Sabtu, 14 April 2012

Your Man

24 Februari 2012
Sudah 2 tahun sejak pertama kali aku datang. Aku masih diam ditempatku berdiri saat ini. Angin dengan lembut membelai rambutku, mengusirku secara perlahan dari tempat ini. namun aku bergeming. Aku masih betah tinggal lebih lama disini, lebih lama bersamanya yang kini telah dipeluk bumi dalam-dalam. Aku hanya diam. Aku sudah tidak lagi memiliki kata-kata untuk kusampaikan padanya kini. Ia telah mengetahui semuanya. Semua yang ingin aku sampaikan dahulu. Senyumku timbul bersamaan dengan menetesnya bening dari kedua sudut mataku. Lukisan ditanganku menjadi saksi bisu hidupnya dan kebahagiaanku. Aku dan seseorang didalam sini yang diam dalam tidurnya...
***
24 Februari 2006
Asing. Aku masuk kedalam sebuah lingkungan baru yang menurutku sangat asing. Dimana disetiap sudutnya hanya akan kulihat orang-orang dengan kacamata yang tebal dengan buku setebal bantal di tangannya. Damn, ini bukan tempatku! 
Hey, ada satu yang menarik disini. Hanya ada satu anak yang memegang handphone dan tampak asik dengan handphone juga headsetnya. Hanya dia. Tatapannya hanya pada layar benda kecil canggih itu, sesekali bibirnya menyunggingkan senyumnya bahkan ia sempat tertawa tadi. Dan, aku tertangkap basah sedang memperhatikannya saat ini. 
"Ada apa, Sica?" tanyanya langsung. kini aku dengan jelas dapat melihat wajahnya lekat-lekat. kacamatanya nyentrik dengan warna biru muda pada framenya. 
"Darimana kamu tau namaku?" ia mengernyitkan dahinya dan diam. Aku sangat tidak suka dengan mimik wajahnya saat ini!
"Aku hanya memastikan namamu Jessica. Dan terima kasih kau telah menjawab rasa ingin tahuku dengan pertanyaanmu tadi" jawabnya sambil tertawa. apa maksudnya? tahu darimana ia dengan namaku?
Terlalu aneh. Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi padanya. Hari pertamaku di bangku kuliah sangat aneh. Aku berada di kelas yang aneh, jurusan yang aneh, dan sekarang aku bertemu dengan orang yang aneh. Semenjak ayah memaksaku untuk menekuni jurusan Psikologi, aku bertemu dengan fenomena-fenomena aneh ini. Percayalah, kondisi kelas ini sangat tidak menyenangkan. Semua sibuk dengan buku ditangannya. sibuk dengan laptop dan hanya ada cowok aneh tadi yang sibuk dengan handphonenya. 
Dan tanpa kutahu, momen pertamaku tadi dengannya akan mengantarku pada 7 tahun yang akan datang...
***
24 Februari 2007
Hari-hariku kini dipenuhi dengan Psikologi. Semua unsur mata kuliah itu sudah masuk kedalam memoriku. Aku mulai terbiasa dengan keadaan asing yang ada disini. Mahasiswa, mata kuliah, dosen, bahkan teman-temanku. Aku mulai mengenal Karin, ia sama denganku. Sama-sama merasa asing dengan keadaan disini. Namun, setelah 2 semester kami jalani, aku mulai merasa nyaman dan menyatu dengan jurusan yang direkomendasikan oleh ayah ini. 
Perlahan aku mengenal Dion. Cowok yang pertama kali mengenalku tanpa menanyakan siapa namaku. terdengar aneh memang karena aku tidak pernah lagi menanyakan darimana ia mengetahui identitasku. Dion anak yang aktif dan cukup pintar dibalik semua bentuk keacuhannya pada kuliah. Ia pemberontak, trouble maker, playboy, juga menjadi salah satu yang paling seru menurutku disini meskipun terkadang ia sangat menjengkelkan. Dion juga yang menjadi motivasiku untuk mendapatkan nilai lebih darinya karena aku dan dia sama-sama bersaing menjadi yang terbaik di kelas dan di jurusan. Berulang kali ia berteriak-teriak histeris dan mengundang perhatian anak-anak lain hanya karena berhasil mendapatkan cewek-cewek cantik yang menjadi incarannya. Aku sendiri akan segera keluar meninggalkan kelas waktu ia mulai menceritakan kehebatannya yang berhasil memenangi pertaruhan dengan teman-temannya dalam mendapatkan cewek cantik di kampus yang menjadi rebutan kaum adam di lingkungan kampus. Memang sih, Dion memiliki wajah yang tampan, berkulit putih dan murah senyum kepada siapa saja. Namun, bukan berarti ia bisa dengan mudah mempermainkan perasaan cewek-cewek bermodal tampang itu dong. 
"Sica, hebat kan? Lihat nih, hampir seluruh cewek cantik di kampus ini udah pernah jadi mantanku. Gimana? Hebat kan?" ingin sekali aku menampar wajahnya pada saat itu. ia terlalu menggampangkan perasaan kami, kaum hawa. Karin sepertinya mengetahui apa yang akan aku lakukan, ia memegang erat tanganku dan berusaha menahannya. 
"Untuk apa bahagia kalau mengorbankan perasaan orang lain dan perasaan diri sendiri? Apa yang kamu dapat? Hanya uang dan pengakuan hebat dari orang lain? Gimana dengan hati? Apa yang dibutuhin sebenarnya kamu abaikan. Meaningless" aku segera berlalu setelah berkata itu padanya. Ia diam. Menatapku lekat-lekat yang perlahan terus berjalan jauh. 
***
24 Agustus 2007
Pengumuman adanya beasiswa yang ditawarkan ke Amerika oleh kampus sangat menarik perhatianku. Cita-citaku bersekolah dan tinggal di luar negeri akan segera terkabul ketika aku mendapatkan beasiswa ini. Aku sudah bertekad akan segera mengirimkan semua persyaratan yang diberikan oleh pihak kampus. 
"Kamu tertarik?" tanya seseorang disebelahku. Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Aku sudah membayangkan wajah ayah akan sangat senang dan bangga dengan aku apabila aku berhasil mendapatkan beasiswa ini. 
"Kita bersaing sehat ya?" Sontak aku menoleh padanya. Padanya yang kini tersenyum licik padaku. Dion, sudah kukira. Aku membalas senyumnya dengan hentakan tanganku pada dada sebelah kirinya. "Okay. Let's see" ujarku bulat. Nilai-nilaiku memang selalu berada diatas nilai-nilai Dion, dan aku semakin yakin aku yang akan mendapatkan beasiswa ini. 
Hari-hariku semester ini dipenuhi dengan ketekunan belajar untuk menghadapi tes beasiswa nanti. Dion dan aku memutuskan untuk belajar dan berdoa bersama. Kami sepakat untuk bersaing secara sehat. siapapun yang gagal dalam mendapatkan beasiswa ini harus mengakui lawannya. Perlahan kutahu ia adalah seorang anak yang sangat tegar. Kedua orang tuanya sangat mampu untuk menyekolahkannya kemanapun ia mau, namun bukan itu yang Dion butuhkan. Ia butuh perhatian dan  keberadaan ayah dan bundanya. Mereka terlalu sibuk untuk sekedar sarapan atau makan bersama dengannya. Ia ingin segera pergi jauh dari Indonesia agar bisa jauh dari kemelut yang menimpanya selama ini.
"Aku benar-benar tertampar dengan kata-katamu waktu itu. Aku memang tidak bisa mendapatkan yang kubutuhkan selama ini. Aku hanya bermain-main dengan perasaan cewek-cewek itu dan perasaanku sendiri kosong. Aku hanya ingin melampiaskan seluruh kekesalanku pada mereka atas ayah dan ibu. Aku ingin diperhatikan layaknya anak-anak lain. Aku salah selama ini Sica, aku harus berhenti melakukan hal bodoh seperti itu" ujarnya saat kami belajar bersama. Aku melemparkan senyumku padanya, rasanya senang sekali ketika kata-katamu menjadi sebuah motivasi dan dapat mengubah perilaku orang lain. Magic words. 
Hari-hari terus berlalu hingga aku mulai terbiasa belajar dan berdoa bersama Dion. Aku sudah tidak lagi menganggapnya sebagai lawanku. Kami teman dan akan terus saling mendukung. 
***
24 Maret 2008
Pagi itu sangat kutunggu. Aku ingin sekali melihat namaku di papan pengumuman nanti. Aku ingin menunjukkan kepada ayah atas usahaku satu semester penuh ini. 
"Sica, kamu yakin siap?" tanya Karin padaku. Aku tersenyum dan mengangguk mantap. Entah mengapa wajahnya lesu sekali pada saat itu, feelingku cenderung untuk tidak melihat papan pengumuman. Dan benar saja... Leonandion. Hanya ada nama itu di papan pengumuman. Lututku lemas. Aku gagal. Karin menarikku dari kerumunan mahasiswa didepan papan itu. Aku belum melihat Dion disana. Dimana ia saat namanya ada di gerbang menuju Amerika? 
Aku berusaha mencari tahu dimana Dion. Telfonnya tidak aktif bahkan disaat seperti ini.  Aku melupakan sejenak kekalahanku, yang ingin kucari hanya cowok itu. Cowok hebat itu.
"Sica" panggil seseorang dari kejauhan. Dion disana. Aku berlari mendekatinya dan ada keanehan disana. Bibirnya tersenyum namun matanya sama sekali tidak menyiratkan itu. Mengapa?
"Selamat ya, kamu berhasil. Hebat!" Ia mengangguk sambil tersenyum padaku. "Terima kasih, kamu gimana?" tanyanya. Aku menatap matanya dalam-dalam. Memastikan senyum itu ada disana. Aku menggeleng lemah padanya. Air mataku jatuh saat ia memelukku erat dalam dekapannya. Ada bayangan bunda dan ayah saat aku memejamkan mataku dan aku gagal saat ini. Aku mengecewakan mereka.
"Aku tetap disini.Kamu berhak atas beasiswa itu Sica" Senyumnya kini jelas terlihat di wajah dan dimatanya. Aku pasti salah dengar. Beasiswa itu diperuntukkan untuknya dan ia memberikan itu kepadaku?
"Maksud kamu?" tanyaku. Aku ingin memastikan ia tertawa keras dan berteriak kalau ia hanya bercanda.
"Aku tetap disini. Kamu berharap banget kan sama beasiswa itu? Aku udah bilang kok sama pihak kampus. Besok namanya akan diganti. Juli kamu berangkat. Amerika nunggu Sica disana" Air mataku tumpah ruah, untuk apa ia melakukan itu? Bukannya ia juga berusaha mati-matian untuk beasiswa ini?
"Udah terima aja, aku ngga bisa kasih tau kenapa. Nanti kamu akan tahu sendiri" Sekali lagi ia mendekapku erat. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih padanya dalam kebisuan. Aku tidak ingin melepas rasa nyaman ini. Dan kali ini, ku rasa aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
***
23 Agustus 2010
Sudah 2 tahun semenjak aku pergi ke Amerika. Aku sudah berhasil menyelesaikan semua tugasku disini dan memutuskan akan segera pulang ke Indonesia. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada dia yang memberikan aku beasiswa ini. Aku ingin mengatakan semua yang ingin kukatakan kepadanya. Kepada Dion. Lama tak pernah kudengar namanya lagi semenjak aku disini. Email,sms, telfonku tidak pernah ia gubris. Karin juga seakan tidak mau membahasnya ketika aku bertanya mengenai Dion. 
Besok pagi pesawatnya akan segera berangkat dan aku masih sibuk merangkai kata-kata untuk kusampaikan padanya besok. Aku masih mencintainya sampai saat ini. Negara adi daya ini bahkan tidak mampu meruntuhkan cintaku padanya dalam waktu 2 tahun. Kuharap ia masih sama dengannya yang dulu. Aku rindu melihat senyum dimatanya.
Aku harus bersiap istirahat. Kata-kataku untuknya sudah kurangkai dalam-dalam di memoriku. I love you Dion..
***
24 Agustus 2010
"Karin!!" Aku langsung memeluk Karin sesampainya di bandara Soetta. Ia masih seperti dulu dengan senyum lebarnya dan gaya tertawanya yang khas Karin. Kami banyak bercerita selama di bandara dan aku tak akan lupa untuk menanyakan Dion.
"Dion mana?" tanyaku langsung. Aku melihat perubahan ekspresi di wajah Karin. Ada apa? 
"Sebaiknya kita makan siang. Kamu mau makan dimana Ca?" No. Karin benar-benar menghindari pembicaraan mengenai Dion. Aku semakin penasaran mengapa ia tidak menjawab pertanyaanku? Aku melepas genggaman tangannya dari lenganku. 
"Dion kemana Rin?" Karin masih diam. Aku semakin gemas untuk tahu dimana Dion. Dan sekarang ia menitikkan air mata dihadapanku. Aneh.
"Apa kamu benar-benar ingin bertemu dengannya, Ca?" tanyanya sambil menghapus titik air itu dimatanya. Aku mengangguk mantap. Ia mengajakku masuk kedalam mobil dan aku tidak tahu kemana ia membawaku saat ini. Asing. 
"Apa maksudnya? Kenapa kita kesini? Dion dimana?" Aku kaget ketika mobil berhenti pada sebuah areal lapang nan hijau. Yang terlihat hanya hamparan rumput, angin sepoi dan ada pohon rindang diujung sana. Aku melihat ada gundukan tanah dibawah pohon itu. Perasaanku kalut. Mengapa harus disini?
"Dion disana Sica..." Ujar Karin disela isak tangisnya. Tangannya menunjuk pada gundukan tanah dibawah pohon rindang ditepi danau itu. Aku berjalan lemas menuju tanah itu dan disana tertulis, REST IN PEACE
LEONANDION
24 FEBRUARI 2011
Duniaku runtuh. Jadi ini sebabnya Karin tidak pernah memberitahuku dimana Dion sekarang. Dion tertidur dalam diam disini. Ia bahkan tertidur terlebih dahulu sebelum aku mengungkapkan seluruh kata-kata yang sudah kurangkai semalam.
Bunga diatas gundukan tanah ini masih sangat segar menandakan ada orang lain yang singgah disini sebelum aku dan Karin datang. 
"Kenapa?" Aku melirik ke arah Karin yang menunduk diam. Air mataku masih menetes saat aku guncang lengannya untuk mengatakan semuanya. Semua yang tak pernah dibiarkan aku mengetahuinya. Karin menuntunku duduk di rumput dekat gundukan tanah tempat Dion tidur sekarang. Sembari ia bercerita, air mataku mengalir tanpa henti. Aku tidak pernah menyangka Dion seperti ini...
***
15 Agustus 2008
Sica benar. Aku memang belum pernah merasakan seperti apa cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. berkali-kali aku menjalin hubungan dengan mereka yang hanya singgah sebentar saja dihatiku. Aku hanya ingin membahagiakan diriku sendiri tanpa kutahu bahwa cinta yang sesungguhnya adalah ketika aku bisa membahagiakan diriku dan dirinya secara bersamaan. Kata-katanya selalu kuingat dan kujadikan sebuah quote manis untukku. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah mempermainkkan perasaan wanita seperti yang aku lakukan kemarin-kemarin. 
"Karin!!!" Aku berusaha memanggil Karin setelah bersusah payah bersembunyi dibalik ruang tunggu bandara tadi. Sica sudah berangkat ke Amerika. Ini waktu yang tepat untuk membuatnya bahagia dengan apa yang kulakukan. Aku mencintainya seperti ramalan yang pernah diberikan pelukis itu padaku. 
"Dion! bukannya kamu sakit? Kok disini? Sica udah berangkat, kamu terlambat" ujar Karin yang langsung mengajakku duduk. Mungkin ia khawatir melihatku yang berlari terengah-engah dari balik ruang tunggu. 
"Aku disini sejak tadi. Sejak kalian baru datang" Karin menggeleng kepalanya keras. Dahinya berkerut kasar. 
"Kumohon, rahasiakan keberadaanku pada Sica selama ia di Amerika.. Tugasku sudah selesai saat ini. Aku sudah tidak memiliki waktu banyak untuk bertahan. Aku ingin kamu berikan ini pada Sica ketika ia pulang ke Indonesia. Kumohon.." pintaku pada Karin. Karin masih diam. Ia mungkin tidak mengerti dengan apa yang kukatakan barusan. Namun, aku harus mengatakannya. Aku benar-benar tidak memiliki waktu disini lebih lama. 
"Tolong jelaskan kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu masih kuliah kan? kamu mau pindah? tolong jelaskan Dion.." 
Air mataku turun. Aku menyerahkan map coklat yang kubawa dari rumah sakit. Sejenak Karin diam. Tak lama tangannya membekap bibirnya dan kulihat air matanya turun. Aku benci ditangisi seperti itu..
"Kamu kuat. Ngga seharusnya kamu secepat ini menyerah Dion. Kamu mencintai sahabatku?" tanyanya pelan. Aku mengangguk lemah. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain melihat Karin menangis dengan map coklat petaka itu ditangannya. "Lalu itu apa?" ia menunjuk pada kanvas penuh coretan warna yang dilukis oleh pelukis ulung 5 tahun silam. Aku memberikan lukisan itu padanya. 
"5 tahun lalu, pertama kalinya aku mengetahui ada penyakit ini dalam tubuhku, ada seorang pelukis yang mendekatiku. Ia berkata ingin sekali melukis hidupku dalam kanvas ini. Dan gambar ini yang muncul. Hidupku memang tidak akan lama. Aku ingin hidupku berguna bagi dia yang mencintaiku dan kucintai. Pelukis itu mengatakan kalau aku akan bertemu dengan dia yang kucinta pada saat kuliah. Ia yang berdiri memperhatikanku dengan aneh. Dia yang berusaha keras membuat bangga ayah dan bundanya. Jessica, namanya. Aku akan membahagiakan Sica dengan caraku Rin. Lewat beasiswa yang kuberikan untuknya. Pelukis itu mengatakan setelah aku berhasil membahagiakan cewek ini, hidupku tak mungkin panjang. Waktuku habis" Aku mengakhiri ceritaku dengan bening yang menetes dimataku. Waktuku sudah habis. Aku sudah lega dengan menitipkan lukisan ini untuk Sica kelak ia kembali ke Indonesia. Karin masih berlinangan air mata ketika aku mulai merasakan sakit di kepalaku yang sangat hebat. Aku sudah berhenti berfikir, mataku sudah tidak mampu melihat jelas bayangan Karin dan lukisan ditangannya, kanker otak ini terlalu kuat menyerangku disaat-saat seperti ini, aku kalah. 5 tahun aku berjuang dan sekarang aku menyerah. Tuhan tahu tempat terbaik untuk meredam rasa sakit ini aku yakin. 
***
24 Agustus 2010
Karin menyisakan bening itu dimatanya ketika ia selesai bercerita mengenai Dion dan lukisan yang ada tergeletak rapi di dekat nisannya. 
"Tugasku selesai saat ini Sica. Dion pasti senang sekali melihatmu bisa kembali dan mengunjunginya disini" ujar Karin sambil menghapus bening yang turun dipipinya. Aku mendekap erat lukisan itu. Ada namaku disana. Sekarang aku tahu mengapa ia tahu namaku sebelum ia menanyakannya. Ia pernah bertemu denganku sebelumnya lewat lukisan ini. Aku tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dion pasti mengetahui semua yang ingin kukatakan. Aku memeluk Karin erat. Karin baik sekali menjaga lukisan ini untukku. Aku memanjatkan doa untuk Dion yang berusaha sekuat tenaga bertahan untukku. Terima kasih...
Diluar sana aku pasti akan menemukan Dion-Dion lain, tapi tidak mungkin ada yang seperti Leonandion yang berusaha kuat bertahan dari sakitnya demi membahagiakan aku. Terima kasih, terima kasih atas semua yang kamu pertahankan selama ini. "Until the day the ocean doesn't touch the sand, now & forever i'll love you...." Dan saat itu aku tahu, dibalik pohon yang menaungi makam Dion, ia disana. Berdiri bahagia dengan senyum dimatanya...

THE END

By:  Cynthia Suci Lestari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A Man's Promise

  Atas nama laki-laki dan seluruh ego yang dimilikinya, hari ini giliranku melepaskan hampir separuh hidup dan perjuangan yang pernah k...