Garis Jingga
Ia melangkah dengan ragu, aku melihat nyalinya digantungkan hari ini untuk melangkah ke arahku. Ada sedikit takut di matanya, menerobos masuk di sela-sela udara dingin yang mengantar hujan datang sebentar lagi menutupi senja. Detik ini seharusnya sang jingga tiba, jinggaku yang tak pernah lagi berwarna emas semenjak terakhir kali kami bertemu.
Aku jelas mengenal siapa laki-laki lancang yang bisa saja tiba-tiba muncul kapanpun ia mau di depanku seperti saat ini. Akar Pinus. Laki-laki yang selama hampir dua tahun ini tak pernah lagi aku anggap ada. Bukan, ini bukan karena ia melakukan kesalahan terhadapku. Hanya aku saja yang memutuskan pergi saat kupikir tak akan mungkin ada ruang sisa untuk kami di sana.
Kami hanya berjarak 50cm saat kulihat Akar Pinusku mencoba menatap lekat mataku dalam. Ia tahu aku tak pernah bisa pergi dari matanya, ia menangkap seluruh emosi tanpa ekspresi yang mati matian aku sembunyikan dua tahun darinya. Tatapannya pasti, pasti habis menjera seluruh keinginanku untuk pergi lagi darinya.
"Would you come back and stay with me?". Laki-laki ini mengisi jeda senyap di antara kami dengan satu pertanyaan tanpa basa basi, langsung tepat sasaran menuju palung paling dalam dariku. Ia melangkah maju ke arahku seolah mencoba memecahkan bongkah es yang terlanjur membatu di antara kami. Matanya tak membiarkan aku lolos dan menemukan jalan keluar darinya.
Lepaskan aku, Akar.
***
Akar Pinus
Aku harus menemukannya. Perempuan ini dengan berani mendekat kepadaku, mengisi ruang kosong tersembunyi dariku dengan segala bentuk abstrak yang ia lakukan, kemudian dengan lancang ia pergi tanpa pesan begitu saja sesaat setelah merobek nuraniku karena perasaan cintanya yang tumbuh sejak dulu saat kami berkawan akrab.
Garis Jingga, ia menamparku keras dengan kenyataan bahwa selama ini aku tak pernah sekuat yang kubayangkan. Kepergiannya memaksaku mengakui bahwa jelas-jelas aku membutuhkannya.
Aku melihatnya lekat-lekat, berusaha mencari namaku yang mungkin masih tertinggal di sudut sudut terdalam darinya. Aku tahu pasti ada salah satu sudut hatinya yang masih menyimpan namaku di sana. Pelan-pelan ia membalas tatapanku lemah tanpa berkata apapun. Membiarkanku untuk semakin liar mendobrak tiap ruang yang ada padanya, mencari dengan brutal di mana kini aku disimpan di dalam hatinya.
"Pulanglah Akar..". Aku tak percaya ia memilih untuk menyelipkan kata-kata itu di antara jutaan emosi yang ada saat ini. Suaranya bergetar aku tahu itu, ia tak benar-benar menginginkannya.
Kau tak benar-benar menginginkan aku pergi, katakan sekali lagi Jingga..
Garis Jingga
Aku tak tahu berapa banyak berani yang ia gadaikan hari ini untuk pergi menemuiku, datang kepadaku membawa segala bentuk rasa yang seharusnya ada sejak dahulu, dan menagihku rasa yang sama untuknya sekarang.
"Pulanglah Akar.." Aku ingin mengakhiri detik-detik menyiksa ini secepat yang aku bisa. Menutup rapat setiap ruang yang berusaha ia jamah untuk mencari lagi di mana namanya kini berada.
Laki-laki sekuat akar pinus ini tetap bergeming lama. Tatapannya melemah seolah memintaku untuk mengatakan sekali lagi keinginanku untuk melihatnya pergi. Menyiksaku sekali lagi dengan permintaannya.
"Pulanglah Akar..". Aku tak percaya ia memilih untuk menyelipkan kata-kata itu di antara jutaan emosi yang ada saat ini. Suaranya bergetar aku tahu itu, ia tak benar-benar menginginkannya.
Kau tak benar-benar menginginkan aku pergi, katakan sekali lagi Jingga..
***
Garis Jingga
Aku tak tahu berapa banyak berani yang ia gadaikan hari ini untuk pergi menemuiku, datang kepadaku membawa segala bentuk rasa yang seharusnya ada sejak dahulu, dan menagihku rasa yang sama untuknya sekarang.
"Pulanglah Akar.." Aku ingin mengakhiri detik-detik menyiksa ini secepat yang aku bisa. Menutup rapat setiap ruang yang berusaha ia jamah untuk mencari lagi di mana namanya kini berada.
Laki-laki sekuat akar pinus ini tetap bergeming lama. Tatapannya melemah seolah memintaku untuk mengatakan sekali lagi keinginanku untuk melihatnya pergi. Menyiksaku sekali lagi dengan permintaannya.
Kamu tahu aku tak bisa, Akar.
Langkahnya mendekat berusaha menggapai tubuhku yang kian lama kian bergetar seiring ada isak yang menyeruak keluar dari sudut kedua mataku. Mengalir tenang tanpa permisi, menggugurkan seluruh kuat yang aku punya, mengisi penuh tabula rasa semu yang kuciptakan semenjak terakhir kali kami bertemu, semua melebur menjadi satu dengan jutaan emosi dan rasa yang terkubur lama selama ini.
Aku tak bisa lari, Akar. Ada rindu yang tak kuasa menahan dirinya untuk sembunyi terus menerus, ada ingin untuk memeluk dalam dekap erat-erat dan memintanya untuk tetap di sini.
***
Akar Pinus
Perempuan ini kokoh berdiri tak membiarkan aku lebih jauh masuk menyusuri dalam hatinya. Ia memintaku pergi sepuluh detik lalu, sebelum ada bening yang menyeruak memaksa keluar dari sudut matanya, membawa keluar seluruh rindu dan namaku yang tersembunyi lama dari dalam dirinya.
Aku merengkuhnya hangat, membawanya kembali padaku, menempati ruang yang telah kosong tanpanya. Aku bisa merasakan irama detak jantungnya menyatu dengan milikku dalam beberapa saat sebelum kutangkap tatapan matanya. Matanya yang masih menyisakan gurat ragu itu kembali menatapku, sambil berusaha menyeka sisa air mata di pipinya aku melihat benda berkilau itu. Melingkar pasti mengikat jari manis milik Jinggaku. Kilaunya menusuk mata hingga ke dalam tiap sudut kosong hatiku, seolah memaksaku untuk memaknai kenyataan yang ada saat ini.
Wajahnya sendu ketika ia menangkap mataku yang tertumpu kaku pada lingkaran berkilau itu. Matanya kembali basah saat aku mulai melepaskannya perlahan-lahan dengan seluruh sisa rasa yang kupunya saat ini.
Kini kurasakan cengkraman jemarinya semakin kuat, menahan dekapku lebih lama seperti meminta pertolongan.
"Win me back, Akar.."
***
Cyn

Bagus. Terhanyut bacanya :)
BalasHapusHalo Lusi terima kasih udh baca :) silahkan bs baca cerpen lainnya di entri blog post sebelum ini yaaa
Hapus