tahun di otak, merobek dinding batas ego seorang Biru, hanya dengan tiga buah kertas lemah, usang, dan tanpa makna yang ada di tanganku saat ini. 

Betapa lancangnya kamu, Ruby. 

***

            I already flew a thousand miles away and the last postcard is still blank. Banyak sekali orang baru yang kukenal atau hal-hal baru yang kuketahui sepanjang perjalanan. Jutaan cerita bisa kutulis, namun tak ada satupun yang begitu menjejak, atau mungkin aku yang belum bisa menuliskan satupun dari sekian banyak cerita yang aku lalui. Aku menghabiskan masa berlibur dari satu kota ke kota lainnya, dari Asia hingga Eropa dan nihil. Postcard ketiga masih saja kosong dan tak bisa kuisi.

            Seperti candu, postcard pertama yang kuisi membuatku ingin menulis sesuatu di postcard lainnya. Lewatnya, aku mengenal banyak sekali sisi lain dari dunia yang biasa kulihat sebelumnya, memaksaku berpikir behind the scene of every event in life. Bagaimana mengambil intisari dari setiap objek dan menuangkannya dalam bentuk cerita versiku. Tidak hanya itu, dengan aku harus menulis sesuatu di atasnya, setiap objek dan kejadian sangat berarti untukku. Dan postcard-postcard ini dengan lancang memintaku untuk bisa lebih peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar. Aku melihat seni dari sisi yang berbeda dari sebelumnya,

            And those kind of behavior are not so me before. It turns out to be something miraculous, a better Biru. 

            Aku kembali ke Jogja untuk menemui Ruby. Mengiyakan semua perkataannya yang dulu ingin sekali aku bantah karena egoku yang selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Sesuai dengan permintaannya, aku ingin mengembalikan semua postcard yang diberikan dan menceritakan cerita yang kupunya di tiap postcard. Aku sudah terlambat satu tahun dari permintaannya, karena ternyata butuh dua tahun untuk mengisi dua postcard, dan dia seharusnya bangga karena aku tidak hanya datang membawa postcardnya, tapi juga lewat postcard-postcard ini ia mampu mengubah pola pikir seorang Biru. 

            “Mas Sena tahu kapan Ruby pulang?”. Aku menghampiri Sena yang sedang duduk di pendopo kayu besar dekat dengan kolam ikan mas koki milik teater Nusa. Ia menoleh kepadaku, 

            “Ndak tahu mas Biru. Mungkin dua tahun lagi, setelah Ruby lulus”.

            Bukan itu jawaban yang aku ingin dengar. Aku ingin sekali menemuinya sekali lagi dan berterima kasih atas semua bantuan yang diberikan Ruby untuk diriku lewat postcard ini. Sena hanya meninggalkan email Ruby padaku, katanya sebelum Ruby pergi ia meninggalkan alamat email kepada Sena agar anak-anak teater masih bisa berkomunikasi dengannya lewat email. 

***

To        : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!
Aku kembali ke Jogja untuk mengembalikan postcardmu dan ingin menceritakan semuanya. Sayang sekali Mas Sena bilang kamu sudah tidak lagi mendongeng di teater Nusa ya Ruby? Boleh aku tahu di mana kamu sekarang? 
These three postcards are want to talk to their owner, Ruby.
Let’s meet up. 
Biru. 
***

23 Maret 2018

            Entah sudah berapa milyar cerita yang Ruby punya saat ini. Mungkin ia sudah bisa berdongeng di kota tempat ia melanjutkan studi atau mungkin Ruby sudah kembali ke Jogja dan kembali mendongeng di teater Nusa. Tidak pernah ada lagi balasan dari Ruby semenjak email pertama yang aku kirimkan untuknya. 

            Dan Biru kembali dengan hari-hari tanpa lintasan waktu di offshore rig, menekan perut bumi di dasar laut, bertempur dengan jutaan liter minyak. 

            Tapi, kali ini sibukku bukan hanya untuk kepentingan bisnis dan segala macam bentuk mesin yang ada di offshore rig ini. Sibukku lebih berarti dengan berbagai macam cerita yang kudengar dari para engineer yang bekerja, dari deru ombak yang menghempas, dan dari banyak macam objek yang kutemui setiap harinya.

            Aku baru saja kembali ke dermaga untuk bertemu dengan beberapa shareholder pengeboran ini, dan hal yang paling kusuka dari dermaga adalah adanya jaringan internet yang bisa diakses. Kemudian satu pop-up email muncul.

From    : Ruby.tabina@gmail.com
Subject: Three postcards are want to meet you!

Hi Biru, lama sekali tidak bertemu! Email ini lama tidak kugunakan dan baru kali ini kubuka :(
Can’t wait to hear your stories, buddy. I’m in Toronto, waiting for my (finally) master graduation. Pertengahan tahun ini aku akan pulang ke Jogja. Let’s meet up soonest.

Ruby.

       Akhirnya postcard-postcard ini akan segera bertemu dengan pemilik sesungguhnya, dengan milyaran cerita lain yang bisa dituliskan kembali di lain waktu. Postcard terakhir sudah berhasil kuisi tepat setelah aku membalas email Ruby. Kali ini aku tahu, dari postcard terakhir yang tersisa aku belajar bahwa ternyata aku masih sering melupakan diriku sendiri. Mencari hingga ribuan miles sesuatu yang memuaskan hatiku, tanpa pernah sadar dan peka bahwa sesungguhnya apa yang aku cari ada di dalam diriku sendiri. Bahwa ternyata cerita untuk postcard terakhir adalah cerita tentang apa yang kusadari selama ini lewat postcard-postcard Ruby. 

            Cerita tentang gemuruh perang yang terjadi antara logika dan ego,
            Tentang betapa sulitnya mengalah dan mendengarkan orang lain. 
            Tentang perubahan besar yang ternyata bisa dilakukan hanya dengan memulai hal kecil.
            Tentang Biru. 



2 komentar:

  1. Ceritanya bagus...
    Entah kenapa rasanya seperti hambar saat dinikmati. :P

    Jangan pernah berhenti untuk menulis cerita selanjutnya yaa!

    Terimakasih malam sibuk saya kali ini terhibur lagi. Untuk kali ke 2 saya mampir blog ini, dan dugaan saya terhadap penulis tetap sama.

    " dugaan saya penulis adalah pribadi yg memiliki daya nalar sangat tinggi hingga terkadang orang lain sukar untuk mengerti apa maksudnya. Kecuali si penulis itu sendiri. " kesan pembaca terhadap penulis sekaligus pemilik City of words.

    BalasHapus
  2. Halo, terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya untuk yang kedua kalinya ya :)
    Sure, saya akan terus nulis dan semoga kedepannya tulisannya terus berkembang jadi tulisan yang lebih baik dan lebih ringan sehingga banyak orang yang paham dengan maksud dan pesan yang mau saya sampaikan :)

    BalasHapus

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...