Minggu, 07 Mei 2017

The Art of Waiting


Apa kamu pernah berusaha mengintip takdir Tuhan sebelum benar-benar mengalaminya? Seperti ketika kamu bertemu dengan seseorang di suatu tempat, bertegur sapa sebentar, dan seketika itu pula ada intuisimu yang bekerja keras berteriak bahwa akan ada sesuatu yang terjadi di antara kalian setelahnya? Pernahkah? 

Karena aku saat ini mengalaminya dan sedang mendengar intuisiku yang terus berteriak sembari membiarkan takdir Tuhan berjalan dengan semestinya. 

12:45pm, tepat 15 menit sebelum waktu yang ditentukan. 
Sebelum sampai di sini, aku sudah berkata pada diriku sendiri berkali-kali bahwa pertemuan ini sederhana, tidak ada yang dikhususkan, tidak ada maksud apapun selain bertemu dan makan bersama sebagai seorang teman. Tidak ada yang salah kan? Setidaknya pembenaran itu yang berkali-kali terngiang di kepalaku. 

Ini adalah kali pertama kami bertemu untuk tujuan lain selain tugas dinas dan aku belum pernah mengenalnya lebih jauh selain nama dan pekerjaannya. Well, seharusnya aku tidak perlu berkali-kali menyemprotkan parfum ke tubuhku, menghitung detik jam yang berlalu, atau mencemaskan apakah penampilanku kali ini terlihat aneh saat ini. Iya kan? 

Saat ini detak arlojiku semakin terdengar cepat dan keras seperti ingin memastikan bahwa beberapa menit lagi dia datang, kemudian ia akan melihat perempuan yang duduk di kursi ujung peron stasiun sendirian dan menyapanya. Atau mungkin skenario lain adalah ia datang dan beberapa menit kemudian ia akan naik kereta paling cepat yang berhenti di hadapannya karena ternyata ia lupa pada wajah perempuan yang diajaknya makan bersama tiga jam lalu lewat telepon dadakan. Begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi saat ini, tapi seharusnya aku tak perlu repot memikirkan berbagai kemungkinan itu bukan? 

Just sit and wait him. Setidaknya ini yang dikatakan intuisiku. 

Rupanya takdir Tuhan kali ini belum puas menyiksaku dengan suara detak arloji yang semakin terdengar jelas, kini suara derap langkah orang yang berlalu lalang di stasiun ikut mengganggu. Membuatku lebih memperhatikan setiap wajah orang yang datang dari arah pintu masuk stasiun, memastikan apakah detik-detik kedatangannya akan tertangkap oleh kedua mataku? Siapa yang lebih dulu melihat? Aku atau dia? Setidaknya kalau aku yang melihatnya lebih dulu, aku bisa lebih siap saat ia datang tepat di hadapanku, karena aku bisa menghitung mundur derap langkahnya untuk sampai ke arahku. 

Tapi sekali lagi aku bertanya pada intuisiku, apakah persiapan seperti ini perlu dilakukan untuk sebuah pertemuan 'sederhana'? Apakah perlu?

Kualihkan perhatianku pada stasiun tempatku duduk saat ini. Memandangi tiap orang yang hilir mudik naik dan turun gerbong kereta. Tempat ini seperti gudangnya emosi, ada jutaan bahkan mungkin milyaran emosi yang bergerak seiring dengan laju kereta yang mengantar sang empunya raga dari satu peron stasiun ke stasiun lainnya. Apakah ada di antara emosi tersebut yang persis sepertiku saat ini? Apa ada di antara ribuan orang di sini yang sibuk memikirkan kalimat apa yang pantas diucapkan pertama kali ketika yang ditunggunya datang? Atau pertanyaan-pertanyaan apa yang kiranya akan seru dibahas bersama? 
Apakah ada?

12:59pm. 
Hanya butuh satu menit lagi untuk melihatnya datang dan aku ingin berdamai dengan intuisi dan kepalaku secepatnya sebelum satu menit itu habis. Aku ingin mengindahkan detak arloji, memasrahkan pandanganku untuk tidak lagi melihat ke arah pintu masuk stasiun atau menyiapkan berbagai macam kalimat yang sekiranya pantas diucapkan saat pertama kali menyapanya, berhenti menggerakkan kakiku yang naik turun tak jelas, dan menenangkan jutaan detak tak menentu yang sedari tadi menguasai ruang di hatiku diam-diam. 

13:10pm

I told you. 

Pertemuan ini sederhana. 

Sesederhana caranya tersenyum dan menyapaku pada detik kesepuluh setelah satu menitku habis. Ternyata hanya perlu cara sesederhana itu untuk menghentikan seluruh gemuruh yang terjadi padaku selama menunggu. Dan intuisiku benar, aku hanya perlu menunggu, tenang, dan membiarkan takdir dan intuisiku bekerja. 

Pertemuan - pertemuan kami selanjutnya selalu sederhana. 

Sesederhana cara kami mencintai. Tanpa basa basi, tanpa jeda dan skenario buatan, hanya mengandalkan intuisi dan takdir Tuhan. 

Cyn

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Halo, thank you udah baca ya.
      Pasti pernah ngalamin ya hal hal kecil yg ganggu seperti perempuan di cerita ini pas nunggu? :)

      Hapus
  2. untung gak hujan yah nunggunya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kondisinya panas terik, kali ini hujan engga mau menyampaikan apapun ke mereka.

      Hapus
    2. mungkin hujan meyampaikan sesuatu, namun dengan cara diam2..
      btw marhaban ya ramadhan ya, selamat menunaikan ibadah puasa.

      Hapus

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...