Senin, 04 Juli 2016

Kala Pinus Meranggas


Seharusnya aku tidak di sini.

Ratusan kali kalimat penyesalan itu berputar seolah menertawakan keberadaanku di sini. Sudah satu jam aku duduk di tengah-tengah mereka yang masih asik melempar joke demi joke dari yang mampu mengocok perut hingga sakit, sampai ke joke yang terdengar begitu fail dan saking failnya berhasil mengocok perut juga. Sebagian besar makanan kami sudah habis, meskipun ada satu dua orang yang masih sibuk menghabiskan makanannya karena jeda joke tadi.

“Kenapa diam saja, Kal?”. Sial, ternyata masih ada saja yang menyadari keberadaanku padahal sedari tadi aku sudah sebisa mungkin bersembunyi dari ramai.

Bercandalah sekeras yang kalian bisa, teruslah sibuk dengan obrolan-obrolan kacang pengocok perut itu, biar aku tenggelam sendiri di sini.

Terdengar nyinyir ya? Aku memang sedang tidak mood untuk berada di lingkungan ini. Bukan dengan mereka, tapi dengan seseorang yang berjanji akan datang menyusul ke sini menemui kami.

“Everything will be fine, Kal” bisik Arin. Perempuan yang mengaku sebagai sahabat dekatku, tinggal di apartemen dan di kamar yang sama denganku, jelas tahu alasan dari diamnya seorang Kala hari ini.

“I should go now, Rin. Mumpung orangnya belum datang” Aku baru saja membereskan isi tasku dan bergegas berdiri untuk pamit tepat lima detik sebelum mereka mulai ribut lagi menyambut seseorang yang baru datang dengan langkah tergesa.

“Pinus long time no see!”
***

“Mau kopi panas?” Seseorang menghampiriku sambil menyodorkan segelas penuh kopi panas dengan uap yang masih mengudara. Tubuhnya tinggi, tegap, dengan wangi segar perfume dari tubuhnya. Aku segera menyeka air mata dan mempersilahkannya duduk.

“Terima kasih”.

Ia hanya mengangguk dan mengeluarkan sapu tangan warna biru dongker. “Pakai ini, biar engga jadi jelek mukanya karena air mata”. Ujarnya. Kedengarannya gombal, tapi percayalah ia mengatakannya dengan tatapan serius seolah aku benar-benar jadi wanita paling jelek yang pernah ditemuinya malam itu. Sejurus kemudian ia duduk di kursi kosong di hadapanku dan kini aku bisa lihat dengan jelas siapa stranger yang menyebutku jelek malam ini.

Kacamata kotak berbingkai kayu berwarna coklat tua, jam tangan silver di sebelah kanan lengannya, juga kemeja yang digulung rapi hingga ke siku. Mungkin salah satu pegawai kantoran di kota yang mampir menyeruput kopi di Dago.

“Agas”. Tatapannya masih sama seperti saat ia menawarkan kopi panas lima menit tadi. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti tak perlu tahu namaku siapa. Kemudian langsung sibuk dengan layar laptop di hadapannya, jari jemarinya lincah menari di atas keyboard. Dahinya berkerut, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.

Aku selalu suka suasana yang ada di kedai kopi ini. Senyuman pegawainya setiap kali ada pengunjung yang datang, aroma kopi yang semerbak tidak pernah hilang dari detik pertama aku datang sampai aku beranjak pulang. Atau suara mesin giling kopi tua yang berada di pojok kitchen. Perpaduan semuanya seolah menghasilkan harmoni, selaras dengan perdebatan yang terjadi antara hangatnya kopi dan rintik hujan di luar kedai.

“Lembur?”. Hanya itu kalimat yang aku tanyakan padanya. Suaraku yang parau melebur bersamaan dengan uap-uap panas kopi yang ada di genggaman.

“Engga, lagi cari tiket kereta api nih”. Jawabnya. “Aku mesti pulang ke Jakarta subuh ini, ada meeting jam 8 pagi”. Jawabnya.

Ternyata Jakartans.

 “Kamu masih betah di sini?” Ia kembali bertanya, kali ini diiringi dengan suara laptop yang berhasil di shut down.

“Ini mau pulang. Sekalian kuantar ke stasiun saja, rumahku searah ke sana kok”. Yang diajak bicara hanya mengangguk, kemudian menyeruput sisa kopi di cangkirnya.

Sudah hampir jam empat subuh namun pria ini masih terlihat produktif. Tidak ada cekungan atau hitam di tepi matanya. Ia memutuskan untuk duduk di kursi kemudi sambil sesekali mengajakku bicara.

“Aku belum tahu namamu siapa” . Akhirnya ia bertanya setelah pertemuan kami masuk ke jam ke dua sejak pertama kali bertemu.

“Kala”.

Kami tidak banyak berbicara, bahkan setelah aku menyebutkan namaku. Ia bergegas keluar mobil, mengucapkan terima kasih, dan melambaikan tangan salam perpisahan denganku. Satu kalimat yang kuingat dari pertemuan terakhir tadi hanya,

“Semoga bisa bertemu lagi kala di lain waktu, tapi janji tanpa harus aku pinjamkan sapu tangan ya”.

***

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Begitu kesan orang-orang di sekitar yang mengenalku dan Pinus. Pinus, laki-laki yang selalu mengusikku 24 jam penuh selama tujuh tahun lamanya hanya untuk mendengar semua ceritanya yang tidak pernah habis. Tujuh tahun menjadi orang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan, orang pertama yang mengetahui semua rahasia besar Pinus. Terdengarnya manis memang, tapi percayalah bahwa kenyataannya mungkin Kala lebih terlihat sebagai asisten Pinus dibandingkan sahabat dekatnya.

Itu dulu. Dahulu kala jauh sebelum semuanya berubah total.

“Kal, masih Pinus?!” Nada Arin tinggi menuntut jawaban Kala saat ia mendapati perempuan bodoh itu masih saja menatap kosong layar ponsel yang berisi chat terakhirnya dengan Pinus.

“Aku engga ngerti lagi deh Tuhan harus nampar kamu dengan kenyataan apa lagi biar kamu paham?! Udahlah Kal.. get dressed! Have fun, kalo gini terus pasti singlenya makin lama”.

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Persetan dengan premis ini. Karena nyatanya saat ini tak ada Kala, Pinus tidak apa-apa. Tidak ada Kala, Pinus bahagia, tanpa Kala mungkin Pinus bisa bernafas lebih lega, tanpa Kala mungkin Pinus bisa lebih mandiri, tanpa Kala pasti Pinus masih bisa menemukan teman terbaiknya di luar sana.

Karena eksistensi Kala selama ini terlihat semu dan palsu baginya.  

Karena  sebenarnya Kala dan seluruh cintanya adalah beban perasaan seribu ton bagi Pinus.


***

Kala rutin datang ke kedai kopi ini, berharap seluruh cintanya melebur bersama dengan uap-uap panas kopi yang menjadi satu dengan dinginnya ruangan, bergempur dengan hangatnya senyum orang-orang sekitar. Di sini ia menyatu dengan imajinasi, dituangkan dalam setiap garis dalam kanvas digitalnya, kadang ditemani Arin, kolega kantornya, dulu bersama Pinus namun sekarang lebih banyak ia habiskan sendiri. Setelah semua berubah.

“Boleh duduk di sini?” Dia lagi. Laki-laki asing yang pertama kali dikenalnya lewat panas kopi yang menguap tempo lalu. Pria asing yang melihatnya terisak sendu, menawarkan saputangan, menemaninya tanpa beban.. bahkan tanpa pernah bertanya kenapa ia menangis saat itu.

“Keluarga kamu di Bandung?”  Aku membuka pembicaraan.

“Engga Kal, aku suka ke sini setiap weekend atau kalau lagi penat di kantor. Nyoba banyak macam kuliner dan kedai kopi dari yang masih tradisional sampai modern. Stay di satu boutique hotel ke boutique hotel lainnya”. Kali ini ia bicara tanpa terhalang oleh layar laptopnya, hanya ada Agas, Kala, dan suara mesin giling kopi milik kedai.

“Aku jatuh cinta dengan kota ini. Tiap sudutnya punya magis sendiri yang buat banyak orang selalu mau kembali, termasuk aku. Alamnya, kulinernya, tempat wisata, bangunan-bangunannya, orang-orangnya.. somehow i feel like this place is my second home” lanjutnya.

“Kamu selalu ke kedai ini setiap weekend?” ia kembali bertanya.

“Iya, aku lebih suka membuat sketsa di luar rumah dan aroma kopi selalu berhasil membangkitkan mood dan imajinasi. And well, this mini place has its own coffee’s scent. It dominates me enough.. buat jadi pelanggan setia kedai ini”.

Ia menyeruput Americano di genggamannya. Sesekali matanya melirik pada tablet milikku yang masih berisi garis-garis tak beraturan. “Desain gaun ini belum selesai, aku masih mencari inspirasi untuk menggambar”. Aku berusaha menebak apa yang ia ingin tanyakan setelah mencuri pandang garis-garis antah berantah tak beraturan ini. Tanganku refleks menutup tablet dan segera memasukkannya ke dalam tas sebelum tangannya menyergah secara cepat.

“Tunggu! Aku boleh lihat?” Tangannya bergerak cepat menahan gerakanku. Aku berusaha menahannya namun tatapan itu seperti memohon melihat lebih lanjut si garis-garis itu.

Dan kini garis-garis tak beraturan itu dengan lancang memperlihatkan dirinya kepada orang lain selain aku.

Ia seperti masuk ke dalam tiap dimensi garis yang kubuat, menelusuri dan menatap tiap goresan lekat-lekat, sambil sesekali jarinya menyapu layar ke arah kiri melihat garis-garis lain tanpa memberi aku celah untuk menyelamatkan kembali garis-garis itu dari matanya.

Dan kini jemarinya berhenti pada garisan yang kuberi nama Pinus_Tux_Future.

“Aku engga ngerti kenapa kamu takut banget aku lihat karya-karya kamu. Kenapa?” Matanya masih terus melihat setiap jengkal garis yang ada pada karya Tux untuk Pinus itu.

“Hmm, aku memang jarang kasih lihat karya-karya ini ke orang lain sebelum semuanya selesai dan sesuai dengan ekspektasi. Ini hanya hobi, Gas. Engga aku seriusin.” Semakin fokus matanya menelanjangi setiap garis itu, semakin aku ingin segera merebut tablet di tangannya, menutup, dan menyimpannya di dalam tasku rapat. Asal kamu tahu, bahkan aku tidak pernah terpikir untuk menyebut garis-garis itu sebagai sebuah karya, Gas.

“Karya sebagus ini mau kamu sembunyiin sampe kapan Kal? Sakit kamu..” Ia akhirnya menyerahkan tablet itu kepadaku. Layarnya masih freeze pada si Pinus_Tux_Future. “Siapapun orang yang kamu bayangkan saat gambar ini, he’s the precious one. Aku berani bertaruh”.

Totally. He’s irreplaceable Gas.

“Besok aku mau coba kedai kopi baru di Tahura. Outdoor tempatnya, kamu bisa gambar di sana sepuasnya sambil ngobrol banyak. Kalau tidak hujan..” Kalau aku tidak salah mengartikan, kalimatnya tadi terdengar seperti ajakan. “Aku bisa besok..”. Ajakan atau bukan, aku bertekad untuk datang ke tempat itu.

***

“Aku tahu ini lancang, tapi i know this feeling must be finished as soon as possible, Nus. Kita berteman cukup lama dan aku engga mungkin terus-terusan punya rasa lebih ke kamu. I really want to see you happy, tanpa pernah lagi ada rasa lain selain itu”.

Jutaan emosi, harapan, doa yang terpendam untuk Pinus menyeruak jadi satu dan tumpah hari ini, detik ini. Kotak pandora itu sudah terbuka dan Kala tahu takkan pernah ada jalan lagi untuk menutupnya. Ia harus menuntaskannya hari ini.

“Kal.. you must be kidding. I’m totally jerk, and you’re the one who knows it very well, Kal! Atau selama ini kamu juga seperti mereka yang pura-pura jadi temen aku? Selama ini kita engga akan pernah jadi teman kalau kamu engga punya rasa lebih sama aku?”. Pinus meracau sejadinya dan kata-katanya tajam menusuk segala jenis perisai yang Kala punya. Bukan hal tersebut yang Kala prediksi akan keluar dari pikiran Pinus tentang dirinya. Bahkan tak pernah ada di benak Kala untuk berpura-pura dan memanfaatkan pertemanan mereka hanya untuk kepentingan perasaan semata, Kala mencintai Pinus sebagaimana adanya Pinus. Pinus dengan segala bentuk keteledorannya, keegoisannya, kekanak-kanakannya, Pinus yang punya banyak musuh, cuek, dan berbagai macam hal lain yang kalau terus disebutkan Kala sendiri tidak tahu bagian mana yang bisa menjadi alasan kuat ia mencinta sang Pinus.

Everyone has their own pride rules, dan memilih untuk jujur pada apa yang dirasakan dan mengungkapkannya kepada Pinus adalah keputusan besar yang melanggar segala macam bentuk gengsi dan ragu yang Kala punya.

If i win today, i will win much. If i lose, i will lose everything.

“You’re having me as your best buddy since first, Pinus. Aku engga mungkin punya pikiran seburuk itu. This thing is naturally happen, i just can’t resist..” Bibirku berusaha menjelaskan namun mataku sepertinya lebih bisa berkata sejujurnya lewat bening yang tak lagi mampu kutahan. Pinus menatapku lemah, tangannya mengepal keras di setir, seolah masih tak bisa percaya dengan apa yang kukatakan sejak awal.

“You really make me feel like i’m totally jerk like hell, Kal..”. Kulihat ada lelah dan bening yang ikut mengalir di pipinya. Mungkin ia gagal percaya dengan semua yang aku lakukan selama ini. Kala satu-satunya teman yang Pinus percaya atas semua yang ia lakukan. Dan Kala lakukan itu hanya karena Kala mencinta Pinus. Well, semua orang memang pasti akan lakukan apapun untuk terus berada di dekat orang yang dicintanya bukan?

Termasuk pura-pura tulus berteman.

Mungkin itu yang ada di otak Pinus sekarang.

And i’m losing him right now.

***

Kedai kopi ini letaknya di outdoor berbatasan langsung dengan alam di Tahura. Indah memang, setiap sudutnya bisa jadi spot yang bisa mempercantik feed Instagram. Yang unik di sini, aku suka cara barista meracik kopi dan membiarkan aromanya berbaur dengan angin yang tak sengaja lewat. Meskipun rasanya tidak seenak kopi buatan kedai kopi yang biasa kudatangi sebelumnya.

“Sejak kapan suka desain, Kal?” Lama Agas membiarkan aku menorehkan banyak garis di bidang kosong itu. Mungkin sekitar 30 menit sebelum ia akhirnya membuka pembicaraan.

“Sejak SD. Aku suka bagaimana ibu memadupadankan kebayanya, dress formalnya, menjadi satu kesatuan yang indah. Sejak itu coba-coba desain dan sampe sekarang. Tapi ya.. Cuma sebatas hobi aja engga pernah aku seriusin, Gas”.

“You should try, Kal. Aku yakin kamu akan lebih puas begitu desain kamu bisa di convert jadi nyata. Pilih bahan-bahan yang emang sesuai dan bikin desain kamu terlihat indah.. Mau coba?”

Aku belum pernah coba untuk bisnis desain sebelumnya, kepikiranpun tidak. Semua imajinasi ini hanya berakhir pada garis-garis yang kadang terlihat beraturan kadang tidak. Keluargaku lebih memilih menyekolahkan aku di jurusan yang memang lebih terdengar menjanjikan di telinga mereka, hukum. Dan yang tahu garis-garis ini hanya Arin dan Pinus. Dan tak ada satupun dari mereka yang pernah mengulik lebih dalam apa yang kulakukan. Tidak ada kecuali stranger yang lancang memaksa aku memperlihatkan semua garis itu.

Agas mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, “Aku punya kenalan tukang jahit apik di Jakarta. Udah renta sih tapi hasilnya oke kok. Atau kamu mau coba cari di Bandung aja?” Ia memperlihatkan foto nenek-nenek renta dan toko jahitnya. Gambarnya hitam putih namun seperti hidup dan berbicara banyak.

“Aku mau kenal beliau, Gas” Aku tersenyum mengagumi fotonya.

“Gas, kamu fotografer?”

Aku bertanya saat dia mulai menyapu layar kameranya ke arah kiri. Semuanya hitam putih.

“Hanya hobi Kal, sekaligus side job. Aku ini banker tapi suka sekali dengan fotografi. Aku suka pergi ke banyak tempat untuk hunting gambar. Awalnya seperti kamu, hanya jadikan ini hobi. Kemudian ada beberapa teman yang dukung dan minta aku untuk bantu foto banyak acara”.

Dia banker dan profesi itu sama sekali tidak pernah ada di tebakanku sebelumnya. Penampilan dan tingkahnya seperti pegawai kantor casual seperti reporter atau fotografer. Kulihat ia mulai berdiri dan memotret beberapa spot di kedai. Gerakannya tegas, matanya seperti bisa menangkap setiap sudut yang sekiranya bisa terlihat bagus di kamera. Beberapa kali aku juga pura-pura tidak sadar ketika ia berusaha mengambil gambarku yang sedang mendesain.

His camera is like his soul. it lives up the whole of him. “Kamu mau coba foto?” Kemudian ia sodorkan kamera itu kepadaku. Aku mulai mencoba kameranya, jiwanya. Dan memang benar, semua orang pasti bisa memotret, tapi hanya sebagian yang bisa menjadikan semua objek terlihat artistik.

“Kal, engga perlu ragu sama apa yang kamu suka. Bahkan kamu bisa ajak orang lain untuk nikmatin juga.” Bisiknya tepat di telingaku saat tangannya sibuk mengajari cara memotret dengan benar.

“Kamu tuh cuma perlu percaya dan sedikit dukungan dari orang lain..”

***

“Apa kabar Kal?” Apa kabar jadi pertanyaan paling dasar yang menjembatani segala bentuk kesenjangan status, waktu, dan perasaan yang membentang di antara kami. Pertanyaan basa basi yang kini terdengar penting, akhirnya terdengar setelah sekian lama aku tak pernah lagi mendengar suaranya.

Kala Pinus selamanya. Takkan ada Kala kalau tak ada Pinus di sebelahnya.

Pinus ada di sebelah Kala sekarang, berjarak hanya tiga jengkal tangan. Tidak ada yang berani beradu mata, padahal dulu kalau ada acara seperti ini pasti mereka akan berangkat bersama, telatpun bersama.

“Aku baik. Kamu gimana?” Sudah bisa ditebak pertanyaan selanjutnya pasti sekitar pekerjaan, kenapa telat, cuaca, dan ditutup dengan geming.

“Berantakan Kal. Engga ada yang marahin aku kalau malas-malasan kerja hehehe”.

Bukan jawaban itu yang ada di ekspektasi Kala sebelumnya. Baik, sempurna, atau jawaban lain yang menunjukkan dia memang baik-baik saja tanpa Kala. Kala hanya membalasnya dengan senyum getir dan memutuskan lebih banyak berinteraksi dengan Arin dan teman-teman yang lain. Sedangkan Pinus sibuk menghabiskan makanan dan sibuk dengan ponselnya yang terus berdering setiap 15 menit sekali.

Aku harus bersyukur karena acara selesai cepat dan bisa segera pulang. Kalau saja Pinus tahu bertahan dalam keadaan seperti ini dengan jarak yang hanya tiga jengkal tangan dengannya jauh lebih sulit dibandingkan pura-pura tulus berteman dengannya. Yang bahkan sama sekali tak pernah dilakukan Kala.

“Aku antar pulang, Kal” Pinus menarik tanganku cepat saat aku dan Arin melangkah menuju basement. Arin melihatku lama mengisyaratkan aku agar tetap pulang bersamanya.

“I’ll go with Pinus, Rin. Take care”.

Lima belas menit pertama hanya ada lagu di radio yang jadi penyelamat di dalam mobil. Aku masih belum berani menatap Pinus yang begitu fokus dengan setirnya. Dahinya berkerut lama, dan biasanya ia begitu hanya pada saat sedang berada dalam keadaan bingung dan ingin mengambil keputusan.

“This is not us, Kal..” Ia membuka suara di menit ke delapan belas. Pacu mobilnya perlahan berkurang kemudian berhenti di depan kedai kopi yang dulu biasa kami kunjungi untuk mendengarkan cerita Pinus yang tak pernah habis. Tentang mimpinya, tentang cintanya. Kemudian wajahnya dipalingkan ke arah Kala, menunggu jawaban.

“I thought there’s no us anymore between Kala and Pinus.. sejak terakhir kali kita ketemu.”  Aku sengaja tidak melihat ke arahnya. Menghindari mata yang dulu bisa membuatku mengiyakan semua permintaannya 24 jam penuh.

“Engga ada lagi teman sebaik kamu, Kal. Aku salah. Aku emosi dan engga bisa berpikir jernih saat itu. Aku tahu engga ada yang bisa pura-pura sampai korbanin waktu, ego, dan diri sendiri untuk bisa selalu ada buat orang lain”.

Kata pura-pura yang pernah keluar dari bibir Pinus saat itu benar-benar menusuk hingga ke dalam. Entah Pinus harus menggantinya dengan apa, hingga sampai saat ini Kala masih berada dalam bayang si pura-pura yang tidak pernah lepas dari dirinya.

“Maaf Kal..” Pinus merengkuh tubuhku dengan sempurna, membiarkan aku luruh dalam dekapannya. Lama, kemudian perlahan ia angkat wajahku pelan berusaha menyatukan bibirnya dengan milikku.

“Pinus, mau kamu apa?” Aku menyentak dan mendorong Pinus dengan sigap. Ini bukan Pinus. Bukan Pinus.

Pinus meraih kepalaku dan mengusapnya pelan. “Aku mau kita”. Jawabnya tegas sambil menatapku lama.

“Kita yang lebih dari sebelumnya, Kal..”

***

Sudah hampir satu tahun aku berteman dengan garis-garis, kedai kopi, kamera, dan pria stranger yang berani jujur bilang jelek padaku dari awal pertama kami bertemu. Kedai kopi di Bandung sudah semakin banyak, bahkan mampu menggeser pasar kopi tradisional lesehan yang biasa dijual di dekat Unpad. Garis-garisku kini sudah ada beberapa yang jadi dalam bentuk nyata, termasuk file yang dulu kuberi nama Pinus_Tux_Future.

“Lihat, bagus sekali Kal hasilnya!” Agas begitu semangat memperlihatkan hasil jahitan toko jahit nenek renta yang tempo lalu ia tunjukkan padaku. Kali ini cucu-cucu nenek tersebut berhasil menjahit dengan rapi desain tux Kala. Detail dan potongannya sesuai dengan ekspektasi Kala saat menggambar garis-garis tersebut.

“Tapi kayaknya ada beberapa detail yang berbeda sama gambar awalnya ya Kal? Tapi yang ini lebih bagus jadinya..”.

Iya memang berbeda. Aku sengaja merombak sedikit desain tersebut dan menorehkan garis lain yang lebih sempurna dibandingkan desain awalnya.

Aku juga mengganti nama filenya, Gas.

“Kapan kamu gambar ulang desainnya?” Tanyanya. Kini ia mencoba tux tersebut dan benar saja, ukuran dan desainnya cocok dengan Agas.

“Waktu aku lagi senyum, Gas”.

Agas pernah bilang bahwa Bandung adalah kota favoritnya. Dengan segala macam keelokan yang Bandung punya, Agas selalu percaya pada tulisan Bumi Pasundan lahir pada saat Tuhan sedang tersenyum. Bahkan segala keindahan itu tercipta pada saaat Tuhan sedang tersenyum. Begitupun dengan desain itu. Aku membuatnya memang pada saat sedang tersenyum.

Pada saat aku menyambut kedatangan Agas ke Bandung.
Pada saat Agas mulai bermain dengan kameranya.
Pada saat menunggu Agas selesai memotret sudut-sudut kota Bandung.
Pada saat Agas menunggu aku selesai mendesain.
Pada saat Agas percaya bahwa aku akan melahirkan karya yang bagus lagi hanya dengan melihat garis antah berantah yang belum jadi apa-apa di tabletku.
Pada saat aku mengganti nama file desain tersebut menjadi Agas_Tux_Future.
Pada saat aku kembali berhubungan baik dengan Pinus dan memutuskan untuk hanya menjadikannya sebagai teman karena aku lebih memilih bersama dengan Agas.
Pada saat aku menyadari bahwa semua hal yang membuatku tersenyum belakangan ini bersumber dari dirinya.

Everyone has one place to be his favourite escape, dan Agas menjadikan aku tempat tersebut.

“Lama-lama aku bisa pindah ke Bandung nih Kal kalo gini caranya..” ia berkata dalam dekapnya di Dago atas saat itu, berusaha melindungiku dari dingin.

“Kenapa Gas?”

“Because you are here”.

Dan akupun membalas dekapannya erat. “Then stay here Gas, sama aku..”

***

By Cynthia S Lestari
Image captured by Arie Fuzacky

2 komentar:

  1. ~~ Kala Ego Melahap Jiwa

    Tak sewajarnya kalian bersama
    Tak seharusnya Kala menerima untuk bersama
    Semuanya tak akan lagi sama
    Ada hati lain yang terluka

    KARENA JIWA KALIAN BERSAMA
    KARENA EGO KALIAN akan BERPISAH

    ~~
    Cerita bagus, singkat dan ringan untuk dibaca.
    Terima kasih sudah menghibur

    BalasHapus
  2. Thanks much udah baca cerita ini ya. i will be happier if you want to read another fiction stories of mine :)

    BalasHapus

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...