Selasa, 01 November 2016

Rhyme of Soul

-Nusa-
The Loudest Sound

Tak pernah ada lagi kegiatan paling menyenangkan selain memandang wajahnya tenang, ditemani rintik hujan yang kian detik semakin menggaduh. Aku tahu kamu bernyanyi dalam hatimu, mendentangkan segala jenis melodi yang ada dalam tiap nada, menghiraukan segala jenis suara alam bahkan suara hatimu sendiri.

Aku ingin sekali menjadi senjamu, Delila. Memandangmu lebih dekat dan mendengarmu lebih dalam di antara riuh ombak. Saat kuluangkan sepersekian detik waktu paling berharga yang kumiliki untuk melihat kamu tersenyum menyapa senjamu lebih dekat. Menemani setiap jejak langkah kakimu yang tercetak jelas di atas pasir, menyusuri pantai bersama.

Atau mungkin kamu ingin kembali berlayar bersamaku?

---

Aku ingin sekali menjadi penamu, Delila.

One thing that you can’t live without, selain sang senja. Kamu berbicara banyak lewatnya, membiarkan kertas-kertas itu habis kamu jajah dengan tajamnya goresan pena. Kamu mendengarkan setiap bentuk suara lebih dalam dari tiap objek yang kamu lihat, mencoba berinteraksi dengannya, dan mempercayai bahwa semua hal pasti bercerita.

“Semua hal bercerita, punya mimpi. Dan caraku menggantungkan mimpi adalah dengan menulis”. Begitu katamu bercerita.

Kamu masih seperti Delila yang kukenal. Gadis dermaga pecinta pena dan senja, menulis surat untuk sahabat pena di kala senja, menitipkannya pada nelayan di pinggir pantai, dan menunggu balasan dari siapapun yang menerima suratmu di seberang lautan sana. Aku juga bisa melihat pena-pena yang dulu selalu kamu pakai masih tertengger rapi di sudut mejamu. Entahlah, apakah saat ini kamu masih sering mengirimkan berbagai macam surat kecil untuk sahabat penamu di seberang sana?

Apa kamu pun masih menyimpan semua surat balasan dariku, Delila?

---

Percayalah, aku tak pernah bosan menemanimu kemanapun kamu pergi, mendengar betapa hebatnya kekuatan suara hatimu diantara ribuan suara yang pernah aku dengar.

Ajari aku cara berkawan dengan rindu dan senyap, Delila.

Bagaimana berperang melawan amarah pada takdir seperti dirimu saat ini? Mendengar tanpa perlu mengusik dengan suara parau atau bernyanyi tanpa pernah takut suaramu terdengar sumbang. Kamu melihat lebih dalam dari mereka, mendengar lebih jelas dibanding mereka, bahkan bernyanyi lebih indah dalam hatimu dibandingkan mereka dibalik kebisuan. 

Aku ingin sekali bercerita banyak denganmu, Delila. Membalas banyak surat darimu dengan berbagai macam postcard dari tempat berbeda. Beradu dengan rentang waktu menunggu postcard ku terisi dengan balasan darimu, dengan cerita-cerita dari berbagai macam hal yang kamu lalui hari itu di dermaga.

Ah, senja bisakah datang lebih cepat? Aku tak sabar ingin membaca surat yang dikirimkan darinya hari ini.

---

-365 hari-

Bisakah sebentar saja kamu tinggalkan gurat muram itu di dalam kamar, Delila?

Sebentar saja, melengkungkan senyum itu pada dunia. Padaku juga. Berbicaralah sebanyak yang kamu mau dalam hati, setidaknya aku pasti akan berusaha mendengarnya. Kumohon jangan mendendam pada hujan senja ini, tak pernah ada yang salah dengan alam, Delila.

Aku tahu kamu berteriak sekeras yang kamu bisa saat ini, aku tahu kamu menggerutu pada langit yang menurunkan hujan sore ini, aku pun tahu kamu merindu sang laut hari ini dalam bisu. 

Sudahlah Delila, aku tak ingin melihat bening-bening itu menyeruak keluar dari matamu. Kumohon Delila, berhentilah berteriak.

Aku ada di sini Delila..

---

-Delila-
The Unreplied Letters

Aku berteriak sekencang yang aku bisa meskipun takkan pernah ada orang lain yang bisa mendengar, menggerutu pada langit yang tega mengirimkan hujan pada senja hari ini.  Ingin rasanya menantang takdir yang terjadi kalau saja aku bisa, menerjang hujan dan pasangnya air laut. Aku ingin sekali mengirimkan surat ini untukmu.

Suratku yang ke-365.

Bagaimana kabarmu di dasar sana, Nusa?

Kamu tahu? senja menjadi hal paling kusuka, saat aku bisa lebih dekat dengan lautan. Dekat dengan di dasar manapun kamu berada saat ini. Kunikmati tiap jengkal rotasi bumi dengan menyapa senja setiap hari, mencoba terus mengirimkan 365 surat tak berbalas untukmu. Bercerita banyak tentang apa yang kurasakan di sini tanpa kamu lagi.

Bisakah kamu mengirimkan satu saja balasan untukku, Nusa?

Apa yang kamu rasa sekarang? Berselimut dinginnya samudera, sendiri berkawan dengan pekatnya ruang di dasar sana. Apa kamu masih kuat berjuang?

Semoga surat-surat ini bisa menemanimu selagi doa kami yang terus mengalir bersama dengan lautan.

Bersabarlah, aku percaya regu penyelamat masih terus akan berusaha menemukanmu.


Cyn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...