Seharusnya aku tidak di
sini.
Ratusan kali kalimat penyesalan itu berputar seolah menertawakan
keberadaanku di sini. Sudah satu jam aku duduk di tengah-tengah mereka yang
masih asik melempar joke demi joke dari yang mampu mengocok perut
hingga sakit, sampai ke joke yang
terdengar begitu fail dan saking failnya berhasil mengocok perut juga.
Sebagian besar makanan kami sudah habis, meskipun ada satu dua orang yang masih
sibuk menghabiskan makanannya karena jeda joke
tadi.
“Kenapa diam saja, Kal?”. Sial, ternyata masih ada saja yang menyadari keberadaanku padahal sedari tadi aku sudah
sebisa mungkin bersembunyi dari ramai.
Bercandalah sekeras yang
kalian bisa, teruslah sibuk dengan obrolan-obrolan kacang pengocok perut itu, biar
aku tenggelam sendiri di sini.
Terdengar nyinyir ya? Aku
memang sedang tidak mood
untuk berada di lingkungan ini. Bukan dengan mereka, tapi dengan seseorang
yang berjanji akan datang menyusul ke sini menemui kami.
“Everything will be fine,
Kal” bisik Arin. Perempuan yang mengaku sebagai
sahabat dekatku, tinggal di apartemen dan di kamar yang sama denganku, jelas tahu alasan dari
diamnya seorang Kala hari ini.
“I should go now, Rin. Mumpung orangnya belum datang” Aku baru saja membereskan isi tasku
dan bergegas berdiri untuk pamit tepat lima detik sebelum mereka mulai ribut lagi menyambut seseorang yang
baru datang dengan langkah tergesa.
“Pinus long time no see!”
***
“Mau kopi panas?” Seseorang menghampiriku sambil menyodorkan segelas penuh kopi panas dengan uap yang masih
mengudara. Tubuhnya tinggi, tegap, dengan wangi segar perfume dari tubuhnya. Aku segera menyeka air
mata dan mempersilahkannya duduk.
“Terima kasih”.
Ia hanya mengangguk dan mengeluarkan sapu tangan warna biru dongker. “Pakai ini, biar engga jadi jelek mukanya
karena air mata”. Ujarnya. Kedengarannya gombal, tapi percayalah ia
mengatakannya dengan tatapan serius seolah aku benar-benar jadi wanita paling
jelek yang pernah ditemuinya malam itu. Sejurus kemudian ia duduk di kursi kosong di hadapanku dan kini aku bisa lihat dengan jelas siapa stranger
yang menyebutku jelek malam ini.
Kacamata kotak berbingkai
kayu berwarna coklat tua, jam tangan silver di sebelah kanan lengannya, juga
kemeja yang digulung rapi hingga ke siku. Mungkin
salah satu pegawai kantoran di kota yang mampir menyeruput kopi di Dago.
“Agas”. Tatapannya masih sama seperti saat ia menawarkan kopi panas lima
menit tadi. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti tak perlu tahu namaku siapa.
Kemudian langsung sibuk dengan layar laptop di hadapannya, jari jemarinya
lincah menari di atas keyboard.
Dahinya berkerut, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.
Aku selalu suka suasana yang ada di kedai kopi ini. Senyuman pegawainya
setiap kali ada pengunjung yang datang, aroma kopi yang semerbak tidak pernah
hilang dari detik pertama aku datang sampai aku beranjak pulang. Atau suara
mesin giling kopi tua yang berada di pojok kitchen.
Perpaduan semuanya seolah menghasilkan harmoni, selaras dengan perdebatan yang
terjadi antara hangatnya kopi dan rintik hujan di luar kedai.
“Lembur?”. Hanya itu kalimat yang aku tanyakan padanya. Suaraku yang parau melebur
bersamaan dengan uap-uap panas kopi yang ada di genggaman.
“Engga, lagi cari tiket
kereta api nih”. Jawabnya. “Aku mesti pulang ke Jakarta subuh ini, ada meeting jam 8 pagi”. Jawabnya.
Ternyata Jakartans.
“Kamu masih betah di sini?” Ia kembali bertanya, kali ini diiringi
dengan suara laptop yang berhasil di shut
down.
“Ini mau pulang. Sekalian kuantar ke stasiun saja, rumahku searah ke sana kok”. Yang diajak bicara hanya mengangguk, kemudian menyeruput sisa kopi
di cangkirnya.
Sudah hampir jam empat subuh namun pria ini masih terlihat
produktif. Tidak ada cekungan atau hitam di tepi matanya. Ia memutuskan untuk
duduk di kursi kemudi sambil sesekali mengajakku bicara.
“Aku belum tahu namamu
siapa” . Akhirnya ia bertanya setelah pertemuan
kami masuk ke jam ke dua sejak pertama kali bertemu.
“Kala”.
Kami tidak banyak berbicara, bahkan setelah aku menyebutkan namaku. Ia
bergegas keluar mobil, mengucapkan terima kasih, dan melambaikan tangan salam
perpisahan denganku. Satu kalimat yang kuingat dari pertemuan terakhir tadi hanya,
“Semoga bisa bertemu lagi
kala di lain waktu, tapi janji tanpa harus aku
pinjamkan sapu tangan ya”.
***
Kala Pinus selamanya.
Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.
Begitu kesan orang-orang di sekitar yang mengenalku dan Pinus.
Pinus, laki-laki yang selalu mengusikku 24 jam penuh selama tujuh tahun lamanya
hanya untuk mendengar semua ceritanya yang tidak pernah habis. Tujuh tahun
menjadi orang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan, orang pertama yang
mengetahui semua rahasia besar Pinus. Terdengarnya manis memang, tapi
percayalah bahwa kenyataannya mungkin Kala lebih terlihat sebagai asisten Pinus
dibandingkan sahabat dekatnya.
Itu dulu. Dahulu kala jauh sebelum semuanya berubah total.
“Kal, masih Pinus?!” Nada Arin tinggi menuntut jawaban Kala saat ia mendapati perempuan
bodoh itu masih saja menatap kosong layar ponsel yang berisi chat terakhirnya dengan Pinus.
“Aku engga ngerti lagi deh
Tuhan harus nampar kamu dengan kenyataan apa lagi biar kamu paham?! Udahlah
Kal.. get dressed! Have fun, kalo gini terus pasti singlenya makin lama”.
Kala Pinus selamanya.
Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.
Persetan dengan premis ini. Karena nyatanya saat ini tak ada Kala, Pinus
tidak apa-apa. Tidak ada Kala, Pinus bahagia, tanpa Kala mungkin Pinus bisa
bernafas lebih lega, tanpa Kala mungkin Pinus bisa lebih mandiri, tanpa Kala
pasti Pinus masih bisa menemukan teman terbaiknya di luar sana.
Karena eksistensi Kala selama ini terlihat semu dan palsu baginya.
Karena sebenarnya Kala dan seluruh
cintanya adalah beban perasaan seribu ton bagi Pinus.
***
Kala rutin datang ke kedai kopi ini, berharap seluruh cintanya
melebur bersama dengan uap-uap panas kopi yang menjadi satu dengan dinginnya
ruangan, bergempur dengan hangatnya senyum orang-orang sekitar. Di sini ia
menyatu dengan imajinasi, dituangkan dalam setiap garis dalam kanvas
digitalnya, kadang ditemani Arin, kolega kantornya, dulu bersama Pinus namun sekarang lebih banyak ia
habiskan sendiri. Setelah semua berubah.
“Boleh duduk di sini?” Dia lagi. Laki-laki asing yang pertama kali dikenalnya lewat panas kopi
yang menguap tempo lalu. Pria asing yang melihatnya terisak sendu, menawarkan
saputangan, menemaninya tanpa beban..
bahkan tanpa pernah bertanya kenapa ia menangis saat itu.
“Keluarga kamu di Bandung?”
Aku membuka
pembicaraan.
“Engga Kal, aku suka ke
sini setiap weekend atau kalau lagi penat di kantor. Nyoba banyak macam kuliner
dan kedai kopi dari yang masih tradisional sampai modern. Stay di satu boutique
hotel ke boutique hotel lainnya”. Kali ini ia bicara tanpa terhalang oleh layar
laptopnya, hanya ada Agas, Kala, dan suara mesin giling kopi milik kedai.
“Aku
jatuh cinta dengan kota ini. Tiap sudutnya punya magis sendiri yang buat banyak
orang selalu mau kembali, termasuk aku. Alamnya, kulinernya, tempat wisata,
bangunan-bangunannya, orang-orangnya.. somehow i feel like this place is my
second home” lanjutnya.
“Kamu
selalu ke kedai ini setiap weekend?” ia kembali bertanya.
“Iya, aku
lebih suka membuat sketsa di luar rumah dan aroma kopi selalu berhasil
membangkitkan mood dan imajinasi. And well, this mini place has its own coffee’s
scent. It dominates me enough.. buat jadi pelanggan setia kedai ini”.
Ia menyeruput Americano di genggamannya. Sesekali
matanya melirik pada tablet milikku yang masih berisi garis-garis tak
beraturan. “Desain gaun ini belum
selesai, aku masih mencari inspirasi untuk menggambar”. Aku berusaha
menebak apa yang ia ingin tanyakan setelah mencuri pandang garis-garis antah
berantah tak beraturan ini. Tanganku refleks menutup tablet dan segera
memasukkannya ke dalam tas sebelum tangannya menyergah secara cepat.
“Tunggu!
Aku boleh lihat?” Tangannya
bergerak cepat menahan gerakanku. Aku berusaha menahannya namun tatapan itu seperti
memohon melihat lebih lanjut si garis-garis itu.
Dan kini
garis-garis tak beraturan itu dengan lancang memperlihatkan dirinya kepada
orang lain selain aku.
Ia seperti masuk ke dalam tiap dimensi garis yang
kubuat, menelusuri dan menatap tiap goresan lekat-lekat, sambil sesekali
jarinya menyapu layar ke arah kiri melihat garis-garis lain tanpa memberi aku
celah untuk menyelamatkan kembali garis-garis itu dari matanya.
Dan kini jemarinya berhenti pada garisan yang
kuberi nama Pinus_Tux_Future.
“Aku
engga ngerti kenapa kamu takut banget aku lihat karya-karya kamu. Kenapa?” Matanya masih terus melihat setiap jengkal garis
yang ada pada karya Tux untuk Pinus itu.
“Hmm, aku
memang jarang kasih lihat karya-karya ini ke orang lain sebelum semuanya
selesai dan sesuai dengan ekspektasi. Ini hanya hobi, Gas. Engga aku seriusin.” Semakin fokus matanya menelanjangi setiap garis
itu, semakin aku ingin segera merebut tablet di tangannya, menutup, dan
menyimpannya di dalam tasku rapat. Asal
kamu tahu, bahkan aku tidak pernah terpikir untuk menyebut garis-garis itu sebagai
sebuah karya, Gas.
“Karya
sebagus ini mau kamu sembunyiin sampe kapan Kal? Sakit kamu..” Ia akhirnya menyerahkan tablet itu kepadaku.
Layarnya masih freeze pada si Pinus_Tux_Future. “Siapapun orang yang kamu bayangkan saat gambar ini, he’s the precious one.
Aku berani bertaruh”.
Totally.
He’s irreplaceable Gas.
“Besok
aku mau coba kedai kopi baru di Tahura. Outdoor tempatnya, kamu bisa gambar di
sana sepuasnya sambil ngobrol banyak. Kalau tidak hujan..” Kalau aku tidak salah mengartikan, kalimatnya tadi
terdengar seperti ajakan. “Aku bisa
besok..”. Ajakan atau bukan, aku bertekad untuk datang ke tempat itu.
***
“Aku tahu
ini lancang, tapi i know this feeling must be finished as soon as possible,
Nus. Kita berteman cukup lama dan aku engga mungkin terus-terusan punya rasa
lebih ke kamu. I really want to see you happy, tanpa pernah lagi ada rasa lain
selain itu”.
Jutaan emosi, harapan, doa yang terpendam untuk
Pinus menyeruak jadi satu dan tumpah hari ini, detik ini. Kotak pandora itu
sudah terbuka dan Kala tahu takkan pernah ada jalan lagi untuk menutupnya. Ia
harus menuntaskannya hari ini.
“Kal..
you must be kidding. I’m totally jerk, and you’re the one who knows it
very well, Kal! Atau selama ini kamu juga seperti mereka yang pura-pura jadi
temen aku? Selama ini kita engga akan pernah jadi teman kalau kamu engga punya
rasa lebih sama aku?”. Pinus
meracau sejadinya dan kata-katanya tajam menusuk segala jenis perisai yang Kala
punya. Bukan hal tersebut yang Kala prediksi akan keluar dari pikiran Pinus
tentang dirinya. Bahkan tak pernah ada di benak Kala untuk berpura-pura dan
memanfaatkan pertemanan mereka hanya untuk kepentingan perasaan semata, Kala
mencintai Pinus sebagaimana adanya Pinus. Pinus dengan segala bentuk
keteledorannya, keegoisannya, kekanak-kanakannya, Pinus yang punya banyak
musuh, cuek, dan berbagai macam hal lain yang kalau terus disebutkan Kala
sendiri tidak tahu bagian mana yang bisa menjadi alasan kuat ia mencinta sang
Pinus.
Everyone
has their own pride rules, dan memilih
untuk jujur pada apa yang dirasakan dan mengungkapkannya kepada Pinus adalah
keputusan besar yang melanggar segala macam bentuk gengsi dan ragu yang Kala
punya.
If i win
today, i will win much. If i lose, i will lose everything.
“You’re
having me as your best buddy since first, Pinus. Aku engga mungkin punya
pikiran seburuk itu. This thing is naturally happen, i just can’t resist..” Bibirku berusaha menjelaskan namun mataku
sepertinya lebih bisa berkata sejujurnya lewat bening yang tak lagi mampu
kutahan. Pinus menatapku lemah, tangannya mengepal keras di setir, seolah masih
tak bisa percaya dengan apa yang kukatakan sejak awal.
“You
really make me feel like i’m totally jerk like hell, Kal..”. Kulihat ada lelah dan bening yang ikut mengalir di
pipinya. Mungkin ia gagal percaya dengan semua yang aku lakukan selama ini. Kala satu-satunya teman yang Pinus percaya
atas semua yang ia lakukan. Dan Kala lakukan itu hanya karena Kala mencinta
Pinus. Well, semua orang memang pasti akan lakukan apapun untuk terus berada di
dekat orang yang dicintanya bukan?
Termasuk
pura-pura tulus berteman.
Mungkin itu yang ada di otak Pinus sekarang.
And i’m
losing him right now.
***
Kedai kopi ini letaknya di outdoor berbatasan langsung dengan alam di Tahura. Indah memang,
setiap sudutnya bisa jadi spot yang bisa mempercantik feed Instagram. Yang unik di sini, aku suka cara barista meracik
kopi dan membiarkan aromanya berbaur dengan angin yang tak sengaja lewat. Meskipun rasanya tidak seenak kopi buatan
kedai kopi yang biasa kudatangi sebelumnya.
“Sejak
kapan suka desain, Kal?” Lama
Agas membiarkan aku menorehkan banyak garis di bidang kosong itu. Mungkin
sekitar 30 menit sebelum ia akhirnya membuka pembicaraan.
“Sejak
SD. Aku suka bagaimana ibu memadupadankan kebayanya, dress formalnya, menjadi
satu kesatuan yang indah. Sejak itu coba-coba desain dan sampe sekarang. Tapi
ya.. Cuma sebatas hobi aja engga pernah aku seriusin, Gas”.
“You
should try, Kal. Aku yakin kamu akan lebih puas begitu desain kamu bisa di
convert jadi nyata. Pilih bahan-bahan yang emang sesuai dan bikin desain kamu
terlihat indah.. Mau coba?”
Aku belum pernah coba untuk bisnis desain
sebelumnya, kepikiranpun tidak. Semua imajinasi ini hanya berakhir pada
garis-garis yang kadang terlihat beraturan kadang tidak. Keluargaku lebih
memilih menyekolahkan aku di jurusan yang memang lebih terdengar menjanjikan di
telinga mereka, hukum. Dan yang tahu garis-garis ini hanya Arin dan Pinus. Dan
tak ada satupun dari mereka yang pernah mengulik lebih dalam apa yang
kulakukan. Tidak ada kecuali stranger yang
lancang memaksa aku memperlihatkan semua garis itu.
Agas mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, “Aku punya kenalan tukang jahit apik di
Jakarta. Udah renta sih tapi hasilnya oke kok. Atau kamu mau coba cari di
Bandung aja?” Ia memperlihatkan foto nenek-nenek renta dan toko jahitnya.
Gambarnya hitam putih namun seperti hidup dan berbicara banyak.
“Aku mau
kenal beliau, Gas” Aku tersenyum
mengagumi fotonya.
“Gas,
kamu fotografer?”
Aku bertanya saat dia mulai menyapu layar
kameranya ke arah kiri. Semuanya hitam putih.
“Hanya
hobi Kal, sekaligus side job. Aku ini banker tapi suka sekali dengan fotografi.
Aku suka pergi ke banyak tempat untuk hunting gambar. Awalnya seperti kamu,
hanya jadikan ini hobi. Kemudian ada beberapa teman yang dukung dan minta aku
untuk bantu foto banyak acara”.
Dia banker dan profesi itu
sama sekali tidak pernah ada di tebakanku sebelumnya. Penampilan dan tingkahnya
seperti pegawai kantor casual seperti
reporter atau fotografer. Kulihat ia mulai berdiri dan memotret beberapa spot di kedai. Gerakannya
tegas, matanya seperti bisa menangkap setiap sudut yang sekiranya bisa terlihat
bagus di kamera. Beberapa kali aku juga pura-pura tidak sadar ketika ia
berusaha mengambil gambarku yang sedang mendesain.
His camera is like his
soul. it lives up the whole of him. “Kamu mau coba foto?” Kemudian ia sodorkan kamera itu kepadaku. Aku mulai mencoba
kameranya, jiwanya. Dan memang benar, semua orang pasti bisa memotret, tapi
hanya sebagian yang bisa menjadikan semua objek terlihat artistik.
“Kal, engga perlu ragu sama
apa yang kamu suka. Bahkan kamu bisa ajak orang lain untuk nikmatin juga.” Bisiknya tepat di telingaku saat tangannya sibuk mengajari cara
memotret dengan benar.
“Kamu tuh cuma perlu percaya dan sedikit dukungan dari orang lain..”
***
“Apa
kabar Kal?” Apa kabar jadi pertanyaan paling dasar yang menjembatani segala
bentuk kesenjangan status, waktu, dan perasaan yang membentang di antara kami. Pertanyaan
basa basi yang kini terdengar penting, akhirnya terdengar setelah sekian lama aku
tak pernah lagi mendengar suaranya.
Kala Pinus selamanya.
Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.
Pinus ada di sebelah Kala sekarang, berjarak hanya
tiga jengkal tangan. Tidak ada yang berani beradu mata, padahal dulu kalau ada
acara seperti ini pasti mereka akan berangkat bersama, telatpun bersama.
“Aku
baik. Kamu gimana?” Sudah bisa
ditebak pertanyaan selanjutnya pasti sekitar pekerjaan, kenapa telat, cuaca,
dan ditutup dengan geming.
“Berantakan
Kal. Engga ada yang marahin aku kalau malas-malasan kerja hehehe”.
Bukan jawaban itu yang ada di ekspektasi Kala
sebelumnya. Baik, sempurna, atau
jawaban lain yang menunjukkan dia memang baik-baik saja tanpa Kala. Kala hanya
membalasnya dengan senyum getir dan memutuskan lebih banyak berinteraksi dengan
Arin dan teman-teman yang lain. Sedangkan Pinus sibuk menghabiskan makanan dan
sibuk dengan ponselnya yang terus berdering setiap 15 menit sekali.
Aku harus bersyukur karena acara selesai cepat dan
bisa segera pulang. Kalau saja Pinus tahu bertahan dalam keadaan seperti ini
dengan jarak yang hanya tiga jengkal tangan dengannya jauh lebih sulit
dibandingkan pura-pura tulus berteman dengannya. Yang bahkan sama sekali tak pernah dilakukan Kala.
“Aku
antar pulang, Kal” Pinus menarik
tanganku cepat saat aku dan Arin melangkah menuju basement. Arin melihatku lama mengisyaratkan aku agar tetap pulang
bersamanya.
“I’ll go
with Pinus, Rin. Take care”.
Lima belas menit pertama hanya ada lagu di radio
yang jadi penyelamat di dalam mobil. Aku masih belum berani menatap Pinus yang
begitu fokus dengan setirnya. Dahinya berkerut lama, dan biasanya ia begitu
hanya pada saat sedang berada dalam keadaan bingung dan ingin mengambil
keputusan.
“This is
not us, Kal..” Ia membuka suara
di menit ke delapan belas. Pacu mobilnya perlahan berkurang kemudian berhenti
di depan kedai kopi yang dulu biasa kami kunjungi untuk mendengarkan cerita
Pinus yang tak pernah habis. Tentang mimpinya, tentang cintanya. Kemudian wajahnya
dipalingkan ke arah Kala, menunggu jawaban.
“I
thought there’s no us anymore between Kala and Pinus.. sejak terakhir kali kita
ketemu.” Aku sengaja tidak melihat ke arahnya. Menghindari
mata yang dulu bisa membuatku mengiyakan semua permintaannya 24 jam penuh.
“Engga
ada lagi teman sebaik kamu, Kal. Aku salah. Aku emosi dan engga bisa berpikir
jernih saat itu. Aku tahu engga ada yang bisa pura-pura sampai korbanin waktu,
ego, dan diri sendiri untuk bisa selalu ada buat orang lain”.
Kata pura-pura
yang pernah keluar dari bibir Pinus saat itu benar-benar menusuk hingga ke
dalam. Entah Pinus harus menggantinya dengan apa, hingga sampai saat ini Kala
masih berada dalam bayang si pura-pura yang tidak pernah lepas dari dirinya.
“Maaf Kal..”
Pinus merengkuh tubuhku dengan
sempurna, membiarkan aku luruh dalam dekapannya. Lama, kemudian perlahan ia
angkat wajahku pelan berusaha menyatukan bibirnya dengan milikku.
“Pinus,
mau kamu apa?” Aku menyentak dan
mendorong Pinus dengan sigap. Ini bukan
Pinus. Bukan Pinus.
Pinus
meraih kepalaku dan mengusapnya pelan. “Aku
mau kita”. Jawabnya tegas sambil menatapku lama.
“Kita
yang lebih dari sebelumnya, Kal..”
***
Sudah hampir satu tahun aku berteman dengan
garis-garis, kedai kopi, kamera, dan pria stranger
yang berani jujur bilang jelek padaku dari awal pertama kami bertemu. Kedai
kopi di Bandung sudah semakin banyak, bahkan mampu menggeser pasar kopi
tradisional lesehan yang biasa dijual di dekat Unpad. Garis-garisku kini sudah
ada beberapa yang jadi dalam bentuk nyata, termasuk file yang dulu kuberi nama Pinus_Tux_Future.
“Lihat, bagus
sekali Kal hasilnya!” Agas begitu
semangat memperlihatkan hasil jahitan toko jahit nenek renta yang tempo lalu ia
tunjukkan padaku. Kali ini cucu-cucu nenek tersebut berhasil menjahit dengan
rapi desain tux Kala. Detail dan potongannya sesuai dengan
ekspektasi Kala saat menggambar garis-garis tersebut.
“Tapi
kayaknya ada beberapa detail yang berbeda sama gambar awalnya ya Kal? Tapi yang
ini lebih bagus jadinya..”.
Iya memang berbeda. Aku sengaja merombak sedikit
desain tersebut dan menorehkan garis lain yang lebih sempurna dibandingkan
desain awalnya.
Aku juga
mengganti nama filenya, Gas.
“Kapan
kamu gambar ulang desainnya?” Tanyanya.
Kini ia mencoba tux tersebut dan
benar saja, ukuran dan desainnya cocok dengan Agas.
“Waktu
aku lagi senyum, Gas”.
Agas pernah bilang bahwa Bandung adalah kota
favoritnya. Dengan segala macam keelokan yang Bandung punya, Agas selalu percaya
pada tulisan Bumi Pasundan lahir pada
saat Tuhan sedang tersenyum. Bahkan segala keindahan itu tercipta pada
saaat Tuhan sedang tersenyum. Begitupun dengan desain itu. Aku membuatnya
memang pada saat sedang tersenyum.
Pada saat aku menyambut kedatangan Agas ke Bandung.
Pada saat Agas mulai bermain dengan kameranya.
Pada saat menunggu Agas selesai memotret
sudut-sudut kota Bandung.
Pada saat Agas menunggu aku selesai mendesain.
Pada saat Agas percaya bahwa aku akan melahirkan
karya yang bagus lagi hanya dengan melihat garis antah berantah yang belum jadi
apa-apa di tabletku.
Pada saat aku mengganti nama file desain tersebut menjadi Agas_Tux_Future.
Pada saat aku kembali berhubungan baik dengan
Pinus dan memutuskan untuk hanya menjadikannya sebagai teman karena aku lebih
memilih bersama dengan Agas.
Pada saat
aku menyadari bahwa semua hal yang membuatku tersenyum belakangan ini bersumber
dari dirinya.
Everyone
has one place to be his favourite escape, dan Agas menjadikan aku tempat tersebut.
“Lama-lama
aku bisa pindah ke Bandung nih Kal kalo gini caranya..” ia berkata dalam dekapnya di Dago atas saat itu,
berusaha melindungiku dari dingin.
“Kenapa
Gas?”
“Because
you are here”.
Dan akupun membalas dekapannya erat. “Then stay here Gas, sama aku..”
***
By Cynthia S Lestari
Image captured by Arie Fuzacky
Image captured by Arie Fuzacky

~~ Kala Ego Melahap Jiwa
BalasHapusTak sewajarnya kalian bersama
Tak seharusnya Kala menerima untuk bersama
Semuanya tak akan lagi sama
Ada hati lain yang terluka
KARENA JIWA KALIAN BERSAMA
KARENA EGO KALIAN akan BERPISAH
~~
Cerita bagus, singkat dan ringan untuk dibaca.
Terima kasih sudah menghibur
Thanks much udah baca cerita ini ya. i will be happier if you want to read another fiction stories of mine :)
BalasHapus