If a point is the only answer for thousands of commas and hundreds of question marks, would you be my point?
,
Beberapa
orang merasa aman berada di dalam keadaan koma berlama-lama. Tidak sedikit juga
dari mereka yang ingin segera menemukan simbol titik di setiap fase hidupnya.
Tapi hidup bukan hanya sebatas menjalani setiap koma dan mencari dimana titik
berada, ada tanda-tanda lain yang juga punya karakteristik masing-masing,
seperti si tanya dan si seru. Semua tanda ini bermuara pada rasa aman
sebenarnya. Mencari posisi paling aman di semua kondisi dan situasi. Dan pria
yang sedang menyeruput matcha latte ini ibarat koma di
dalam setiap cerita saya.
Flo seperti koma yang tak pernah
berusaha mencari titik. Nope, saya
ingin meralatnya. Flo ibarat koma yang
tak pernah berusaha mencari titik-di cerita saya. Hanya di cerita saya,
sedangkan ia dengan bebas bisa menebar titik di cerita orang lain. Hari ini
tepat 9 tahun 10 hari saya mengenal seorang bernama Florian. Sang Eligible bachelor- di mata gadis-gadis lain,
namun tidak pernah saya melihat predikat itu melekat pada dirinya di mata saya.
Saya mengenal Flo begitu dalam hingga ke dasar. Flo selalu identik dengan warna
abu-abunya. Koleksi warna kemeja kerjanya, warna tas kerjanya, cat kamarnya,
warna bulu Bowl-kucingnya, warna mobilnya, dan masih banyak lagi. Pria pecinta caffeine kelas berat. Penganut “Great
ideas comes with some coffee”. Seorang
dengan idealism kelas tinggi yang sejalan dengan kerasnya batu di kepalanya.
Beribu kali menjalin hubungan dengan wanita namun tak pernah ada yang bisa
membuatnya bertahan. Dan itu artinya, beribu kali juga saya mendengar nama
wanita yang ia sebut dan ceritakan kepada saya.
Flo adalah definisi motivasi hidup bagi
saya. Definisi keras kepala dan idealis yang tak pernah sekalipun terlihat
cacat di mata saya. Definisi kebodohan dan kekonyolan bagaimana kata hati bisa
selalu menang ketika beribu kali harus bertarung dengan logika. Sanggahan keras
saya atas pernyataan “Hal yang paling
menyebalkan adalah ketika kita harus menunggu”, atau “Ketika kita tidak tahu apakah harus pergi atau bertahan”. Definisi
saya atas ketidakpekaan total seseorang terhadap perasaan orang lain di
dekatnya. Definisi penantian tak berujung yang sejalan dengan ego dan gengsi yang ada pada diri saya. Flo adalah doa dan harapan, tanda titik terakhir bagi setiap cerita saya di 9 tahun terakhir ini.
Entah dia akan mendefinisikan saya sebagai apa, saya tidak perduli lagi.
***
?
“Kenapa jadi sering melihat jam seperti
itu?”. Dia bertanya. Dia. Perempuan 24/7 hours yang tidak pernah berkata “tidak” untuk setiap permintaan
saya. Seperti detik ini, saya memintanya menemani saya lembur hingga pukul 3
pagi dan tak pernah sedikitpun saya mendengar keluhan dari bibir kecilnya.
Sesekali saya melihat ia menyeka matanya dan membelakangi saya. Menguap. Ia mengantuk dan masih dengan
bodohnya mau menemani saya disini yang masih sibuk dengan pekerjaan keparat
ini.
"Tidur duluan aja, Nya”.
Segeralah tidur agar saya bisa tenang dan
tidak melihat kamu tersiksa kantuk seperti ini.
“Belum ngantuk kok..” Kemudian dia
beranjak ke dapur dan menyiapkan 2 gelas susu hangat untuk saya dan dirinya.
Anya.
Sahabat 24/7 hours saya. Perempuan bodoh
yang berlindung pada topeng pertemanan, menyembunyikan setiap degup cintanya
dan menelan getir lirih setiap saya menceritakan kisah cinta saya dengan wanita
lain. Menjadi penjaga nilai-nilai dalam hidup saya dan satu-satunya orang yang
selalu percaya dengan semua kemampuan saya hingga saat ini. Anya mengenal saya
9 tahun dan saya baru menyadari bahwa ia seperti mengenal saya lebih lama dari
itu. Anya seperti titik terang dan saya melihatnya begitu samar selama ini di
ujung lorong. Semua terlihat begitu jelas ketika Kai, sahabatnya mendatangi
apartemen saya dan memaki saya keras, menghantam seluruh hati dan logika saya dalam sekejap begitu mendengarnya, dengan lancang ia membeberkan apa yang selama ini Anya
pendam bertahun-tahun kepada saya.
“Flo! Anya mau
dilamar orang lain dan tololnya dia masih nungguin lo, nyet! Lebih tolol lagi
kalau ternyata lo emang sebodoh itu untuk liat betapa Anya selama ini selalu
cinta tanpa pernah nuntut untuk dibalas..”
Anya
adalah definisi sebuah perhabatan bagi saya. Definisi mencinta tanpa menuntut
untuk dicinta. Definisi kebodohan seorang wanita yang masih saja menunggu pria
yang tak pernah sekalipun pernah bisa menganggap dirinya sebagai seorang wanita
yang bisa dicinta. Definisi dari keberanian yang tak pernah bisa saya jamah. Filosofi
linear atas malaikat tanpa sayap yang siap menampar saya ketika saya salah, dan
menjadi pembela paling kuat ketika ada orang lain yang berniat jahat terhadap
saya. Pendukung garda depan dengan teriakan paling kencang untuk setiap niat
dan usaha yang saya lakukan untuk terus memperbaiki diri. Definisi dari segala
keinginan dan harapan yang saya cari. Anya adalah doa yang saya layangkan ke
langit dan saya terlalu naïf untuk begitu lama tak menyadari bahwa Tuhan sudah
menjawab doa saya.
Dan saat ini,
dengan segala kesempurnaan seorang Anya yang baru saya sadari selama ini, saya
melihat Anya sebagai definisi atas semua keraguan saya untuk bisa membuatnya
bahagia. Apa saya sudah cukup pantas untuk bisa berjalan beriringan dengan kamu,
Nya?
***
.
Semua
orang pasti akan menemukan titik di dalam setiap ceritanya. Entah bagaimana
caranya, apakah ia harus melewati beribu koma atau menjalani beragam tanya dan
seru, semua bermuara pada satu titik. Karena setiap orang akhirnya harus
mengambil keputusan untuk setiap pilihan yang ada.
Apakah
sudah tiba saatnya saya yang memberikan definisi? Bagi saya, Anya dan Flo
adalah definisi dari beribu koma dan tanya yang menahun. Definisi dari takdir
Tuhan yang tak pernah bisa terbantahkan sekeras apapun mereka ingin mengelak.
Bukti nyata bahwa tak pernah ada yang sia-sia dari segala bentuk kesabaran dan
ketekunan. Dan, definisi mutlak dari titik baru dalam hidup saya tepat setelah
saya menerima dengan ikhlas seorang Florian menjadi pendamping Anya, sekaligus
menjadi ayah baru bagi diri saya.
Cynthia S Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar