Come back home asap, K..
Penggalan kalimat terakhir yang dikirimkan Sara di app messenger-ku. I’m 7000 miles away and not coming home for 3 years. Awal tahun ini aku sengaja mengirimkan portfolioku ke sebuah gallery di Amsterdam dan sayangnya mereka menerima dan mengharuskan aku untuk segera bekerja di bulan berikutnya.
Kenapa harus Amsterdam, K? Di Jakarta juga aku yakin banyak yang masih membutuhkan fashion designer.
Sara menjadi orang pertama yang protes dan marah begitu tahu aku memutuskan untuk mengambil tawaran kerja ini. Aku sudah coba jelaskan bahwa memang aku ingin sekali bekerja di luar negeri setelah lulus kuliah. And it’s been 5 years after graduation. This is the right time, I guess..
9 tahun temenan dan masih mau bohong?
Aku paling tidak suka mendengar Sara yang mulai mendesakku menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya dengan tatapan mata yang mengintimidasi. Pertanyaan-pertanyaan yang menuntut untuk segera dijawab dengan sejujur-jujurnya. Dan aku benci untuk jujur kali ini.
Ia berhambur ke arahku dan memelukku erat. Aku masih bisa melihat kilat kekecewaan di matanya ketika mengantarku ke airport. Matanya mengekor hingga aku benar-benar menghilang dari ujung penglihatannya. Percayalah, meninggalkan sahabat dan keluarga di sini tentu bukan hal yang mudah untuk seseorang yang tidak terbiasa hidup sendiri, Terlebih aku masih berhutang jawaban atas pertanyaan Sara yang terus menerus terngiang di telingaku sejak terakhir kali kami bertemu di bandara,
What do you see, K? Will the future change after this?
***
Aku tidak pernah berani menjawab pertanyaan terakhir Sara di bandara sampai saat ini. Sebenarnya, tidak peduli apakah semua akan berubah sesuai dengan yang kuinginkan atau semua yang kujalani ini hanya menunda apa yang seharusnya terjadi, the most important thing is i’m trying..
I’m trying to escape the future.
Pulang K.. Sebentar lagi udah pasti menikah dengan Gio kan? No need to worry about.. lagipula aku engga pernah lagi dengar kabar dia setelah kamu pindah. He’s gone..
Begitu isi chat Sara malam ini. 23:49.
He’s gone. Mungkin sudah berbahagia dengan wanita pilihannya, punya anak – anak lucu, dan tentunya aku tak perlu lagi khawatir akan merusak kebahagiaannya karena memang ia sudah bersama dengan orang lain.
He’s gone. Mungkin sudah berbahagia dengan wanita pilihannya, punya anak – anak lucu, dan tentunya aku tak perlu lagi khawatir akan merusak kebahagiaannya karena memang ia sudah bersama dengan orang lain.
I wish..
K, boleh tanya? Sara bertanya sekali lagi di jendela chat kami. Aku belum mengiyakan, namun kulihat sudah ada tanda typing di sana sebelum aku membalasnya. Dan jujur saja tidak pernah aku merasa setakut ini untuk melihat isi chat Sara sebelumnya.
Have you ever saw Gio in your mind before K? Udah bener-bener yakin?
Damn.
K, boleh tanya? Sara bertanya sekali lagi di jendela chat kami. Aku belum mengiyakan, namun kulihat sudah ada tanda typing di sana sebelum aku membalasnya. Dan jujur saja tidak pernah aku merasa setakut ini untuk melihat isi chat Sara sebelumnya.
Have you ever saw Gio in your mind before K? Udah bener-bener yakin?
Damn.
***
Hazelnut Latte, keyboard laptop, dan aroma segar pine forest menjadi rutinitas dan prioritasku saat ini. Ia yang selalu menggulung lengan kemejanya sampai tiga lipatan, pria 24/7 yang tak pernah sekalipun aku pernah mendengarnya mengeluhkan jam kerjaku yang terkadang baru selesai ketika matahari mulai terbit kembali. Orang pertama yang selalu memuji semua desainku ketika sudah 16 kali ditolak oleh klien. He’s definitely my definition of support system.
Hari ini Gio datang khusus untuk menjemput di hari terakhirku bekerja di gallery. Dia, dengan sweater coklatnya dan bunga tulip di tangannya tersenyum dan memelukku begitu aku muncul di hadapannya. Aku sudah berjanji kepadanya akan resign di H-7 pernikahan kami. Dan sebagai gantinya ia akan membantuku membuka gallery fashion sendiri di Indonesia setelah kami menikah nanti.
So, are you ready to face the future with me, K?
Aku mengangguk dan memeluknya erat. Yes, definitely Gi. Kemudian pop-up notification dari Sara muncul mengecohkan semuanya.
Dia belum menikah, K..
Satu message namun berhasil membuatku pusing. Dia belum menikah, artinya dia belum berbahagia dengan orang lain. Apa yang ia tunggu sebenarnya? Kenapa tidak cepat saja menikah dengan orang lain and prove me that all I see about you in the future is totally wrong. Prove me that future could lie.
Kenapa K?
Gio lama menggengam tanganku erat sambil menatapku dalam-dalam, berusaha keras menyadarkan aku yang sudah beberapa menit bergeming sejak membaca satu message itu dan memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada.
Gio lama menggengam tanganku erat sambil menatapku dalam-dalam, berusaha keras menyadarkan aku yang sudah beberapa menit bergeming sejak membaca satu message itu dan memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada.
Aku engga apa-apa. Yuk pulang.
Untuk apa dipikirkan lagi, Gio with me and we’re getting married now. Benar kata Sara, no need to worry about. Apa yang kulihat saat itu adalah salah, 7 hari lagi aku akan menikah dengan orang lain and it’s a proof key that I’m not belong to him anymore.
***
Mencinta seseorang takkan pernah sedalam ini sampai kamu bisa berpikir bahagianya adalah bahagiamu dan laranya adalah sedihmu. You will do anything to make him happy, even when his happiness is your sadness. Dan itulah yang kulakukan bertahun belakangan ini. Bertahun lamanya aku mencintai pria dengan aroma kopi sebagai parfumnya, Niko. Kami pertama kali bertemu di pernikahan Sara dan pada saat itu ia datang sebagai salah satu dari choir gereja sekaligus sebagai groomsmen pengantin laki-laki. Ia memuji gaun dan jas pernikahan Sara yang memang khusus aku hadiahkan kepada sahabat terbaikku di hari pernikahannya.
Nik, ini Keara. The woman behind my gorgeous gown today..
Matanya menjamah seluruh diriku dalam-dalam. Aku tahu ada sesuatu dariku yang meletup pada saat kujabat tangannya. Aku melihat sesuatu samar di antara kedua bola matanya. Like a puzzle that sees its last piece.. I see myself in his eyes. Truly me, the future me indeed.
Kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Banyak hal yang kami lakukan dan tak ada yang sedalam apa yang kami rasakan. Kami mencinta dalam bungkam tanpa ada yang berani mengungkapkan. We are different like.. totally. Bagaimana bisa aku bersama dengan ia yang memuja Tuhan yang berbeda.
“Sekarang banyak kok mereka yang menikah berbeda agama, K..” Ujar Sara.
I see something else, Sar.. I can’t see him in sadness with me. I need to go, aku harus menikah dengan orang lain agar hal itu engga terjadi.
What do you see?
Sara menatapku lama malam itu, menunggu jawaban dari mata seorang teman yang terlalu naif untuk menghadapi nyata. Kalau saja Sara tahu rasanya melihat gambaran samar diri sendiri di masa depan yang tidak sesuai dengan tiap bait doa yang kulayangkan ke langit, dan seandainya aku tidak bisa melihat apapun di masa depan tentang diriku sendiri, everything will be fine.
I see myself, him, and nothing, Sar. It’s totally dark.
***
Keara! Kamu udah sadar?!
Suara Sara terdengar begitu nyaring tepat di telingaku sembari tangannya memeluk tubuhku secara sempurna di dekapannya begitu lama.
Sar, ga kelihatan.. boleh nyalain lampunya?
Ia melepaskan dekapannya perlahan dan tak lama kemudian kudengar ada isak tangis kini. Aku masih berusaha semaksimal mungkin membuka mata namun masih hanya gelap yang nampak.
Sar, I see nothing.. c..could you please?
Ia mempererat dekapannya dalam diam. Dan aku mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Menangis bersama Sara dalam gelap adalah hal paling menyakitkan yang pernah aku rasakan. Dimana nyalaku, Tuhan?
Malam itu setelah Gio menjemputku pulang, salju turun perlahan sembari Gio menjalankan mobilnya. Namun tampaknya ia tidak berhati-hati saat ada seekor anjing melintas dan langsung membanting setir ke kanan dengan keras. Hanya itu yang aku ingat. Cuma itu memori terakhir yang aku punya bersama Gio sebelum ia pergi meninggalkan aku sendiri di sini berteman dengan pekat.
K, ini dokter yang akan tangani terapi kamu..
Sara memperkenalkan seseorang yang langkah kakinya kian mendekat. Aku kenal aromanya, aku kenal merek parfum dengan aroma seperti ini. Aku mencengkeram lengan Sara kencang sampai kudengar ia sedikit meronta.
Udah baikan K?
Kemudian kudengar suara khas itu lagi untuk pertama kalinya sejak aku memilih untuk pergi 3 tahun lalu. Ada tangan yang menjamah kepalaku dan memberikan kecupan manis di kening. Tangannya membelai helai rambutku lembut seraya berbisik, “Jangan khawatir, kamu akan tetap jadi yang paling cantik dan terang di antara semua gelap itu K”. kemudian ia mendekapku erat seolah tak lagi ia izinkan aku untuk pergi jauh darinya. Dari seorang choir gereja yang sedang menempuh pendidikan kedokteran pada saat aku pertama kali mengenalnya. He’s here. Niko.
***
What do you see, K? will the future change after this?
Tidak ada yang berubah setelah aku mencoba lari dari masa depan yang kulihat. Tidak ada, kecuali hanya waktu yang tertunda seiring dengan garis takdir yang berusaha menghianati langit mencari jalan lain dari garis ketetapan. This is me, him, darkness, and happiness in one package.
Tidak ada yang berubah setelah aku mencoba lari dari masa depan yang kulihat. Tidak ada, kecuali hanya waktu yang tertunda seiring dengan garis takdir yang berusaha menghianati langit mencari jalan lain dari garis ketetapan. This is me, him, darkness, and happiness in one package.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar