PROLOG
Nico
BRAK!
Aku
membanting pintu kamar keras-keras, menjambak rambutku berkali-kali dan terduduk
lemas di sudut kamar. Aku bosan dengan ocehan mama yang selalu menyuruhku segera
menikah. “Usiamu sudah 35 tahun Nico, mau sampai kapan? Kasihan mama nak” Mama selalu
menggunakan dirinya sebagai senjata untuk mengunduh belas kasihan dariku. Siapa
laki-laki yang di usia (kelewat) ideal yang tidak menginginkan sebuah pernikahan?
Tapi bagaimana caranya aku menikah dengan orang lain sementara hatiku belum bisa
menerima dan enggan berhenti mencintai orang itu? Dan hari ini ada lagi alasan yang
membuatku berkali-kali menjambaki rambutku, merutuki diriku dan menyebabkan kaca
dikamarku pecah. Dia.
Aku
bertemu lagi dengannya. Dengannya yang bertanggung jawab atas porak porandanya
diriku saat ini. Entah perasaan apa yang kupunya saat ini, tapi aku masih ingin
menggenggam erat tangannya, membelai rambutnya, aku ingin berada disampingnya
saat ini. Tapi separuh dari diriku memutuskan untuk membencinya, membencinya
karena ia masih sama seperti dahulu. Hey, kenapa kamu tidak mengubah
penampilanmu saja agar memoriku tidak terbawa kepada masa lalu? Aku lebih
setuju jika kau sekaligus mengubah namamu sehingga tidak akan ada lagi nama
sepertimu yang kukenal di dunia ini. Lihat dirimu, bahkan rambut sebahumu masih
terawat dengan indah mengikuti setiap langkahmu pergi, lalu parfum yang kau
pakai masih sama seperti pertama kali kita bertemu, dan lihat! liontin itu
masih bertengger indah menghiasi kulit lehermu yang mengkilau.
Apa
kamu rasakan degub jantungku serasa berhenti ketika kau panggil namaku siang
tadi? Jelas, sangat jelas aku mengenali suaramu namun aku enggan untuk menoleh
hingga kamu mengejarku sampai ujung jalan dan membuatmu terengah-engah. Aku
benci pada diriku karena tidak mampu melihatmu kelelahan seperti itu hanya
untuk mengejar pengecut sepertiku. Aku kalah, (mengalah lebih tepatnya). Dan
siang tadi adalah pertama kalinya kita bertemu lagi setelah 7 tahun lalu aku
berjanji untuk menemuimu yang terakhir kalinya di hari terpenting dalam
hidupmu. Tanpa aku.
P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :)
P.s: Siapapun yang membaca ini, tolong bantu ingatkan orang yang menulis ini untuk menyelesaikan buku pertamanya tahun ini. Tahun ini. (amin). Hey, lemme use 'you' many times more to fight against my self-doubt... hem if you don't mind - Morra Quatro :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar