Senin, 12 Agustus 2013

PROLOG

PROLOG

Nico
            BRAK!
            Aku membanting pintu kamar keras-keras, menjambak rambutku berkali-kali dan terduduk lemas di sudut kamar. Aku bosan dengan ocehan mama yang selalu menyuruhku segera menikah. “Usiamu sudah 35 tahun Nico, mau sampai kapan? Kasihan mama nak” Mama selalu menggunakan dirinya sebagai senjata untuk mengunduh belas kasihan dariku. Siapa laki-laki yang di usia (kelewat) ideal yang tidak menginginkan sebuah pernikahan? Tapi bagaimana caranya aku menikah dengan orang lain sementara hatiku belum bisa menerima dan enggan berhenti mencintai orang itu? Dan hari ini ada lagi alasan yang membuatku berkali-kali menjambaki rambutku, merutuki diriku dan menyebabkan kaca dikamarku pecah. Dia.

            Aku bertemu lagi dengannya. Dengannya yang bertanggung jawab atas porak porandanya diriku saat ini. Entah perasaan apa yang kupunya saat ini, tapi aku masih ingin menggenggam erat tangannya, membelai rambutnya, aku ingin berada disampingnya saat ini. Tapi separuh dari diriku memutuskan untuk membencinya, membencinya karena ia masih sama seperti dahulu. Hey, kenapa kamu tidak mengubah penampilanmu saja agar memoriku tidak terbawa kepada masa lalu? Aku lebih setuju jika kau sekaligus mengubah namamu sehingga tidak akan ada lagi nama sepertimu yang kukenal di dunia ini. Lihat dirimu, bahkan rambut sebahumu masih terawat dengan indah mengikuti setiap langkahmu pergi, lalu parfum yang kau pakai masih sama seperti pertama kali kita bertemu, dan lihat! liontin itu masih bertengger indah menghiasi kulit lehermu yang mengkilau.

            Apa kamu rasakan degub jantungku serasa berhenti ketika kau panggil namaku siang tadi? Jelas, sangat jelas aku mengenali suaramu namun aku enggan untuk menoleh hingga kamu mengejarku sampai ujung jalan dan membuatmu terengah-engah. Aku benci pada diriku karena tidak mampu melihatmu kelelahan seperti itu hanya untuk mengejar pengecut sepertiku. Aku kalah, (mengalah lebih tepatnya). Dan siang tadi adalah pertama kalinya kita bertemu lagi setelah 7 tahun lalu aku berjanji untuk menemuimu yang terakhir kalinya di hari terpenting dalam hidupmu. Tanpa aku. 


P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...