Sabtu, 25 Mei 2013

PART OF MINE


        Pagi dan malam adalah sahabatku. Sahabat dekatku ketika aku menunggu detik-detik bersua denganmu. detik-detik berharga ketika penantian telah berakhir. Tahukah kamu, ketika aku menatap langit, ada wajahmu terlukis disana? Tahukah kamu ketika aku memandang jarum jam yang berputar di tanganku, aku selalu berharap agar Tuhan mempercepat waktu? Tahukah kamu ketika aku menginjakkan kakiku ke tanah, aku selalu ingin ketika aku mendongak, kau berada tepat dihadapanku saat itu juga? Dan tahukah kamu, berapa banyak gelas Cappucinno yang kuhabiskan untuk menunggumu datang? Aku ingin berlari menyusulmu kesana, bersua denganmu, mencium aroma tubuhmu dari dekat dan memandang matamu sepuluh cm dihadapanku. Namun aku berusaha keras menahan semua itu, karena aku tahu, ketika aku memandang langit dan menginjakkan kaki di tanah, kamu juga sedang melakukan hal yang sama. Ya... kita sedang berada dalam roda waktu yang masih terus berputar hingga takdir memutuskan untuk mempertemukan kita dalam detik yang sama....

@
        Bandung, Januari 2004
Aku tidak ingat sejak kapan kota ini begitu bising. Begitu silau karena banyaknya lampu kendaraan berplat B memadati kota ini. Kadang aku merasa Bandung yang sekarang tidak lagi sedingin dahulu, hingga aku memutuskan untuk membeli AC pertengahan bulan ini dan membuat bunda semakin bawel menyuruhku untuk selalu mematikan AC karena biaya listrik rumah kami naik. Cita-citaku tinggi, aku ingin meneruskan kuliah di Belanda. Aku menyukai setiap postcard yang dikirimkan oleh tanteku yang tinggal disana. Ada gambar kincir angin atau bunga tulip yang berwarna-warni dan semakin menggodaku untuk pergi kesana secepatnya. Sebenarnya aku masih duduk di bangku perkuliahan tahun ketiga. Masih ada satu tahun lagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya kesana.

        Ehem, Cowok tinggi ini Oi. Namanya Gregory, hanya saja aku sering memanggilnya dengan Oi. Terdengar simple.. dan classy. Dia adalah kekasihku. Kami kuliah di Universitas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Oi menyukai seni dan aku masih berkutat dengan ilmu-ilmu teknik ini. Sudah delapan tahun sejak pertama kali aku dan Oi berubah menjadi “kita”, dan perasaan itu tidak berubah. Bagi kami, setiap hari adalah hari pertama kami bertemu. Dan aku merasa hubunganku dengannya adalah hubungan cinta yang paling sempurna. Oi tampan, pintar, romantis, dan Oi mencintaiku dengan sangat. Dan tahun ini, ia akan segera melanjutkan studinya ke Belanda.

        Satu yang membuatku khawatir saat ini adalah, banyak sekali orang-orang yang gagal dalam menjalankan hubungan jarak jauh dengan pasangannya, jangankan untuk LDR, mereka yang tingga berdekatan saja bisa putus, lalu gimana yang tinggal berjauhan? dalam zona waktu yang jauh berbeda?

        “Kamu tenang aja, kalo sekarang kita bisa, besok juga pasti bisa Em. Apa sih yang bisa ngalahin cinta? Bahkan jarak sekalipun bukan halangan” Selalu begitu jawab Oi. Ya, sedikit banyak menghibur perasaan khawatirku. Oi selalu menenangkan aku, kalau aku tidak perlu khawatir akan dirinya yang jauh beberapa hari lagi, he’s a good man. Bahkan beberapa hari terakhir seBelum keberangkatannya ke negeri kincir angin itu, setiap hari Oi menemaniku kemanapun yang aku mau, he really knows how to treat me, and i love him so much.

---

        Keberangkatan Oi tinggal menunggu 10 menit lagi, dan ya seperti yang kau pikirkan, aku tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya agar segera mengirimkan email kepadaku sesampainya disana. Ia menepuk tanganku yang berada diatas jari-jarinya, “Tenang aja”. Ujarnya santai. Ya.. seharusnya aku mendukungnya, toh setelah ia pulang nanti, Oi akan melamarku.

        Aku merasa deru nafasku semakin kencang ketika petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Detik-detik terakhir aku berjarak hanya 10 cm dari tubuhnya. God, please save him...

        Dan kini lambaian tangan itu mengantarkan kami pada takdir kami yang baru. Aku harus selalu percaya, Tuhan selalu menjaga Oi dalam lindungannya, dalam cintanya padaku. I wish..

@
        Sudah dua tahun kami terperangkap dalam zona waktu yang berbeda. Dua tahun yang cukup sulit pada awalnya, namun semakin terasa begitu mudah ketika aku selalu menghibur diriku dengan mengingat kalau Oi akan segera pulang dan melamarku. Aku berusaha untuk selalu berpikir bahwa kami hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk kembali bersama. Setahun lalu aku meraih gelar sarjanaku dan memutuskan untuk melanjutkan kerja terlebih dahulu seBelum melanjutkan sekolahku. Aku akan menunggu Oi pulang dan kami akan sama-sama tinggal di Emanda sekaligus melanjutkan studiku disana. 

        Oi menepati janji-janjinya, ia selalu mengirimkan email padaku semenjak ia tinggal disana. Banyak sekali hal yang ia ceritakan, teman-temannya, keluarganya disana. Hem, maksudku saudara laki-lakinya, disana ia hanya tinggal berdua dengan Edward. Kakaknya sudah lebih dulu tinggal dan memilih untuk menetap untuk bekerja disana.  Ed sudah tidak asing lagi untukku, pertama kali yang kukenal adalah Ed hingga ia memperkenalkan Oi padaku. Dulu kami teman sepermainan di Bandung, Ed selalu berperan menjadi suami yang baik dan aku sebagai istrinya saat kami bermain rumah-rumahan dulu.

Dearest Em,
Em, kau tau? betapa aku harus bersyukur setiap hari karena memiliki keluarga dan kamu yang begitu mendukungku. Aku mulai terbiasa tinggal disini, budaya, warga-warga disini, teman-temanku, dan Ed sangat baik padaku. Aku jadi tidak sabar untuk segera membawamu kesini dan tinggal bersama denganku..
Selamat atas pekerjaanmu, Em, aku senang sekali kau sudah berkarir disana.Aku segera menyusulmu :D Hey, hari ini aku baru saja mengunjungi kincir angin pertama di Holland. Indah sekali persis seperti yang kau sering ceritakan lewat postcard yang dikirimkan tantemu. Em, aku sangat rindu padamu. Tunggu aku pulang,
I love you, and you know who i am.

        Oi, tahukah kamu ketika aku membuka email dan mendapati ada email baru darimu, kau sudah berhasil membuat hari-hariku begitu sempurna. Menghapus semua kelabu hari-hari yang kujalani tanpanya selama ini.

        Namun, akhir-akhir ini begitu menjengkelkan, sudah sebulan ini Oi sudah jarang mengirimiku pesan elektronik itu. Seperti hari ini, sudah lima kali aku mengiriminya pesan dan Belum dibalas hingga saat ini.

Hi Em,
Maaf aku baru membalas pesanmu, tugasku begitu banyak akhir-akhir ini. I miss you, hon. Bagaimana kabarmu?Bunda? Salam untuknya ya,
Em, kau tau, sudah berapa lama sejak aku disini dan selalu menandai kalenderku untuk menghitung berapa lama lagi aku bisa memelukmu dengan erat seperti dulu? Hari ini mengalami masalah dengan teman sekelasku, Kau tahu Delia? ya, aku hanya meminjam modul padanya, dan pacarnya begitu cemburu melihatku dengannya. Rahangku terasa begitu kaku saat ini, biru. Tak perlu khawatir, Ed bilang kalau semua lelaki pasti mengalami fase ini, Fase saat rahangnya kaku akibat berkelahi dengan temannya hahaha.
Bagaimana kerjaanmu? Jangan terlalu diforsir. Jaga kesehatan.
from: The one that will always love you so damn much,
Gregory.

Email dari Oi berhasil membuatku melupakan semua kekesalanku padanya sebulan ini. Ah, Aku sangat mencintainya. Kupejamkan mataku dalam-dalam, Semoga ketika aku membuka mataku,Tuhan melongkap tahun dengan cepat dan membawaku ke hadapan Oi.

---

        Aku menyimpan semua email darinya, bahkan aku memiliki folder tersendiri untuk emailnya. Penantian kami sebentar lagi akan berakhir, Oi akan segera pulang dan kami akan segera menikah. Aku tahu email-email ini menjadi saksi pernikahan kami, saksi kisah kami. Minggu depan Oi pulang, aku sudah tidak sabar untuk menyambutnya di bandara. Yayaya! aku bahkan sudah merencanakan cuti dari tempatku bekerja untuk menjemput Oi nanti.

        Galery wedding ini menjadi tempatku bekerja sejak empat tahun yang lalu. Benar juga kata orang, bekerja memang tidak harus sesuai dengan jurusan apa yang kita ambil semasa kuliah dulu, lihatlah aku. Aku bekerja di bagian marketing di galery ini. Galery ini cukup besar dan ternama di dunia. Dengan tangan-tangan magic dari designer terkenal, menjadi magnet pasangan-pasangan bonafit kelas atas untuk bersedia menyerahkan segala urusan busana pengantinnya pada galery ini. Hari ini salah satu officer kami tidak bekerja sehingga aku bekerja sembari melayani pelanggan yang datang. Sudah sore, gallery masih banyak dikunjungi banyak pasangan-pasangan bahagia. Aku selalu berharap cepat menjadi salah satu dari mereka, memilih busana pengantin bersama dengan Oi, dan mengenakannya pada acara besar kami. Setiap wanita menginginkan hal itu dan pasti mengalami fase tersebut.

        “Aku mau yang ini aja sayang, warnanya cocok banget sama tema pernikahan kita nanti” sayup-sayup kudengar salah satu pelanggan yang ada di gallery. Ya, perdebatan antara pasangan juga tidak dapat dihindari ketika mereka memilih gaun mana yang pantas untuk dikenakan dihari bersejarah mereka. Kulihat salah satu penjaga toko sedikit kewalahan mengatasi pelanggan yang satu itu, “Kurasa gallery ini harus mempekerjakan penjaga yang worth it untuk digaji” Aku lalu bergegas menemui mereka.

        “Ada yang bisa saya bantu? Maaf kalau pelayanan toko kami kurang berkenan untuk anda, nona”

        “Oh oke, aku sedikit bingung untuk memilih beberapa gaun, pesta kami diadakan di ruang terbuka dan tidak terlalu formal, aku ingin gaun yang indah, terlihat mewah, dan tidak membuatku kaku untuk berjalan nanti”

        “Baik, akan saya carikan nona” Aku sibuk mencari gaun yang sesuai dengan permintaan nona tadi. Aku bisa menebak pasti pasangannya adalah lelaki yang gagah dan tampan, cocok dengan nona tadi yang cantik. Aku mendapatkan gaun yang sesuai dengan permintaannya, dan membawanya ke nona tadi dengan cepat... kalau saja kakiku bisa lebih cepat dari yang kubayangkan saat ini, kalau saja tubuh ini tidak bergetar dengan hebat begitu melihat apa yang ada di hadapanku saat ini..

        “Oi......” Apakah ini sejenis surprise yang ia berikan padaku? Oh Tuhan ini sungguh tidak lucu, aku bahkan belum siap-siap untuk bertemu dengannya, bukankah masih beberapa hari lagi kedatangannya kesini?

        Yang dipanggil tadi hanya menoleh dan mengernyitkan dahinya begitu melihatku kaget. Aku ingin sekali berlari kearahnya dan memeluknya saat itu, namun ada apa dengannya? ekpresi wajahnya bahkan seperti tidak senang dan seolah berteriak padaku “Hei, ini bukan surprise!”

        “Bukankah kamu bilang kau akan kesini beberapa hari lagi? Jangan katakan kau memberiku surprise...” ujarku sambil memukul lembut tangannya. Oi masih diam, ia bahkan tidak memberiku senyum yang kurindukan sejak empat tahun lalu.

        “Em, kumohon jangan bertingkah seolah-olah kau tidak tahu. A.. aku minta maaf karena tidak berani mengatakannya langsung kepadamu saat itu, Aku kalut, maafkan aku” Aku melepaskan pegangan tanganku darinya dan mundur perlahan, ada apa? Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Apa yang perlu dimaafkan?

        “Sayang, gaun yang ini gimana?” Nona cantik tadi menemui Oi. Hey, siapa pasanganmu? Kenapa ia menemui Oi dan meminta pendapatnya?

        Oi terlihat semakin bingung, ia tidak menjawab pertanyaan nona tadi, dan tidak juga berani menatap mataku lekat-lekat.

        “Nona, ini gaunnya.. dan Oi, adakah sedikit penjelasan untukku atas semua ini?” Nona tadi mengambil gaunnya dan ikut bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada kami. Aku terus menatap matanya yang kebingungan, entah apa yang terjadi aku pun tidak tahu, yang aku tahu ini jelas bukan sebuah surprise yang baik untukku.

        Kurasakan pergelangan tanganku begitu sakit ketika Oi mencengkeramnya dengan keras, 

“Dengarkan aku, Em! Tolong berhenti memaksaku untuk berbicara seperti ini. Kau sudah tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Kau marah? Maafkan aku Em, aku tidak punya banyak nyali untuk mengatakannya langsung padamu, karena itu aku meminta Ed untuk bicara padamu. Aku meminta maaf Em.. Hubungan kita sudah berakhir sejak setahun yang lalu, dan sebentar lagi aku menikah dengan Hanna, kumohon.. aku tahu ini sulit bagimu, aku minta maaf. Kumohon mengerti keadaanku saat ini”

        Bening ini terus mengalir sejak Oi mencengkeram tanganku dengan keras. Aku merasa langitku runtuh pada saat itu, apa yang terjadi sebenarnya? Aku bahkan tidak pernah tahu kalau Oi memutuskan hubungan kami sejak setahun yang lalu, aku juga tidak tahu kalau ia akan segera menikah dengan wanita lain selain aku, selama ini hubungan kami baik-baik saja. Bangunkan aku sekarang Tuhan, mimpi ini begitu menyakitkan. Bening ini terus mengalir tanpa henti, melihatnya menunduk dengan perasaan bersalah semakin membuatku sakit. Aku ingin memeluknya tapi hatiku berkata dia bukanlah Oi-ku lagi..

        “Kamu bohong!! Aku bahkan tidak pernah menerima email darimu kalau kau memutuskan hubungan kita setahun yang lalu hingga saat ini, Aku tidak pernah tahu kau ingin segera menikah dengan wanita pilihanmu, Aku... aku salah apa?” Aku tak sanggup meneruskan semua pertanyaan yang berputar di kepalaku, begitu banyak. Dadaku sesak dengan semua lelucon ini, sungguh tidak lucu.

        “Emma, maafkan aku. Aku meminta Ed untuk mengatakannya padamu lewat emailku, aku sendiri sudah tidak lagi menggunakan emailku yang dulu. Aku menyerahkan semuanya pada Ed, maaf Em, aku tidak ada nyali untuk mengatakannya langsung padamu. Aku tidak ingin menyakitimu begitu dalam, oleh karena itu aku meminta Ed yang bicara. Maafkan aku”

        Aku tidak percaya orang ini tega menyakitiku, Orang yang selama ini menjadi tokoh utama dalam setiap mimpi-mimpiku menjadi wanita seutuhnya, menikah dengannya, hidup bersama dengannya. Lidahku kelu untuk berkata apa-apa lagi padanya, sudah terlambat. Oi sudah memilih hidupnya dengan wanita lain, bukan aku. Mungkin aku harus percaya dengan apa yang dikatakan bunda, memiliki hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah, aku bertahan cukup lama dengan hubungan LDR kami, dan aku dikhianati.
        “Brengsek”

        Aku rasa tamparan tadi belum cukup mewakilkan semua rasa sakitku. Aku berlari dan meninggalkan Oi, Ed harus mempertanggungjawabkan semuanya, Cuma Ed yang tahu maksud dari semua ini. Semua orang menatapku bingung karena aku tidak berhenti menangis sepanjang jalan, aku berusaha untuk menghentikannya namun aku tidak bisa. Lukanya terlalu dalam. Aku masih terus berlari dan bertanya-tanya, Lalu selama ini aku bertahan sekian lama untuk siapa?

        DUAK!

        Hening....
@

        “Emma... maafkan aku” Kudengar sayup-sayup suara dari orang yang duduk disampingku. Putih, ruangan itu putih dan aku kenal dengan aroma ruangan ini. Entahlah sepertinya aku mengalami kecelakaan sore tadi. Aku terlalu kalut dan membuatku gegabah, yang aku ingat hanya ada benda besar yang datang kepadaku dan mendorongku keras, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

        “Ed... siapa yang mengharapkan kedatangan pembohong sepertimu, brengsek?!” Aku meronta dan memberikan beberapa pukulan padanya. Ed berusaha menahan seranganku dan dengan cepat memeluk tubuhku erat.

        “Dengarkan aku Emma, aku tahu semua perbuatanku begitu menyakitkan. Maafkan aku, izinkan aku bicara dan menjelaskan semuanya, Em” Perlahan aku berhenti meronta dari pelukannya, “Sudah terlambat Ed, Oi sudah pergi. Ia bahkan sudah ingin menikah dengan wanita lain, bukan aku!!!” aku menangis sejadi-jadinya yang aku bisa.

        “Emma, setahun lalu Oi memintaku untuk bilang kepadamu kalau dia mencintai wanita lain di Holland. Kau tau? Oi tidak menyelesaikan studinya hingga sarjana, ia bergaul dengan orang-orang yang salah. Hingga ia bertemu dengan Hanna. Malam itu aku ada lembur dan pulang larut malam, aku mendapatinya dengan Hanna di apartemen dengan kondisi yang... kau tahulah. Banyak whisky disana. Sungguh, maafkan adikku Em”

        Gregory. F*ck.

        “Aku menghadiahinya dengan beberapa pukulan di rahang dan dadanya, hatiku sakit Em. Bagaimana bisa ia meninggalkanmu dengan cara seperti itu. Aku terus memukulinya, bahkan ia hampir mati karenaku. Aku begitu kalut saat itu, aku tidak ingin kau dicampakkan seperti ini Em. Ia meminta maaf dan bilang kalau ia sudah terlanjur mencintai Hanna, Hanna hamil dan meminta Oi untuk bertanggung jawab. Aku menghajarnya hingga pingsan saat itu. Besoknya ia memintaku untuk bicara padaku, ia merasa sangat bersalah atas semua tindakannya, ia tidak ingin menyakitimu Em, sehingga ia memintaku untuk bicara padamu lewat emailnya pada saat itu, karena emailku di hack. Kau ingat ketika berkali-kali kamu menghubungi Oi, namun ia tidak membalasnya? Itulah ketika neraka itu terjadi. Kami sama-sama bingung untuk bertindak. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak menceritakannya kepadamu, aku memutuskan untuk berperan seperti Oi kepadamu. Lebih baik kau tak tahu, itu pikirku..” 

        Luka di kepalaku karena kecelakaan kemarin terasa sangat ringan dibandingkan dengan luka di hatiku dengan semua penjelasan dari Ed. Air mataku tak kunjung berhenti mendengarkannya bercerita. You’re fucking bastard ever, Gregory...

        Aku tertidur di pelukan Ed saat itu, lama sekali. Ed membiarkan aku menangis dan tertidur dalam pelukannya. Hari-hariku kini berubah, sejak keluar dari rumah sakit, aku memulai hari-hariku kembali.., tanpa Oi dihatiku. Terakhir kudengar ia menikah dengan Hanna dan tinggal di Jakarta. Aku masih bekerja di gallery ini, melihat pasangan-pasangan itu bahagia dalam memilih gaun pengantin merupakan obat bagiku. Ya, melihat orang lain bahagia sudah cukup membuatku bahagia. Ed masih disini, ia memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya dan tinggal sebentar di Bandung bersama dengan orang tuanya. Ed masih sering mengunjungiku, menghiburku dan berusaha untuk membuatku lupa akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Hari ini kami ada janji makan siang bersama di cafe dekat taman kota. 

        “Ed, kapan kau kembali ke Holland? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Ia tertawa ringan, “Entah Em, aku masih ingin disini. Disana sepi”

        Kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing. Perlahan aku mulai melupakan semua kejadian pahit itu. Hidupku harus terus berlanjut meski tanpa Oi. Begitu kata Ed berkali-kali padaku.

        “Ed, boleh aku bertanya sesuatu?”

        “Ya?” Ada hening panjang saat ini. Pertanyaan ini sudah kusimpan lama sejak di rumah sakit, saat Ed menceritakan semuanya kepadaku.

        “Kenapa kau lakukan semua ini Edward? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau begitu marah pada Oi saat itu? Kenapa kau datang disaat aku kecelakaan saat itu? Kau sedang di Holland kan..”

        Ed mengambil nafas panjang, “Bisa kita bicara hal lain, Em?”

        Aku diam menunggu jawabannya saat ini. Ed harus menjelaskan semuanya kepadaku.

        “Baiklah.. kau memang pandai sekali memaksa, Emma. Sudah sejak lama aku mencintaimu, bahkan sebelum aku mengenalkanmu pada Oi. Aku merasa tidak pantas Em, Oi jauh lebih tampan, lebih berani, dan kurasa Oi adalah tipemu. Bukan aku. Aku merelakanmu padanya, meskipun aku tahu aku menyakiti diriku sendiri saat itu. Kukira cinta ini hanyalah sementara, ternyata aku sendiri tidak pernah menemukan cinta yang lain yang lebih dari yang aku rasakan kepadamu. Melihatmu bahagia saja sudah cukup membuatku senang. Aku memilih untuk tinggal di Holland agar bisa melupakanmu, namun aku malah terjebak dalam kejadian ini Emma. Aku memukul adikku sendiri membabi buta karena dadaku begitu sesak melihatnya dengan orang lain sedangkan kau menunggunya pulang, kau membawa semua harapan dan janji-janji bullshit yang kalian buat sebelumnya, aku sakit Em.. Aku tidak ingin membuatmu lebih terluka dengan mengatakannya padamu yang terjadi sebenarnya. Dan aku membuat tindakan terbodoh yang pernah kulakukan, aku berperan seperti Oi dengan membalas semua email-emailmu seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Jauh dari hati kecilku, aku ingin merasakan apa yang tidak dirasakan olehku ketika Oi berhubungan denganmu Em.. Harusnya aku yang sedari dulu mencintaimu, bukan adikku.. Aku mencari tahu keberadaanmu di Bandung, tempatmu bekerja, dan segala hal tentangmu. Aku juga ikut pulang ketika Oi pulang kesini. Aku mengejarmu ketika kau berlari sambil menangis saat itu, aku pula yang membawamu ke rumah sakit ketika kau mengalami kecelakaan sore itu. Maafkan tindakan bodohku, Em” jawabnya. Aku membekap mulutku tak percaya. Sejak kapan semua ini menjadi begitu complicated? Ed mencintaiku sejak lama dan berlindung dibalik tameng Oi. Pengecut.

        “Lalu, apa yang kau harapkan dariku Ed?” Aku menghapus bening yang turun dari kedua mataku, meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

        “Aku ingin kau bahagia Emma. Aku ingin memastikan kau bahagia ketika aku kembali ke Holland nanti. Aku tahu sulit bagimu untuk menerima semua kenyataan ini. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya padamu dan mengagumimu dibalik cinta kalian.”

        “R u sure?”

        Ia mengangguk dan tersenyum hangat.
        “Kamu orang ter-sok tahu dan pengecut yang pernah kutemukan, Ed”

        “Maafkan aku Emma...”

        “Kau tahu? memang sulit bagiku untuk menerima semua ini. Tapi kau membuatnya begitu mudah Ed. Tenang saja, aku akan bahagia Ed. Aku akan bahagia jika kau terus bersamaku seperti saat ini” jawabku padanya. Mengatakan ini sungguh tidaklah mudah. Perlahan tapi aku memang merasa nyaman dengan Edward. Hey Em, Edward jauh lebih baik dari Oi sejak dulu. Bodohnya aku tak pernah memandangnya dengan mata dan hatiku.

        Senyumnya mengembang, wajahnya semakin terlihat tegas dengan senyum itu.
        “Kau akan ikut aku ke Holland?” tanyanya. Tangannya menggenggam balik jemariku lembut.

       “Tidak, selesaikan urusanmu disana. Aku akan menyusul tahun depan. Aku harus mengurusi pekerjaan besar bulan depan dan aku tidak ingin ketinggalan, setelah semua beres aku akan terbang menyusulmu” Ia mengangguk senang, senyumnya tak pernah hilang dari wajahnya, dan aku suka.

        “Maukah kau menikah denganku?” Tanyanya. Tatapan matanya tajam menatapku, tangannya masih belum beranjak dari zona nyaman itu.

        “Belum, semua butuh proses Ed. Beri kita waktu setahun untuk saling meyakinkan, aku tidak ingin kejadian lalu terulang lagi, dan aku tidak ingin kau memilih wanita yang salah Ed. Kita akan saling memberi kabar selama setahun ini, dan bertemu tahun depan. Saat itu semuanya menjadi resmi. Apakah seorang Edward Thamrin yang telah menungguku begitu lama merasa keberatan dengan rentang setahun ini?” godaku. Sontak ia memelukku erat sekali, Paling erat dari yang pernah kurasakan, “Tentu saja aku tidak keberatan, i’ll wait for you” bisiknya.

        Hidupku terasa begitu ringan dan berwarna saat ini. Kami akan memulai takdir kami yang baru. Butuh waktu memang untuk memulainya dari awal bersama Ed. Tapi aku yakin Ed yang terbaik untukku saat ini, dulu, dan esok.

        Untuk kamu yang sedang ragu meyakinkan cintamu, kau takkan pernah begitu yakin kau mencintainya dengan amat sangat, sampai kau merasakan dadamu sesak karena kau merasakan duka yang ia rasakan, atau dadamu terasa begitu ringan ketika kau merasakan kebahagiannya...

Because love is someone who feels like a part of you,
and love never fails...

Created by:

Cynthia SL


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...